Gesang mengalir sampai jauh…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SELAMAT JALAN GESANG MARTOHARTONO (1917-2010)

Bengawan Solo

…riak di hulu.

Bagaikan kontur Bengawan Solo di bagian hulu, Gesang seperti sebuah aktifitas kemanusiaan yan selalu geliat mencari sesuatu yang produktif untuk dihasilkan bagi kehidupan. Mencari lahan-lahan yang bisa ditanami dengan ide dan karya, diantara himpitan dinding-dinding sungai yang curam dan tinggi.

Gesang memiliki keinginan seperti masyarakat yang berdiam di daerah hulu sungai, memanfaat air sungai untuk kelangsungan hidup, karena air adalah kehidupan. Bagai seorang petani yang tak banyak tahu apa-apa, kecuali bekerja dan berkarya dengan keringat dan nalar, Gesang yang buta notasi irama musik, bisa membaca bunyi riak air yang deras di hulu sungai, menjadi irama musik yang indah didengar sampai kapanpun, karena suara dari bunyian alam tidak akan sirna sampai kapanpun.

Terciptalah sebuah lagu ketika usianya masih belia 23 tahun. Lagu itu bak sebuah sungai yang mengalir begitu saja ketika tercipta olehnya. ‘Bengawan Solo’.

…gelombang di tengah

Ketika sampai mengalir ke bagian tengah, Gesang dihadapi pada sebuah kenyataan yang lebih dinamis daripada yang dia alami ketika di hulu. Ciptaan lagunya mulai dikenal banyak orang, dinyanyikan oleh berjenis manusia yang membayangkan betapa dahsyatnya aliran sungai yang dialirkan Gesang ke dalam lagunya. Bahkan sampai oleh seorang penyanyi Toshi Matsuda di negeri nan jauh di utara sana… merekamnya ketika Gesang berusia 30 tahun di tahun 1947.

Bak sebuah sungai, lagu ‘Bengawan Solo’ mulai “tercemar” oleh banyak pengakuan orang yang mengaku-aku sebagai ciptaannya. Gesang bisa memaklumi, karena ketika ‘Bengawan Solo’ ketika mengalir ke bagian tengah, makin banyak dimanfaat oleh ribuan penduduk yang membutuhkan kesegaran jiwa untuk menikmatinya.

Makin banyak orang menikmati “Bengawan Solo’, bagai gelombang air yang mengalir deras tak tertahankan. Di negeri melayu yang bertetangga, ada seseorang yang mencoba mencuri ‘Bengawan Solo’, agar semua alirannya mengalir menjadi miliknya. Untunglah, lurah agung Soekarno, harus turun ke dalam sungai dan membelokkannya kembali menjadi milik Gesang.

‘Bengawan Solo’ kini bagaikan sebuah alunan melodi lagu yang mengalir deras ke jutaan lubang-lubang telinga manusia.

…lautan di hilir

Kian lama, kian panjang perjalan Gesang dengan alunan ‘Bengawan Solo’-nya. Hampir semua mengenalnya, menyanyikannya, mendengarkannya dan merasakan kesejukan aliran alunan lagu ‘Bengawan Solo’. Siapapun yang merasa memiliki ‘Bengawan Solo’, begitu bangga dengan lagu ini. Dihargai dan dinyanyikan oleh semua orang dari berbagai bangsa yang pernah seolah ikut merasakan kesejukan ‘Bengawan Solo’.

Ketika tiba di hilir, Gesang seperti telah melalui perjalanan sangat panjang, sepanjang sungai terpanjang di tanah Jawa itu. Usia Gesang begitu panjang untuk ukuran kita semua. Bagaikan sungai ‘Bengawan Solo’ yang melewati dua propinsi besar, puluhan kabupaten, ratusan kecamatan dan ribuan pedesaan,Gesang mengalami masa-masa panjang. Dari kesenangan masa kolonial, kepedihan siksaan bala tentara Nippon, kemerdekaan negerinya, guncangan hiruk pikuk negerinya, kemajuan negerinya dan akhirnya juga merasakan kemunduran negera yang dicintainya. Semua kontur era kehidupan sudah dilalui Gesang, bagaikan sungai ‘Bengawan Solo’.

Kini, Gesang memasuki dunianya yang baru, bermuara ke lautan maha luas. Tempatnya yang abadi. Dia tak lagi ikut mengalir bersama ‘Bengawan Solo’, karena sungai itu hanya ada di tanah kelahirannya. Gesang mengalir sampai jauuuuh… akhirnya ke laut. Tempat maha luas yang ada di mana-mana.

Selamat Mengalir Gesang ke manapun engkau suka… (*)


Ilustrasi: http://eraindrop.wordpress.com/2009/11/22/song-bengawan-solo/

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.