Menabur Janji, Menuai Lumpur

Sumonggo – Sleman

Sejumlah daerah di tanah air melangsungkan pilkada, tentu ini bukan berita luar biasa. Yang membuat terhenyak saat melihat berita di sebuah televisi swasta, bahwa sejumlah orang yang diindikasikan terkait dengan mereka yang menjadi biang kerok lumpur di Sidoarjo, ternyata akan mencalonkan diri menjadi calon bupati di Sidoarjo. Apa yang mereka cari? Terlalu naif, bila tidak diduga bahwa ada lumpur di balik batu dalam pencalonan tersebut. Adakah “tugas khusus” yang diemban para calon bupati ini?

Tinggi lumpur seribu janji, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk menggambarkan. Hingga saat ini masih sangat banyak korban lumpur yang belum memperoleh hak-hak yang semestinya. Pihak istana, seperti biasa hanya bermain kata semata, tak punya ketegasan untuk mendorong para bedebah biang kerok lumpur agar menjalankan kewajibannya.

Solusi palsu yang tidak permanen, sekedar untuk kosmetik politik penguasa. Teringat sebuah lembaran koran yang memajang dua foto yang kontras, yang satu adalah derita nasib para pengungsi korban lumpur yang terkatung-katung, sementara di sebelahnya adalah foto pesta pernikahan mewah berbiaya milyaran dari keluarga “juragan lumpur”. Entah apakah suguhan buat kondangan adalah kue lumpur, sedang suvenir bagi para tamu adalah handycraft dari lumpur.

Lha kok sekarang mau mencalonkan menjadi bupati? Kalau istilah bahasa Jawa, apa “ora ndelok githoke dhewe”? “Kami ingin membangun Sidoarjo”, begitu ucapan seorang calon bupati. Wah begitu menyentuh, mungkin program pertamanya adalah menjadikan Sidoarjo sebagai daerah tujuan wisata dengan kolam lumpur terbesar, sehingga sempat ada joke bahwa Kuala Lumpur bukan lagi berada di Malaysia, karena sudah pindah ke Sidoarjo.

Padahal yang mestinya diprioritaskan adalah membersihkan lumpur dari otak dan hati mereka yang selama ini tersumbat untuk menyegerakan memenuhi hak-hak korban lumpur. “Kami ingin mengabdi kepada Sidoarjo”, ucapan manis lainnya. Halah, apakah bukan sekedar antek dari “kartel lumpur” saja? Mudah saja terlihat, tak penting bagaimana mengamankan lumpur, biar saja rakyat menderita karena dampak lumpur. Yang penting adalah strategi “peti es” agar posisi “aman” di panggung politik negeri ini.

Lempar lumpur sembunyi tangan. Para mafia lumpur seolah telah merancang skenario untuk menyelamatkan diri dari “dampak sistemik” lumpur tersebut. Bukan hanya di tingkat regional semata tetapi juga pada tataran elite. Belum lama sang godfather lumpur yang selain pengemplang hak-hak pengungsi lumpur yang semestinya dibayarkan tepat waktu berpredikat juga sebagai pengemplang pajak, sukses menyingkirkan seorang menteri yang berseteru karena enggan diajak “berdamai”.

Ndilalah muncul suara, untuk mengajukannya sebagai calon presiden pada pilpres berikutnya nanti. Entah kalau benar terpilih nanti, apalagi yang bakal dikemplangnya. Jika rakyat belum lupa, tidak bakal layak jadi calon presiden kapan pun meski saat semburan lumpur sudah berhenti, yang menurut sejumlah ahli masih berpuluh tahun lagi.

Semoga saja warga Sidoarjo dan rakyat Indonesia tidak mudah lupa, karena konsekuensinya mesti segera berlatih untuk bernapas dalam lumpur, ini bukan sekedar judul film. Akankah hukum dan keadilan di Indonesia ditenggelamkan oleh lumpur keserakahan dari para bedebah tersebut, sehingga generasi mendatang mesti siap beranak dalam lumpur. Nuwun.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.