Wageningen 5 Mei

Kita Sandiri – Wageningen

Artikel Bung ISK yang memajang judul ”Mei Mei” seakan menantang diriku merangkai kata, mencoba mencari pembenaran diri. Mumpung bulan Mei belum berakhir. Kalo bulan Mei banyak menyimpan kenangan sedih bagi bangsa Indonesia, ada bangsa lain di belahan dunia sana yang menyimpan cerita sukacita di bulan Mei.  Anggaplah tulisan ini sebagai pembelaan diri sebagai salah satu manusia yang dilahirkan di bulan kepunyaan Dewi Maia ini.

Bagaimana kalo dimulai dengan perayaan? Yup! Sejak jaman sebelum Paus Gregorius XIII menyetujui modifikasi Kalender Julian, Mei menjadi tempat berkumpulnya pesta-pesta musim semi yang menggairahkan. Di mulai dengan pesta untuk Dewi kesuburan Bona Dea di era Romawi sampai pada kegairahan demo para pekerja seluruh dunia di May Day. Masih kurang? Umat Katolik memperingati bulan Mei sebagai Bulan Bunda Maria, sementara jutaan wanita akan menikmati 1 hari pemanjaan sebagai seorang ”IBU”.

Belum puas?  Victory in Europe (VE Day) dirayakan di tanggal 8 Mei oleh hampir seluruh negara Eropa, sebagai hari berakhirnya Perang Dunia II. Maka adalah lumrah jika 9 Mei diperingati sebagai Europe Day oleh negara-negara anggota European Union.

Mungkin cukup basa basi, ngalor ngidul tentang hari-hari di bulan Mei. Artikelku ini anggaplah untuk melengkapi kenangan indah si mas kita, Buto, yang katanya punya foto bersama trah Oranje di bulan Mei.  Bulan Mei menjadi bulan yang punya kenangan pahit sekaligus indah bagi negeri Belanda. Melalui taktik “Blitzkrieg” (=lighting war), Jerman berhasil menguasai Belanda pada 14 Mei 1940 setelah pertempuran “slag om Nederland” selang 10-14 Mei 1940.

Pemboman Kota Rotterdam tanggal 14 Mei 1940 menandai masuknya Belanda yang maunya bersikap netral dalam kancah Perang Dunia II.  Senada dengan cerita perang lainnya, alunannya selalu sama: penderitaan, termasuk kurun waktu hongerwinter (hungry winter) di bagian utara Belanda yang ditandai dengan meninggalnya sekitar 18.000 penduduk. Sebagai seorang yang berprofesi ”bukan tukang sejarah”, diriku tidak akan memperpanjang kisah perang ini, yang berminat bisa mengunduh om Google dengan kata kunci hungry winter, operation market garden dan allied garden.

Penderitaan ada akhirnya. Pengungsian 2 calon Ratu Belanda ke Kanada dan terlibatnya suami crown princess memerangi tanah airnya sendiri (Pangeran Bernhard adalah bangsawan Jerman yang gosipnya pernah menjadi anggota Schutzstaffel alias SS organisasi terbesar NAZI), adalah kisah lain yang mengikuti sejarah penjajahan Jerman yang puncaknya terjadi di suatu kota kecil bernama Wageningen.

Mengapa Wageningen? Kurang jelas juga.

Dibanding Arnhem dan Utrecht, Wageningen hanyalah kampung kecil yang cuma memiliki salah satu Sekolah Tinggi (saat itu) pertanian besar.  Mungkin setelah lelah dikepung Pasukan Sekutu dari segala penjuru, stok makanan yang habis karena Jembatan Arnhem telah musnah, dan berbagai tekanan lainnya, Komandon Jerman Johannes Blaskowitz memutuskan menyerah tanpa syarat pada Jenderal Kanada Charles Faulkes dalam pembicaraan di Hotel de Wereld (the world) pada tanggal 5 Mei 1945. Sehari sesudahnya, keduanya menandatangani kesepakatan tersebut di Aula Sekolah Tinggi Wageningen yang terletak di samping hotel.

Hehehehe, diriku memang perlu fokus bercerita. Yang perlu diceritakan bukanlah masa lalu, tapi masa kini. Ada apa di Wageningen di bulan Mei?

Yang pasti: Pesta! Wageningen adalah satu-satunya kota di Belanda yang menjadikan tanggal 5 Mei sebagai hari libur setiap tahun. Kota-kota lainnya hanya meliburkan diri setiap 5 tahun sekali. Maka berbahagialah yang tinggal di Wageningen, karena pada tanggal tersebut bisa menikmati hiburan artis nasional Belanda, dari segala genre.

Segala games pun akan bertebaran di sana-sini, makanan tumpah ruah, minuman apalagi, pelajaran dansa-dansi, dan puncaknya adalah pawai para veteran. Sebelum meninggal di tahun 2004, Pangeran Bernhard selalu memimpin pawai ini sebagai bagian dari Veteran perang The Netherland. Sampai tahun lalu, jumlah veteran PD II ini tinggal menyisakan 70 orang di seluruh Belanda. Gambar-gambar yang sempat kutangkap mungkin bisa lebih melarutkan kita pada pesta besar di kampung kecil.

Sebelum pesta, tanggal 4 Mei diperingati sebagai hari perkabungan nasional, seluruh negeri merenungkan masa-masa kesengsaraan pendudukan Jerman terutama kekerasan terhadap penganut Yahudi. Tahun-tahun sekarang, perenungan ini semakin meluas, menyerukan kesatuan hati, mengenang mereka yang mati karena perjuangan, bukan hanya di Belanda tapi seluruh dunia.

Di Wageningen, rangkaian acara dimulai pukul 8 malam dan puncaknya upacara perenungan di Taman Makam Pahlawan Rhenen tepat  jam 12 tengah malam. Toko-toko secara serentak ditutup jam 5 sore tanggal 4 Mei, dan nanti akan dibuka tanggal 6 Mei pagi. Tahun lalu, 2 bocah gede teman sekoridorku yang masih dalam tahap pertumbuhan, dengan muka bersungut-sungut menyantap makan malam mereka yang masing-masing ”cuman” terdiri dari 2 telur matasapi, 2 potong roti Perancis, semangkuk mash potatoes, dan sekotak french fries. Hanya itulah makanan siap saji yang bisa mereka temukan setelah mengitari Wageningen di jam 6 sore.

Tawaku meledak mendengar keluhan mereka yang tidak sempat membeli bahan makanan untuk teman-teman mereka, sementara stok koridor kami hanya menyisakan kentang sekilo dan beras 2 kilo. 4 krat bir yang teronggok di sudut koridor katanya tidak akan cukup untuk sebuah pesta besar. Seperti juga tahun sebelumnya, koridorku akan penuh dengan kawan dan kerabat mereka yang akan bergulingan di dapur koridor, selepas menikmati pesta kemerdekaan. Kebetulan keduanya berasal dari desa kecil dekat Maastricht, sehingga teman dan keluarga mereka menjadikan kos-kosan kami sebagai sasaran nginap.

Di kampung Wageningen, kemeriahan pesta sudah dimulai sejak pagi hari. Tidak tahu persis jam berapa, tetapi saat jadwal kopiku di jam 5.30 pagi, televisi sudah menyiarkan secara langsung suasana di centrum Wageningen. Suasana musim semi yang cerah ceria dan sisa-sisa kemeriahan pesta Koninginnedag menambah keceriaan berpesta. Pusat Kota Wageningen tertutup untuk kendaraan umum, hanya bus 88 dari Ede, 86 dari Arnhem yang berhak masuk ke pusat kota. Adalah juga kesia-siaan belaka mengayuh sepeda kita ke pusat kota, karena seluruh jalan telah dipenuhi manusia.

Upacara bendera dimulai sekitar pukul 12 bertempat di depan Hotel de Wereld dimana berdiri patung peringatan (gambar 1) yang dikenal dengan nama Jalan 5 Mei. Setiap tahunnya ada undangan khusus untuk keluarga pejuang 45 J yang ikut andil dalam pembebasan Belanda, terutama dari Kanada. Seorang Ibu di kursi roda terlihat membagi-bagikan bendera dan pena bermotif bendera Kanada pada penonton ketika memasuki lokasi upacara. Selesai Upacara biasanya diikuti dengan ibadah di Gereja Katolik yang terletak di samping hotel.

Yang menarik dalam peringatan kebebasan Belanda adalah kebebasan itu sendiri. Upacara sakral yang berlangsung di depan hotel tidak akan menghentikan hingar bingar penyanyi di pusat kota, terutama di seputaran Oude Kerk Wageningen. Apalagi menghentikan kepulan asap dari waterpijp dan Iraansethee yang dinikmati sekelompok anak muda di sebuah tenda (gambar 6).

Hal yang paling dinanti adalah pawai veteran. Bagaimana kemeriahannya, ada di video foto yang terlampir di sini. Wageningen jam 11.00 pm, kemeriahan masih berlanjut bahkan semakin ramai.

http://www.facebook.com/video/video.php?v=1451853544594&ref=mf

Di beberapa sudut, pengaruh minuman keras mulai terlihat, sementara api yang terus menyala dengan tangan yang masih terangkat seakan terus menarik mata kita menatap untaian kata yang tertulis di situ:

You, who pass by, do you think often enough about how your destiny would be; if not that day in May would have been cured, whose claws and fangs have hurt you.
“Save me from the lion’s mouth; I will declare Thy name unto my breathen in the midst of the congregation will I praise Thee” Psalm 22: 21, 22

(untuk foto-foto lain bisa diunduh di http://picasaweb.google.com/kitaPicture/10000TulipsForCanada# dan http://kitasandiri.multiply.com/photos/album/26/10000_tulips_bulbs_to_Canada#

http://www.facebook.com/album.php?aid=64821&id=1480924041&saved



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.