Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas

Wednesday, 26 May 2010

Viewed 1858 times, 3 times today | 38 Comments |

Handoko Widagdo – Solo

Judul: Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas

Penulis: Aimee Dawis, Ph.D.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xxii + 253 halaman

IBN: 978-979-22-5659-8

Bagaimana jika dikau lahir dan besar dalam lingkungan di mana bahasa ibumu, nama, dan budayamu tak boleh dipakai? Meski engkau sudah berbahasa sama, bernama serupa, tapi kulit dan bentuk matamu tetap beda, dan engkau tak sepenuhnya diterima. Di saat-saat tertentu bahkan engkau harus menjadi domba qurban. Engkau dibesarkan dalam suasana tanpa hubungan dengan semua simbol-simbol yang sangat berarti bagi etnismu, kecuali film-film manca saja yang bisa menjadi obat dahaga?

Aimee Dawis mencoba menjawab pengaruh media (baca: film kung fu) dalam ingatan kolektif Orang Indonesia Tionghoa dalam mencari identitasnya. Tiga pertanyaan utama yang diajukan adalah: (1) Bagaimana kebijakan asimilasi berperan dalam pembentukan jatidiri budaya orang Indonesia Tionghoa? (2) Apakah peran media elektronik (film dan film seri Tionghoa) dalam pembentukan jati diri budaya orang Indonesia Tionghoa? (3) Sejauh mana media ini membantu memperkuat ketionghaan mereka?

Seperti diketahui, pada jaman Orde Baru, banyak kebijakan yang bersangut-paut dengan orang Indonesia Tionghoa dikeluarkan. Ketakutan akan bahaya komunis menjadi salah satu alasan dikeluarkannya berbagai kebijakan tersebut.

Beberapa kebijakan yang perlu mendapat penekanan di sini adalah: (1) pelarangan penggunaan bahasa Cina, (2) pelarangan praktik budaya Cina di tempat umum, (3) himbauan untuk berganti nama, dan (4) penutupan sekolah-sekolah Cina. Semua kebijakan tersebut dibuat adalah dalam rangka asimilasi orang Cina sehingga akan terjadi “pembubaran orang Tionghoa sebagai kelompok dan penyerapan mereka ke dalam berbagai kelompok etnik pribumi (hal 112). Aimee Dawis menyimpulkan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut telah membuat orang Indonesia Tionghoa berupaya untuk lebih menjadi Indonesia dengan kadar jati diri ketionghaan yang beragam yang sangat dipengaruhi oleh daerah asal, keluarga dan agama (Bab 3). Walaupun demikian orang Tionghoa masih menghadapi perlakuan diskriminasi sehari-hari meskipun mereka sudah berusaha melakukan “peng-Indonesiaan diri” (hal 189).

Peran media (film seri Tionghoa) ternyata berperan sangat nyata dalam pemeliharaan jatidiri para orang Indonesia Tionghoa yang lahir setelah tahun 1966. Melalui film-film kungfu seperti The Legend of The Condor Heroes, The Return of The Condor Heroes, Duke of Mounth Deer, A Better Tomorrow, Hard Boiled dan Once a Thief, orang Indonesia Tionghoa seperti mendapat saluran untuk identifikasi jatidirinya. Bintang film seperti Andy Lau, Chow Yun Fat menjadi tokoh asyik bagi para lelaki orang Indonesia Tionghoa, sementara  Xiao Long Nu tokoh perempuan dalam The Legend of The Condor Heroes menjadi idola para perempuannya.

Sebagai perintis penelitian peran media dalam ingatan kolektif dan pencarian jatidiri buku ini sangat bermanfaat. Namun karena respondennya sangat terbatas (25 orang) dan semuanya tinggal di Jakarta (walaupun asalnya dari berbagai daerah) bahasan dari buku ini menjadi kurang lengkap. Sebab ada jenis orang Indonesia Tionghoa yang tinggal di desa-desa (terutama Jawa) di mana keluarga mereka adalah satu-satunya keluarga Cina di desa tersebut. Di mana anak-anak mereka sehari-harinya hanya bisa bergaul dengan anak-anak pribumi, tontonan kethoprak dan wayangkulit lebih akrab dari mereka daripada serial film kungfu. Kelompok ini rasanya tidak terwakili dalam bahasan buku ini.

Share This Post

Posted by Wednesday, 26 May 2010 on 00:43.

Categories: Buku, Musik & Film. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

38 Responses to “Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 38
    EA.Inakawa Says:

    Pak Handoko,sulit memang ya yang namanya identitas keturunan/campuran …… ntah sampai generasi keberapa akan ter pahami oleh anak cucu semua keturunan,saya merasakan hal ini sebagai warga turunan China,sampai sekarangpun anak saya masih banyak bertanya tentang hal ini,tp pastinya saya yakinkan kita ini orang Indonesia. Terima kasih pak Handoko sdh merekomendasikan buku ini,pasti akan saya beli sepulang cuti nanti. salam sejuk

  2. 37
    Osa Kurniawan Ilham Says:

    @Pak Hand,
    Berarti kita senasib ya
    Kalau saya, film mandarin yang pertama kali yang paling berkesan adalah White Snake Legend, yang pernah ditayangkan SCTV dulu. Bukan karena ceritanya, tapi karena artisnya yang jadi siluman ular putih itu

    @Aimee,
    Setuju !!! walau hitam tapi disayang isteri dan syukurnya disayang juga sama keluarga besar
    Pernikahan beda suku (terutama Jawa dan Cina) memang lumayan menarik, jadi ketawa sendiri kalau cerita sama isteri. Lain kali saya mau postingkan mengenai hal ini, siapa tahu yang lain pengin mencoba juga.

    Salam,
    OsaKI

  3. 36
    Handoko Widagdo Says:

    OKI, kalau itu sama. Saya juga sering dikira sopir istri saya. Kalau belanja, setelah bayar, kasir biasanya bilang kamsia ya cik, sambil mengangguk dan bilang suwun mas, sambil mendongak.

  4. 35
    aimee-bangka Says:

    Pak OsaKi : saya baca nya kepingkal2 dikira tukang ojeknya anak2 wkwkwkwkwkw (sorry lo pak). walau hitam tapi kan dicintai sang istri

  5. 34
    Osa Kurniawan Ilham Says:

    Terus terang, diskriminasi yang dirasakan oleh teman2 Tionghoa-lah yang membuat saya selalu naksir gadis tionghoa. Orangtua saya sempat ketir-ketir melihat anaknya punya banyak temen cewek Tionghoa sejak SMP, SMA apalagi.
    Saking idealisnya, saya sempat janjian sama teman yang kebetulan tionghoa. Dia akan menikah dengan gadis jawa dan saya akan menikah dengan gadis tionghoa. Dia gagal memenuhi janjinya, sementara saya berhasil.
    Saat saya naksir 1st option, ditolak. 2 tahun kemudian saya coba naksir yang 2nd option, ternyata diterima. Akhirnya keturutanlah punya istri keturunan Jawa – Tionghoa madura
    Cuma ada cerita lucu. Setiap kali saya mengantar anak-anak ke gereja dulu (yang mayoritas dari manado dan tionghoa) kalau naik motor saya seringkali dianggap tukang ojeknya anak-anak. Nasib….nasib……punya kulit gelap Untung anak-anak nurun dari Bundanya.

    Salam,
    OsaKI

  6. 33
    Cindelaras Says:

    Pak Han, terima kasih untuk resensi buku yang bagus sekali. Aku pribadi berpendapat tidak ada salahnya belajar bahasa Mandarin bila kita mampu, bahasa Mandarin adalah bahasa yang digunakan oleh lebih dari 2 milyar orang di Cina dan bisa jadi milyaran lagi orang Tionghoa yang ada di belahan dunia lainnya. Menggunakan bahasa Mandarin berarti dapat melakukan komunikasi dengan sekian milyar orang yang ada di dunia yang luas ini. Keluarga kami sangat menerima perbedaan manusia, bahkan kami mensyukuri telah bersatu dengan beberapa anggota keluarga yang sejak lahir masih bermarga, profesi mereka bermacam-macam, latar belakang strata ekonominya juga beragam. Seorang adik perempuan Bapak saya yang jadi dokter spesialis dan memimpin sebuah rumah sakit di luar Jawa malah bersuamikan seorang warga keturunan yang pendidikannya tak lulus SMA. Bukan karena nekat, tapi memang Pamanku yang Cina itu orangnya baik luar biasa. Sabar dan suka bekerja keras, usahanya pun sukses setelah dengan ulet ditekuninya. Jadi tak heran bila ada di antara kami yang sipit matanya dan kuning kulitnya. Untuk ikatan perkawinan, tentu saja keluarga besar kami masih menganut “asalkan Muslim”, gak peduli mau merah atau biru atau kuning kulitnya. Tapi di atas segalanya, kami memandang keragaman itu sebagai karunia Allah yang tak terhingga : )

  7. 32
    Mawar09 Says:

    Pak Han: terima kasih untuk article ulasannya. Aku juga keturunan China, cuma kulitku ngga putih seperti pada umumnya. Salam !

  8. 31
    ilhampst Says:

    Pak Hand, diusahakan Pak
    Za : klo style gambar sih masih ngikut Jepang ya, tp klo cerita menurutku bagus karena inspirasinya dari pewayangan. Sayangnya cerita per jilidnya singkat2, jd udah seru eh malah bersambung.
    Lho, koq malah ngereview Garudayana?

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)