Jadilah Seperti Ikan yang Pandai Menyesuaikan Diri

Nuni – Australia

Kisah ini cerita tentang pengalaman pribadi saat ‘bertempur’ dengan dinamika dunia kerja di Australia. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, anggap saja ini tips-2 dari saya pribadi plus baca buku sana sini untuk di-sharing dengan teman-2 semua.

Sekalian saya posting di sini karena banyak yang tanya secara verbal dan tulisan, seputar dunia kerja dan mencari peluang di Australia terutama untuk para pendatang (migrant). Semua yang baik datangnya dari Allah semata, yang buruk dari saya pribadi dan mohon dimaafkan, terutama kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Monggo, silakan disimak, dan semoga berguna ya!

Menjadi pendatang tentu menjadi halangan bagi kita semua untuk berjuang di negeri baru. Point-2 yang bisa saya tekankan di sini antara lain:

1. Bahasa yang berbeda (masalah aksen, pengucapan, budaya dan grammar).

2. Konsep dan metode yang sangat berbeda dengan negeri asal.

3. Medan yang belum kita kuasai.

4. Masyarakat, norma da nilai-2 yang berbeda.

5. Skill atau kualifikasi yang berbeda.

Ok, saya mulai satu-2 ya, semoga tidak ada yang terlewat. Bahasa adalah salah satu jendela untuk menjadikan kita manusia yang maju. Lewat bahasa kita bisa mengenal banyak dunia, budaya dan ilmu pengetahuan yang ditulis dalam berbagai bahasa. Karena itu kalau kita tinggal di negeri baru ya harus mau mengenal dan menguasai bahasa yang dipakai. Di Australia bahasa Inggris adalah bahasa utama, dengan slang dan gaya bahasa yang berbeda dengan negeri induk (Inggris). Kalau kita punya kesempatan untuk belajar di negeri baru kenapa tidak dimanfaatkan?

Sayangnya banyak dari para migrant asal Indonesia yang entah segan atau malas tidak memanfaatkan kesempatan emas ini. Padahal kalau sudah dapat PR visa (penduduk tempat) otomatis dapat belajar bahasa Inggris di institusi yang ditunjuk pemerintah. Mungkin banyak yang berpikir ngabisin waktu karena harus dateng ke kelas, bosan (udah belajar di sekolah dulu) dan malu…belajar lagi belajar lagi…padahal kata orang maju, sukses itu datang dengan belajar tanpa bosan.

Anggap aja kita sedang merefresh ingatan kita tentang bahasa Inggris, kalau pun skill kita udah lumayan, kan bisa langsung belajar di tingkat advance (saat tes penempatan yang memang sulit, semua skill dites dan interview). Atau bisa kita gunakan untuk belajar IELTS kalau skill kita berbahasa Inggris udah gapek (jago) untuk bekal sekolah lagi dan bekerja. Percaya deh, semia itu akan berguna kelak saat kita mau mencari kerja. Kecuali emang tujuan kita ke negeri asing cuma mau ikut suami, di rumah saja atau tujuan lain yang ga jelas, bagaimanapun punya skill akan lebih bagus sebagai back up kalau terjadi apa-apa dengan pasangan kita. Lebih baik sedia payung sebelum hujan!

Di sini layaknya kehidupan baru, semuanya pun serba baru. Kesempatan ga akan datang kalau kita ga mau mengejarnya. Belum lagi dengan kebiasaan orang sini yang lebih suka pada orang proaktif, menunjukkan keahlian dan professional daripada KKN dan lain-lainnya.

Di sini orang masih bisa bekerja jadi sekretaris sampe usia 50 an, lowongan kerja pun berbeda, tidak boleh bias gender dan usia seperti yang biasa kita lihat di Indonesia. Saat diwawancara pun employeer lebih suka jika kita terlihat antusias dan berpengalaman dengan kerjaan yang kita lamar dan tentunya optimis. Kalau kita engga bisa ‘menjual’ diri sendiri dalam arti yang positif jangan harap mereka akan percaya dan yakin dengan kemampuan kita. Sekali lagi konsep ini berbeda dengan apa yang kita temukan di Indonesia, kadang untuk menjual kemampuan diri dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Demikianlah kita harus siap dengan dunia kerja di sini dengan rajin mengikuti workshop, bergaul dan rajin melihat peluang.

Sudah pasti negeri baru berarti sesuatu yang baru pula. Kalau kita dulu terbiasa dengan dunia kerja di Indonesia, mungkin masih bisa membantu. Seperti sistem penggajian, sistem penilaian prestasi karyawan, sistem pensiuan dan lain-lain. Leih dari itu pelajari dulu lingkup kerja yang bakal menaungi kita. Apakah ini sesuai dengan keinginan kita, bakat, skill, dan tentunya kondisi keluarga. Apakah masih punya anak kecil yanga harus ditiitpkan ke child care saat kita bekerja dll. Karena semua itu akan berdampak pada kinerja kita juga. Igat di sini engga ada support family seperti di Indonesia. Belum lagi masalah cuaca, kehidupan sehari-hari dll.

Saya percaya pada istilah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah, setiap masyarakat mempunyai nilai dan norma tersendiri. Ada hal-hal yang harus kita pelajari sebelum ‘masuk’ dalam lingkungan baru ini. Seperti halnya ikan yang pandai menyesuaikan diri, jadilah seperti itu, luwes dan fleksibel dengan tetap mempertahankan prinsip yang kita anut. Seperti halnya kita, orang sini pun akan respect kepada kita kalau kita menunjukkan prestasi dan skill terbaik kita kepada mereka. Profesionalisme memang penting di mana-mana. Dan akan menjadi nilai plus bila kita pintar melebur ke dalamnya tanpa meninggalkan jati diri kita sendiri.

Point yang terakhir ini yang sangat penting, skill dan kemampuan diri! Karena tinggal di negeri baru, tentu saja harus mau mengikuti kualifikasi yang mereka minta. Seperti contohnya untuk menjadi pengajar di sekolah dasar harus punya diploma education, peguasaan bahasa Inggris yang baik, menyukai dunia anak-anak, dll. Juga yang lebih penting, selain skill diraih dari bangku sekolah bisa dengan magang atau placement job. Kadang kalau kita menunjukkan prestasi dan dedikasi yang bagus, employeer tak segan-segan menawarkan pekerjaan kepada kita. Jadi buatlah diri kita siap dengan pekerjaan yang akan kita lamar.

Nah sekarang saya mau berbagi dengan pengalaman saya trakhir sebagai tenaga billingual support worker untuk siswa kindergarten/prepschool dan orangtua mereka. Intinya kerjanya sebagai moderator antara sekolah, siswa dan keluarga agar siswa cepat berinteraksi dan settle down dengan sekolah barunya, sebagai konsultan juga harus menjelaskan program, membimbing anak agar familiar dengan sekolahnya. Inilah tantangan yang harus dihadapi agar si kecil betah dengan sekolahnya, dan orangtua tahu apa yang akan dilakukan anaknya di sekolah tersebut.

Saat interview kemaren, saya diwawancara 2 orang konsultan senior. Mereka ingin tahu lebih banyak mengapa saya melamar pekerjaan ini. Juga skill dan pengalaman yang saya miliki untuk bekal menjadi konsultan. Thank God, saya berhasil menjawab semua pertanyaan dengan baik (sesuai harapan mereka). Karena itu lbih baik sebelum interview siapkan diri bai-baik dengan mempelajari organisasi/lembaga yang akan kita masuki. Cari data-data pendukung ntuk bekal interview dan pertanyaan-2 menjebak yg bakal diajukan. Soalnya di akhir interview mereka mengatakan, You are good and potential, Nuni.

Yang mereka tanyakan antara lain, mengapa suka bekerja dengan anak-anak, apakah punya pengalaman, apakah pernah bekerja berhubungan dengan dunia anak-anak termasuk interpreter (lucky me, sebelumnya saya pernah bekerja sebagai broadcaster di ABC yang menerjemahkan berita-berita ke bahasa Indonesia. Juga termasuk skill lain yang saya miliki untuk mendukung kerja sebagai konsultan, seperti hobi menulis, membacakan buku cerita dll. Kali lain mereka ingin tahu apakah saya siap dengan pekerjaan terebut dengan memberikan 3 skenario yang tricky yang ingin tahu apakah kita problem solving person. Ah…untung semua skenario yang diajukan udah sering saya alami di sekolah dan dibahas di sekolah pula:) Lucky me.

Demikianlah 45 menit berakhir yang bagi saya sebagai diskusi menyenangkan 3 partit:) Akhirnya saya diminta keluar ruangan interview, karena mereka ingin berunding apakah saya lulus interview. Dan tidak sampai 5 menit kemudian, saya diselamati mereka. Congratulation Nuni, now you are being our team! Good luck and all the best! Dan mereka masih menggoda, pasti kamu udah menyangka kan?:) Well semoga ini menjadi ladang amal saya di dunia untuk membantu anak-anak Indonesia dan anak-anak lainnya menikmati sekolah dan sukses di masa depan (amin).


Ilustrasi: weboaal

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.