I am a Buddhist and Happy Vesakh Day

Aimee – Bangka

Yeah saya seorang Buddhis. Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini, namun saya berpikir nanti ini memancing isu SARA. Lagian momentnya kebetulan baru kali ini tepat nya. Bagi saya pribadi, orang awam non-buddhis sangat sedikit yang memahami tentang agama Buddha.

Saya tidak ingin membahas tentang sejarah agama Buddha dan Siddharta Gautama. Sudah banyak referansinya di Google.  di sini saya selaku salah seorang umat Buddhis (walau jarang banget ke Vihara), ingin membagi sedikit pemahaman tentang agama Buddha dan dinamika nya.

Banyak yang beranggapan bahwa agama Buddha adalah agama pasif. Secara garis besar mungkin iya. Agama Buddha dinilai sebagian kalangan sebagai agama yang pasif. Namun sejak berdiri nya Yayasan Buddha Tzu Chi, agama Buddha sudah mulai berperan aktif di lintas dunia.

Yang membuat agama Buddha dinilai pasif adalah tidak ikut nya pemuka agama Buddha dalam kancah perpolitikan. Terus sepertinya agama Buddha hanya untuk kalangan sendiri. Padahal itu tidak benar. Teman saya yang cukup aktif dalam kegiatan muda mudi vihara sering sering sekali mengadakan baksos, kunjungan ke panti panti, pembagian sembako, dsb.

Hanya saja menurut saya kegiatan kemanusiaan yang dilakukan tidak terexpose media. Lain hal nya dengan Yayasan Buddha Tzu Chi yang punya saluran televisi sendiri (Daai Tv). Maka kegiatan mereka bisa diketahui oleh pemirsanya, walau hanya bisa dinikmati di Jakarta dan Medan saja. Bagi yang daerah Bogor ya mungkin bisa nonton tapi dengan bonus semut-semut hitam di layar kaca televisi nya.

Kemudian saya sangattttt ingin membagi satu hal yang saya rasa sangat PENTING bagi kami (terutama saya). Seringkali di antara kami curhat dan bercerita sesama kami, tentang umat non-buddhis yang sering bertanya dan berkata tentang agama yang kami anut.

“oh, kamu masih Buddha ya?”

Mengapa saya mem-Bold kata MASIH itu?

Karena itu terus terang “sedikit” menyinggung perasaan, namun sekali lagi rata-rata umat buddhis bukan type pendebat aktif nan agresif. Walau ada beberapa mungkin yang jago debat. Kalo saya terus terang cenderung membiarkan saja, karena saya bukan type pendebat ngototan.

OK back to topic, kenapa?

Karena itu seakan akan mengandung pengertian bahwa agama kami bukan agama modern, bukan agama jaman kini, agama lama, agama jaman batu dan selayak nya ditinggalkan. sebenarnya saya sendiri sering sekali bertemu dengan orang-orang baru, di mana 99% kebanyakan mengira saya beragama Kristen atau Katholik.

Seringkali saya diajak ke Gereja bersama dan ikut kegiatan komsel mereka. Namun saya jelaskan saya beragama Buddha. Sekali lagi jawaban terpana “oh kamu masih buddha ya?”

Andai pernyataan tersebut diganti menjadi, “oh sorry, ternyata kamu beragama Buddha”. Tentu kedengaran nya akan lain.

Kemudian, yang benar adalah kami bukan Buddha. Buddha adalah kata yang berarti mencapai penerangan. Buddha juga bukanlah Siddharta Gautama (saja). Seringkali kata yang disebut adalah “oh kamu buddha”. NO. . . . . kami bukan BUDDHA. Kami beragama BUDDHA, dan kami disebut BUDDHIS. seperti MUSLIM untuk umat Islam, dan KRISTIANI kepada umat Kristen dan Katholik.

Terus seperti yang saya katakan sebelumnya. BUDDHA bukanlah Siddharta Gautama (saja). Mengapa demikian? Karena pengertian Buddha, adalah mencapai penerangan atau bisa juga disebut sebagai Bodhisatva. Jadi dalam ajaran agama Buddha, Buddha itu ada banyak sekali, dan Siddharta Gautama itu adalah Sakyamuni Buddha (karena Beliau dari suku Sakya).

Jika dalam agama lain menyebut Tuhan dan Allah, maka kami lebih cenderung menyebut sebagai Tathagata.

Lalu Dewi Kwan Im itu apa?? Dewi Kwan Im juga adalah Buddha, sebutannya adalah Avalokitesvara Bodhisatva.

Kemudian vihara (bukan wihara), adalah tempat beribadah umat Buddhis. Namun seperti agama lainnya. Tentu agama Buddha juga mempunyai tempat ibadah versi kecil nya. Semisal umat muslim menyebut masjid yang kapasitas nya lebih kecil dengan kata (cmiiw), langgar atau mushola, umat kristiani mungkin sebutannya kapel ya? Nah dalam agama Buddha, vihara yang kapasitas nya lebih kecil disebut dengan cetya.

Mungkin sedikit yang tau kalau agama Buddha pun mempunyai aliran, sama seperti agama lain. Semisal Islam Sunni dan Islam Syiah, Kristen Ortodoks, Katolik Anglican, dsb. Walau saya tidak mengerti perbedaannya. Nah dalam agama Buddha pun demikian. Ada aliran-alirannya (kaya sungai aja nih jadinya). Dalam agama Buddha ada aliran Mahayana, Hinayana, Theravada.

Jika dalam agama lain ada aliran-aliran yang agak bertentangan atau dipertanyakan, dalam agama Buddha pun menemui hal serupa. Yakni ada satu aliran agama yang menyatakan sebagai agama Buddha, namun sebagian besar umat Buddha menolak jika aliran ini dikategorikan sebagai agama Buddha, yakni aliran Maitreya.

Saking penasaran saya, yang pemahaman tentang agama Buddha Maitreya ini minim, maka saya berusaha searching via mang Google. Dikatakan jika sesungguhnya Buddha Maitreya adalah aliran I Guan Tao (lebih kepada kepercayaan seperti halnya Kong Hu Cu).

Karena sesungguhnya Buddha Maitreya sendiri adalah Buddha akan datang, tidak ada agama yang terdeklarasi sebelum nabi nya sendiri turun, dan sepengetahuan saya Buddha Maitreya akan turun ke dunia jika pelafalan OMITHOFO (amitabha) hilang sama sekali dari muka bumi ini. Mbuhhhhh. . . . . . gak ngertiiii saya.

Bagi penganut agama Buddha Maitreya mohon sharing nya. Namun bagi saya, selama gak ngejelekin agama Buddha. Asal berbuat kebaikan. . . sudahlah terima saja perbedaan dengan senyum.

Satu hal lagi, selama ini hanya dikenal kata Bhiksu saja sebagai pemuka agama Buddha, namun sekali lagi, sama seperti agama lain, ada Uskup, Cardinal, Pastor, Pendeta, Ulama, Kyai, Ustadz, dsb. Di agama Buddha tidak hanya ada Bhiksu/ni saja, namun sebutannya beragam ada Bhante, Bhikku, Romo, Pandita, Bosong. Juga ada pendidikan untuk menjadi bhiksu. Tahapan sebelum seorang umat awam menjadi bhiksu/ni disebut Samanera/ri.

Saat saya menulis ini sedang menggebu-gebu jam 3 pagi dinihari WIB. Saatnya undur diri. Mudah-mudahan lainkali saya tunaikan janji saya menulis tentang PERANG KETUPAT di desa Tempilang.

OKE, akhir kata. . . . .

Happy Vesakh Day. Sabbhe sattha bhavatu sukkhitata.

Semoga semua makhluk berbahagia.

92 Comments to "I am a Buddhist and Happy Vesakh Day"

  1. sidaeru  3 April, 2012 at 08:41

    Namo buddhaya..

    saya mau nnya sedikit bole yah??
    sbener nya klo di ajaran buddha itu seorang suhu besar di mahayana atau pemimpin nya
    bole tidak sih berbisnis??? klo pendapat saya seperti nya tidak bole?? tidak seperti seorang bhante yang ada di tridarma yg sudah melepas keduniawian…
    sekian dan terima kasih..

  2. Thomas  1 August, 2011 at 09:57

    Saya seorang Katholik dan saya sangat berterima kasih untuk informasi dari Anda. Saya memiliki beberapa kenalan yang menganut agama Buddha. Saya tidak tahu mereka berasal dari sekte mana… bagi saya hal itu tidak penting. Kesan yang selalu saya dapatkan dari pertemuan dengan mereka adalah kesan yang sangat baik; mereka rendah hati dan penuh perhatian pada orang lain. Tentu hal ini juga bersumber dari ajaran agama mereka yang penuh cinta kasih. Saya percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang juga dikasihi oleh Allah Bapa di Surga. Salam damai.

  3. Unggul Berlianadi  4 March, 2011 at 15:14

    Unggul Berlianadi : Apik lan alaning manungsa iku dudu agomo lan ngelmunipun, milo kedah dipun lampiri tingkah-laku, budi pekerti sing luhur. ( Baik dan buruknya manusia itu bukan agama dan ilmunya, maka harus dilandasi tingkah-laku, budi pekerti yang luhur ). Sidharta Gautama = cinta kasih, Yesus = cinta kasih, dan “seorang BAPAK yang menjadi panutan saya” (sebagai penghayat kepercayaan) = cinta kasih juga. Dua kata = cinta kasih = tingkah laku = budi perkerti. Trimakasih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.