Kenapa Joak?

Ucique Klara – Ruteng

Saya sendiri tidak tau lagi kenapa. Saya juga yakin bahwa kata “joak” bukanlah bagian dari bahasa Manggarai, entah siapa yang memulai dan mempopulerkannya sehingga seolah-olah itu sudah dijadikan salah satu kata dalam kamus Bahasa Manggarai berdasarkan Ejaan Yang Belum (Tidak) Disempurnakan (EYBD/EYTD).

Dalam gambaran saya kata “joak” mengandung arti bualan, di mana jika ada seseorang yang joak, berarti dia sedang mengumbar bualan atau mengarang cerita bohong. Namun konteks Joak ini juga berlaku dalam situasi di mana orang yang mendengarkan joak itu sepenuhnya sadar bahwa apa yang diceritakan adalah bualan, dan lebih parahnya lagi pendengar juga tidak membantah, bahkan menikmatinya sebagai hiburan. Jadi posisi orang yang joak di sini bukanlah tokoh antagonis. Topik atau tema joak juga kadang merupakan hal yang sudah diketahui secara umum, namun ditambahi bumbu atau sedikit disensor oleh orang yang bersangkutan. Biasanya joak lebih cenderung berhubungan dengan hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang lucu, konyol atau menimbulkan kekaguman. Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan istilah joak ini.

Saya senang sekali bercerita dan pengalaman atau kisah yang lucu selalu menjadi tema favorit sepanjang masa. Bahkan untuk hal yang benar-benar terjadi atau kenyataan yang sebenarnya sedih sering dianggap joak oleh pendengar yang kebanyakan teman-teman dan keluarga.

Saya sering dibilang “tukang joak”, walaupun at that moment everything I said, it was unintentional and so apparently I turned the serious thing funny. How come they’re putting calling myself a commentator on a level with making a joak? Fully misunderstood, but then I enjoy it hehehe

Oleh karena itu (seperti membuat kesimpulan karya ilmiah saja), saya pake judul “GANDA SAMBIL INUNG KOPI”, karena kalau ada ganda (ngobrol), 80% bisa dipastikan ada kopi hehehe lagian kata ganda lebih baik daripada joak.

Yang pasti ide membuat karya seni ini (sa malu mau menyebut ini buku, tapi keterlaluan juga kalo saya tidak mengakui bahwa saya punya bakat untuk menghasilkan sesuatu nan unik, so semoga pembaca setuju kalau saya menyebutnya sebagai karya seni) sudah ada dalam benak dan pikiran saya since forever, tapi tidak tau bagaimana menyampaikannya.

Saya bahkan tak pernah tau simpton apa yang selalu buat pikiran saya melayang-layang tak tentu arah dan butuh penyaluran. Rasanya kalau sudah cerita oral atau mengetik sesuatu, rasanya lebih lega (apalagi kalo orang yang mendengarkan cerita saya mengompori, saya makin menggila) walalupun yang saya tulis hanya lelucon atau pengalaman lucu dan bukan semata-mata curhat picisan tentang apa yang saya rasakan. Saya menulis apa yang saya pikir dan tanggapan terhadap sesuatu yang menurut saya menarik.

Saya semakin menggebu-gebu menulis dan membuat karya unik ini setelah dipicu oleh sms seorang teman (Merna). Saya masih ingat saat-saat itu saya baru saja memulai hidup saya di Ruteng, dan kami seminggu bisa tiga kali bertemu dan bertukar cerita, film dan musik. Setelah sekian lama tidak bertemu sejak kebersamaan kami di Jogja dulu makin klop-lah pertemuan rutin kami. Berkeping-keping DVD, file musik, buku dan berbagai obrolan lain tak habis dibahas saat kami bertemu muka. Telpon dan sms (padahal rumah kami hanya berjarak 500 meter) yang berisi berbagai kisah antara kami berlangsung seru dan kadang sayang sekali untuk menghapus semua sms itu kalau inbox di ponsel sudah penuh.

Sebenarnya, semua obrolan dan kisah-kisah yang sering saya bagi dengan teman saya sejak SD ini didominasi oleh saya. Merna kadang hanya terima bersih (sorry Beb, but I just want to be honest hehehe) dan hanya berkontribusi “hahahaha” atau menyumbang celetukan-celetukan yang lucu, menggoda atau ungkapan prihatin atas tokoh yang menjadi korban derita dalam cerita saya. Saya merasa klop kalo kami sudah ngobrol.

Meski tak dipungkiri ada bumbu-bumbu gossip dalam obrolan kami, tapi frankly speaking hal-hal seperti itu sangat jarang terjadi. Kebanyakan percakapan kami hanya berisi kisah-kisah sederhana, apa yang terjadi sehari-hari tapi rasanya cerita-cerita itu sangat tidak sederhana. Mungkin karena sudah ditambahi bubuk joak kadang cerita yang sangat sedih atau mengharukan malah jadi lelucon yang buat kami tak bisa berhenti tertawa.

Setelah puas terbahak-bahak baru kami sadar bahwa tindakan kami sangat ironis hehehe. Pengalaman kami masing-masing sejak kami berpisah pun tak habis-habis digali..(emangnya tanah??)

Kembali lagi ke pemicu pembuatan tumpukan lembaran yang di jilid ini; Merna mungkin tidak pernah sadar bahwa sms-nya tanggal 9 Juni 2009, pukul 23:13:15 semakin membuat saya yakin bahwa saya bisa buat sesuatu yang tidak hanya selesai di FB atau di wordpress: If ur happy, go on! Life is 4 happiness. I think u have a million fine stories in this life! Simple nice things. U should write a novel.I’m happy 4 u.

Itu adalah pesan terakhir setelah sesi obrolan seru melalui sms gara-gara saya begitu semangat dan tak bisa menunggu lama untuk menceritakan suatu pengalaman lucu yang membuat perut saya seperti dipenuhi kupu-kupu. Saya masih menyimpan pesan itu di ponsel saya.

Rasanya sayang sekali untuk menghapusnya. (mohon mama Anette, please keep your self down to earth hehe) Itulah kisah yang sebenarnya panjang tapi saya usahakan utuk bisa muat dalam beberapa paragraph saja tentang awal mula saya mulai mewujudkan ide ini. Banyak tulisan saya yang sudah tersimpan dalam folder yang jarang sekali dibuka saya sertakan dalam karya tulis ini hehehe Entah apa pendapat dan pandangan orang-orang yang membaca ini, saya hanya senang mewujudnyatakan apa yang saya ingin lakukan dari dulu.

Saya suka baca, Ayu Utami adalah idola saya.

Saya masih ingat waktu di masih di Jogja saya berkali-kali membeli Parasit Lajang bahkan borong 2 sekaligus pas pameran buku (lebih murah) karena saking seringnya saya rekomendasikan buku itu untuk dibaca sama teman, hasil akhir punya saya dipinjam dan tak dikembalikan lagi. Entah karena suka sama bukunya atau ada alasan lain, misalnya ogah rugi untuk beli yang baru (untuk yang merasa diri: santai saja, jangan tersinggung hehehe). Tapi karena saya rasa buku itu pantas dibaca oleh every woman, even man saya rela hehehe.

Sebenarnya bisa saja saya buat tulisan di blog (ucique.wordpress.com) dan bisa on line (misalnya di Facebook), dibaca banyak orang (yang mau baca tentunya hehehe), tapi saya lebih memilih media konvensional. Ya, saya sebenarnya bukanlah seorang yang sangat update dengan kemajuan jaman (apalagi mode pakaian), tapi tidak kampung-kampung amat-lah.

Menulis surat manual di kertas dan mengirimkannya via pos masih saya lakukan bahkan berlembar-lembar sampai tangan saya capek, cetak foto dan taro di album (sekarang sudah jarang cetak karena mau cetak semua foto yg makan memory 6 G di komputer rasanya akan bikin saya cekak dan tekor). Oleh sebab itu (berusaha menggunakan bahasa yang tepat untuk menjelaskan sebab akibat) semua tulisan yang menurut saya bisa dibagi dengan orang lain saya buat dalam bentuk karya ilmiah eh karya tulis ini hehehe. Selain itu saya percaya ada orang lain yang mau baca tulisan saya tapi malas kalo baca di layar komputer dan harus on line pula, belum tentu bisa connect ke internet setiap saat…dan belum tentu orang yang punya waktu dan lagi on line berselera baca tulisan saya..de es be.

Semoga yang baca ini suka dan kalau ada yang aneh dan mau kritik, langsung sampaikan saja ke saya. Feel free to comment and your support for the next bigger step in my writing would be appreciated.


Ilustrasi: manuskripkesunyian wp, graffiti.org

36 Comments to "Kenapa Joak?"

  1. hery  31 August, 2011 at 21:53

    joak…..lebi kearah siapa/orang yang menyampaikan….ini hasil dari terlalu seringnya kita berbohong
    kurang lebi seperti itu mnr sy…Tabe ibu Ucique

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *