Kinderdijk – The Forever Windmills

Sasayu-Den Haag

Tanggal 5 Mei, Hari Kemerdekaan Belanda, di mana Jerman memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada Belanda. Anggaplah seperti 17 Agustusan di Indonesia, tapi yang aneh, tanggal 5 Mei ini hanya dijadikan hari libur nasional setiap 5 tahun sekali, kebetulan sekali tahun ini tahun kelima. Tidak ada lomba-lomba aneh dan ajaib (penulis sampai menjadi juara tahunan di sekolah untuk lomba menangkap belut) yang bisa kita temui di Ibu Pertiwi, palingan konser-konser gratis di Stadhuis.

Nothing special, Sasayu menghabiskan waktu untuk berleha-leha di rumah. Tiba-tiba HP berbunyi, menandakan adanya email masuk. Pas dibuka, ga ada angin ga ada hujan, ada serangan dari Buto, tiba-tiba nodong artikel. Sepertinya, si Buto lagi banci facebookan dan melihat foto-foto Sasayu. Benernya sih Sasayu malah diingatkan, karena lupa mau bikin liputan buat tempat wisata yang satu ini.

Sasayu jadi ingin mengunjungi tempat-tempat wisata di Belanda yang belum sempat didatengin, dipuas-puasin, karena kemungkinan ini tahun terakhir Sasayu di Belanda. Sehari setelah jalan-jalan di Keukenhof, Sasayu diajak berwisata ke Kinderdijk, kalau diartikan secara langsung menjadi ‘Children’s dike/anak-anak tanggul’. Kinderdijk ditetapkan menjadi UNESCO WORLD HERITAGE sejak tahun 1997.

Tujuan dibangunnya kincir-kincir angin ini (total ada 19) adalah untuk memompa air biar ga kebanjiran, karena Belanda kan di bawah permukaan laut. Dipikir-pikir hebat juga ya, dari tahun 1740, sudah bisa menemukan sistem pengeringan yang yahud. Kalau dibandingkan dengan daerah rumah yang selalu rawan banjir dan emang selalu kebanjiran, sungguh heran, kenapa ga pernah beresss T.T!! (Tanyaa Kenapaa??)

Sekarang sih, kincir-kincir anginnya sudah digantikan oleh pompa air modern. Akhirnya, kincir-kincir angin ini dirawat dan dijadikan objek wisata.

Kalau terakhir Sasayu lupa menulis bagaimana mencapai lokasi Keukenhof, kali ini Sasayu kasih tau caranya, biar semua orang ga cuma bisa lihat-lihat gambar saja.

Untuk mencapai Kinderdijk, Sasayu menggunakan Small Cruise dari Rotterdam, kapalnya berangkat dua kali sehari, jam 10.45 dan 14.15. Harga tiket per orang €13.5, disarankan reservasi dulu. Di kapal, pengunjung bisa menikmati makanan-makanan khas Belanda seperti poffertjes, appelgebak, uitsmijsters (roti pake telor ceplok dan ham) sambil ngopi-ngopi. Ternyata harga makanannya ga semahal yang Sasayu kira, standar saja, seperti harga-harga di Café €2-€10.


Sampai di Kinderdijk, kapal akan menunggu kira-kira satu jam sebelum kembali lagi ke tempat awal untuk mengangkut penumpang berikutnya. Kita waktu itu keasikan sampai lupa batas waktu dan akhirnya lari-lari ngejer kapal, pake celana melorot pula…haduh!

Info selengkapnya bisa dilihat di link-link berikut:

http://europeforvisitors.com/netherlands/rotterdam/kinderdijk-cruise-practical-information.htm

www.kinderdijk.com

Tidak lupa, foto-fotonya (cuaca agak mendung, jadinya kurang bagus hasil fotonya):

Tentunya karena berangkat dari Rotterdam, tidak ketinggalan Erasmus Bridge yang terkenal itu.

Appelgebak met slagroom

Ada juga selai kacang plus Blue Band


Terimakasih buat Redaksi yang sudah memuat artikel (hasil todongan:P) ini.

Have a nice day buat semua Baltyrans!!

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.