Bicara Sastra, di China dan Indonesia

Meazza – China


“……人有悲欢离合,月有阴晴圆缺,此事古难全 (Ren you beihuan lihe, yue you yinqing yuanque, cishi gu nan quan). Sayup-sayup terdengar olehku sebaris lirik syair saat aku berjalan santai di taman sore itu. Kucoba mencari dari mana asal suara itu. Dan aku sedikit keheranan melihat seorang anak yang kira-kira berumur 4 tahun berdiri dikelilingi 4 orang jompo.

Mereka bertepuk tangan seraya memuji saat si anak menyelesaikan syairnya. Kudekati mereka, lalu kutanya apakah mereka sedang ada kegiatan khusus di taman ini. Dan jawaban seorang nenek membuatku tercengang,”Oh, nggak ada apa-apa. Sore ini cuaca cukup bagus, saya dan suami membawa cucu jalan-jalan di taman ini. Eh ternyata ketemu sama mereka (pasangan kakek nenek lain yang juga sedang membawa cucunya jalan-jalan-penulis), ya akhirnya kita tes anak-anak buat menghafal syair.” Tawanya berderai sementara aku masih mencerna kata-kata yang dia ucapkan.

Cerita di atas menggambarkan betapa bangsa China mencintai sastra. Aku sampai kagum sekali melihat dua balita saling bersahutan berbalas syair sementara kakek nenek mereka tersenyum menyimak sambil sesekali membetulkan kesalahan dalam pelafalan atau mencoba mengingatkan ketika sang anak lupa lirik syairnya.

Syair di atas adalah salah satu syair yang ditulis oleh penyair terkenal pada masa Dinasti Song bernama Su Shi (1037-1101 M). Aku yang belajar di jurusan bahasa Mandarin tentu saja pernah belajar syair itu. Kalau diterjemahkan bebas, kira-kira arti dari sebaris lirik itu seperti ini: Manusia ada sedih senang perpisahan kebersamaan, bulan ada redup terang purnama sabit, semua itu sudah ada dari dulu. Sebaris lirik dari syair yang menceritakan bahwa dalam hidup ini selalu ada pahit manisnya, namun kita harus menghadapinya dengan hati yang lapang, bukan dengan tenggelam dalam duka. Sungguh dalam maknanya, sampai Teresa Teng juga mengubah syair ini ke dalam bentuk lagu yang merdu.

Di China, keadaan di mana orang tua mengharuskan anak-anak menghafal syair klasik sejak usia dini adalah hal yang biasa. 300 syair syair Dinasti Tang dan 300 syair Dinasti Song adalah hafalan wajib bagi pelajar sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, di samping itu mereka juga mesti menghafal beberapa puisi baru karya Guo Moro, Xu Zhimo dan lain-lain, sambil mempelajari essay dan cerpen-cerpen Lu Xun atau Zhang Ailing.

Masuk SMA, mereka tak menghafal syair lagi, melainkan essay klasik karya Tao Yuanming dan Qu Yuan. Membaca novel Dinasti Ming dan Dinasti Qing seperti Three Kingdom dan kisah kera sakti Sun Wugong adalah kewajiban mereka. Belum lagi menghafal beberapa karya filosofi Konfusius, Lao Zi atau Zhuang Zi. Karya-karya sastra klasik, baru, modern silih berganti mengisi hari-hari mereka. Sungguh bukan hal yang mudah buat menghafal dan memahami makna dari karya sastra yang sejarahnya sudah ribuan tahun dan jumlahnya bejibun itu.

Jujur saja, melihat deretan karya sastra itu saja kepalaku sudah pening. Apalagi mempelajari dan menghafalnya. Mungkin para orang tua itu sadar bahwa karya sastra China sungguh luar biasa banyaknya, sehingga mereka mulai membiasakan anak-anak buat ‘mencicil’ menghafal karya sastra sejak usia dini. Saat menginjak remaja dan mereka diharuskan buat menghafal karya sastra yang agak panjang, mereka tak akan merasa berat lagi karena sudah terbiasa.

Bagi bangsa China, sejarah dan sastra bangsa adalah hal utama yang harus dikuasai setiap orang. Tak peduli suka atau tidak suka, menghafal beberapa karya sastra seperti sudah menjadi kewajiban. Kebiasaan ini sudah berlangsung berabad-abad sejak Dinasti Qin.

Hingga pada Dinasti Tang tercatat ada 2000 lebih penyair yang menulis syair-syair emas yang masih terus dipelajari sampai sekarang. Di antaranya adalah Li Bai dan Bai Juyi yang masing-masing menulis lebih dari 900 syair. Orang-orang seperti berlomba-lomba untuk menjadi penyair. Bagaimana dengan orang-orang yang tak memiliki bakat sastra? Mereka menghafal karya-karya penyair besar itu. Istilahnya, tak bisa menulis syair, tapi toh masih bisa nyambung bila ada yang membahas masalah sastra. Karena pada masa itu, membahas karya sastra tak hanya kegiatan orang-orang di kalangan istana. Di pinggir-pinggir jalan pun orang-orang bicara sastra.

Di masa Konfusius di mana ia mendirikan sekolah yang menerima murid dari berbagai kalangan tanpa pandang bulu, pelajaran utama mereka pun adalah satra. Tak pernah disebutkan kalau Konfusius mengajarkan Matematika atau Astronomi di sekolahnya. Yang ada dia mengharuskan siswanya menghafal karya sastra yang tentunya berhubungan dengan ajaran Konfusius.

Waktu itu tak ada yang peduli berapa jumlah planet di angkasa. Yang mereka peduli hanya sastra dan sastra! Orang China gila sastra sampai-sampai tak sedikit orang tua akan memilih sastrawan ketimbang saudagar kaya untuk dijadikan menantunya. Mereka tak takut anak perempuannya kelaparan, sebaliknya mereka bangga punya menantu yang berbudaya dan paham akan sastra.

Semakin dalam pengetahuan seseorang di bidang sastra maka akan semakin tinggi pula kedudukannya di masyarakat. Bagiku hal ini sudah masuk ke dalam bagian “gila sastra”! Dinasti Tang punya peraturan bahwa orang-orang yang ingin menjadi pegawai kerajaan harus mengikuti tes. Apa tesnya? Menulis karangan! Semakin indah karangan yang ditulis, semakin besar kemungkinan untuk menjadi pegawai kerajaan. Tak sedikit orang yang sengaja masuk sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis karangan yang baik, demi meningkatkan kemampuan menulis. Maka tak heran pemimpin-pemimpin China adalah orang-orang yang kenyang akan sastra, bahkan bisa juga merangkap sebagai sastrawan. Lihatlah Mao Zedong, pemimpin bertangan besi yang puisi serta tulisan-tulisannya malah indah membelai telinga dan memperkaya sastra bangsanya.

Sampai kini, sastra menjadi salah satu mata pelajaran penting di sekolah. Tak peduli apa jurusan yang Anda ambil di perguruan tinggi entah sains atau teknik, mata kuliah sastra tetap diselipkan meski porsinya tak sebanyak jika Anda masuk di jurusan bahasa.

Di China, dosen kedokteran tak canggung melantunkan syair atau puisi di sela-sela perkuliahan yang melelahkan. Tukang pungut sampah akan ikut berpuisi saat anak-anak bersahutan menghafalkan syair di halaman taman kanak-kanak. Orang-orang membahas karya Lu Xun di sela-sela obrolan ringan di kereta api, di warung, di rumah makan, di mana-mana.

Begitu tingginya posisi sastra di mata bangsa China. Orang tua tak akan malu mengatakan pada tetangga bahwa anak mereka tak lulus ujian Matematika semester ini, tapi muka mereka akan memerah ketika ada kerabat bertamu ke rumah dan si tamu mengetes si kecil buat melantunkan salah satu syair Dinasti Tang tapi si anak ternyata tak bisa. Mereka akan merasa keluarga mereka tak cukup “berbudaya” karena syair-syair emas pun anak mereka tak sanggup melantunkannya.

Sikap mereka yang sangat menghargai sastra bangsa inilah yang membuatku sangat kagum. Entah karena hal ini tak kutemui di tanah air, atau karena ketertarikanku pada sastra sehingga mendorongku untuk membagi kisah ini di sini. Tapi yang jelas aku kagum setengah mati! Sama kagumnya ketika Habiburrahman El Shirazy menulis bahwa orang-orang Mesir membaca Al-Qur’an di bus kota, di rumah makan, di pinggir jalan, di depot-depot malam, bukan karena mereka mau sok alim, mereka membaca Al-Qur’an karena keindahan kata-katanya, keindahan sastranya.

Coba di Indonesia, berapa banyak anak yang hafal syair karya Chairil Anwar? Berapa banyak yang tahu kalau Taufik Ismail pernah menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia? Atau berapa anak yang mau menggunakan kartu perpustakaannya buat meminjam buku Sitti Nurbaya, Salah Asuhan atau Para Priyayi? Berapa banyak yang mau mencoba menggali inspirasi dari karya sastra yang tersirat dalam surat-surat Kartini?

Di sekolah dulu, aku tak pernah mendapatkan pelajaran khusus sastra. Tak ada guru yang menghibur siswa-siswi yang kelelahan menghadapi jam-jam membosankan menjelang lonceng pulang dengan berpuisi. Memang sesekali mereka mendongeng, tapi kebanyakan terlontar dari bibir guru bahasa Indonesia. Guru lain hampir tak menyentuh sastra sama sekali.

Anak sekolah akan lebih bangga jika mereka bisa menceritakan kembali isi sinetron yang dibintangi Agnes Monica atau Cinta Laura. Tapi satu-satu mereka menghindar jika ditanyai Layar Terkembang. Mereka mungkin tak tahu kalau Mira W. pernah menulis novel Dari Jendela SMP yang bagus sekali untuk bacaan anak-anak sekolah. Entah mereka tahu tidak siapa saja yang paling terkenal di Angkatan Balai Pustaka. Tak tahu juga apakah mereka berminat membaca majalah sastra Horison yang ada di perpustakaan sekolah mereka.

Begitu tak pedulinya remaja kita dengan sastra bangsanya sampai majalah Horison memberikan penghargaan sastra untuk film Ada Apa Dengan Cinta karena film itu mampu menggerakkan minat remaja untuk memahami sastra. Mungkin tanpa film itu remaja kita tak akan pernah tahu, kalau Syumandjaya yang buku karyanya dipegang oleh karakter Rangga itu adalah ayah penulis wanita nyentrik Djenar Maesa Ayu. Ah, Djenar Maesa Ayu, siapa lagi dia?

Aku iri, iri pada bangsa China. Jika saja bangsa ini menghargai sastra, maka pasti banyak yang meronta berduka nestapa saat Rendra berpulang ke surga. Tapi bangsa ini biasa saja. Kulihat sekilas beritanya di media massa, tapi gaungnya tak sampai ke mana-mana. Bahkan seorang kerabat bertanya padaku siapa itu Rendra. Ah……

Aku kini belajar bahasa Mandarin di China. Setiap saat bergaul dengan sastra China. Satu persatu karya-karya sastra itu aku hafal dan aku pahami maknanya. Tapi aku malu, malu pada ketidaktahuan dan ketidakpedulianku pada sastra bangsaku sendiri. Entah itu salahku, guru-guruku, orang tuaku, lingkunganku, bangsaku, entahlah.

Tapi aku gembira ketika ada yang berpendapat bahwa sastra Indonesia bangkit kembali dengan adanya novel Supernova. Penulis-penulis baru mengeluarkan karya indah yang layak disebut karya sastra, bukan sekedar kumpulan cerita mesum tanpa balutan seni kata seperti buku-buku picisan yang gampang ditemukan di emperan. Habiburrahman El Shirazy memotivasi lewat kisah cinta sejati bertabur puisi di negeri para nabi, Andrea Hirata menyentuh naluri lewat biografi pribadi separuh fiksi, Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami mencoba menerobos norma dalam masyarakat dengan segala kontroversi karyanya yang bernilai tinggi. Dua penulis wanita terakhir, bersama Fira Basuki dan Dewi Lestari meramaikan sastra negeri dengan sebutan “Sastra Wangi”.

Dan kalangan muda pun menyambut manis karya-karya sang penulis prosa modern itu. Kulihat mereka meraba-raba sampul Ayat-ayat Cinta, menimang-nimang Laskar Pelangi, bahkan memberanikan diri mengintip Saman dan Nayla. Tak mengapa mereka sedikit malu-malu. Hal biasa bagi yang baru saja berkenalan. Kuharap mereka tak akan canggung lagi nanti.

Sebut saja itu harapan yang ada dalam seberkas sinar kecil yang menerangi sastra negeri kita. Semoga akan terus bersinar, dan tak akan padam dengan mudahnya.

Kulantunkan kembali syair karya Su Shi seperti yang diucapkan anak kecil yang kulihat di taman. Penyair itu baru saja menasehatiku, bahwa tak ada gunanya aku berkeluh kesah tentang negeriku yang miskin sastra. Hadapi saja semuanya dengan lapang dada sambil terus berusaha untuk mengapresiasi sebaik-baiknya sastra negeri sendiri. Dan kurasa aku perlu bantuan kalian, kawan-kawan!

Jinan, Dalam Rinai Hujan, Mei 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.