Masih Tentang Sekolah Anak-anak Kita

SAW – Bandung

Sahabat…

Menjadi orangtua di jaman kiwari ternyata susah-susah gampang. Sekedar berbagi rasa, bagi sesama orangtua atau siapa saja yang hendak menjadi orang tua.

Meski sudah banyak tulisan-tulisan keprihatinan dari para sahabat berkaitan dengan pendidikan di Indonesia, tetap saja akhirnya saya mengirim tulisan ini. Semoga tidak membosankan.

Seperti yang kita ketahui, bahwa pendidikan di Indonesia semakin hari semakin mahal. Tak sedikit yang tak sanggup menggapai mimpi menjalani pendidikan formal sebagaimana layaknya hak setiap warga negara untuk mendapatkannya. Maka tergeraklah hati sebagian orang-orang yang dianugerahi kepedulian terhadap masalah ini.

Opini di gulirkan, tentang alokasi pendanaan yang lebih besar harus di berikan pada bidang pendidikan ini, terutama pendidikan dasar 9 tahun.  Dari Opini, kemudian realisasinya diupayakan melalui jalur legislasi sehingga gol-lah 20% APBN untuk pendidikan. Alhamdulillah, diharapkan tidak ada lagi istilah ‘tak sanggup membayar uang sekolah’ sehingga seluruh anak-anak negeri ini berhak mendapatkan pendidikan dasarnya.

Syahdan, …

Pendidikan adalah lahan basah untuk bertanam amal, bahkan juga bertanam modal. Sebagian oknum pendidik yang semakin lama semakin banyak pengikutnya,( sehingga bingung, apakah masih layak di sebut oknum ), sangat menikmati kepahaman para orang tua akan arti pentingnya pendidikan. Maka tak salah jika kemudian berbagai alasan dibuat untuk bisa menjual pendidikan dengan harga mahal.

Karena Ilmu Pengetahuan kan mahal, maka wajar dong jika biaya mendapatkan ilmu juga mahal? Tengoklah, tiap awal tahun ajaran, iuran DSP (Dana Sumbangan Pendidikan), Buku Paket Wajib, LKS, Iuran ekstra kurikuler dan lain-lain. Belum lagi ‘himbauan’ wajib mengikuti les pada guru kelasnya. Maka tak ayal, setiap tahun ajaran baru adalah masa orangtua meramaikan kantor pegadaian dengan menenteng radio bututnya, lembaran kain batiknya, bahkan ada istilah ‘menyekolahkan’ sertifikat rumahnya.

Dan maaf,… bagaimana dengan kalangan pendidik -biasanya- di sekolah-sekolah favorit tersebut? Tak jarang yang kemudian mereka sangat berbahagia dengan mobil dan motor barunya.

Sahabat, …

Saya bicara realita di lingkungan saya. Bisa jadi memang tidak di lingkungan yang lainnya. Berangkat dari keprihatinan seorang saya yang melihat kondisi ini dengan mata kepala.

Maka, wajar jika saya juga merasakan kebahagian masyarakat dengan digulirkannya ‘sekolah gratis ada di mana-mana…’ (sembari berdendang : Mode On). Tak segan lagi mereka mendaftarkan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang mereka inginkan. Setidaknya masalah biaya sekolah bukan lagi kendala. Apalagi di daerah saya, Jawa Barat, selain dari APBN, pembiayaan sekolah ini juga disubsidi dengan APBD Propinsi. Terasa sekali kemudahan ini bagi masyarakat kecil seperti saya.

Namun, benarkah program sekolah gratis ini membahagiakan semua golongan? O…o…, ternyata tidak. Sebagian oknum guru yang sudah terbiasa dengan istilah ‘mahalnya biaya pendidikan’ tadi rupanya tak rela jika serta merta ladang basah mereka dihilangkan. Maka berbagai upaya dilakukan untuk bisa bertanam kembali di ladang mereka. Secara pribadi, saya memahami, karena ternyata tak jarang struk gaji mereka minus -meski sudah beberapa kali mengalami kenaikan gaji- karena tergadai pada BPD hingga BPR. Duuhh…

Tapi, tak sedikit juga yang ketidakrelaan itu dikarenakan keterbiasaan mereka dalam menikmati basahnya lahan bercocoktanamnya. Karena sudah menjadi kebiasaan, gaya hidup, tuntutan kehidupan, maka kondisi ini tentu akan sangat merepotkan.( Hehehe… bener lho, … ada yang kayak gini).

Oh ya, …

Saya baru saja melihat sebuah kondisi yang bikin saya sedih hati, sehingga saya berniat berbagi …

Begini …

Kebijakan penggratisan biaya pendidikan bagi sekolah negeri dari SD sampai SMP adalah kebijakan yang tidak bisa ditawar. Jika ada penyelewengan, maka saksinya berat. Yang berwajib membuka layanan pengaduan dari orangtua murid yang sifatnya online. Jadi benar-benar sulit bagi oknum untuk berkelit.

Namun kebijakan tersebut akan gugur jika sekolah yang bersangkutan menyelenggarakan program “RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL”. Di daerah saya, program RSBI ini digulirkan sejak 3 tahun yang lalu, waktu itu istilahnya SBI, baru di tahun ke dua berubah menjadi RSBI. Jadi tahun sekarang memasuki tahun ke empat. RSBI ini bagi SMP dan SMA. Biasanya dalam satu Kota/Kabupaten di tunjuk sekolah-sekolah tertentu yang fasilitas sekolah dan SDMnya sudah memenuhi standart. RSBI menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris dan fasilitas kekinian semacam wajib bawa laptop dan lain-lain. Maka wajar jika ada biaya tambahan selain subsidi resmi dari pemerintah.

Guru-guru yang bertanggungjawab terhadap program ini biasanya sudah mendapatkan semacam ‘sertifikasi’ kelayakan. Maka, tak heran kalau penyelenggaraan SBI biasanya dalam satu angkatan hanya beberapa kelas, tergantung dari kesiapan SDM dan fasilitas sekolah tersebut. Untuk memasuki kelas tersebut, anak-anak pun menjalani serangkaian tes yang lebih berat daripada kelas reguler yang lainnya.

Dua tahun berjalan,  semua sekolah negeri tidak diperbolehkan mengambil uang DSP dan SPP juga uang ekstra kurikuler bagi murid baru, kecuali untuk sekolah yang bergelar RSBI. Ternyata, penentu kebijakan di sebuah sekolah yang anak saya juga termasuk murid SBI angkatan pertama, cerdik juga. Pinter banget malah. Dari seluruh kelas yang dimiliki tahun ini (10 kelas) semua dikategorikan SBI, sehingga seluruh murid yang memasuki sekolah ini harus membayar uang DSP dan SPP. Saya kurang paham bagaimana penentu kebijakan ini menyampaikan alasan kepada para orangtua murid nanti. Karena dari sekitar 400 murid yang diterima, ternyata harus tetap membayarnya. Hahaha… akal-akalan pihak sekolah. Begitu kami para orangtua murid menanggapi kebijakan tersebut. Karena hal yang sangat tidak wajar adalah :

1. Sebuah kelas dengan sistem SBI jumlahnya tak lebih dari 24 anak. Kalau dipaksakan dengan 40 murid per kelasnya, apa bedanya dengan kelas reguler ? 
2. SDM di sekolah tersebut jelas belum memenuhi standart sertifikasi. hal ini diperkuat dengan pernyataan beberapa orang gurunya, yang kebetulan bertetangga. 
3. Bahkan di Kota lain yang telah terlebih dahulu menerapkan kelas SBI ini, hanya berani membuka 2 kelas SBI karena saya yakin, kwalitas lebih mereka utamakan.

Saya prihatin, masih ada pihak yang berkelit dengan sangat tidak cantik untuk menghindari gratisnya biaya pendidikan. Justru karena terlalu kentara, sebagian orangtua yang anaknya sudah termasuk yang diterima di sekolah tersebut merencanakan untuk mengundurkan diri dan memilih sekolah-sekolah reguler yang lainnya. Jika ada yang gratis, mengapa memilih yang mahal ? Atau jika harus sama-sama mahal, mengapa tidak ke sekolah swasta saja yang kwalitasnya ada yang lebih bagus dari sekolah-sekolah negeri yang bagus tadi. Toh sama-sama bayar mahal gini… (mulai deh, .. itung-itungan).

Beberapa hari yang lalu, sulung saya lulus SMP dari sekolah yang bergelar RSBI tadi. Pada waktu acara pertemuan orangtua siswa dan pihak sekolah, ada sambutan dari pihak kesiswaan. Awalnya tak ada yang istimewa, hanya basa basi semata. Namun di ujung ucapan selamat atas kelulusan putra putri kami,… jujur sekali disampaikan : jika putra putri Bapak dan Ibu ingin melanjutkan sekolah, maka hal yang harus disiapkan pertama kali setelah kelulusan ini adalah uang. Karena untuk memasuki jenjang SMU, tak cukup dengan uang ratusan ribu, namun sudah terhitung puluhan juta. Ampun deh … rusak suasana hati saya mendengarnya, padahal beberapa saat yang lalu hati saya lumayan berbunga-bunga ketika nama si sulung di sebut sebagai salah satu siswa yang berprestasi. Hmmm, jujur benar si bapak

Sepanjang perjalanan pulang, … saya jadi sering tersenyum kecut sendirian. Teringat dendang artis Cut Mini yang dulu sering muncul di iklan layanan masyarakat : sekolah gratis ada di mana… mana … (oya,.. sekarang sih sudah tidak pernah muncul lagi…). Juga teringat akan si sulung yang sudah mendaftar di SMU RSBI pilihannya, sembari membayangkan angka dua digit dengan enam nol di belakangnya.

Hhhhh… rasanya Bandung kok makin panas saja, ya … (menghela nafas panjaaaaaannngg …)

(Sesaat setelah mewanti-wanti si sulung, namun dijawabnya hanya dengan senyum di kulum. Yups,… saya masih bisa mempercayainya)

Ilustrasi: sahabatgloria wp, andarini blogspot

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.