Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Property

Tuesday, 1 June 2010

Viewed 1091 times, 1 times today | 18 Comments |

Cinde Laras

Hampir tiap hari terlihat di TV soal iklan property sebuah group perusahaan ternama. Apartemen, mal, real estate lux, segala fasilitas dan keindahan hunian mewah yang sudah dibuatnya. Gak cuma satu channel TV yang menayangkan, tapi juga beberapa channel lainnya. Mungkin karena channel-channel yang menayangkan itu masih satu keluarga, milik orang yang sama, jadi satu menayangkan – yang lain juga.

Senang lho melihat iklan penuh keindahan dan kemewahan itu, rasanya mata ikut terhibur dengan sajiannya. Apalagi presenternya cantik-cantik. Ditambah liputan yang wah habizz dari segala angle. Duh, rasanya seperti melihat surga !

Lalu tiba-tiba tak sengaja tangan memencet tombol remote, gambar berganti dengan liputan gusuran rumah semi permanent di beberapa tempat. Terlihat kaum ibu yang menangis tak berdaya, anak-anak yang bingung tak tau kenapa, bapak-bapak yang ngotot menggugat aparat penggusur rumah mereka. Ironis…. Yang satu menjual kemewahan hunian, yang lain bahkan punya rumah pun tidak.

Sempatkanlah melongok keluar jendela mobil saat melewati jalan raya. Seberapa sering kita melihat ruko-ruko mewah tak berpenghuni di sepanjang tepian jalan ? Seberapa sering kita melihat apartemen-apartemen kosong berdiri tegak di ketinggian gedung bertingkat entah berapa banyaknya. Rumah-rumah mewah yang sunyi karena harganya yang tinggi, tak mampu terbeli kantong orang-orang melarat seperti mereka yang tergusur dari rumahnya. Betapa pongahnya gedung-gedung itu mendongak, tak mau memandang manusia-manusia lemah butuh naungan sekedar tempat tinggal.

Ahh….. Andai saja pengatur negeri ini cuma membolehkan pembangunan untuk seluruh rakyat, bukan untuk sedikit orang. Andai saja ada pedoman untuk tidak cuma membangun bagi kalangan berpunya, tapi lebih pada keperluan seluruh rakyat jelata. Tapi barangkali waktu memang belum berpihak pada orang kecil. Barangkali hunian untuk mereka cuma masalah sebesar kerikil. Barangkali masih perlu waktu agar kerikil itu tumbuh menjadi gunung, meletus dan meluluh-lantakkan semua bangunan mewah tak berpenghuni yang ada di sana-sini.

Pembangunan di negeri ini….diskriminatif.


Ilustrasi: property96

Share This Post

Posted by Tuesday, 1 June 2010 on 00:03.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

18 Responses to “Property”

Pages: [2] 1 »

  1. 18
    Cindelaras Says:

    @Mawar09 : Kok ngelus dada juga nih ? Barengan ngelusnya sama Yu Lani, kalo divideo bisa jadi film ngaco tuh

    @Lindacheang : Haiyaa….. Yang salah yang nonton TV laa…. Udah tau mau dipamerin apartemen lux kok nekat diliat juga. Terngiang kata-kata Diah Permatasari yang ikutan nimbrung jadi presenter = “Bayangkan ! Apartemen lux yang serba lengkap dekat dengan sarana pertokoan dan sangat lengkap fasilitasnya HANYA seharga 1,4 M saja !”.
    Sampe aku bilang sama suami = Katanya harganya HANYA 1,4 M, Pak…..
    Lalu suamiku bilang = 1,4 M itu duit semua ???
    Aku jawab = Enggak sih, yang separo dibayar pake tape singkong !

    @Nevergiveupyo : Jangan trenyuh mulu, mending dari sekarang nabung banyak-banyak, Nev. Kali-kali bisa beli apartemen (AMIIIIIIN…….)

  2. 17
    Cindelaras Says:

    @P@sP4mPr3s : Itu tanda-tanda 4 L yo ? Lemah, Lesu, Letih, Loyooo…… Kebanyakan makan terong kali (kata simbah jaman dulu kebanyakan konsumsi terong jadi loyo – bingung – perasaan kalo habis makan lodeh terong malah ngatuk wong kekenyangan )

    @JC : Bikin riset dong, kali-kali lumpur lapindo laku dijual buat bikin licin muka perempuan di seluruh dunia (yang ada sekarang kok malah bikin kongmelorotnya tambah menceng janggutnya). Bisa diberi label = Masker Lumpur Lapindo, berkhasiat mengelupaskan kulit ari anda lebih cepat ! Dijamin unggul dan terpercaya ! Plus dapat memajukan dagu anda hingga beberapa cm panjangnya (pasang muka kongmelorotnya buat conto).

    @ Lani & Bernadette : Ngelusnya jangan lama-lama, entar lupaaa…… (qiqiqiqiqi….) Jangan komen aja deh, cukup diprihatinken saja. Lha itu yang kena gusur proyek BKT (Banjir Kanal Timur) yang sampai sekarang masih belum dibayar Pemda padahal rumahnya sudah terlanjur diambrukin itu gimana coba ? Padahal sertifikat tidak bodong, PBB tetap dibayar.

    @Kornelya : Jadi birokrat boleh sombong dong, kan mau masuknya pake bayar, naik pangkat bayar, mau gelar akademis juga bayar, jadi boleh sombong (Gak semua PNS tentunya ya, semoga masih banyak yang waras lahir-bathin).

  3. 16
    Cindelaras Says:

    @DA : Wie, yang punya duit juga belum tentu bisa tenag hidupnya. Terbukti keluarga seorang teman pernah terusir dari rumahnya karena rumahnya tepat berada di wilayah yang akan dibangun BEJ (Bursa Efek Jakarta) kira-kira beberapa puluh tahun lalu. Bapaknya yang seniman kondang sampai sakit hati karena terpaksa harus mau pindah ke daerah lain yang lumayan jauh dari kota, nun di pedalaman Depok sana. Ganti rugi yang diberikan tidak cukup untuk membeli rumah dengan spesifikasi yang sama dengan yang mereka tinggalkan, yaitu dekat dengan pusat kota dan mudah aksesnya. Tapi apa daya, tangan tiran yang waktu itu jadi penguasa telah membuat keluarga temanku itu tak lagi bisa bangga dengan rumah asrinya di tengah kota. Sampai sekarang sang Bapak masih sering mengisahkan betapa dulu rumahnya ada di tempat yang sekarang menjadi lahan BEJ. Coba kalau rumah itu dijual sekarang, kira-kira akan dapat ganti rugi berapa ya ?

    @Hennie T : Andai Hennie jadi Presiden, aku ingin jadi neneknya….. (Hahaha, kalo cucunya presiden, pasti neneknya mau beli apa-apa dituruti melulu ya, Hen ?)

    @DJ : Kata-kata Oom mengingatkan saya pada pertanyaan yang diberikan oleh Muhammad kepada menantunya, Sayiddinah Ali. Ketika Ali diminta untuk memilih, manakah yang lebih berharga = ilmu ? ataukah harta ? Maka Ali menjawab = ilmu. Ada beberapa alasan mengapa ilmu dipilih oleh Ali, yaitu =
    1. Harta kita tak dapat dibawa kemanapun kita pergi, tapi ilmu tetap akan menyertai kemanapun kaki kita melangkah.
    2. Ilmulah yang menjaga manusia selama di dunia, tapi manusia harus menjaga harta selama dia hidup.
    3. Ilmu akan bertambah bila kita berikan kepada orang lain, tapi harta akan berkurang bila kita bagikan pada orang lain.
    4. Ilmu tak dapat dicuri, sedangkan harta dapat dirampas dari tangan kita.
    dsb.

  4. 15
    nevergiveupyo Says:

    tante… yg tante maksud yg iklannya harga diskon itu kan? trus hari besoknya harga naik (padahal yg diskon itu juga ttp aja muahal…

    komentar apa ya selain: trenyuh…

  5. 14
    Cindelaras Says:

    @ISK : Huhuhuhu……. Ngeri membayangkan gempa yang kabarnya mau datang. Moga-moga kita semua dilindungi Tuhan dan diberkahiNya dengan keselamatan dan kesehatan. Untuk air tanah, yang aku dengar akan ada efek rongga bawah tanah (gua) bila air tanah terus-menerus diambil/disedot ke atas. Rongga bawah tanah inilah yang nantinya diramalkan bakal membuat permukaan tanah di Jakarta makin lama makin turun (kabarnya setiap tahunnya turun 1,2 cm – jadi kalau makin lama Jakarta banjir makin parah ya dimaklumi aja). Rongga bawah tanah ini ditengarai juga akan mengakibatkan kerusakan struktur bangunan yang berdiri di atasnya (gedung retak atau jadi miring). Jadi mau tahu, kira-kira berapa tahun lagi ya Jakarta ini akan betul-betul tenggelam ?

  6. 13
    Cindelaras Says:

    @EA Inakawa : Hehehe…., iniii…gara-gara iseng nulis soal property jadi nglantur merasakan perasaan mereka yang tergusur. Memang banyak orang-orang yang digusur karena salah tidak punya surat kepemilikan tanah. Coba liat di banyak tempat di pinggiran jakarta itu, banyak sekali pemulung asal madura yang asal nempel bikin rumah di lahan yang entah punya siapa. Agak bandel juga, malah kadang kebangetan. Beberapa kali terdengar kasus pemilik lahan malah kesulitan menempati lahannya sendiri gara-gara lahannya sudah terlanjur ditempati penghuni liar. Mau diusir malah minta diberi sangu, padahal mereka sudah lama tidak memberikan kontribusi apapun bagi pemilik lahan. Akhirnya terpaksa aparat yang menertibkan. Salahnya adalah, aparat bergerak dengan diberi upah lelah terlebih dahulu, jadi kelihatan seperti penggusuran dengan pesanan. Kalau pembangunannya sendiri sih memang banyak yang sudah menyalahi aturan tata kota. Aliran sungai jadi toko atau rumah tinggal, daerah hijau beralih fungsi jadi jajaran ruko dan perkantoran. Sangat mungkin aturan jumlah kawasan terbuka hijau di jakarta sekarang jauh berkurang di banding 10 tahun yang lalu. Sepertinya tidak ada kesinambungan yang pasti untuk tetap mempertahankan luasan kawasan terbuka hijau ini. Program yang dicanangkan pejabat yang lalu sangat mungkin tidak diteruskan oleh pejabat berikutnya.

  7. 12
    lindacheang Says:

    kalo enggak gitu, enggak rame, nih, hidup. maish jauhlah oanggang dari api untuk kesejahteraan rakyat. tapi tetap saja yang perludiubah adalah pola pikir. tidak bisa menyalahkan segelintir orang yang mampu beli berbagai-bagai properti, tidak juga bisa menyalahkan yang tidak mampu beli rumah.

  8. 11
    Mawar09 Says:

    Cinde: seperti biasa, article keperdulianmu selalu enak dibaca…… aku cuma bisa ngelus dada ngga tahu mau ngomong apa. Salam !

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)