Tentang Bonsai

TENTANG BONSAI: (MASIH) PUNYA BUKUNYA…….

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Solo, 1980’an

Jumpa kawan lama. Gombloh panggilannya. Pandai melukis. Kawan SD jadul, gak terlupakan karena berlima kami pernah mbhedhog/mencuri ayam jago tetangga. Jago blorok gagah yang berakhir di penggorengan di rumah orang tua Gombloh, kampung Mangkubumen Kulon. Halus, baik hati, kalem tipikal  yang gak mau nyusahkan kawan.

Justru diperdaya kawan, dapat angin saja saat mendekorasi resor di Pulau Seribu hingga Bali. Rejeki gak kemana, rejeki tetap ada di Solo. Pada sebuah bank swasta, berkat kepiawaian dan kreativitasnya, Gombloh dipercaya sebagai interior dan eksterior desainer.

Saat ke belakang rumahnya, dua sosok tanaman mungil menyita perhatian saya. Bonsai. Ringin preh/Ficus sp dan Siantho/Dewandaru. Daun ringin telah mengecil hingga ukuran 20% normal. Cabang, dahan dan rantingnya tersusun kompak rapi. Sedang pohon siantho didapat dari biji selepas beribadah di Borobudur. Ayah Gombloh termasuk cendikiawan/sesepuh kaum Budha. Kedua bonsai itu jelas dirawat penuh kasih sayang.

Perjumpaan dengan Gombloh mempengaruhi minat saya terhadap bonsai. Berdua akhirnya kami sering berburu bakalan bonsai, seputar Solo. Terjauh hingga ke Tawangmangu, kaki Gunung Lawu. Saat berburu di seputar Alun-alun Kidul, kami mesti mencabuti tumbuhan beringin di dinding parit besar. Terjun kami ke parit gak hiraukan sesuatu di kiri kanan kaki kami, berayun-ayun faeses wong Solo kidul. Saat itu masih jamak orang berjongkok pagi hari berhajat di sepanjang tembok bibir parit besar pinggir jalan.

Saat melihat beringin tumbuh di pagar tembok tinggi rumah jadul, kami gak segan-segan untuk mengetuk pintu. Selalu dipersilahkan mengambil bibit/bakalan bonsai itu. Sering dengan tatapan dan raut muka yang seolah berucap: “Wong gendheng sableng! Aneh!!

Manjati dinding dan atap rumah orang hanya untuk sekedar mengutip tumbuhan beringin liar!” Ringin sungsang yang tumbuh di atap, konon bertuah. Tuah apa?! Saya gak perduli. Tuah senang sukacita yang pasti! Belum kenal buku bonsai, kami berburu dengan peralatan yang sangat minim. Bekal utama hanyalah tekad nekad dan rasa ingin memiliki bonsai saja.

Merantau ke Luar Jawa, mulai th 1986

Selesai kuliah, saya merantau ke Sumatera. Bonsai dan bakalan bonsai, saya serahkan ke adik saya. Dengan memberikan buku kitab babon induk bonsai Indonesia tulisan Soegito Sigit, sebuah gunting, sebungkus pupuk daun, hand sprayer dan beberapa perkakas lainnya, harapan saya tentunya adik saya akan memelihara bonsai itu secara benar.

Harapan yang berlebihan rupanya! Saat cuti tahun 1988, saya melihat bonsai dan bakalan bonsai itu merana, tak terawat dan sebagian bahkan mati dan musnah.

Di Sumatera, hobby bonsai ini tersalur. Lebih banyak jenis tanaman yang bisa dijadikan bakalan bonsai. Setiap jumpa bibit tumbuhan berkayu saya melihat peluangnya untuk dibonsaikan. Pun begitu, jenis beringin tetap mendominasi. Ini karena ringin relatif mudah pembentukan dan pertumbuhannya.

Dengan menekuni perburuan beringin untuk bakalan bonsai, saya mencatat dan memiliki 14 spesies beringin, antara lain: preh, lo, ringin karet, ringin putih, ringin kuning, ringin korea, ringin sungsang, ringin halus, rambung merah dsb. Seorang kolega, Jadel asal Kanopan Ulu-Rantau Prapat-Sumut pernah komplain saat melihat saya lagi asyik  membonsaikan beringin. “Parbegu ini, Pak!”, ujarnya. Tempat hantu artinya. Saya senyum saja. “Berani terima resikonya, Pak?”, tanyanya lagi.

Saya jelaskan, saya memelihara beringin untuk dibonsai, bukan untuk diberi sesaji dan mengundang sesuatu mahluk gak terlihat berdiam di pohon itu. Pohon itu diberi kasih sayang, perhatian dan suka cita. Diapun akan balas berlebih memberi sukacita ke kita. Kelak dua tahun berselang, si Jadel itu merengek-rengek minta beringin yang sudah jadi bakalan bonsai ketika kami menempati rumah dinas baru di perkebunan Sam-sam, Kandis-Riau.

1990, 1992 dan Seterusnya. Selalu Pindah Tugas, Meninggalkan Bonsai-Memegang Erat Bukunya………

Membentuk, merawat dan menjadikan pohon sebagai bakalan bonsai dan selanjutnya menjadi bonsai sungguh merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Seolah kita berkomunikasi dengan bonsai. Dan selalu bonsai menjawab lebih dari yang saya duga. Semakin dirawat, dilihat disentuh dan penuh diperhatikan maka bonsai memberi kesukacitaan yang berlebih. Dan sebaliknya, jika tidak diperhatikan maka bonsai segera merana.

Berbarengan dengan membentuk bonsai, saya juga mengoleksi buku-buku bonsai pada setiap kesempatan guna menambah wawasan. Ini juga sebagai ujud ikatan batin dengan bonsai. Manjadi staff kebun sawit maka saya mesti siap dimutasikan ke seluruh wilayah perusahaan di beberapa propinsi Sumatera dan Kalimantan.

Itu artinya saya juga harus merelakan sebagian koleksi bonsai menjadi rebutan tetangga. Ritual yang selalu berulang. Mutasi dalam pulau Sumatera masih menyisakan sebagian koleksi. Mutasi ke Kalimantan dan dari Kalimantan kembali ke Sumatera sungguh memporakporandakan perbonsaian saya.

Apa boleh buat, ini adalah rejeki saya. Gak punya bonsai yang prima, minimal saya (masih) punya buku dan atau gambarnya…………

Serba-serbi Buku Bonsai (Koleksi Pribadi)

Tahun Terbit.

    Buku bonsai terjadul koleksi pribadi adalah terbitan tahun 1981 (penerbit PT Gramedia Jakarta), ditulis oleh Soegito Sigit: BONSAI, Cara membuat dan merawat pohon mini. Buku ini bisa disebutkan sebagai buku induk/babon bonsai Indonesia, tidak ada buku bonsai yang terbit pada periode sebelumnya.

    Isinya relatif lengkap bagi pemula bonsai sebagai petunjuk/panduan yang praktis. Buku setebal (57 + xi) halaman ini dilengkapi dengan 25 gambar dan 32 photo bonsai. Pula buku ini dilengkapi daftar kepustakaan sejumlah 15 buku induk bonsai yang 10 diantaranya ditulis oleh pakar bonsai Jepang.

    Satu buku bonsai tertua rujukan Soegito Sigit adalah terbitan tahun 1957 yang ditulis oleh Yuji Yoshimura dan Giovanna M. Halford berjudul: The Japanese Art of Miniature Trees and Landscapes Their creation, care and enjoyment. Edisi ketujuh dicetak tahun 1971 oleh Tuttle Company Tokyo Japan. Buku ini baru tahun 2006 saya peroleh. Judulnya berubah menjadi: the art of bonsai   creation, care and enjoyment.

    Ya, begitulah judulnya! Tidak pakai huruf kapital. Tidak ada lagi kata ‘Japanese’, seolah menegaskan: bonsai sudah jadi milik dunia! Buku yang saya beli di Pekanbaru adalah dicetak di Singapura pada tahun 2000 dan merupakan edisi cetak ulang ke 37! Tidak bisa disangkal lagi, itulah buku bonsai terlaris.

    Buku Bonsai Soegito Sigit dan Yuji Yoshimura & Giovanna M. Halford.

    Lebih Banyak Koleksi Buku Daripada Bonsainya…….

    Buku Dobel: Edisi Revisi dan Edisi (Pembelian) Sembrono

    Buku Bonsai Terbitan PS

    Pengarang/Penulis/Penyusun

      Penulis buku, sudah pasti adalah praktisi bonsai dengan latar belakang akademis dan pekerjaan yang bermacam-macam. Salah satu penulis, Ir Budi Sulistyo, menyusun lebih dari satu buku bonsai.

      Sementara buku bonsai tulisan Colin Lewis dan Neil Sutherland yang dialihbahasakan oleh Sudin S Purba dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo bisa disebutkan sebagai buku yang tidak mengindonesia walau berjudul Panduan Rinci Menanam dan Membentuk Bonsai. Buku ini memandu pebonsai di daerah 4 musim. Indonesia bukan wilayah 4 musim. Pun begitu, gambar bonsai di dalamnya menambah wawasan dan kelana kembara bonsai. Wuihhhhh….

      Anakronisme Salah Satu Buku Bonsai Terjemahan.

      Anakronisme Koleksi Kolektor/Kampiun/Jawara Bonsai

      Keanekaragaman Isi

        Secara garis besar, buku bonsai itu mengajarkan bahwa membonsai itu bukanlah hobby yang sulit dan ataupun mahal. Anda tidak harus mempunyai (=membeli) banyak buku bonsai baru bisa (=tahu) membonsai. Di atas semuanya, adalah kemauan. Yang juga harus disadari adalah bahwa bonsai itu mahluk hidup, tumbuh, berkembang dan punya bahasa sendiri.

        Cacat Produk.

          Tak ada gading yang tak retak. Semua gading bisa dicari keretakannya. Pun juga beberapa buku bonsai koleksi punya beberapa cacat yang bagi saya tidak terlalu mengganggu dan atau mengurangi bobotnya. Setidaknya, saya juga seolah gading retak saat membeli dan mengoleksi dua buku bonsai yang sama persis, berbahasa Inggris, sama beli di gerai buku dua bandara, sama persis dalam waktu terburu-buru…….

          Mencintai Bonsai….

            Pecinta bonsai, tentu saja bukan sekedar mencintai bonsai thok! Tentu juga mencintai cinta, itulah yang disajikan di buku BONSAI tulisan Susan M. Bachenheimer Resnick. (In Cooperation With The Brooklyn Botanic Garden), diterbitkan Crescent Books New York-Avenel, New Jersey. Setidaknya Susan MBR (dan editor) meledek: angka (=halaman) 13 bukanlah angka celaka……..

            Tinggal Kenangan…….

              Berikut adalah photo koleksi bonsai yang didokumentasi tahun 2000 di Aceh Timur, satu tahun sebelum mutasi ke Kalimantan Tengah…… Satu jenis tanaman yang masih dalam fase training (dalam polybag) merupakan tanaman lokal yang disebut limau hutan, didapat di perladangan dan perbukitan Blang Simpo, Peureulak-Aceh Timur. Gak peduli saat itu ada konflik, setiap ada kesempatan (dan hari Minggu) berburu calon bonsai blusukan ke mana-mana…….Koleksi Pribadi

              Sampunnnnnnn. Suwunnnnnnn.

              (BGJ, 05-2010).

              Leave a Reply

              Your email address will not be published. Required fields are marked *

              This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.