Kepedulian Sang Pastor Desa

EA. Inakawa – Kinshasa

Buat seorang Pastor MULUNDA yang biasa berkhotbah di pedesaan di wilayah Kinshasa KEPEDULIAN terhadap keamanan di tanah air nya merupakan tanggung jawab besar yang tak berbeda jauh dengan tanggung jawab  kepada TUHAN atas Syi’ar Agama yang sudah ditekuninya selama bertahun panjang.

Bermula dari pengamatan selama Pastor Mulunda berkhotbah berkeliling desa, beliau melihat banyaknya berbagai jenis senjata illegal yang disimpan di banyak sudut & rumah penduduk Congolaise (sisa dari berbagai konflik partai & militer di masa penguasa lampau). Dari kondisi inilah Pastor Mulunda ber- inisiatif sembari meluruskan niat baik dalam satu barisan dengan ikut bergabung di dalam organisasi PAREC sebuah lembaga NGO Local yang bekerjasama dengan RDC & United Nation/Monuc.

Melalui Rantai Kasih Gereja sang pastor memberikan berbagai penyuluhan dan imbauan terhadap masyarakat Congo agar menyadari betapa berbahayanya memiliki senjata api tanpa keachlian/rekomendasi resmi.

Dan dengan berbagai upaya kegiatan ini menjadi bersambut gayung dengan semua lapisan/tokoh masyarakat yang melihat betapa positive nya aktivitas MENGUMPULKAN SENJATA ILLEGAL tersebut.

Namun kegiatan ini bukanlah cuma-cuma, menilik dari kondisi ekonomi rakyat Congo yang masih serba berkekurangan oleh pihak MONUC  memberikan bantuan/rangsangan sebagai umpan balik kepada RDC untuk diteruskan kepada rakyat Congo.

Setiap 1 jenis senjata type apa saja dinilai sebesar USD 100 $ (nilai ini disetarakan bahkan 2X lipat dari nilai jual senjata illegal di Black Market Kinshasa) di pasar gelap Kinshasa jika anda berminat dengan senjata api pistol hanya usd 50 dan usd 5 untuk 1 buah peluru (kita bisa mendapatkannya dengan mudah).

Selama lebih kurang 6 bulan kegiatan ini cukup terbilang sukses (terlepas dari niat baik warga atau karena nilai tukar USD100 per senjata) kita abaikan dulu, yang pasti sebanyak 5000 pucuk senjata dari berbagai jenis dan amunisi/granat telah kembali ke gudang lembaga pertahanan negara RDC s/d Juni 2009 lalu.

Sukses menuai bagi sang Pastor Mulunda, tidak banyak yang punya kepedulian seperti beliau demi keamanan Congolaise jika terjadi konflik/perang suku kembali, paling tidak jumlah senjata illegal semakin berkurang dari peredaran kepemilikan masyarakatnya.

BEGITU pun……..ada sepenggal ceritera lucu di balik suksesnya program pengumpulan senjata tersebut (diberitakan hanya dari mulut ke mulut & dilestarikan sebagai issue positive oleh masyarakat Congolaise) bahwa : sekitar 200 pucuk senjata sandang milik anggota satuan militer FARDC & Police National Congo dinyatakan hilang pada saat mereka tertidur lelap ketika bertugas atau dicuri pada saat sang tentara/polisi tsb dalam keadaan mabuk berat atau dengan sengaja ber- kolusi…BISA JADI ehehehehe.

Anda bisa bayangkan senjata tersebut kemudian ditukar guling dengan USD 100 ke panitia oleh sang pencuri atau kaki tangan tentara/polisi yang ber-sebahat tersebut.

USD 100 adalah sama dengan 3 bulan penghasilan/gaji seorang prajurit, cukup menggiurkan. Sanksi bagi tentara yang kehilangan senjata tersebut sesuai informasi yang didapat NYARIS TIDAK ADA SANKSI. Kehilangan senjata bagi kalangan Tentara FARDC dan Polisi RDC adalah hal yang biasa, secara official cukup melapor kepada atasan dengan lampiran kronologis kehilangan, selesailah !!!

Dan uniknya lagi setiap hari senjata tersebut dibawa pulang ke rumah masing masing dan di HALAL kan untuk dipinjamkan kepada teman sesama tentara atau polisi, beban moral sebagai pemegang senjata api sepertinya tidak ada dalam pemikiran mereka atau memang institusi nya yang kurang memberikan penyuluhan. Di Kinshasa ini sekolah pendidikan Polisi masih berkolaborasi dengan pemerintahan Belgium, tenaga instrukturnya adalah Polisi resmi dari Belgium, untuk tingkat Akademi Militer mereka berkolaborasi dengan pemerintahan dari Perancis, senior instrukturnya adalah orang Perancis.

Beginilah….. negeri Congo ini, 2 tahun saya di sini ber hilir mudik mengitari kota & pelabuhan Kinshasa, jika melihat para POLISI & TENTARA sungguh sesuatu yang Harus dan sangat sangat dihindarkan. Saya bukan ingin mencari perbandingan dengan negara maju lainnya, pastilah RDC ini tertinggal jauh, agar perbandingan saya tidak hanya KATANYA … saya bandingkan saja dengan Polisi & Tentara Ethiopia atau Ghana (mereka masih lebih baik dari RDC lalu saya bandingkan juga dengan Polisi & Tentara di Madagascar-Mauritus atau Uganda…mereka juga masih lebih baik) mereka masih ber upaya membangun jati diri, menjaga image Polisi & Tentara khususnya di mata orang asing, menyelesaikan tugas dengan baik dan yang terpenting mereka setia kepada negara.

Di Kinshasa ini saya berkesimpulan dengan sederhana saja ….. mungkin pemahaman KITA akan sama terutama bagi TNI RI/Kontingen Garuda Indonesia yang bertugas di Congo dalam misi PBB yang sudah pernah tinggal di RDC, anda pasti tidak akan pernah melupakan bagaimana MATA liar mereka memandang setiap orang asing dengan tegur sapa yang memendam hasrat selalu ingin meminta uang tanpa sopan santun lagi, sekali anda memberi selanjutnya anda akan menjadi makanan empuk bagi mereka secara bergantian (secara pribadi saya mengalaminya bahkan terlalu sering eeehhh nasibmulah nak, mereka sering panggil saya Chinois (intonasinya sinoa sinoa) panggilan buat orang Chinese.

Moral POLISI & TENTARA nya luar biasa buruk, mereka nyaris tidak memiliki kebanggaan untuk menjaga nama baik institusi kesatuan/corp mereka.

Lalu kita bertanya DOSA & SALAH siapaaaaaaaaaaaaa gaji mereka hanya USD 35 perbulan, apa yang bisa mereka lakukan dengan keterbatasan penghasilan vs biaya hidup yang harus dicukupi, begitupun pemerintah RDC sepertinya tutup mata artinya sama saja mereka meng halal kan para  polisi & tentara nya untuk mencari makan di jalanan. Sebuah fenomena kehidupan Africa yang tiada ber-ujung & bertepi antara kekuasaan – korupsi – perpecahan – kebodohan & kemiskinan yang memang dengan sengaja diciptakan sebagai TIRANI sang Penguasa.

Dan ada hal yang unik lagi…jika seorang Tentara atau Polisi meninggal dunia posisinya bisa secara otomatis digantikan sang istri atau anak kandung, sang anak/istri cukup lapor diri selanjutnya diberikan status selama bertugas 1 thn pertama tanpa PANGKAT sama sekali dengan gaji usd 20/bulan plus tunjangan kesehatan gratis & pada tahun kedua baru diberikan kesempatan mengikuti pendidikan khusus plus menyusul perubahan status/kepangkatan…simple sekalikan.

Ada lagi sebuah pemandangan yang menyedihkan…Belgium sebagai negara yang pernah menjajah masih menempatkan banyak Detasemen di berbagai propinsi, yang menyedihkan adalah perlakuan para tentara tsb masih menganggap RDC sebagai koloni, perlakuan sikap yang tidak manusiawi, belum lagi seenaknya menggaet anak & istri para congolaise, begitupun banyak di antara mereka senang diperlakukan demikian dengan harapan suatu ketika akan dibawa ke Belgium dan tak heran kalau di Congo terlihat anak penaranakan Belgium tanpa ayah yang jelas sangatlah banyak, mereka ini disebut methys.

Saya mohon maaf, sama sekali tidak bermaksud buruk menceriterakan tentang kondisi di Congo ini, sebuah fakta di mana naluri kemanusiaan & rasa persaudaraan terhadap sesama masih tergolong tipis sekali, dan kondisi inilah yang dimanfaatkan negara Adi Kuasa untuk bisa dengan leluasa terus mengambil kekayaan hasil buminya, uranium & diamond.

Sungguh…..Africa laksana perempuan cantik yang selalu menggoda.


Salam : Setepak sirih sejuta pesan – EA.Inakawa – Kinshasa 8 Mei 2010


Ilustrasi: bbc.co.uk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.