Jati Diri Bangsa

Dewi Aichi – Brazil

Melihat berita di tv Globo yang menampilkan para aparat pemerintah dalam mengatasi para pengemis dan gelandangan yang pada tidur di jalanan maupun emperan toko. Para aparat ini mengajak mereka untuk berkumpul dan dikasih penjelasan agar mereka nantinya tidak lagi hidup sebagai gelandangan dan pengemis. Dengan cara memberikan ketrampilan dan latihan kerja secara gratis dalam sebuah balai latihan kerja.

Dari hasil investigasi dan hasil rekaman camera tersembunyi, ternyata para gelandangan dan pengemis itu sering mendapat perlakuan kasar dan melukai mereka dari beberapa masyarakat dan bahkan patroli polisi yang menertibkan mereka. (http://g1.globo.com/sao-paulo/noticia/2010/04/ministerio-publico-investiga-gcm-por-maus-tratos-moradores-de-rua.html). Bagi siapapun yang memperlakukan mereka dengan kasar, akan ditindak sebagaimana mestinya. Pengemis dan gelandangan punya hak untuk diperlakukan dengan baik, kata reporter tv tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Maraknya fenomena gelandangan dan pengemis di Indonesia, terutama di Jakarta, sangat membuat hati ini trenyuh jika menyaksikannya. Apakah ini tanda gagalnya pemerintah Indonesia? Atau memang ini pilihan hidup masyarakat Indonesia dengan mencari uang secara mudah, dengan mengabaikan rasa malu? Ataukah karena orang Indonesia itu terlalu baik hati, mudah merasa kasihan, suka menolong, suka memberi, sehingga sifat-sifat tersebut disalahgunakan oleh pihak-pihak atau oknum-oknum tertentu?

Pengemis kok sehari penghasilannya Rp.700.000, dan bilang lagi sepi. Opo tumon? Pengemis kok punya mobil mewah dan rumah elite, ini lebih tidak masuk akal. Tapi kalau di Indonesia masuk akal kok. Pengemis-pengemis berdasi, punya laptop lho..! Modal mereka hanya sederhana, yaitu memutus urat malu mereka. Menutup mata dan telinga mereka. Mudah kan? Ini hanya kiasan saja.

Apa mengemis itu sama dengan mereka yang ngamen maupun minta sumbangan? Bagaimana menyikapi mereka? Mari kita kaji apa yang disebut pengemis. Menurut PP (ternyata ada PP nya juga), pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan cara meminta-minta di muka umum, dengan pelbagai cara dan alasan untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain. Kalau menilik pengertian pengemis versi pemerintah ini, jelas bahwa pengemis mendapatkan hasil dari meminta-minta. Dan sampai sekarangpun pemerintah belum mampu mengatasinya, selain lapangan kerja yang kecil, para pengemis ini memang mental pengemis, pemalas, dan maunya hidup enak tanpa kerja keras.

Kadang-kadang aku sangat pelit kepada mereka ini. Contohnya saja, pengemis yang bawa-bawa anak kecil untuk mengundang rasa iba. Ada juga pengemis yang badannya segar, gemuk, bahkan lebih gagah dari aku.Dan masih banyak lagi pengemis-pengemis yang mengundang rasa iba setengah mati. Aku kalau mau jujur, lebih merasa iba dan ingin mengulurkan tangan kepada mereka. Kalau sedang di Jakarta, banyak sekali pengemis kecil yang juga mengundang rasa iba. Tapi dengan memberi kepada mereka, secara tidak langsung, kita mengajarkan mereka untuk tetap malas dan menjadi pengemis, jadi salah satu solusi ya biarkan saja, tidak usah memberi kepada mereka. Toh kalau tak satupun memberi, mereka akan mencari usaha yang lain, tidak akan mengemis lagi.

Ada lagi pengamen yang membuat aku mendadak pelit, yaitu pengamen yang ala kadarnya. Menurutku, pengamen ala kadarnya ini yang biasanya bermodak icik-icik, dan suara sumbang, tak ada bedanya dengan pengemis. Pengamen jenis inipun, aku berusaha untuk tidak memberi, agar mereka bisa berpikir dan berusaha. Dan lagi, masih ada yang membuatku menjadi pelit sekali yaitu orang-orang yang minta sumbangan ke rumah maupun di jalanan dengan dalih amal.Mereka memakai simbol-simbol agama dan difabel sebagai dalih untuk meminta sumbangan. Aku suka mikir, kalau belum mampu membangun, atau belum ada dana, mbok ya ditunggu dulu, sampai dana itu cukup atau ada. Bukan dengan cara meminta sumbangan dari pintu ke pintu atau bahkan menyodorkan kotak amal di angkutan umum, terminal, perempatan, lampu merah dan sebagainya.

Ada pengecualian, aku bisa tidak pelit terhadap pengamen yang memang pandai dalam olah musik dan suara. Ada beberapa tempat makan di Jogja, maupun lesehan yang selalu di hadiri pengamen-pengamen yang bagus. Mereka itu sekedar menyalurkan hobby bermusik, agar bisa dinikmati oleh orang lain. Syukur-syukur bisa didengar oleh Ahmad Dhani, atau produser musik lainnya dan mengajaknya bergabung. Ada yang ngasih duit mereka senang, jika tidakpun tidak masalah. Inilah yang aku suka.

Satu lagi pengamen yang ada di dalam bus malam jurusan Jogja-Jakarta, kalau pas berada di terminal Muntilan dan Magelang, ada pengamen yang sangat bagus, sangat layak untuk di nikmati. Bahkan irama keroncong atau langgampun mereka mampu.Penampilan mereka yang ramah, tetap memainkan musik tanpa peduli ada yang ngasih uang ataupun tidak. Biasanya para penumpang bus ngasih mereka uang lembaran kertas, bukan recehan lagi. Pengamen ini menampilkan musik yang memang layak untuk dinikmati, tidak sekedar icik-icik jreng jreng dengan suara sumbang.

Balik lagi ke masalah sumbangan. Aku kalau niat menyumbang ya di posko-posko bantuan yang bisa dipertanggungjawabkan penyalurannya. Bisa dengan mengirimkan bantuan melalui jasa kurir, transfer, maupun datang sendiri ke posko, dengan niat dan ikhlas.Jadi jelas sekali bahwa pelit dan tidak itu ada tempatnya sendiri. Pelit bukan berarti tega. Tapi salah satu solusi untuk mengurangi pengemis di Indonesia ini yang jumlahnya sangat banyak.

Pernah baca bahwa di Madura sudah mengeluarkan fatwa haram mengemis. Entahlah, apakah fatwa ini ada kelanjutannya? Ataukah masih menunggu persetujuan dari MUI Pusat? Bahkan pernah baca juga di beberapa surat kabar, akan adanya denda bagi yang ketahuan memberi uang kepada pengemis. Entah ya, apakah berita tentang peraturan itu berlaku atau hanya isapan jempol.

Pemerintah atau aparat seharusnya juga bersikap adil kepada masyarakat kelas ekonomi rendah. Kita bisa melihat sendiri bagaimana aparat semena-mena dalam menertibkan mereka. Penggusuran, penertiban pedagang kaki lima, penggarukan pengemis dan gelandangan.

Setuju saja dengan menertibkan mereka, terutama pedagang kaki lima. Memang aparat selalu memberitahukan terlebih dahulu sebelum ditertibkan. Masyarakat sendiri kadang susah di atur. Akibatnya terjadi bentrokan, perlawanan yang kadang memakan korban. Beberapa tayangan tv serupa tentang penertiban pedagang di Tanah Abang, penertiban di Semarang, Bandung, Surabaya yang mendapatkan perlawanan seru.

Melihat kearogansian aparat dalam melawan mereka . Berkesan semena-mena dan tidak berperikemanusiaan. Bandingkan dengan sikap aparat dalam memperlakukan para pejabat yang melakukan korupsi, mencuri uang rakyat, yang kejamnya sama dengan para teroris?

Masih inget kata-kata Foke ketika Jakarta dilanda banjir, “itu kesalahan pedagang kaki lima yang membuang sampah sembarangan!” Betul sekali, banyak masyarakat(bukan hanya pedagang kaki lima), tidak pernah mengubah perilaku mereka, membuang sampah sembarangan.Sampah botol plastik, stereofoam, bungkus makanan, tidak larut dan selalu menyumbat saluran-saluran air, berserakan dimana-mana. Padahal tidak ada hentinya truk pengangkut sampah dari dinas kebersihan. Kalau banjir, kan mereka-mereka juga yang susah!

Sebagai warga biasa, aku hanya mengharapkan kembalinya jati diri bangsa. Pemerintah, dalam hal ini pemerintah pusat maupun daerah, bisa menata kembali wilayahnya masing-masing agar menjadi tempat yang tertib, bersih dan nyaman.

Menertibkan jangan diartikan untuk memindahkan, melarang ataupun menggusur. Tapi dipikirkan juga solusinya bagaimana. Apalagi sekarang ini kondisi ekonomi masyarakat miskin di Indonesia masih sangat memprihatinkan.Banyak karyawan yang kehilangan pekerjaa dan beralih di sektor informal. “Saat ini sekitar 250 ribu orang secara nasional kehilangan pekerjaan.

Aparat jangan sampai over acting dalam menertibkan masyarakat miskin yang hanya sekedar menyambung hidup. Penggusuran dan menertiban semena-mena bukan cermin bangsa Indonesia yang katanya welas asih. Semoga masalah ini cepat ada solusinya.


Ilustrasi: iwandahnial wp, alwannazifa blogspot

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *