Mix n Match

Cinde Laras

“Ibu…. Kenapa gigiku seperti gigi Bapak ? Kalau rahangku kecil begini kan giginya jadi penuh. Gingsul deh….”, keluh anakku suatu kali saat mengaca di kamarnya.

“Gak papa…, malah keliatan manis kok…”, aku menimpali dengan senyum.

Hukum pewarisan sifat yang ditemukan Gregor Johann Mendel dalam biologi memang memungkinkan itu. Bagaimana seorang anak dimungkinkan memiliki gigi sang ayah dengan rahang sang ibu, atau wajah sang ibu dengan struktur tulang mirip sang ayah, atau kulit sang ayah dengan rambut dan warna mata sang ibu. Mix ‘N Match.

Suatu ketika saya pernah menjahit sendiri kebaya brokat untuk seorang pembantu saya yang akan menikah. Ukuran badannya sudah saya tulis dan recheck berkali-kali. Ketika akhirnya baju itu jadi, saya terkejut menyadari ternyata panjang lengan kiri dan kanan si pembantu ini berbeda 2 cm. Dan ternyata lingkar pergelangannya juga selisih hampir 1,5 cm. Untungnya sewaktu diukur, saya menggunakan lengan kanannya yang lebih besar dari lengan kirinya. Jadi lengan baju itu tidak kesempitan. Hanya saja, saya terpaksa menjahit ulang keliman panjang lengan kirinya. Gak lucu kan kalau lengan baju sebelah kiri itu tampak kepanjangan ?

Lain kali, saya bertemu dengan seorang gadis muda yang gagah. Tubuhnya atletis, jari tangannya kekar, wajahnya kotak dan ‘keras’. Tapi sisi jiwanya lembut minta ampun. Padahal kalau orang melihat sosoknya, bisa jadi akan mengiranya (maaf) seorang waria. Kakinya kekar dan tampak liat. Tapi sumpah, dia wanita tulen. Hanya saja dia mewarisi karakter fisik ayahnya. Dan alhamdulillahnya, si gadis ini di kemudian hari juga bersuami. Itu berkah tak terhingga. Bayangkan, gadis-gadis yang cantik saja banyak yang tidak punya jodoh, tapi dia yang memiliki penampilan fisik seperti pria malah punya suami. Allah sungguh Maha Besar.

Karyawan toko sepatu di banyak tempat sudah tak asing dengan keadaan ini : ‘kaki konsumen sebelah kanan punya ukuran berbeda dengan ukuran sebelah kiri’. Bukan karena cacat kaki sejak lahir, tapi memang ada orang-orang yang diberkahi dengan kaki ayah di sebelah kanan dan kaki ibu di sebelah kiri. Aneh ? Tidak juga. Ini adalah salah satu bukti kebesaran kuasa Tuhan. Apapun akan terjadi bila Dia berkehendak.

“Kenapa rambutku merah sih, Bu ?”, keluh anak keduaku yang berambut keriting tapi pirang itu.

“Karena rambutmu seperti rambut Ibu…”, jawabku kalem.

“Sekalian kek punya kulit putih kayak Ibu biar mirip bule, orang bule rambutnya pirang kok kulitnya item !”, protesnya waktu itu. Kulitnya memang sawo matang kayak bapaknya.

“Udaaah….. Itu artinya Bapak dan Ibu cinta kamu. Kan Bapak dan Ibu sama-sama memberi apa yang nempel di badan untuk kamu to ? Yang penting kan keliatan cantik….”, sahutku dengan senyum.

Ya, menyikapi pewarisan sifat genetis pada anak kita memang cuma dengan cara bersyukur. Kita harus mengajaknya bersyukur karena memiliki sifat kedua orangtua. Dan kita harus mengajaknya bersyukur karena telah mendapat karunia dari Allah Ta’ala dengan segala keadaannya.

“Iih, kamu kok bandel banget sih ? Kayak siapa sih, Dik ? Emang Ibu ngajarin kayak gitu ?”, omelku suatu kali setelah dikabari oleh guru kelasnya tentang betapa ributnya si anak bungsu yang berantem di kelas.

“Ya jelas kayak ibunya, orang ibunya yang mbimbing di rumah…”, celetuk suami tiba-tiba. Hahaha…., kalau sudah yang negatif kayak giniii aja, ternyata gak ada orangtua yang mau ngaku telah mewariskan pada anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.