Kala Semangat Mengalahkan Peringkat

Sumonggo – Sleman

Maaf, yang dibicarakan ini bukanlah tim bulutangkis kita, tetapi tim Uber Korea Selatan. Mengapa dengan tim putri Korsel? Di putaran penyisihan pada bulan Pebruari, tim putri Indonesia sempat berjumpa dengan tim Korsel, dengan hasil sekali menang dan sekali kalah. Dalam peringkat para pemain pun, boleh dibilang keduanya tak jauh beda. Tapi mengapa hasil akhirnya berbeda, sehingga tim Korsel berhasil merebut Piala Uber? Padahal tim Korsel dan tim Indonesia secara materi berimbang. Mengapa beda nasib?

Jauh-jauh hari, tidak ada yang meragukan kedigjayaan putri-putri China. Bahkan ada pendapat, bila seluruh pemain putri terbaik dunia berkumpul dalam satu tim, belum akan mampu menundukkan tim putri China. Bagaimana tidak, tunggal putri dan ganda putri China mendominasi peringkat 5 besar dunia. Bandingkan dengan peringkat Adriyanti Firdasari, Maria Febe, dan Maria Kristin, yang di 20-an dunia. Siapa yang bermimpi mengalahkan tim Uber China?

Lima kali menjadi runner-up dan selalu karena kepentog tim China, tidak membuat tim Korsel berkecil hati. Memang, perlu dilihat juga, bahwa tim Korsel diperkuat para pemain berpengalaman, sementara meski peringkatnya jauh lebih unggul, tim China didominasi oleh wajah-wajah muda yang kurang jam terbang dalam event dengan pressure mental seberat Piala Uber.

Ada atmosfer yang berbeda antara tampil di Piala Uber dengan kejuaraan perorangan. Itulah sebabnya dalam event seberat Piala Thomas dan Piala Uber, selalu saja muncul para “pembunuh raksasa”, yang tiba-tiba mampu menekuk mereka yang berperingkat jauh di atas. Sang underdog memang berada dalam keadaan nothing to loose melawan sang peringkat atas dengan beban mental.

Kalau kita melihat siaran pertandingan final Uber antara tim Korsel melawan China kemarin, bisa terlihat bagaimana para pemain mereka tak gentar menghadapi tim favorit juara. Teknik dan skill boleh di bawah, tetapi mental tak boleh kalah. Jatuh, bangun, dalam artian yang sebenarnya, tak terhitung kali. Sebelum shuttlecock menyentuh lapangan, tak akan berhenti dikejar, hingga sang lawan kehabisan akal bagaimana mesti mematikan bola. Walau smes sekeras dan sejauh apapun dari jangkauan, tetap berusaha keras untuk dikembalikan. Pantang menyerah hanya oleh nama besar lawan.

Tanpa mengecilkan perjuangan tim Thomas dan Uber kita, tentunya ada hal-hal yang bisa dipetik dari perlawanan tim Uber Korsel dalam menghadapi China. Piala Thomas-Uber berikutnya dua tahun lagi, dan juga Olimpiade, rakyat Indonesia menunggu.

Nuwun.


Ilustrasi: badmintoncentral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.