Air Mata Tante Guru

Cinde Laras

Siang tadi aku sampai di rumah setelah sepagian merembug acara tutup tahun di sekolah anakku bersama ibu-ibu orangtua murid yang lain. Pekerjaan tak berbalas upah yang cuma membuat kocek kami yang tergabung dalam kepengurusan Komite ini kadang terkuras. Untungnya kami masih mendapat sapa ceria anak-anak sekolah itu, dengan senyum polos dan kegembiraan yang tulus. Bahagia mereka, bahagia kami juga.

Kaki yang lelah menapak masuk ke ruang tamu. Nenek dan kakek anak-anakku sedang duduk bersama seorang tamu. Beliau itu….seorang tante yang dulu pernah mengasuhku saat aku kecil. Tentu saja kami sangat akrab satu sama lain. Tante seorang yang pandai, tidak hanya dalam arti lahiriah, tapi juga bathiniah.

Dia tak cuma seorang ahli matematika yang semenjak tahun 1980 menjadi salah satu perumus soal ujian untuk semua jenjang pendidikan formal, tanteku ini juga sangat pandai mengolah kata hingga membuat siapapun yang ingin belajar agama menjadi semakin terpesona pada kemampuannya menyampaikan ajaran Tuhan. Sungguh sebuah berkah yang membawa kebahagiaan. Tapi sekarang Tante sedang ingin bicara tentang guru….

“Tante senang sekali waktu kemarin diundang oleh alumni. Yang mengundang angkatan ’81, waktu itu masih bernama SMA 11. Bagaimana tidak senang kalau melihat murid-murid Tante sudah jadi orang ? Ada yang jadi Direktur, ada yang sudah jadi Profesor, ada yang sudah jadi Staf Menteri…. Herannya mereka tidak mau Tante panggil Pak Direktur, maunya dipanggil namanya saja.

Ya sudah, akhirnya Tante cuma memanggil namanya. Kalau sudah tua begini, melihat murid-murid Tante dulu itu rasanya lega sekali. Apalagi Tante diingat sampai sedemikian akrabnya, artinya Tante dulu sudah berhasil mengajar dengan hati…”, kisah Tante Guru ini, sebut saja begitu.

“Pernah Tante ke Batam untuk menatar guru SMA di sana, Tante sempatkan telpon seorang murid Tante yang disana sudah jadi Direktur sebuah perusahaan swasta. Baru saja Tante turun dari kapal, Tante sudah melihat seorang lelaki dengan istrinya berdiri di pinggir dermaga.

Si lelaki itu berlari mendekat, Tante dirangkulnya erat-erat. Sampai rasanya Tante mau menangis, apalagi melihatnya sudah menangis duluan. Jadi tambah terharu…. Lalu tambah senang lagi sewaktu istri murid Tante itu bilang – Saya sudah tahu akan seperti apa Mas kalau bertemu Ibu. Dia sudah sering kali bercerita tentang Ibu pada saya. Dia senang sekali sewaktu kemarin Ibu menelponnya, dia tidak pernah menyangka Ibu akan datang ke Batam ini….-“.

Si murid itu dulu adalah seorang anak yang pandai, tapi sering bolos. Pendekatan Tante lah yang telah membuatnya berubah. Tante memang dulu menjadi walikelasnya saat si murid duduk di kelas 3 SMA.

Singkat cerita, si mantan murid mengajak Tante Guru menginap di rumahnya yang mewah di sebuah kawasan se-elit Menteng. Tapi Tante menolaknya karena dia sedang dalam kunjungan tugas, dan telah mendapat akomodasi dari pihak penyelenggara penataran di sebuah hotel berbintang.

“Tante senang, buktinya Tante dikenang sebegitu baiknya oleh semua murid Tante. Sudah sering Tante berkunjung ke negara lain, sudah sering juga Tante bertemu murid-murid Tante disana. Siapa yang tidak bahagia kalau mengetahui dirinya bisa jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain ?”, kisahnya dengan senyum di bibir. Tante Guru yang bersahaja, bajunya masih saja dibeli di pasar biasa, meski sebenarnya Tante juga mampu beli di toko terkemuka.

Sepak-terjangnya memang sudah sampai kemana-mana. Sering aku mendengarnya menatar guru Indonesia di semua negara di Asean, beberapa kali juga aku mendengarnya menatar guru matematika Indonesia hingga ke Korea dan India. Menatar sekolah-sekolah Indonesia di seluruh dunia itu juga adalah tugasnya. Pergi seorang diri saja. Sungguh pemberani.

“Tapi sekarang mulai ada keluhan dari alumni. Semua mengatakan kalau mutu guru saat ini di Jakarta sangat jauh berkurang. Tante memang merasakan, beberapa kali dalam penataran akhir-akhir ini, Tante menemui orientasi mengajar guru yang sudah tidak lagi hanya untuk tujuan pendidikan. Mereka lebih suka berorientasi pada bagaimana mencari uang. UN yang gagal kemarin adalah contoh paling konkret dari kesalahan guru ajar saat ini.

Seharusnya murid tidak perlu belajar ke Bimbingan Tes kalau gurunya sudah mumpuni dalam menyampaikan materi pelajaran. Tante sudah menatar sejak tahun ’80-an. Hitung saja berapa tahun sudah Tante mengajar dalam penataran ? Evaluasi yang Tante dapatkan memang sangat jauh dari hasil yang didapat sepuluh tahun yang lalu. Guru jaman sekarang di Jakarta ini….materialistis…”, keluhnya sendu. Tante saat ini sudah berusia 63 tahun, sudah 3 tahun beliau pensiun dari jabatan terakhirnya sebagai Pengawas. Jabatan yang resmi, di luar tugasnya sebagai penulis buku matematika untuk Esis dan penatar untuk DIKNAS.

“Bayangkan saja…. Guru-guru sekarang itu hanya mau mengajar bila mendapat uang lebih dari kegiatan semacam les privat. Tante masih ingat betapa dulu Tante sampai membiarkan murid-murid Tante penuh sesak memenuhi ruang tamu Tante di rumah, cuma agar mereka bisa lulus EBTANAS dengan nilai bagus. Semua gratis. Semua Tante berikan dengan niat tulus agar mereka bisa lolos SIPENMARU. Tidak pernah ada sepeserpun diterima Tante, karena Tante ini tak pernah mau menerima yang semacam itu…. Mungkin itu juga yang membuat murid-murid Tante tetap ingat dengan Tante. Tapi apa yang ada sekarang ? Semua guru di Jakarta, dari SD – SMP – SMA , semua cuma memikirkan uang…, uang…, uang…. Kasihan murid-murid sekarang….

Ingin Tante menolong lebih banyak orang, tapi Tante kan sudah pensiun…”, ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Tante sekarang juga membantu mengajar di Labschool, bukan di jam pelajaran formal. Tugas Tante memberi tambahan pelajaran untuk murid-murid yang kurang paham matematika. Beberapa dari murid Tante adalah anak dari mantan murid Tante dulu. Mereka memanggil Tante dengan sebutan Eyang….”, kisahnya lagi, kali ini dengan seulas senyum.

“Masih ada kebahagiaan kalau menatar di daerah, meski tidak semua daerah punya penghargaan yang sama untuk pensiunan seperti Tante. Terakhir kemarin, Tante menatar di Surabaya, semua guru sekolah madrasah aliyaah berkumpul disana. Semua berjalan dengan baik, sampai kemudian ada seorang guru dari Pacitan yang protes kalau dia sudah jauh-jauh dari Pacitan tapi mengapa belum juga tahu soal apa saja yang akan diujikan di UN nanti…”, sebersit kesal menyelimuti wajah Tante Guru yang bersahaja itu.

“Bagaimana mungkin guru itu berharap Tante akan memberikan soal yang akan keluar dalam UN ? Tante katakan padanya kalau Tante tidak akan memberikan soal apapun untuk mereka jadikan pegangan dalam UN. Tante ini bukan pembocor soal ujian…. Semua kisi-kisi sudah diajarkan dalam kegiatan belajar. Tinggal bagaimana guru memperbanyak latihan dengan mengotak-atik rumus yang ada.

Guru itu sampai walk-out dari ruangan setelah Tante menjawab begitu. Tante lalu mencoba mendekatinya saat istirahat. Lebih susah hati Tante ketika tahu kalau si guru aliyaah itu malah bercerita kalau kepala sekolahnya lah yang menyuruhnya meminta soal UN pada Tante, karena kepala sekolahnya sudah mendapatkan jawabannya…”, bibir Tante Guru mengatup, jemarinya sedikit tergetar. Duhai Tanteku, gundah sekali rupanya….

Aku hanya bisa menghela napas berkali-kali. Keadaan ini…akankah bisa diperbaiki ?


Ilustrasi: e-wonosobo.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.