Jangan Panggil Aku Monyet

Alexa – Jakarta

Sepertinya hanya di Indonesia saja menyamakan hal-hal yang buruk dalam bentuk binatang, misalnya dah biasa kan kita dengar orang misuh di jalan…”Anjing lu….Monyet lu..Babi lu…”, jangankan di jalan, pada sidang anggota DPR yang  terhormat pun umpatan dan kata…”Anjing Lu..”, juga terlontar.

Sementara itu dalam kasus jika ada lelaki playboy yang tebar pesona maka para saksi dan korban juga akan mengumpat, “Dasar buaya darat…”, kenapa buaya darat? Bukannya buaya tuh adanya di sungai?                 Lha memang perlu ditegaskan bahwa lelaki hidung belang itu buaya darat karena buaya asli yang ada di sungai adalah binatang yang terkenal sebagai Monogamous sehingga menjadi perlambang dalam hantaran pengantin Betawi berbentuk roti buaya dengan harapan perkawinan yang dilangsungkan itu akan kekal abadi hingga kematian yang memisahkan.

Masih nyambung lagi soal maki-maki dalam bentuk binatang, ada lagi binatang yang dibawa-bawa sebagai perlambang keculasan misalnya – si ular berkepala dua….lha kalau yang ini untuk menjuluki orang yang culas karena ular adalah binatang berbisa dan tidak berpendirian alias di sini senang, di sana senang.

Yang lebih mengerikan lagi adalah julukan “Serigala berbulu domba”, ini artinya orang yang tampak baik dimuka tapi di belakang kita nusuk.Satu lagi sebagaimana pernah diangkat dalam tulisan di Baltyra…Badak…terutama dikaitkan dengan mukanya, mungkin karena kulit Badak itu keras maka dianggap mukanya juga keras dan ini dikaitkan dengan habit orang yang gak punya rasa malu…orang biasanya kalau malu khan mukanya akan memerah nah kalau si badak ini boro-boro memerah maka jadilah idiom muka badak menggeser idiom muka tembok.

Seringnya mengkonotasikan binatang-binatang dalam caci-maki di Indonesia akibatnya atau disebabkan (entah yang mana yang duluan seperti perdebatan duluan mana telur atau ayam) kurangnya penghargaan pada binatang. Binatang hanya  dikonsumsi saja melalui oral maupun diambil tenaganya atau bahkan diambil kulitnya…semuanya berarti membutuhkan pengorbanan jiwa raga si hewan.

Sepertinya masih jarang di Indonesia hewan dipelihara karena kasih sayang dan peri kehewanan. Ini berbeda sekali dengan yang ada di belahan dunia lain – misalnya di Amrik, dalam beberapa siaran televisi terlihat upaya-upaya penyelamatan seekor kucing yang terjebak di gorong-gorong, ikan paus yang terdampar di pantai.

Bahkan pada suatu acara Oprah Winfrey ada persatuan penyelamat anjing yang ketangkep dinas kesehatan sana, karena umumnya anjing-anjing yang dianggap liar itu jika dalam kurun waktu tertentu tidak ada yang mengklaim maka akan dimusnahkan. Nah perkumpulan penyayang anjing itu menawarkan ke masyarakat untuk mengadopsi anjing-anjing tak bertuan itu.

Dalam kamus caci maki yang ada di Amrik kelihatannya mereka lebih senang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan kelamin…macam s**t, assh***, f***k. Binatang malah naik pangkat dalam salah cara memadu kasih yakni doggie stye, bahkan naik pangkat hingga ke makanan (walaupun daging anjing tidak dimakan) yakni  Hot Dog.

Di Cina sebagai negara yang dikenal sebagai pemakan segala (meminjam istilah Suhu Buto – kaki empat yang tidak dimakan cuman meja dan kursi, kaki dua yang tidak dimakan cuman  manusia), terus terang saya juga tidak tahu slank caci maki disana. Cuman seingatku anjing juga dihargai disana sehingga digandeng dalam sebuah kota menjadi Anjing Peking…lah begitu sampai disini, beberapa bulan yang lalu saya mendengar pengantar perkawinan bunyinya seperti ini:

“Lelaki usia 20 tahunan ibarat Anjing Peking – lucu, menggemaskan dan disayang-sayang. Tapi coba dah memasuki usia 60 tahun – dia bak anjing buduk; sudah tua tak berdaya, sakit-sakitan, mana dah pensiun sehingga tidak menghasilkan…udah deh ditendang-tendang aja.”

Begitulah kreativitas orang Indonesia.

Kembali ke Cina…paling tidak hewan-hewan sudah menjadi simbul dari tahun-tahun dalam perhitungan almanak Cina. Selain itu sejak ribuan tahun lalu, jurus-jurus ilmu silat juga memakai nama hewan-hewan, misalnya jurus bangau menatap rembulan, bangau mencaplok ikan, jurus naga berebut mustika, dll.

Bahkan Confusius juga suka membuat ujar-ujar bijak berdasarkan perilaku binatang. Dari Bp Andy Dharma seorang teman yang jadi Master ChiKung di Batam, saya mendapat cerita saat seorang Master Zen (jangan-jangan Pak Andy sendiri ya) yang menuruni ilmu dari Confusius ditanya muridnya :

“Guru bagaimana  kami bisa mencapai sebuah pencerahan dalam hidup ini?”

Kemudian sang guru Zen menjawab. “Ketika kau lapar makanlah, ketika kau haus minumlah,  ketika kau sakit perut buanglah, ketika kau mengantuk tidurlah”

Murid inipun protes,  “Wah kalau hal hal sederhana begitu mah semua orang juga tau,  anak kecil aja  juga bisa melakukan semua hal yang Guru sebutkan tadi”

Guru Zen itupun menjawab:

“Hal sederhana itu semua orang tau tapi kebanyakan orang tak bisa mengerjalan dengan sempurna , misal ketika kau makan bisakah kau hanya makan tanpa memikirkan hal apapun selain menikmati makanan itu, ketika kau tidur mengapa ada kegelisahan ,mengapa timbul mimpi – mimpi itu pertanda keresahan pikiranmu, ketika kau berkerja adakah pikiranmu fokus dan sadar kau hadir secara total dalam pekerjaanmu atau kau malah berpikir kapan saya bisa makan atau kapan bisa beristirahat?”.

Coba perhatikan seekor monyet, di kandang sempit dia gelisah kesana-sini. Tapi di hutan liar dia juga tetap bergerak- berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Pikiran terus bergerak tak bisa diam, ia liar seperti seekor monyet, hingga berakibat kita tak bisa fokus, tak bisa sadar dalam setiap hal yang kita sedang kita kerjakan. Begitulah liarnya pikiran kita, oleh karena itu harus kita tarik, harus kita latih agar ia bisa fokus pada satu titik kesadaran.

Salah satu cara sederhana melatih pikiran kita adalah dengan cara meditasi pandangan terang atau meditasi mengamati keluar masuk nafas kita; duduk santai dalam posisi meditasi atau duduk santai disebuah bangku kemudian pejamkan mata anda dan alihkan seluruh perhatian anda hanya pada aliran nafas anda yang keluar masuk melalui hidung anda.  Tak perlu anda tarik tak perlu anda buang nafas anda ,hanya amati saja dengan rilek dan santai.

Coba anda praktekan sehari sekali diwaktu santai anda minimal 20 menit sehari, maka dalam seminggu kemudian anda akan merasakan hidup ini lebih santai, lebih nyaman serta lepas dari beban kehidupan, dan anda akan merasakan anda hadir sepenuhnya dalam setiap pekerjaan dan aktifitas hidup anda.

Seperti yang dikatakan Reza Gunawan (suaminya Dee Lestari) pakar holistic – “take your time, enjoy every moments in your life”.

Nikmati tiap detik hidupmu, nikmati tiap tarikan napasmu, nikmati bincang-bincangmu dengan teman tanpa jemari menari lincah di atas BB, perhatikan bagaimana temanmu/ anakmu/ pasanganmu bicara dengan antusias. Dengarkan suara mereka – karena kau tau manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut; karena itu dengarkanlah baru kau jawab. Nikmati bagaimana matanya berpendar  dan wajahnya berekspresi saat bicara. Rasakan beruntungnya memiliki teman/ anak/ pasangan seperti dia. Karena ternyata mereka hanya mau bicara dengan Kita…bukan dengan yang lain.

Karena ingat…suatu saat hembusan napas itu akan berhenti, suatu saat telingamu tak akan bisa mendengar, suatu saat matamu tak akan bisa melihat. Dan suatu saat mulut temanmu/anakmu/ pasanganmu akan berhenti bicara. Suatu saat entah kita atau mereka akan terhenti…dan semoga pada saat itu tiba tak ada penyesalan karena selama ini tidak mau berhenti tuk mendengar…

Mari mulai dari sekarang kita berhenti  menghewankan manusia dan mulai  “memanusiakan” hewan.

So, jangan panggil Aku Monyet….

Penutup:

Sekedar sharing untuk meringankan beban Suhu Buto Ijo yang berujar:

“Baltyraaaaa oooo Baltyraaaa….di mana drama anak manusia terjadi jugaaaa…
Aku ta’mabur sek di antara atap-atap di LING NAN wae lah…”.


Referensi:

Happy Inside, Kendalikan Pikiran Monyet Kita – Andy Dharma, 2010

Ilustrasi: gitarhero wp


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.