Ah…ada-ada saja…

Abhisam DM

Ia mengajar pada sekolah dasar berbahasa Belanda, Boedi Moeljo. Seminggu sekali anak-anak dari kelas tertinggi ia bawa ke sawah dan ke ladang, dan disana ia habiskan mata pelajaran bahasa Belanda. Dengan jalan seperti itu, murid-murid menjadi semakin semangat belajar dan semakin dekat dengannya. Ia tidak menggunakan buku wajib, tetapi alam sekitar ia pergunakan sebagai bahan pelajaran. (Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer).

Ia adalah Raden Ajeng Siti Soendari, anak seorang kepala Pegadaian dari Pemalang. Soendari dibesarkan di lingkungan ningrat yang sadar pendidikan. Setelah lulus dari HBS Semarang ia mengajar di salah satu sekolah swasta di Pemalang, tidak lama, sebelum akhirnya ia pindah mengajar di Boedi Moeljo.

Selain mengajar Soendari juga giat menulis. Aktivitas menulis, baik dalam bahasa Belanda maupun Melayu, sudah akrab dengannya sejak masih kuliah di HBS. Tulisan-tulisan Soendari tidak jarang membuat merah telinga penguasa Hindia-Belanda. Lama-kelamaan, karena Soendari juga dicurigai terlibat pergerakan Madiun, intelejen ditugaskan khusus mengawasinya.

Para orang tua murid di Boedi Moeljo tahu Soendari tidak disukai oleh pemerintah Hindia-Belanda. Mereka resah. Faktor Soendari bisa menggagalkan anak-anak mereka untuk bisa bekerja sebagai pegawai negeri di Gubermen, kantor pemerintah Hindia-Belanda. Boedi Moeljo adalah sekolah yang disubsidi oleh pemerintah Hindia-Belanda dan menjadi semacam ”penyalur PNS”, lulusan-lulusannya akan lebih mudah diterima bekerja di Gubermen.

Jadilah Soendari dianggap pengganggu, bukan hanya oleh pemerintah Hindia-Belanda, tapi juga oleh para orang tua murid didiknya yang notabene adalah orang-orang Hindia (Hindia-Belanda, Indonesia). Akhirnya, Raden Ajeng Siti Soendari dipecat. Ironis.

Dalam kesadaran umum masyarakat waktu itu, khususnya kalangan terpelajar Jawa, menjadi priyayi Gubermen sangat prestigious. Jangan dibayangkan situasinya seperti pada masa-masa pergerakan nasional meluas. Jaman Soendari adalah jaman dimana mentalitas inlander begitu tebal. Dalam pengertian Bung Hatta mentalitas inlander adalah mentalitas kuli, babu, jongos inlander yang mengagungkan orang asing.

Mentalitas inlander melahirkan sikap pesimistis: Hindia belum becus mengurus dirinya sendiri, karena itu harus ”dibina” dan ”dibantu” oleh pemerintah Hindia-Belanda. Mentalitas inlander juga mengilusi: pemerintah Hindia-Belanda tidak disadari sebagai pemerintahan kolonial, bahkan sering justru dianggap dewa penyelamat.

Metamorfosa Gubermen

Hasyim Wahid, adik kandung Gus Dur yang biasa dipanggil Gus Im, menulis early signs penjajahan model baru ala barat dalam bukunya “Telikungan Kapitalisme Global di Indonesia”. Pasca World War II kemerdekaan negara-negara terjajah, terutama di Asia-Afrika termasuk Indonesia, tidak bisa dielakkan lagi. Namun negara-negara penjajah tidak mau kehilangan dominasi. Antisipasi sudah disiapkan. Di akhir World War II berdiri badan-badan dunia macam United Nations, World Bank dan International Monetary Fund.

Neokolonialisme bukanlah istilah khayalan yang diciptakan Soekarno, begitu tulis Amien Rais dalam bukunya “Selamatkan Indonesia”. Soekarno sudah mengendus bau penjajahan model baru tersebut. Soekarno berkata dalam salah satu pidatonya, “Penjajah tidak akan punah dan tidak sudi enyah dari muka bumi Indonesia ini, meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kita proklamasikan kemerdekaan Indonesia!”

John Perkins menggemparkan dunia melalui bukunya “Confessions of An Economic Hit Man”. Syafruddin Azhar, pengamat perbukuan dan editor, menulis resensi buku Perkins di Koran Tempo: sebuah “pengakuan dosa” dan kesaksian seorang ekonom bayaran Amerika Serikat yang ditugasi untuk menciptakan ketergantungan ekonomi negara dunia ketiga dan terbelakang (less-developed countries) melalui politik utang….para agen economic hit man menyalurkan dana dari Bank Dunia, Asian Development Bank, dan organisasi bantuan lainnya menjadi dana korporasi raksasa…akhirnya, negara penerima utang itu menjadi target yang lunak ketika negara kreditor membutuhkan apa yang dikehendakinya, seperti pangkalan militer, suara di PBB, serta akses yang mudah untuk mengeksplorasi sumber daya alam (minyak bumi, gas, dan emas) yang dimiliki negara penerima utang.

”Sejarah hanyalah siklus. Sejak jaman Nabi Adam sampai sekarang persoalannya melulu sama; pengabdian, pengorbanan, penghkianatan, intrik, manipulasi dan sebagainya. Hanya packagingnya saja yang berubah-ubah,” kata seorang Kiai dari Kotagede, Jogjakarta. Ia mungkin benar. Dulu bekerja di Gubermen sangat prestigious. Kini Gubermen bermetamorfosis menjadi badan-badan dunia atau lembaga-lembaga donor. Mentalitas inlander, yang dulu berhasil dikikis oleh generasi founding fathers, kembali menebal.

Kembali lahir sikap pesimis: Indonesia tidak bisa tidak membutuhkan ”binaan” dan ”bantuan” dari badan-badan dunia. Kembali muncul ilusi: badan-badan dunia tidak disadari sebagai neokolonialisme, bahkan sering justru dianggap dewa penyelamat.

Sri Mulyani pun dielu-elukan. Managing Director World Bank dianggap posisi yang “mengangkat harkat dan martabat bangsa”. Presiden menyatakan, ”Bangga.” Ah, ada-ada saja…

Dari ”Muqaddimah” fasal ke-23, Ibnu Khaldun:

Fi anna al-maghluba mula’ abadan bi al-iqtida’ bi al-ghalibi fi shi’arihi wa ziyyihi wa nihlatihi (Perihal bahwa mereka yang kalah selalu “tergila-gila” untuk meniru mereka yang menang menyangkut ciri-ciri fisik, pakaian, mazhab pemikiran, segala bentuk kebiasaan dan adat mereka).


Pamulang, Mei 2010


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.