Endah Sulwesi – Jakarta
“Dari mana kamu tahu suamimu selingkuh, Ni?” tanyaku. Pertanyaan pertama yang kuajukan setelah Ani menceritakan niatnya bercerai, menjadi awal “karier”-ku sebagai penasihat perkawinan. Sungguh tidak pernah terbayang sebelumnya. Apalagi “klien”-ku adalah teman-temanku sendiri yang aku tahu masing-masing menikah dengan para lelaki yang mereka cintai.
“Aku dapati bon makan di saku celananya. Beberapa kali,” jawab Ani setelah terdiam cukup lama. Barangkali demi mengumpulkan keberanian. Tidak setiap orang berani mengungkapkan rahasia rumah tangga mereka, bukan? Apalagi jika itu berupa sebuah aib. Dan buat sebagian orang, suami nyeleweng adalah aib.
Wajah Ani tampak lesu. Pemerah pipi warna jambon tak sanggup menghapus bayangan mendung di sana. Eye shadow warna ungu, senada blus yang dipakainya, malah menambah jelas kesan murung itu.
“Juga ditemukan bekas lipstik di kerah bajunya. Pembantuku yang melaporkan.” Laporan Ani sesaat menghentikan aktivitas menggiling helai-helai spageti berlumur mayoinase di rongga mulutku. “Kok seperti sinetron sih, Ni?”
“Masih ada lagi,” sambung Ani, “aku juga mendapati SMS-SMS mesra di ponselnya.” Tampaknya, hujan akan segera turun dari awan gelap di wajah Ani. Matanya berkaca-kaca, menyiratkan segumpal kesedihan yang berusaha keras disembunyikannya.
“Kamu tahu siapa perempuan itu?” Dengan hati-hati, khawatir menambah luka hatinya, kuajukan pertanyaan itu.
Ani mengangguk. “Teman sekantor suamiku. Dua tahun yang lalu, kami berkenalan di sebuah acara family gathering kantor mereka.” Tanpa ingin mencegahnya, kubiarkan Ani menangis. Isaknya terdengar lembut namun terasa amat pilu, menimbulkan perasaan ngilu di hatiku. Kupeluk ia. Kuberikan bahuku untuk menampung dukanya. “Namanya Nuri,” bisiknya sebelum kami menyudahi acara makan siang yang penuh bergelimang air mata itu.
***
“Awalnya, aku tak keberatan,” kini Sita yang menuturkan kisahnya, “karena bagiku menikah itu berarti harus mau berbagi dengan keluarga suami. Aku mengerti, sebagai anak sulung, Eko berkewajiban membantu biaya sekolah tiga orang adiknya. Maklum, ayah mertua sudah pensiun. Praktis, Eko menjadi andalan satu-satunya.”
“Lalu, kenapa? Sekarang kamu berubah pikiran?” selidikku. Kami duduk bermuka-muka di sebuah kedai kopi pada suatu senja selepas jam kerja. Kupandang wajah lembut Sita yang nyaris tanpa riasan, hanya selapis tipis bedak. Itu pun berwarna natural, senada dengan lipstiknya. Sangat kontras dengan profesinya sebagai redaktur mode di sebuah majalah wanita. Selama bercerita, Sita lebih banyak menunduk. Tangannya sibuk memutar-mutar cangkir kopi yang belum juga dihirupnya. Ia pasti tengah gelisah. Mungkin di kepalanya sedang menari-nari, serupa kepul asap dari cangkir kopinya, sejumlah masalah pelik.
“Lama-lama aku gerah juga lantaran Eko lebih menomorsatukan urusan ibu dan adik-adiknya.” Suara Sita terdengar sedikit bergetar. “Sudah lama, aku sendiri yang memenuhi kebutuhan keluarga dengan gajiku. Dari belanja kebutuhan bulanan hingga susu anak-anak. Aku tidak tahan lagi, Tia. Apalagi Eko sekarang sedang terlibat utang demi menyelamatkan rumah ibunya yang digadaikan.”
“Again?”
“Iya. Ibu mertuaku coba-coba berbisnis cengkih, tetapi karena minim pengalaman akhirnya bangkrut dan minta tolong Eko untuk menyelesaikan segala utang-piutang yang menyangkut bisnis tersebut, termasuk rumah yang digadaikan.”
Ya, kasus utang ini bukan yang pertama kalinya. Ketika usia perkawinan mereka baru dua tahun, kudengar suaminya harus membayarkan utang sang ibu yang berbisnis jual beli kristal. Waktu itu, suami Sita terpaksa melego motornya dan pinjam dana dari bank.
“Apa nggak ada jalan lain?” Aku berusaha mencegah niatnya bercerai. Pura-pura mencegah sebetulnya, karena dalam hati seribu persen aku mendukung rencana Sita. Buat apa mempertahankan lelaki yang hanya menggerogoti kita, bukan?
Sita menggeleng. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri beberapa kali, seolah ingin meyakinkanku dan dirinya sendiri bahwa keputusannya sudah bulat. Tidak mungkin ditawar lagi.
Akhirnya aku manggut-manggut. “Good girl!.”
***
Terakhir adalah Nuniek. Wanita bertubuh mungil yang kukenal di sebuah seminar ini tiba-tiba meneleponku dan bilang, bahwa ia sebentar lagi bakal menyandang status janda. Kami memang tidak terlalu akrab, tetapi cukup sering bertemu dan saling cerita lewat SMS atau telepon. Nuniek masih cukup muda, baru 25 tahun. Ia menikah tiga tahun silam dengan seorang duda, pengusaha daging impor yang cukup sukses.
“Kenapa, Niek?” aku merespons pengaduannya. Waktu itu sudah hampir jam sepuluh malam dan aku baru saja tiba di rumah. Sebetulnya, ingin segera mandi dan berbaring, melarutkan segenap letih yang tercipta sepanjang siang tadi.
Nuniek lalu berkicau panjang lebar. Ia ingin bercerai dengan alasan sering dipukul suaminya. Dalam usia perkawinan yang masih seumur jagung itu, Nuniek kerap menerima perlakuan kasar–fisik dan psikis–dari suaminya yang cemburuan. Jika Nuniek pulang telat sedikit saja dari jadwal biasanya, habislah ia dihujani pertanyaan-pertanyaan yang bernada curiga. Jika jawaban Nuniek tidak berkenan di hati sang suami, tak segan-segan lelaki bertubuh tegap bak tentara itu melayangkan tinjunya ke tubuh mungil Nuniek. Belum lagi makiannya yang sangat menghina harga diri. Itu telah berlangsung sejak tahun pertama pernikahan mereka. Selama ini Nuniek mencoba sabar dan bertahan sampai akhirnya tak kuat lagi.
“Aku tidak mau dijadikan sansak seumur hidup,” katanya menahan geram.
***
Begitulah. Selanjutnya, kudengar mereka bertiga sibuk mengurus perceraian itu. Sesekali, sebagai tanda simpati dan dukungan moril, aku menyempatkan diri mengontak mereka. Tampaknya, Ani, Sita, dan Nuniek sudah bulat tekat untuk melepaskan diri dari jaring-jaring perkawinan yang menjerat mereka. Tepatnya, dari laki-laki yang menyakiti mereka.
“Kamu hebat, Ani. Padahal aku tahu banget kamu sangat mencintai Fadel,” komentarku kepada Ani. “Kamu berani meninggalkannya, membebaskan dirimu dari lelaki yang paling kamu kasihi.”
“Itu dulu, Tia. Sekarang, tak ada cinta lagi. Yang kurasakan cuma luka.” Suara Ani penuh diliputi kesenduan. “Yang penting sekarang, kubesarkan anak-anak dengan sebaik-baiknya. Aku bersyukur karena aku bekerja. Kalau tidak, belum tentu aku senekat ini.”
Aku hanya bisa mengangguk menyatakan kesepakatanku. Aku sangat mengerti yang kaurasakan, Ani, bisikku dalam hati.
***
“Aku merasa sangat lega setelah menyatakan tuntutan ceraiku kepada Eko.” Dengan sangat santai Sita mengeluarkan rangkaian kata tadi dari bibirnya yang tipis, sesantai suasana kafe tempat kami bercakap sembari mereguk kehangatan segelas cokelat panas dan sepoci teh rasa mint. Sepiring kentang goreng menjadi pilihan makan malam kedua wanita yang takut gendut ini.
“Kamu sungguh berani, Sit, aku salut.” Aku mengacungkan dua jempol tanganku.
Sita tertawa pelan di antara potongan kentang goreng di dalam mulutnya. “Bisa kurus kering aku kalau terus nekat meneruskan pernikahan ini. Aku hanya akan jadi seekor sapi perah. Untung aku patuh pada saran kakakku untuk tidak berhenti bekerja setelah melahirkan anak pertamaku dulu. Coba, kalau waktu itu aku tidak menggubris nasihat Mbak Ratna, barangkali sekarang diriku sudah dijadikan keset. Hehehe.”
Aku tersenyum, mengiakan kata-katanya. Entah kenapa, aku turut merasa lega.
***
“Ini bukan soal berani atau tidak, Tia, tetapi sungguh tolol jika aku tetap membiarkan diriku dizalimi,” Nuniek mendapat giliran kutemui di sebuah plaza. Tadi, ketika mencoba sepotong gaun, ia sempat memperlihatkan bahu kirinya. Ada warna biru ungu yang samar di sana, namun cukup menjelaskan bahwa dahulu pada kulit putih itu pernah mendarat sebuah pukulan yang cukup keras. Aku menatapnya dengan ngeri tanpa berani menyentuhnya. “Lagi pula, kami belum punya anak. Tidak ada yang perlu kuberatkan. Apalagi yang mesti kupertahankan? Aku seperti menikah dengan seekor monster!”
“Soal harta gono-gini, bagaimana?”
“Ah, itu sungguh tidak penting lagi. Sudah terbukti, harta tak bisa membahagiakanku. Aku tidak peduli dan tidak akan menuntut apa-apa. Toh, gajiku sangat cukup untuk menghidupi diriku. Yang paling kuinginkan sekarang adalah segera terbebas dari makhluk buas itu.”
“Betul! Apalagi kamu masih muda dan cantik, Niek, masih bisa dapat yang jauh lebih baik.” Kutatap bayangan Nuniek di dalam cermin fitting room. Ia benar-benar cantik dalam busana malam warna hijau zambrud yang sedang dicobanya.
Nuniek tersenyum manis. Matanya mengedip nakal. “Masalah itu, kita pikirkan nanti saja.”
***
Sudah hampir lima belas menit aku duduk di restoran mahal ini, tetapi Segara belum datang juga. Pesan singkat yang kukirimkan beberapa menit lalu, belum dijawabnya. Mungkin ia masih bergulat menaklukkan macet, “penyakit” Jakarta setiap Jumat malam. Waktu kutanya mengapa pilih tempat makan yang jauh dari kantornya itu, Segara bilang karena di resto tersebut makanannya lezat dan dekat dengan kantorku, sehingga aku mudah mencapainya. Tadi kami sepakat aku berangkat lebih dulu agar bisa memesan meja yang nyaman letaknya.
Ini kunjunganku yang pertama. Dan memang Segara benar, tempatnya bagus dengan tata ruang yang berkelas. Cahaya lampu diciptakan temaram, memberi efek lembut dan romantis. Meja kursinya terbuat dari jenis kayu yang mahal dengan desain klasik. Pada setiap meja, terdapat sekuntum bunga mawar merah darah dalam sebuah jambangan kristal berleher tinggi. Gelas-gelas berbentuk piala berdiri anggun bersama perlengkapan makan lainnya. Sayup-sayup terdengar suara piano mengalunkan sebuah lagu instrumentalia. Para pelayannya adalah pria-pria berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu dan setelan jas pendek warna hitam. Sempurna untuk sebuah kencan yang romantis. Atau sebuah lamaran yang tak terduga, seperti di film-film Hollywood.
Mengapa Segara tak memberi tahuku lebih dulu tentang restoran ini? Setidaknya aku akan menyesuaikan penampilanku dengan suasana di dalamnya. Sekarang aku lebih mirip orang yang datang ke pesta dengan menggunakan kostum yang keliru. Seharusnya, sehelai gaun hitam atau putih, akan lebih pas daripada jins dan blus satin merah marun yang kupakai ini. Sepatu hak datarku menyempurnakan salah kostum ini. Awas, kalau nanti tiba, aku akan protes habis-habisan pada Segara.
Ketika jus jeruk di gelasku tinggal separuh, muncullah lelaki itu dalam langkah yang sedikit bergegas. Dari jauh, senyumnya yang telah berhasil meruntuhkan hatiku itu, terkembang.
“Maaf, jalanan macet banget. Fiuuuh… biasa deh menjelang akhir pekan.” Segara menjatuhkan tubuhnya yang tegap di kursi di hadapanku. Harum parfumnya yang selalu kurindukan, samar-samar hinggap di hidungku. Niatku untuk protes soal kostum, menguap begitu saja karena ia pun mengenakan busana kasual: celana jins biru dan t-shirt polo putih.
“Mau pesan apa? Aku sudah hampir mati kelaparan nih.” Aku menyerahkan buku menu padanya. “Aku sih pilih blue cheese tenderloin steak. Ada bawang putihnya. Kayaknya enak.”
“Tumben mau makan besar. Biasanya pilih yang enteng-enteng.” Segara melemparkan seulas senyum menggoda. “Nggak makan siang, ya?”
“Bukan itu alasanku. Sayang kan, masa di restoran mahal aku cuma pesan yang ecek-ecek? Mumpung kamu lagi murah hati.”
Segara tergelak. Ah, tawanya yang selalu lepas itu sungguh indah didengar. Dia memang kekasih yang menyenangkan. Selama dua tahun kami menjalin hubungan, nyaris tak pernah ada pertengkaran sebab ia lebih banyak mengalah. Emosinya benar-benar terkontrol.
Setelah memutuskan memesan lamb steak with red wine dressing ala Autralia–Segara memang penggemar berat daging kambing–ia permisi ke toilet. Agak lama ia di belakang sana sebelum akhirnya makan malam kami tiba.
Segara sungguh pandai memilih rumah makan. Steak ini sungguh lezat, empuk dengan bumbu yang pas di lidah. Saking empuknya, seakan-akan sudah teriris sendiri begitu ujung pisau menyentuh permukaannya. Kentang panggangnya pun benar-benar nikmat, lembut dengan cairan keju yang meleleh di atasnya.
Kukeruk lagi daging kentang itu dengan menggunakan garpu. Tetapi, hei…apa itu? Ujung garpuku membentur sebuah benda keras. Saat kuangkat, di ujung sana, terselip di antara dua gigi garpu, selain kentang, terdapat benda mungil berwarna perak.
Aku terpana dengan mulut terganga. Cincin? Apakah aku tidak salah lihat? Kupandangi logam bulat itu dengan tatapan tak percaya. Kemudian, pelan-pelan pandanganku beralih kepada manusia di depanku.
“Kau…? Apakah…ini…?” Lidahku tak mampu berkata-kata lebih dari itu. Kutatap cincin dan Segara yang tersenyum, bergantian. Dia mengangguk, meraih cincin itu dan mengambil tangan kiriku, memasukkan benda bulat itu ke jari-jari manisku.
“Menikahlah denganku, Mutiara, karena aku sangat mencintaimu.” Segara mengecup jemariku yang tiba-tiba membeku. Aku masih terkejut, bukan oleh pernyataan cintanya–ia sudah kerap menyampaikannya dengan berbagai cara, dari yang romantis sampai yang paling norak–tetapi karena pinangannya yang sungguh tidak terduga.
“Gara…aku… tidak bisa….” Suaraku seperti tercekik di tenggorokan. Buru-buru kuteguk minumanku, berharap bisa mencairkan kekeluan lidahku. Kutarik perlahan tangan kiriku dari genggaman kekasihku itu.
Segara tampak menghela napas, mengendalikan perasaannya. “Tidak perlu kau jawab sekarang, Tia.”
Hilanglah sudah selera makanku. Daging sapi gurih yang masih separuh porsi itu tak mampu lagi membangkitkan nafsuku. Potongan kentang yang masih berasap itu pun, sudah tidak menarik lagi. Semua ini terlalu mengejutkan. Segara melamarku! Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, sama seperti aku tak pernah berangan-angan untuk menikah dengannya atau dengan siapa pun. Kukira, Segara mengerti tatkala kusampaikan padanya bahwa hubungan ini hanya kencan semata, tak akan pernah sampai ke pelaminan.
Kutatap dalam-dalam wajah Segara yang juga sudah tak lagi terusik gumpalan anak domba di piringnya. Tampak di sana, di paras yang memesonaku itu, berkelebat cepat bayangan lengan Nuniek yang biru, tangis Ani yang pilu, dan Sita yang nyaris jadi “lembu”. Aku bergidik tanpa sadar.
Bukankah sudah kukatakan padanya berulang kali, aku telah memutuskan untuk hidup melajang selamanya setelah rumah tanggaku hancur berantakan karena suamiku diam-diam menikah lagi dengan sepupuku. Aku tidak akan melakukan hal serupa terhadap Vonny, istrimu. Tidak akan pernah. Tidak mengertikah kau, Gara? ***
Klender, Januari 2010.
Ilustrasi: odomspeak flaming
Note Redaksi:
Satu lagi penutur cerita dengan genre seperti ini!! Selamat datang dan selamat bergabung Endah Sulwesi…make yourself at home.
Terima kasih kepada Dewi Aichi yang menggeretnya…
May 31st, 2010 at 16:07
ooo, begitu ceritanya..hiks…
May 31st, 2010 at 14:06
edian…. bagus2….
May 31st, 2010 at 08:58
Hik hik hik…sedih….
May 31st, 2010 at 08:05
menarik…
May 30th, 2010 at 23:06
Senengnya baca artikel ini.. Sampai gk sadar kalau tau-tau udah habis..!
May 30th, 2010 at 21:49
Endah..thank you ya sudah masuk he he..
mas Abhisam: ha ha..sepertinya memang begitu, ngga apa-apa yang penting kita bahagia bareng-bareng di sini, makanya dapat gelar dari pak Iwan dewi aichi gerret ha ha..lucu nih pak Iwan
May 30th, 2010 at 19:20
Cerpen yang baguuus. Alurnya menyenangkan, endingnya apalagi….
Salam kenal mba Endah.
Mba Dewi niy kayaknya dah menemukan “spesialisasinya” sebagai “pencari bakat”, hahaha…