Kembang Randu

Anastasia Yuliantari – Ambor, Ruteng

Siang itu mulai terik. Pohon-pohon randu yang berdaun jarang tak cukup memberi keteduhan bagi orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan desa. Tiupan angin yang diharapkan memberi sedikit kesejukan justru meniupkan debu yang menyakitkan mata.

Ia sebenarnya selalu malas pulang ke desa. Ciri khas kaum urban yang telah merasa mapan di kota. Tempat yang dahulu merupakan satu-satunya dunia yang dikenalnya, sekarang seakan tak berarti, bahkan merepotkan dan membuat bosan. Dulu ia suka sekali berlarian di bawah pohon randu untuk mengumpulkan buahnya yang lonjong. Lalu dengan sedikit keisengan dia menggerakkan teman-temannya untuk pura-pura membuat tonil jaman pergerakan. Bersama pelepah pohon pisang dan arang jelaga mereka mementaskan drama jaman perjuangan. Senjata-senjata dibuat dari dahan-dahan bergetah yang sekarang selalu menjengkelkannya karena membuat noda pada pakaian. Arang jelaga diusapkan ke seluruh wajah untuk penyamaran, kecuali yang menjadi noni Belanda mereka harus membawa payung fantasi dan bertopi, dan buah-buah randu itu sebagai granat dan mortir.

Jalan-jalan ini juga telah disusurinya sejak hari pertama sekolah di SD Inpres pinggir sungai di desanya. Sungguh dia dulu sering merana setiap berpapasan dengan teman-teman dari sekolah lain. Sekolah yang punya nama sesuai dengan nama desa tempat sekolah itu berada, bukan SD Impres menurut lafal mereka. Dia ingin bersekolah di sekolah bergengsi yang punya nama seperti SD Kebon Jambe I atau SD Curah Pinang II. Pokoknya asal bukan SD Inpres tanpa nama.

Tapi ada untungnya juga sekolah di SD tanpa nama. Ia boleh datang setiap pagi tanpa sepatu dan seragam. Sering ia berangkat sekolah hanya mengenakan sandal plastik bersol tebal yang dulu menjadi trend. Nanti begitu sekolah usai, sandal itu akan segera berada dalam tas plastik bergambar monyet bersama buku-bukunya.

Dulu mentari seterik ini tak pernah dirasakannya. Tak ada keluhan kulit perih tersengat sinar matahari atau bahaya ultra violet bila berjalan-jalan di siang hari. Ia juga tak pernah perduli rambutnya jadi kemerahan karena sering ikut memancing di kali atau membantu pakliknya membersihkan gulma di kebun ubi.

Namun sekarang dia seperti badut berjalan-jalan di tengah desa. Jaket katun membungkus tubuhnya sampai ke pergelangan tangan. Payung parasit kotak-kotak melindungi wajah yang sebenarnya telah terlindungi oleh sunblock yang punya double shield protection menurut tulisan di kartonnya, dan juga rambutnya yang telah berubah menjadi panjang dan legam hasil campur tangan salon ternama.

“Apa gak aneh hari siang terang benderang begini pakai jaket dan payung?” Tanya Ibunya. Bagi wanita itu memakai jaket hanya berlaku sesudah senja atau badan sedang meriang, sedang berpayung hanya bila hari hujan.

“Justru karena panas itu harus berpayung dan berjaket Mam. Kalau tidak begitu bahaya, bisa gosong dan kepala terkena migraine,” Jelasnya.

Sang ibu tertawa. Mungkin merasa lucu saja melihat anaknya senewen menghindari matahari. Wong hidup di khatulistiwa kok pingin putih pucat seperti sinyo Belanda. Apalagi tak sejalurpun darah mengalir dari negeri antah berantah itu ke tubuhnya.

Sungguh sebuah paradoks mengingat puluhan tahun lalu ia rela berjemur sampai kulitnya hitam legam hanya untuk membuktikan dirinya bukan bangsa ras kuning seperti ejekan teman-temannya. Memang tak ada tanda sedikitpun pada raut wajah apalagi warna kulitnya. Asal segala godaan itu hanya karena ia memanggil ibunya dengan sebutan Mama.

Menuruti kehendak ibunya dia tidak mengambil jalan melalui kebun-kebun jagung di pinggir desa. Dalam pemahaman sang ibu, anak gadisnya yang sudah lebih berbudaya karena didikan sekolah ternama di kota, pasti agak sungkan sekarang melihat tubuh-tubuh telanjang yang tanpa enggan berendam atau mandi menyegarkan tubuh di sepanjang sungai. Walau menurutnya lebih enak berjalan di sana karena terlindung pohon-pohon bambu di sepanjang tepinya.

Di kelokan dekat gardu ronda ia melihat seorang wanita tertatih menuntun sepeda. Ia berhenti sesaat, merasa mengenali wajah tertunduk bergaun kuning dengan atasan kebaya, atau paling tidak ia menganggapnya kebaya, yang seharusnya tidak berjodoh dengan gaun kuningnya. Pengenalannya semakin nyata ketika perempuan itu mengangkat wajah dan mata mereka bertumbukan.

“Lastri!” pekiknya penuh rasa lega dan sedikit ingin penegasan.

Wajah kuning langsat sedikit pucat itu seketika terbelah senyum lebar. Tanpa perjanjian sebelumnya mereka menepi dan duduk di bibir balai-balai bambu di pos ronda.

Ditatapnya teman yang pernah duduk satu bangku di SD Inpres. Wajahnya sedikit tirus dibandingkan beberapa tahun silam, namun garis-garis kecantikan tetap tampak. Ada masanya ketika ia iri melihat kemolekan perempuan ini. Sekali dua dipinjamnya penjepit bulu mata ibunya ketika ia menyadari bulu matanya tak selentik milik Lastri. Ia juga pernah membuat ibunya kewalahan karena menuntut diminyaki rambutnya setiap pagi dengan sebotol minyak orang-aring agar cepat tumbuh lebat, hitam dan panjang seperti rambut Lastri.

“Dari mana Las?” ujarnya membuka percakapan.

Dua bola mata di depannya berbinar sesaat, pipinya menjadi lebih merah. “Dari rumah Mas Parji,” akunya.

“Oh, Parji teman kita yang kerja di Malaysia?” Gumamnya.

Lastri mengangguk. Banyak teman-temannya yang menjadi tenaga kerja di Negara tetangga. Ia heran Lastri tidak tertarik mengikuti jejak mereka.

“Kamu gak ke Malaysia juga?” pancingnya.

Wajah molek itu menggeleng. “Mas Parji bilang biar dia saja yang cari uang. Saya tunggu di sini saja.”

“Hmm…gitu.” Jelas sudah duduk persoalannya. Bunga desa ini rupanya berpasangan dengan Parji anak Pak dukuh yang merantau ke Malaysia.

“Sudah berapa lama Las?” godanya.

“Lima tahun.”

Mereka terdiam. Masing-masing menatap pohon randu. Ia teringat dulu sering bertanya-tanya benarkah pohon randu itu sungguh-sungguh mempunyai bunga? Teman-temannya termasuk Lastri menertawakannya, tentu saja tidak, kata mereka. Pohon yang berbunga itu hanya mawar atau melati. Ketika ia menanyakan pada Ibunya, dengan gaya guru SMA beliau menerangkan kalau sebuah pohon berbuah, pasti mempunyai bunga. Tapi aku tak pernah melihat bunganya Mam, protesnya. Tidak bisakah sebuah pohon langsung berbuah saja?

Ia tersenyum kecil. Sejujurnya sampai sekarang dia sering menganggap pohon randu tidak pernah berbunga. Mungkin karena bunganya terlalu kecil untuk pohonnya yang tinggi, sehingga tak terlihat. Atau karena bunganya tidak indah dan wangi, sehingga tidak ada orang yang ingin melihatnya.

Sungguh beda dengan bunga mawar atau melati, batinnya kembali menatap Lastri. Gadis itu masih khidmat memandang daun-daun pohon randu yang bergoyang diterpa angin siang.

“Kamu tidak keberatan ditinggal begitu lama?” Tanyanya memecah kesunyian.

“Gak apa-apa. Nanti kan dia bawa banyak uang untuk modal perkawinan kami.”

Sungguh kagum dia pada Lastri. Untuk ukuran desa, pasti temannya itu dianggap tak muda lagi. Dan ia paling tahu resiko dianggap perawan tua, karena alasan itu juga yang membuatnya selalu segan pulang ke desa.

“Tidak takut dilamar orang duluan,” candanya.

Perempuan itu menggeleng. “Saya harus menunggu Mas Parji. Saya sudah janji.”

Wah, semoga saja bukan kisah Romeo dan Juliet atau Rama dan Shinta batinnya sedikit mengejek. Ia telah berpacaran berulang kali, namun tak pernah harus menunggu lima tahun untuk membuktikan bahwa mereka tak cukup dapat membuatnya menunggu. Mungkin ia belum menemukan seseorang seperti Parji, atau dia harus menjadi wanita seperti Lastri untuk bisa mengerti?

Dari balik pohon randu di kelokan jalan tampak seorang laki-laki setengah baya berjalan tergesa. Langkahnya kian cepat ketika matanya melihat dua orang perempuan duduk di bawah atap pos ronda.

Lastri terlihat kaget dan resah begitu tahu seseorang bergegas menghampiri mereka. Ia meloncat gesit dari bibir balai-balai dan setengah tergesa berjalan kembali menuntun sepedanya.

Lelaki yang berjalan tergesa itu berhenti dan menatap ragu dirinya. Ia mengenalinya sebagai kakak tertua Lastri yang bekerja sebagai buruh bangunan di kota.

“Maafkan adik saya ya, den.” Gumamnya. “Siang-siang kok mengganggu orang saja.” Ucapnya pelan sambil bergegas membuntuti adiknya.

Ia kembali berjalan menyusuri jalan desa. Langkahnya lebih cepat karena mendadak tenggorokannya terasa kering. Lastri dan penantiannya entah mengapa membuat dirinya merasa kalah dari gadis untuk kesekian kalinya.

“Dari mana saja?” tegur ibunya begitu melihatnya memasuki beranda.

“Jalan-jalan.” Gumamnya.

Sang ibu menunduk lagi menekuni bacaan kegemarannya.

“Aku tadi bertemu Lastri di dekat gardu ronda,” Ia menuang secangkir air es ke dalam gelas. “Mama mau juga?” tawarnya.

Namun bukannya menjawab, Ibunya malah tertegun menatap dirinya dan segera menutup buku di pangkuannya. Wanita itu menjangkau lengannya dan meneliti sekujur tubuhnya, persis seperti puluhan tahun lalu ketika tahu dia berkelahi sepulang sekolah.

“Kamu diapakan olehnya?” ada nada khawatir dalam ucapannya.

“Lho? Kami hanya bercakap-cakap saja. Memang kenapa?.”

“Lastri itu baru saja lari dari rumah sakit jiwa. Ia agak terganggu pikirannya setelah Parji sepulang dari Malaysia menikah dengan gadis desa tetangga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.