Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Abhisam DM – Jakarta

Jatuh cinta pada pandangan pertama pasti melanggar proses sistematis dalam metode ilmiah. Sekelebat observasi, tiba-tiba sampai pada kesimpulan, seperti bayang-bayang hantu yang melintas di belakang proses identifikasi, hipotesis, dan eksperimen. Ia lalu menjauh dari sekian tanda tanya yang menyimpan dalil umum; seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan lain-lain.

”Tapi kita baru kenal dua hari,” katamu terkejut.

”Itu termasuk lama,” jawabku.

”Loh?”

”Aku hanya butuh lima detik untuk jatuh cinta padamu.”

Keningmu berkerut. Tatapanmu menajam. Kamu hendak menggugat proses sistematis yang aku langgar. Aku mengerti. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu.

”Semudah itu kamu jatuh cinta padaku?” tanyamu.

Aku mengangguk sambil melepas senyum ke arahmu. Sebenarnya ini bukan soal mudah atau sulit. Mudah atau sulit itu lekat dengan target, sementara jatuh cinta pada pandangan pertama tidak. Orang tidak bisa membuat target kapan, dimana, atau kepada siapa, ia akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertanyaanmu mengandung kontrakdiksi. Tapi, sudahlah.

”Bagaimana bisa?” tanyamu lagi.

Ini rumit. Jatuh cinta pada pandangan pertama datang dengan kecepatan melebihi pikiran. Padahal pikiran saja sudah sangat cepat, percakapan Yudhistira dengan Batara Yama di tepi telaga dalam tahun keduabelas pengasingan Pandawa mengajarkan itu. ”Apa yang lebih cepat dari angin?” tanya Yama. Yudhistira menjawab, ”Pikiran.”

Barangkali karena kecepatannya itulah, jatuh cinta pada pandangan pertama tidak bisa dipreview atau direview. Ia –meminjam Nick Hornby- bersifat tiba-tiba, sulit dijelaskan dan tidak kritis.

”Bisa saja,” jawabku sekenanya.

”Bisa saja bagaimana?”

”Ya bisa saja.”

”Iya, bagaimana?”

Pertanyaanmu mengejar bak anak panah yang terus dilepas sebelum buruan kena. ”Terjadi begitu saja.”

”Begitu saja bagaimana?”

”Secara teknis aku tak bisa jelaskan, tapi secara prinsip bisa.”

”Bagaimana?”

”Tuhan membolak-balik hati manusia jauh lebih mudah dibanding manusia membolak-balik telapak tangannya.”

”Apa maksudnya?”

”Maksudnya, kalau kamu tanya bagaimana semua bisa terjadi, tanyakan saja pada Tuhan.”

”Aku serius!”

Kamu tampak marah. Aku tawarkan senyuman, kamu tolak. Aku tawarkan lagi, kamu tolak lagi. Aku tawarkan lagi untuk ketiga kali, kamu tolak lagi untuk ketiga kali.

”Jangan main-main dengan perasaan,” katamu dengan nada sangat serius.

Aku sebenarnya ingin menjawab, pernyataanmu itu berkonotasi negatif. Mestinya tidak begitu. Perasaan itu selektif dan tidak mudah ditipu. Ia hanya akan mau diajak bermain oleh orang yang akrab dengannya. Kalaupun ada perkecualian –sebagaimana sejarah yang selalu menyimpan perkecualian- perasaan pasti bisa membedakan niat baik atau buruk. Ia tak perlu diingatkan sebagaimana orang tua yang mengingatkan anaknya, ”Nak, jangan pernah terima permen, kue, atau apapun dari orang yang tidak dikenal.”

Pendeknya, main-main dengan perasaan mestinya berkonotasi positif. Bukankah akrab dengan perasaan itu baik? Tapi kalau kujawab begitu aku takut kamu tambah marah. Aku takut kamu kira aku tidak serius.

”Kamu tidak main-main dengan perasaan, kan?” tanyamu menegaskan lagi.

”Tidak. Aku serius. Sangat serius. Dalam hidup ini hanya dua perempuan yang bisa membuatku sangat serius. Pertama, ibuku. Kedua, kamu.”

Kamu mencibir.

”Aku serius. Sangat serius.”

”Kalau begitu buktikan.”

”Pasti,” kataku mantap.

Kamu menatapku penuh keheranan. Aku balas menatapmu. ”Kenapa?” tanyaku.

”Ah, tidak apa-apa.”

Kamu diselimuti ketidakpercayaan. Aku yakin itu. Sekarang, pikiranmu mungkin sedang bertanya-tanya: mimpi apa semalam, benarkah semua ini,  atau bahkan, orang ini memang gila.

Hidup yang rutin tidak pernah memberikan intensitas pada manusia, begitu tulis Romo Sindhunata dalam sebuah catatannya. Kattsoff juga menulis, manusia sudah dibungkam oleh rutinitas yang menjadikan tidak ada peluang untuk mempertanyakan pada diri sendiri, untuk apa mereka berbuat demikian. Albert Camus tak mau ketinggalan, katanya, ”Neraka manusia modern adalah ketika di tengah rutinitas ia bertanya, ’Apa gerangan yang sedang saya lakukan?’”

Respon paling singkat, padat, jelas dan tegas muncul dari Nike, ”Just Do It!”

Sayup-sayup terdengar Derek Walcott, penyair dari Trinidad, membaca sajak:


Aku tak tahu apa arti nama itu. Ada juga artinya,

Barangkali. Tetapi, apa bedanya? Di dunia tempat tinggalku itu

Kami menerima saja bunyi-bunyi yang diberikan:

Manusia, pepohonan, dan air.

***

Aku hidup di sebuah kota yang sangat taat pada rutinitas. Pada jam digital, ia berkedip bersama angka-angka. Pada jam analalog, ia berdetik bersama jarum-jarum. Selalu begitu dan selalu tepat. Meleset berarti rusak, harus direparasi atau dibuang.

Aku pikir di Republik ini tidak ada kota setaat kotaku. Meskipun bosan, suntuk, jenuh, keluh, atau semacamnya, termasuk stres, ia tetap taat. Bahkan baginya hal-hal semacam itu sudah tidak penting. Ia benar-benar menjelma sebagaimana jam: mesin. Rutin. Kosong.

Di kotamu, melintas di patung Dewa Ruci, Bima tersenyum padaku. Aku merasakannya. Lalu di atas Bima, Dewa Ruci berbisik dengan suara sehalus angin. Tiga kalimat sampai padaku. Pertama, ”Sangkan paraning dumadi.” Kedua, ”Gnothi se auton”. Dan ketiga, ”Man ’arafa nafsahu faqad rabbahu.”

Aku terlalu rutin untuk memahami semuanya. Bima dan Dewa Ruci juga pasti tahu itu. Firasat mengambil alih. Simbol, katanya. Aku kaget. Ia melanjutkan, akan datang padaku sesuatu yang ”out of the box”: tidak lazim, kreatif, penuh greget, bahkan gila. Aku bingung. Itu pengalaman bagus untuk mengatasi kekosongan dalam rutinitas, katanya lagi. Ia lalu menghilang.

Aku masih bingung. Mungkin aku benar-benar sudah terlalu rutin. Sudahlah, nanti juga akan tahu, pikirku.


Pamulang, April 2010


Ilustrasi: izziblog wp, pujianku

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.