My English Sucks

Linda Cheang – Bandung

Apa kabar Pembaca semua?

Eitt…. Jangan terkecoh dulu dengan judul artikel ini yang pakai Bahasa Inggris, karena isi artikel ini lebih banyak mengenai curhat saya tentang tidak enaknya English, dan mungkin juga kemampuan bahasa yang lain.

Kenapa saya curhat begini? Sebab ternyata setelahlewat bertahun-tahun sejak pertama kali belajar English hingga detik ini, saya masih saja merasa belum  “hebat” dalam menggunakan bahasa ini. Harap dimaklum selain karena saya memang tidak pernah secara resmi ambil kursusnya (karena ayah saya melarang), lebih banyak saya pelajari bahasa ini karena dipaksa dan terpaksa.

Ya, yang namanya terpaksa dan dipaksa, ya, sampai kinipun, saya masih merasa sulit untuk bisa menikmati sisi indahnya bahasa ini.  Sebagai contohnya kalau ada artikel di Baltyra yang ditulis dalam English, jika saya merasa malas, biasanya saya lewatkan saja, kapan-kapan baru saya baca kalau saya ada “mood” untuk itu, meski saya menyadari, pada artikel tsb bisa ada informasi berguna. Ini merupakan sebuah “pengakuan dosa” terbuka saya kepada publik, betapa payahnya saya ini. Hehehe….

Saya dipaksa menggunakan English pertama kalinya oleh ayah. Kemampuan beliau ber-English ria juga, ya, agak lumayanlah. Kata ayah, karena saya sudah dipaksa menggunakan English sehari-harinya, maka sudah tidak perlu lagi ayah sengaja memberikan kursus English. Ibu saya yang sebetulnya berhak memberikan les privat English, karena sudah punya ijazah untuk jadi pengajar English resmi bersertifikat, malah tidak mau menggunakan English. Alasan ibu, takut salah jika menggunakan English.

Mau tahu hasil saya akibat kondisi seperti itu? Saya berbicara, menulis dalam English yang tidak teratur tata bahasanya! Saya bahkan kesulitan menangkap  pembicaraan dalam English oleh penutur yang orang British asli karena menurut pendengaran saya, orang-orang British ngomong English-nya seperti  sedang berkumur-kumur atau kadang kala seperti sedang menggorok tenggorokkannya.

Gara-gara tata bahasa English saya yang ngawur ini, saya kerap kali kena teguran para guru pengajar English sejak di SMP hingga di sekolah kejuruan. Apalagi ketika sekolah di SMK, saya sempat ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam English Speech Contest, walhasil naskah pidato yang saya tulis adalah yang paling banyak mendapat koreksi tata bahasa dari guru pengajar yang termasuk “killer” saat itu.

Plus teguran yang tiada habisnya akibat kemampuan English saya yang payah. Pengalaman mendapat koreksi dan teguran itulah yang membuat saya kapok ikutan lomba pidato English lagi. Satu alasan saja : malu karena kemampuan English saya sangat payah! Walau demikian pihak sekolah tetap menunjuk saya untuk menjadi panitia lomba pidato English antar kelas dan antar tingkat, bersama seorang siswa  teman saya yang akhirnya siswa  tsb menang di lomba pidato English di satu sekolah kejuruan otomotif.

Si teman saya ini mengatakan kalau saja saya yang maju, dijamin, saya yang bakal menang, sebab dia saja belajar banyak dari saya. Saai itu, memang sayanya saja yang sudah merasa kapok dan patah arang. Saat itu belum ada metoda pengajaran English dengan cara yang menyenangkan separti masa kini.

Apa pasal mengapa saya merasa payah dengan kemampuan English  saya sendiri? Pertama, menurut saya, English adalah  bahasa yang tersulit di dunia, menggunakan konyugasi segala. Sudah tentu karena tata bahasanya yang amburadul, saya sering ditertawakan orang-orang yang lebih mumpuni menggunakan English.

Kemudian, karena ketika saya berbicara English, dialek yang keluar dari suara saya adalah campuran dialek Sunda dan Singaporean. Maka makin senanglah orang-orang menertawakan saya demi mendengar dialek saya yang lucu. Tawa mereka tambah keras ketika saya sampaikan bahwa saat itu saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki saya ke Negara Singa itu. Sungguh, saya sendiri sampai saat ini tidak tahu dari mana dialek Singlish itu bisa meracuni dialek saya dan sampai kini dialek Singlish itu tidak bisa hilang. Tambah lagi sejak saya banyak memiliki teman-teman baru asal negeri Singa, tambah parahlah Singlish saya! Ampun, lor!

Perkara saya terpaksa menggunakan English dimulai ketika sejak  kelas 2 SMP, ada mata pelajaran khusus English Conversation dan diberikan sebanyak 2 x 2 jam pelajaran setiap minggunya.  Guru pengajar menugaskan selain harus mengucapkan English dengan benar berikut intonasinya secara benar pula, gurupun mewajibkan setiap siswa-siswi membuat surat korespondensi resmi dan tak resmi, bercerita di depan kelas,  serta membuat  naskah untuk tim drama kecil berikut dialognya singkat dalam English sebagai tugas-tugas  wajib. Jika tidak lulus dalam Conversation, berarti sangat memalukan, dong.  Pada akhirnya saya memang lulus dengan nilai yang baik, tetapi percayalah, itu hanyalah nilai secara teori.

Saya merasa terpaksa lagi harus berjibaku dengan English ketika memasuki kegiatan sekolah di sekolah menengah kejuruan penerbangan oleh guru pengajar waktu itu setiap siswa-siswi diwajibkan menulis buku harian dalam English dan setiap akhir semester dikumpulkan sebagai tugas yang dapat membantu menentukan lulus tidaknya mata pelajaran English tsb.

Belum lagi dalam bagian tulis-menulisnya setiap siswa-siswi harus membuat surat lamaran dan CV, serta surat-surat sekeretarial yang berkaitan dengan pekerjaan di penerbangan. Guru pengajarnya sangat teliti karena salah satu guru adalah pengajar kursus English Oxford dan mengharuskan siswa-siswi belajar dari kamus Inggris-Inggris-nya Oxford. Saya merasa makin payah saja ketika terpaksa harus membaca buku-buku teks ilmu penerbangan yang kebanyakan terbitan penerbit Amerika, McGraw-Hill. waktu itu membaca buku-buku teks teknik tertibat buku McGraw-Hill itu ibarat seperti membaca bacaan para dewa teknik penerbangan. Wajib hukumnya kalau tidak mau mata pelajaran yang berkaitan teknik jadi tidak lulus. Alhasil mata saya semakin tambah sepet dan otak saya serasa tambah panas.

English dalam buku-buku teks itu bukanlah English yang digunakan sehari-hari, tetapi English khusus teknik yang lebih sering tidak dapat ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Mana tiada buku teks yang tipis. Satu mata pelajaran teknik bisa menggunakan 2-5 buku-buku teks yang tebalnya tidak pernah kurang dari 100 halaman, dikalikan sekian mata pelajaran.

Saat itu saya sudah sempat mengumpat, mampuslah saya! Bagaimana tidak mampus kalau untuk menerjemahkan saja saya keteteran dan merasa eneg. Membaca buku teks English saja sudah menguras energi karena perlu usaha keras untuk mengerti apa yang dimaksud. Tidak bisa diterjemahkan kata per kata tetapi harus mengerti apa isi konteks dalam satu kalimat, kemudian satu alinea, lalu satu bagian/perikop, sebelum memahami satu bab.  Belum lagi kalau saya bertanya pada ayah, beliau cuma punya dua  jawaban saja yang digunakan bergantian : I don’t know atau I don’t understand!

Usaha yang melelahkan dan menjengkelkan! Sering kali saya jadi jengkel sendiri sampai sempat jatuh sakit,  kalau meminta pertolongan teman-teman yang paham sastra English, karena terjemahan mereka malah membuat saya tambah pening. Yah, pembaca pasti bisa membayangkan bahasa teknis jika diterjemahkan secara sastra, ya, hasilnya bikin sakit kepala. Namun tentu saja saya tak bisa menyalahkan teman-teman sastra yang telah menerjemahkan sesuai kemampuannya. Ini salahnya saya sendiri kenapa kemampuan English saya begitu payah!

Makin terpaksa lagi ketika pada saat menjalani kegiatan Praktik Kerja Lapangan di salah satu perusahaan penerbangan dalam negeri, saya bertemu dengan banyak teknisi asing asal Jerman dan Belanda, yang ikut merawat pesawat terbang di lokasi hangar perusahaan penerbangan tersebut. Saya “dikorbankan” teman-teman saya untuk menjadi wakil mereka berbicara dengan para teknisi asing tersebut. Ketika saya mulai agak lancar berbicara dengan para teknisi asing tersebut, teman-teman saya satu-persatu malah menghilang. Saat itu saya sudah kepingin menangis. Untung saja para teknisi tsb berbicara English dengan fasih dan pengucapan kata-katanya yang jelas (readable pronounciation)  sehingga saya akhirnya dapat mengimbangi  percakapan mereka.

Lulus dari sekolah kejuruan, meneruskan pendidikan teknik, yah, agak lumayan untuk mata kuliah English yang diberikan sebanyak 2 semester. Dosen pengajar Englishnya memakai American English ketika berbicara, yang lebih kena di telinga saya. Tentu saja buku-buku teksnya masih banyak gunakan terbitan McGraw-Hill.  Kali ini dalam hal kuliah, saya semakin merasa payah karena beberapa mata kuliah teknik juga memakai buku-buku teks yang masih dalam English. Cape, dehh, rasanya selama kuliah itu. Serasa beban jadi tambah banyak. Ketika pada akhirnya membuat tugas akhir saya yang berkaitan dengan aplikasi metalurgi, buku referensinya pun semuanya masih dalam English.

Tambah payah lagi ketika saya bekerja dengan bidang pekerjaan saya yang mengharuskan saya berkomunikasi menggunakan English percakapan baik dalam komunikasi verbal dan non verbal. Kemampuan English teknis saya membuat saya selalu kena teguran bos yang tidak suka dengan isi e-mail saya.

Terlalu teknis sehingga boss saja jadi pening kepalanya, hahaha (tertawa satir). Kecuali kalau saya membuat e-mail keluhan (complain) tentang kerusakan pada mesin-mesin yang sudah dibeli si boss,  yang sering  ngadat sebelum masa garansi habis, bisanya boss tidak banyak menegur. Yah, karena si boss tidak banyak paham istilah teknis.  Tambah lagi saya dipaksa untuk dalam waktu sesingkat mungkin harus bisa memahami isi dan maksud dari surat-surat kontrak.

Makin serasa payah saja, saya ini, karena English yang digunakan adalah bahasa hukum.  Membacanya saja sudah serasa mengerikan untuk saya. Gara-gara English di surat-surat kontrak ini, saya sempat diam-diam menangis pada satu hari sepulang kerja, karena saya benar-benar merasa payah, tidak punya kemampuan super untuk cepat mengerti.

Saya baru merasa kemampuan English saya jadi lebih baik, ketika berkomunikasi untuk menyampaikan keluhan atas kerusakan pada mesin-mesin yang sudah dibeli si boss. Ada satu merek mesin produksi Belgia tetapi bagian rekayasa tekniknya (engineering) ada di UK. Tentu teknisi kepala penanggung jawabnya bertugas di UK dan orang Britih asli. Saya paling senang berkomunikasi dengan si teknisi kepala ini karena responnya menyenangkan.

Tidak harus pakai English dengan tata bahasa seperti pada buku teks surat-menyurat, yang penting maksud keluhan atas kerusakan suku cadang atau sistem mesin  dapat tersampaikan dengan jelas.  Di kemudian hari, menurut pengakuan si teknisi kepala ini, cara saya gunakan  English saya sangat baik dalam menyampaikan keluhan, sehingga membuat si teknisi kepala itu tidak bisa menolak untuk sesegera mungkin mengirimkan suku cadang  yang rusak , dengan biaya kirim  ditanggung perusahaan pembuat mesin.  Di sinilah saya baru merasakan kemampuan English saya ternyata tidak parah-parah amat.

Situasi dipaksa dan terpaksa seperti yang saya alami itu ternyata menolong saya untuk pelan-pelan meningkatkan kemampuan English saya. Mulai saya secara sengaja belajar membaca koran yang ditulis dalam English, bacaan-bacaan ringan, majalah terbitan dalam negeri yang berbahasa Inggris, mendengarkan siaran berita dalam English tanpa teks terjemahan nonton film-film berbahasa Inggris dari DVD dengan sengaja tidak menjalankan teks terjemahannya, dan cara-cara lainnya.

Selama beberapa waktu, sedikit mulai percaya diri timbul ketika dipaksa dan terpaksa untuk menemui tetamu perusahaan yang jelas-jelas hanya bisa bicara dalam English dan bahasa negara asalnya. Sering juga saya menjadi perantara antara teknisi asing dengan teknisi lokal perusahaan, sebab ternyata ada juga beberapa teknisi lokal, meski mereka cukup terbiasa dengan English melalui buku-buku manual prosedur standar operasional,  tetapi belum tentu mampu menangkap jelas apa saja yang dimaksud dalam berkomunikasi verbal.

Sampai kinipun, saya masih belajar English secara otodidak, karena saya masih merasa kemampuan saya payah. Apalagi hamper setiap hari saya berkomunikasi dengan teman-teman sesama pengguna Singlish, tambah parahnya English saya. Tetapi walaupun English saya ini parah, saya masih lebih baik daripada para oknum penutur yang sukanya menggunakan kosa kata English sepotong-sepotong demi atas nama gengsi atau karena ingin dianggap keren.

Sering kali saya sengaja menguji mereka dengan ajak ngomong langsung dalam English, seolah-olah saya ini turis dari tetangga sebelah. Umumnya para oknum penutur itu kalau diajak bicara English, langsung saja jadi  arapap, eureupeup, alias tidak lancar. Biarpun kemampuan English saya masih payah, setidaknya saya masih dapat menggunakan English Conversation meski dengan tata bahasa yang tidak sempurna.

Sekarang ini meski ada peningkatan dalam kemampuan English saya, tetap saja saya masih harus mengatakan my English (still) sucks…  Saya masih belum pede untuk membuat klaim I use English fluently for oral and written. jadi, semoga dapat maklum, yah.  Terutama kalau suatu saat Anda, para pembaca mungkin menemukan status saya di Facebook dalam English yang tata cara dan tata bahasanya tidak beraturan (perilaku sok keren mode : on), maka artikel saya ini sudah menjelaskannya. Jadi kalau kelihatan malu-malu’innya saya,  yah,  sudah dipaparkan di sini. Hehehe. ….

Oh, ya ada lagi satu “pengakuan dosa” saya. Jika saya berjumpa dengan kawan-kawan saya yang tetangga sebelah, meski saya paham dan dapat bercakap bahasa mereka, tetapi lebih baik saya bercakap dalam English. Setidaknya walau English saya lebih payah dari mereka, masih lebih baik untuk menangkap maksud yang dikomunikasikan daripada berkomunikasi dalam bahasa para kawan-kawan dari tetangga sebelah itu  :D.

Lebih enak pakai Bahasa Indonesia juga. Harapkan para kawan dari tetangga-tetangga sebelah mau bercakap dalam Bahasa Indonesia saja, lah.


Ilustrasi: Our English Sucks

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

35 Comments to "My English Sucks"

  1. Education For Our Country  25 January, 2011 at 19:11

    Articel bagus.. !!!
    ikutan ngopi gambarnya…
    Education For Our Country

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *