Arisan Panci Arisan Gengsi

Cenil & Lik Gembus

Lembayung – SOLO the spirit of java

Semalam saya tidak bisa tidur karena udara sangat panas sekali. Bahkan rangkaian baju tidur yang sudah sangat minimalis yang dikawinkan dengan udara gerak dari kipas angin kecil tidak mampu memprovokasi otak saya untuk memerintahkan mata untuk tidur dan badan untuk beristirahat.

Dengan malas-malasan bangun lebih pagi dari biasanya, menuju ke kamar mandi yang ada di ujung koridor kost dan membasuh muka serta menyikat giginya. Biarpun gerah dan badan lengket tapi saya tak hendak membasuhnya pada jam yang sepagi ini, apalagi mengingat saya tiba-tiba ingin membeli sarapan di pasar yang tidak begitu jauh dari kost.

Lima menit berkendara motor menuju pasar tradisional yang cukup besar dan komplit. Pagi ini saya ingin sekali makan nasi pecel wader. Nasi pecel dengan lauk ikan wader kecil-kecil yang digoreng garing,dengan sambal kacang yang tidak diuleg dengan begitu halus. Masih terasa kriusnya.

Pasar tradisional memang terasa menyenangkan jika cuaca cerah dan tidak turun hujan. Jika semalam habis hujan, pastinya menjadi tempat yang paling tidak nyaman untuk dikunjungi karena selain korban sandal jepit yang menjadi penuh lumpur, juga berakibat polusi udara pada hidung kita yang sebenarnya masih kurang sensitif karena baru bangun tidur.

”Bhadhalhaaa!!!!” seseorang mengagetkan saya sambil menepuk ringan pundak kanan saya. Saya menoleh dan membalas dengan tepukan yang sama pada lengan kirinya. Lik Gembus.

”Lho, ke pasar, Mbak Cenil? Belanja apa? Pembalut ya?” tanya Lik Gembus sambil meneliti tas kresek hitam yang saya tenteng di tangan kiri yang berisi pisang susu.

“Hush, kok pembalut sih Lik? Lha wong saya cari sarapan jhe ini.” Jawab saya sedikit mendongkol karena Lik Gembus tanpa rikuh mengucapkan kata-kata seperti itu.

“Lho, lha biasanya kalau perawan belum mandi sudah ke warung atau ke pasar pagi-pagi ya besar kemungkinan mencari itu, Mbak Cenil. Hahaha…..” seperti biasa Lik Gembus tak pernah mau mengalah.

“Mbak, anu, panjenengan tahu tempatnya yang jual areng apa nggak? Saya dari tadi sudah putar-putar kok ndak nemu jhe.” Lik Gembus bertanya pada saya sambil matanya terus mengitari setiap sudut pasar.

“Lho, lha mana saya tahu to Lik, wong yang biasanya belanja buat angkringan kan sampeyan, bukan saya lho. Saya ya tahunya cuma tempat cari sarapan, jajan pasar, sama tukang servis jam weker soalnya Masnya nggantheng tenan. Hahaha….” jawab saya sekenanya sambil mata saya mengikuti pandangan mata Lik Gembus.

Tanpa pikir panjang saya lalu mengamit lengan Lik Gembus dan saya eret-eret menuju ke warung pecel wader favorit saya. “Sudah Lik, kita sarapan dulu saja sambil ngobrol-ngobrol yo.” Tawar saya kepada Lik Gembus yang sudah tidak sempat menolak menandingi kegesitan saya memesan kepada penjual yang dipadukan dengan kecepatan menyajikan yang ekstra dari bakul pecel wadernya.

“Anu Mbak, lha wong ya nganyelke. Simboknya Thole pulang kampung.”nada bicara Lik Gembus seperti nada prajurit laporan kepada atasannya. Secara spontan saya tertawa terkekeh melihat caranya berbicara demikian. “Loh, tumben, ada acara apa to di kampung Lik? Kok pakai diperlukan pulang kampung segala? Ada saudara punya kerja ya?” tanya saya pada Lik Gembus tanpa melihatnya karena mata saya menangkap bentuk seekor ikan wader yang tidak proporsional di atas piring saya.

Kepalanya sangat besar, tidak sebanding dengan besar tubuhnya, dan tidak sebanding dengan rekan-rekan sespesiesnya yang sama-sama sudah digoreng garing. Saya terkekeh sendiri.

“Mutung Mbak, marah, karena habis saya marahi.” jawab Lik Gembus. “Lho, sampeyan ya bisa marah juga to Lik? Saya kira sampeyan itu tipe-tipe barisan suami-suami takut istri jhe. Terlihat culun dan menggemaskan gitu lho. Hahaha…” respon saya  yang diiringi tawa ngakak dan lebih ngakak lagi setelah melihat ekspresi Lik Gembus yang terlihat memelas dan tersiksa. “Sampeyan itu Mbak, kok ya senang sekali melihat orang lain susah. Sudah mirip para penggede negara kita saja lho. Sukanya melihat rakyat susah. Jannn….” Lik Gembus berkata lagi sambil menyeruput teh manis panas dituangkannya pada piring kecil yang tadinya dipakai sebagai alas gelas itu.

“Lhoo…. lha kok terus merembet nyacat aparat negara to Lik? Kok sepertinya tidak ada hubungannya. Wis, sampeyan cerita saja, ono opo toh, kok sampai Simboknya Thole itu pakai minggat segala. Opo servis sampeyan sudah tidak memuaskan lagi? Mak Erot sudah koit lho Lik. Hahaha….” jawab saya sambil menepuk punggungnya keras-keras sampai Lik Gembus terbatuk-batuk dan air teh sedikit muncrat dari bibirnya yang membentuk sudut kemonyongan yang wajar untuk aksi nyeruput teh panas.

”Heishh…. Mbak, saruu!! Wong di tempat umum kok ngomongin masalah ranjang saya lho. Lagipula bukan soal itu Mbak. Ini soal Simboknya Thole itu yang suka ikut arisan sana-sini. Kok sepertinya semua perkumpulan arisan yang dia dengar di kupingnya itu diikuti semua. Mulai dari arisan RT, arisan RW, arisan ibu-ibu orang tua murid di sekolahnya Thole, arisan paguyuban istri pengusaha angkringan, arisan ibu-ibu kampung yang berzodiak gemini, sampai arisan ibu-ibu yang menginginkan nasibnya lebih baik. Sampai bosan saya dengar Simboknya Thole itu pamitan mau arisan ini arisan itu.” terang Lik Gembus panjang lebar.

”Lho, arisan kan bagus Lik? Prinsipnya sama juga dengan menabung kan? Tidak ada ruginya dong?!” jawab saya cepat.

Sambil menghela nafas panjang Lik Gembus menyambung lagi ceritanya, ”Ya kalau cuma sebatas arisan saja , ya sebenarnya tidak apa-apa Mbak. Betul kata sampeyan tadi, idhep-idhep nabung. Prinsipnya sama seperti nabung, meski tidak berbunga. Kelebihannya lagi bisa melayani simpan-pinjam. Lha tapi kalau setiap pulang arisan selalu bawa barang-barang yang sistem pembayarannya dicicil kan repot to Mbak?

Apalagi barang-barang itu tidak begitu kita perlukan. Wajan teflon lah, panci presto lah, terus toples plastik yang namanya apa gituu… pakai ewer-ewer itu saya lupa, nyicil gelas yang bentuknya mirip di restoran yang ada di tv-tv itu lho Mbak, yang atasnya mblendhuk terus bawahnya keciiillll…. gitu. Lha kan semua itu sebenarnya kita ndak butuh lho Mbak. Sudah gitu cicilannya itu lhooo….. marai anyel mangkel tenan.

Lha wong saya nasehati mbok ndak usah mengambil cicilan barang-barang yang kita ndak perlukan kok malah nangis, katanya malu sama ibu-ibu yang lain, karena hampir semua selalu mengambil jika ada yang menawarkan barang dagangan. Dikasih pengertian kalau uang itu harus dikelola dengan gemi, setiti, ngati-ati, harus teliti supaya bisa terus menyekolahkan Thole, kok malah kalah sama gengsi. Ehh… tadi subuh kok pamitan saya bilang mau menenangkan diri dulu di kampung. Jannn…. mirip artis saja, pakai menenangkan diri di suatu tempat kalau sedang dirundung masalah. Pusing saya Mbak.”

Saya terdiam mendengar paparan Lik Gembus yang merupakan ungkapan keprihatinannya akan sikap istrinya. Yang bagi saya lebih tepat dikatakan sebagai fenomena sosial dalam bersosialisasi.

Arisan di satu sisi merupakan sarana untuk bersilaturahmi, menjalin keakraban, dan tukar-menukar informasi. Arisan juga diharapkan bisa menjadi tempat untuk membantu keadaan ekonomi dengan menggunakan fasilitas simpan-pinjam. Untuk keluarga yang tinggal di lingkungan kompleks perumahan dimana hampir setiap ibu-ibunya juga bekerja di luar rumah, maka arisan yang biasanya diadakan sebulan sekali bisa menjadi sarana keakraban dan perkenalan bagi ibu-ibu kompleks yang jarang sekali bisa bertatap muka satu dan yang lain, bahkan bisa jadi dengan tetangga sebelah rumah sendiri.

Tetapi kemudian memang arisan juga diikuti dengan fenomena penawaran barang dagangan, entah dari ibu-ibu anggota arisan sendiri yang menjajakan barang dagangannya atau memanggil sales produk-produk tertentu dari luar. Hal ini yang terkadang menjadi permasalahan ketika iklim persaingan, rebutan barang baru, dan gengsi bermain dengan ketat di sini. Yang tidak kuat tak jarang memilih untuk tidak datang arisan dan hanya menitip iuran pada pengurus saja.

Konsekuensinya, dia digunjingkan, atau bahkan tidak disinggung sama sekali namanya yang membuat lama-lama menjadi terlupa akan keberadaannya. Tidak dipakai dalam acara-acara kompleks seperti panitia malam tirakatan tujuh belasan, atau lomba dalam rangka hari ibu.

Yah…. walaupun sebenarnya kita bisa memilah dan memilih sendiri untuk sak dherma atau secukupnya, apa yang mampu kita tanggung, dan mana yang tidak dalam jangkauan kita, tetapi tetap saja lingkungan berperan sangat penting dalam proses pengambilan keputusan kita dimana semuanya pasti menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang harus kita terima. Simboknya Thole memilih untuk mengambek dan menghilang dari peredaran galaksi Lik Gembus untuk sementara waktu.

”Yo wis Lik, yang penting Simboknya Thole masih mau pamit waktu hendak pulang kampung. Yuk, saya temani cari bakul arang.” ajak saya pada Lik Gembus sambil memberikan selembar lima-ribuan pada bakul pecel.

Di kejauhan terlihat kios dengan karung-karung plastik bernoda cemong hitam-hitam. Saya dan Lik Gembus menuju ke sana dengan langkah pelan kekenyangan.

Cheers,

Lby (19/05/10;15:21)



Pic from:

http://tipsrumah.com/wp-content/uploads/2009/12/pan2-300×225.jpg


Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.