Should a Woman Be a Milanist?

Alexa – Jakarta

Menjadi single kembali ternyata cukup mendatangkan kegamangan bagiku dalam  menjalin kembali hubungan dengan pria. Bayangkan sudah menikah bertahun, pernah melewati hujan badai kehidupan bersama membuat aku sampai pada tahap nyaman dengan pasangan, bisa menerima dia apa adanya…jadi ingat lagu– I love you just the way you are…. (hidup kami tidak selalu mulus kadang penuh gejolak seperti sedang menaiki roller coaster – jauh lebih bergejolak dari yang pernah aku share selama ini…hanya orang tertentu yang pernah aku share).

Begitu dia meninggalkanku untuk selamanya, tak pernah terpikir untuk mencari penggantinya.

Makanya saat didekati si duda itu, pada awalnya malah merasa kaget dan berdosa seperti berkhianat gitu…Sayang (yang kemudian menjadi blessing) periode selanjutnya waktu memasuki tahap pendekatan dengannya ternyata berakhir dengan tidak menyenangkan. Untungnya sempet share dengan teman-teman di Baltyra dan di dunia nyata – semua sangat supportif dan memberikan dukungan.…thanks all.

Beberapa saran juga muncul untuk mencari gantinya via dunia online…biarpun sering mendengar dan membacanya serta tahu success story teman-teman …aku belum berniat mencobanya. Mungkin lebih disebabkan karena faktor gaptek kali? Atau juga karena aku nih dibesarkan dengan culture timur terutama Jawa di mana sifat dasar wanita dalam masalah perjodohan adalah menunggu. Menunggu bukan dalam arti yang pasif banget ya, tapi menunggu hingga ada lelaki yang mendekati dan bukan wanita yang duluan maju.

Tapi seorang teman wanita di dunia nyata langsung mematahkan alasanku ini karena dia lebih senang mengambil peran aktif dalam mendekati pria. Dia merasa dia harus aktif karena prinsipnya “ku tahu yang kumau”, dia tahu tipe pria yang diinginkannya dan belum tentu pria-pria yang mendekatinya itu sesuai dengan kriteria dia. Patut dicatat bahwa temanku itu cuantik banget – dia masih saudaraan dengan Halimah Trihatmojo dan mukanya 100% mirip bu Halimah itu tapi versi muda dan langsingnya (usia mereka beda 10 tahunan). Inget banget waktu kuliah bareng di MM itu bisa lho tiga cowok datang menjemput dengan mobil-mobil mewah mereka.  Sekarang dia hidup bahagia dengan pria hasil perburuannya serta dua anak yang cantik dan tampan….aku baru tau kisah perburuannya dia ya waktu aku share kisah piluku berhubungan dengan si duda sableng itu.

Oke berarti berdasarkan fakta-fakta di atas memang sudah waktunya seorang wanita bersikap sebagai penjemput bola dibandingkan sebagai penunggu bola….so kali ini mungkin sudah waktunya bagi seorang Alexa menjadi milanist?

Seorang teman memberikan beberapa situs yang memang khusus bergerak di bidang matchmaker, beberapa waktu kemudian dia nanya…”Gimana Xa, udah nyemplung belum?”, kujawab,”Belum ni…masih banyak kerjaan.”, dia langsung jawab,”Blaiiiks, kerjaan kan enggak pernah akan selesai. Emang kamu mo merit dengan kerjaan.” For some reasons, aku selalu terharu deh dapet teman yang perhatian seperti ini…thanks again friend.

Akhirnya di suatu malam minggu daripada bengong aku browsing, surfing whatever deh. Jadi inget aku tuh terdaftar di suatu jejaring komunitas online. Buka-buka tulisan teman-teman di sana, sampailah pada suatu tulisan tentang kehidupan di Paris – suatu catatan ringan tapi menyenangkan, n guess what malam minggu itu rame banget sahut-sahutan komen di sana. Aku memutuskan untuk nyemplung di tulisan itu, komenku sedikit nakal…”teach me french kiss plis.”

Si penTulis yang bergender lelaki langsung menjawab,” hahaha…enggak bisa.”

Aku belum berhenti,”how about indonesian kiss?”,

Dia menjawab, “ kalo itu sih natural aja,” aku jawab, “ternyata kamu jadul beeng ya.”

Dia cuman menjawab dengan ketawa, akupun browsing ke tempat lain. Eh balik lagi ke “kamar”ku dia ternyata menyapa,”kalo mo kursus french kiss dimana ya?”,

Kujawab spontan, “Ya di CCF lah,”

Dia langsung jawab,”Huahaha, kali ini gue ngakak berat. Gue suka gaya lo…sumpah.”

Habis itu ada temannya yang nurunin tulisan tentang dia…ooo jadi tau deh kalau dia baru aja diwisuda dan selama ini kuliah sembari  kerja jadi wartawan musik, konon menurut temannya – dia orangnya slengekan dan suka gonjrang-gonjreng dengan gitarnya. Di lain pihak dia juga suka nyambi bikin jingle iklan. Tambah rame komen dan ceng-cengan ke penTulis itu…tak terasa jam 3 pagi sudah menjelang. Besoknya dan beberapa hari ke depan aku tuna koneksi, sempet ngintip via hp…dia menjerit-jerit cari aku….tapi dasar gaptek, aku gak bisa bales via Hp.

Pas aku bisa online lagi, langsung aku sapa lagi dia,”ngapain cari-cari gue….mo ditraktir apa?”, dia langsung response kesenangan gitu. Baru aku nyadar dia dah ganti avatar…bujubune dari penampilan lelaki muda tinggi kurus yang seniman banget dengan rambut sedikit panjang (ala Josh Groban komplit dengan kriwil-kriwilnya), jadi tampang ABG karena rambut sudah dipotong rapi. Aku langsung menjerit,” Waaks, cupu beeng. Ternyata kamu masih ABG ya…pupus sudah deh,  gak jadi naksir. Gak mungkin juga gue gandengan ama berondong.”

Enggak lama kemudian dia menyapaku…”Nih ai dah ganti avatar”, en guess what sodara-sodara, dia ganti avatarnya dengan gambar bangau yang paruhnya sedang menenteng bayi dalam buaian. Spontan aku jawab,”Gileeee bener, dari cupu langsung dah nenteng bayi aja….”. Dia ngakak habis sembari bilang kalau dia siap untuk perubahan seekstrim apapun…dalam hati bertanya, “maksud loh?”.

Begitulah habis itu kami makin akrab….tiada hari tanpa mengunjungi kamar masing-masing dan saling cela-celaan sampai suatu saat dia ngajakin ke CCF dan aku pikir kepalang tanggung sekalian deh bawa aja nih dunia online ke dunia nyata. Dia mengirim fotonya yang terbaru plus nomor Hp-nya dan dengan pede-nya dia bilang aku enggak perlu kasih foto dan nomor Hp, siapa tau aku ntar illfeel ngelihat dia jadi bisa langsung kabur – enggak perlu nyapa …. Aku merasa dia baik juga dengan caranya itu.

Hingga tibalah pada hari H itu, habis presentasi di suatu institusi aku meluncur ke CCF dan di kantin itu kulihat dia sudah duduk di sudut ruangan. Kuhampiri dan tegur dia, yang disambut dengan ramah. Aku langsung tanya ke dia,”Kaget ya ngelihat aku?”. Ya pertemuan kami memang menggambarkan situasi yang kontras, dia yang tinggi kurus dengan jeans dan t-shirt pas badan, rambut kriwil2 sedikit panjang ala Josh Groban sangat menonjolkan identitasnya sebagai lelaki muda yang berjiwa seni…kuperkirakan dia berumur paling banter akhir 20 tahunan, sementara aku si wanita matang tampil dengan riasan lengkap tapi tipis dilengkapi  pakaian kemeja  bergaris dengan sedikit ruffles di bagian dada dipadu dengan celana katun berpotongan boot leg, sepatu high heel bukaan depan. Serba rapi kecuali rambut bob-ku yang tadi pagi kukeringkan tanpa sisir sama sekali cukup diremas-remas.

Dia menjawab santai,”Enggak, khan dari tulisannya dah kebaca orangnya seperti apa, gue dah baca semua tulisan elo.” Habis itu kami ngobrol santai dan kemudian dia menunjukkan koleksi lagu dalam iPodnya sembari menerangkan satu persatu lagu kesukaannya dan kenapa dia menyukai lagu itu – kami jadi sharing ear plug. Beberapa saat kemudian dia bicara, “Napas lo segar ya….bau mint,” aku terlonjak kaget sehingga kepalaku membentur dagunya. Dia langsung bilang,” Naaah ternyata beraninya cuman di online ya, baru diomongin gini dah kaget.” Aku diam saja sembari pura-pura sibuk mengelus kepalaku.

Kami kembali sibuk ngobrol dan pertemuan kami itu membuat kami tambah akrab dan intense dalam berkomunikasi bertukar kabar, sesekali ketemuan dan tempat favorit kami adalah Salihara…komunitas seni yang dibentuk Goenawan Muhammad di bilangan Pejaten yang merupakan tempat nangkringnya dia. Kadang-kadang di bawah pohon kami duduk di hamparan rerumputan sembari dia gonjrang-gonjreng gitarnya, atau kami sibuk dengan notebook masing-masing menuliskan ide masing-masing. Lucunya dia selalu menemukan lagu untuk menghiasi tulisanku seperti waktu aku bilang lagi nulis dengan tema forgive but not forgotten, eh dia langsung bilang…Andrea Corrs. Waktu aku menggoogle..memang ada lagu Andrea Corrs dengan judul Forgive But Not Forgotten.

So far walaupun kami makin akrab, aku masih menganggapnya teman saja….enggak kebayang juga punya gandengan lebih muda. Nah kalau soal ini dia suka protes katanya, “cara berpikir elo itu cara berpikir sok  tuaaa beeng tapi ternyata enggak bijaksana. Timbang sana-timbang sini sampai membuat kesimpulan yang meremehkan kuasa Tuhan. (kok begitu? dalam hati bertanya) Iya coz God creates us equal… elo ama gue sama di mata Tuhan…” Nah kalau dia ngomong seperti ini…aku cuman bisa diam sembari mesem-mesem sembari geleng-geleng kepala sok tua …”dasar anak muda yang penuh semangat.”

Dia melanjutkan…”Bukannya elo menikmati waktu-waktu kita bersama, bukannya elo sekarang ikut-ikutan ber elo-gue padahal awalnya selalu saya-kamu. Jangan meremehkan pengaruh gue ya.”

Saat dia menulis tentang meteor yang berjatuhan di Indonesia, kembali isengku kumat, kutulis,”French kiss under the meteor rain…not a bad idea ya?” Dia tertawa …”I don’t mind to be Tao Ming Se and you become Sancai…?”….aku cuman bisa mesem-mesem sendiri….me as Sancai?

Sewaktu nulis ini, kami sedang duduk berhadap-hadapan menghadap laptop masing-masing. Aku sudah cerita sama dia soal tulisanku ini…aku cerita kalau aku itu aktif di suatu komunitas online lain tapi jangan tanya yang mana. Dia dengan cool mempersilahkan whatever I’m gonna to do. Kuintip tulisannya…kali ini tentang Endah dan Resha – pasangan suami isteri pemain music akustik yang sekarang sedang menapaki karirnya yang mulai bersinar. Dia upload juga gambar pasangan itu saat si isteri sembari memetik gitar, dari belakang suaminya merangkul seraya memetik gitar yang sama….luar biasa.

Akupun langsung menulis komen di tulisannya,” Pengin deh main gitar bersama cowo kek pic terakhir Endah dan Resha itu…yuk mare.”dia jawab,” gw bisa tp ga jago. yuk mare”,

Kubalas lagi, “Duuh gayung bersambut…langsung dengkul gw lemees ni, jongkok dulu ah”,

Dia bales lagi,” ha ha ha.. gw juga lemes. ikut jongkok ya.”

Akhirnya  kami melepas tawa bersama…

Begitulah…aku tidak (belum?) berani melangkah lebih jauh dalam hubungan dengannya namun aku pikir moral dari pengalamanku adalah – mungkin sudah waktunya Alexa jadi milanist after all yang diperjuangkan adalah kebahagiaan diri sendiri dan jika nyali masih kurang,  via dunia online merupakan alternatif yang menarik.

Disclaimer:  75% cerita ini genuine – 25% KW2 untuk melindungi kenikmatan hidup penTulis

A Note      : Tulisan ini dibuat karena waktu mau curhat via telpon ke seorang teman, begini reaksinya:


Alexa : “JC…aku punya pengalaman lucu deh soal French Kiss,”

JC       : “Emmmooh ah aku dengernya, saruuu itu…”

Alexa: “Whaaat???”

Setelah itu JC langsung kasih Pee R…”daripada kamu saru gitu…buat deh tulisan tentang bla-ble-blu:,

Alexa terheran-heran tapi dengan patuh menurut titah Buto.


Kali lain…

Alexa: “JC, ternyata main gitar itu bisa lho sembari tandem gitu…misalnya aku pegang gitar terus cowonya dari belakang ikut  main gitarku itu, mau enggak aku ceritain?,” JC :”Emooooh, dikau tambah saru aja akh.” Alexa:”@x&?!??”

Milanist adalah fans militant dari klub sepakbola AC Milan


Ilustrasi: rezaprimawanhudrita wp

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *