Selamat Jalan Ibu Ainun Habibie…

SELAMAT JALAN IBU AINUN HABIBIE (1937 – 2010)

Ibu Ainun yang mendampingi presiden dengan tekun.

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

SEJAK kita merdeka belum terjadi seorang presiden atau istri presiden kita yang sedang menjabat wafat. Soekarno, Soeharto dan Abdurrahman Wahid wafat setelah mereka tidak lagi menjabat.

Bagaimana dengan istri-istri presiden? Hanya Ibu Tien Soeharto yang meninggal dunia ketika suaminya sedang menjabat. Beliau wafat bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha tahun 1996, sama seperti ketika mantan Wakil Presiden Adam Malik meninggal dunia dan dishalatkan di Mesjid Istiqlal oleh EZ Muttaqien yang menjadi imam shalat Idul Adha tahun 1984.

Bahkan malam harinya, konduktor Zubin Mehta dengan orkes simfoninya, mengheningkan cipta untuk Adam Malik sebelum bermain di Balai Sidang Jakarta.

Indonesia pertama kali kehilangan istri pendamping presiden, ketika Ibu Fatmwati Soekarno wafat di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1979. Saat itu nama Soekarno sangat haram untuk diungkit-ungkit. Mau tidak mau kepergian Bu Fat (panggilan akrab), membuat semua orang terkenang saat-saat negeri ini berada dalam kritis masa perjuangan kemerdekaan.

Saya begitu trenyuh, ketika mengetahui bahwa bila ada acara-acara keagamaan Islam yang dihadiri Presiden Soekarno, Bu Fat lah yang mengaji membacakan kitab suci. Begitupun dengan Ibu Inggit yang selalu memberi kode-kode tertentu pada telur yang dikirim ke suaminya saat di penjara Sukamiskin.

Kalau telurnya retak, artinya banyak kerusuhan kecil di luar sana terhadap kezaliman kolonial Belanda. Atau memberi tanda-tanda khusus pada huruf Arab pada Quran yang dikirim ke suaminya. Nanti Soekarno akan merangkaikan tanda-tanda itu menjadi sebuah berita penting. Mengirim surat tentu akan disensor bahkan dilarang oleh petugas penjara.

Ibu Inggit Garnasih hidup dalam kesederhanaan yang sangat keterlaluan. Tahun 1981 pernah terbetik berita bahwa cucunya akan melelang surat nikah Inggit dan Soekarno untuk kebutuhan perut, sambil Ibu Inggit membuat jamu tradisional untuk nafkahnya.

Ketika ada bukti-bukti bahwa Soekarno pernah minta maaf kepada Belanda saat menjadi suaminya, agar dia jangan dipenjara dan berjanji menghentikan agitasinya melawan Belanda, Inggit ngamuk seolah bangkit dari kerentaan yang lemah. “Pamali! Kusno melakukannya!” Bahkan Wakil Presiden Adam Malik menolak fakta itu.

Inggit telah wafat tahun 1984 dan dimakamkan dalam kesederhaan dan kesepian. Lalu menyusul kepergian Ibu Hartini yang wafat pada tahun 2002 ketika anak tirinya menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Kini, kembali Indonesia kehilangan istri presiden yang bersahaja dan paling bersiih dari hiruk pikuk kesibukan suaminya sebagai presiden Indonesia. Ibu Hasri Ainun Habibie, istri Presiden Baharuddin Jusuf Habibie wafat di Muenchen, saat klub sepak bola kota itu kalah bertanding merebut Piala Champions.

Kiprah Ibu Ainun jarang terdengar dan membuat garis hijau yang jelas antara dia dengan suaminya sebagai presiden. Tidak seperti Nancy Reagan, istri Presiden Ronald Reagan, yang banyak kalangan disebut sebagai “the real US President”, karena pengaruhnya yang sangat kuat pada kebijakan suaminya.

Ibu Ainunlah yang membuat suaminya menjadi presiden yang begitu enerjik dan paling enerjik dalam sejarah bangsa ini. Habibie sangat responsif dan terbuka dalam kesehariannya sebagai presiden. Ini tak lepas dari peran Ibu Ainun yang tekun mendampingi suaminya. Banyak orang bilang Ibu Ainun seperti oksigen bagi suaminya.

Saya tak bisa menduga bagaimana kekuatan suaminya setelah ditinggal pendamping setianya. Ketika Ibu Tien wafat tahun 1996, tahun-tahun berikutnya menjadi waktu yang melemahkan suaminya, sehingga membawanya pada akhir kekuasaan di tahun 1998.

Saya secara pribadi bangga dengan Ibu Ainun. Hanya beliaulah istri presiden yang satu-satunya satu almamater dengan saya. Ibu Ainun adalah lulusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia, sebelum menikah dengan seorang pemuda yang kelak menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Terbayang ketika Soekarno mengumumkan mobilisasi umum untuk merebut Trikora tahun 1961, pasti Ibu Ainun ikut digembleng untuk ikut bersiap-siap melakukan apa saja sebagai mahasiswa kala itu.

Sebuah majalah mingguan berita nasional terkemuka, pernah memberitakan bahwa sebelum dikirim ke Jerman atas usaha Muhammad Jamin, Habibie dan pemuda-pemuda lainnya digembleng di Istana Merdeka oleh Presiden Soekarno.

Entah secara kebetulan, kepalanya Habibie dipegang-pegang oleh Soekarno, sambil ditunjuk-tunjuk untuk memberi semangat sebagai contoh kepada lainnya. Mungkin saja Soekarno tertarik melihat sorot mata Habibie muda yang begitu tajam dan ini mungkin juga menjadi daya tarik Ibu Ainun untuk menjadi pendampingnya seumur hidup.

Setiap istri-istri presiden Indonesia, selalu melakukan hal yang terbaik dan proposional sebagai fungsinya pendamping lahir batin sang suami atau istri (bagi Taufik Kiemas). Kita tak bisa membayangkan, bagaimana Soekarno tanpa Bu Inggit, tanpa Bu Fatmawati, tanpa Bu Hartini, tanpa Dewi. Apa jadinya Soeharto tanpa Ibu Tien. Rasanya Gus Dur pun tak akan tegar memimpin negeri ini tanpa kehadiran Ibu Shinta.

Kehadiran istri-istri presiden Indonesia mempunyai tempat sendiri dalam sejarah bangsa ini. Bagaikan sebuah taman yang asri, istri-istri presiden bak bunga warna warni yang memancarkan parfum, sehingga membuat suami mereka selalu tegar. Ibu Ainun adalah satu dari bunga-bunga yang cantik itu.

Selamat Jalan Ibu Ainun… (*)


Ilustrasi: Koran Tempo

3 Comments to "Selamat Jalan Ibu Ainun Habibie…"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 19:53

    … akhirnya film tentang kehidupan rumah tangga Pak Habibie dan Ibu Ainun bisa disaksikan oleh orang Indonesia yang pernah dipimpin Pak Habibie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.