Mencumbu Pulau Banggai (Part 1)

Mencumbu Pulau Banggai:

Mengagumi Masa Lalu, Mencicipi Kekayaan Surga (Part 1)

Abhisam DM

 

Laut, bagi yang asing, seringkali menjelma mimpi buruk. Ia menjadi sesuatu yang layak dijauhi. Tapi bagi orang-orang di Pulau Banggai, laut adalah kebanggaan. Laut telah melahirkan sejarah panjang tentang kegigihan para pendahulu melawan penjajahan.

Bagi orang-orang di Pulau Banggai, laut adalah juga harapan. Nasib mereka banyak bergantung di situ. Jutaan ikan dari beragam jenis menghasilkan puluhan miliar rupiah setiap tahunnya.

Laut dan orang-orang di Pulau Banggai tidak bisa dipisahkan. Laut adalah setiap denyut nadi kehidupan mereka.

***

Kurang lebih jam tujuh pagi saya sampai di Pulau Banggai setelah menempuh sepuluh jam perjalanan laut dari Luwuk, ibukota kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Sebagai sebuah pelabuhan, satu-satunya pelabuhan, di sini cukup sepi. Termasuk ketika ada kapal yang baru bersandar. Keramaian tampak biasa. Orang-orang juga tidak bergegas.

Dengan becak saya menuju losmen tempat saya akan menginap. Dekat saja. Tidak sampai lima menit. Cerita tukang becak, di sini ke mana-mana dekat, tidak ada yang jauh. “Maklum, di sini pulau kecil,” katanya. “Terpencil juga ya pak,” canda saya. Si tukang becak tertawa.

Sampai di losmen, menuju kamar yang sudah disiapkan, merebahkan badan sebentar, mandi, beres-beres sedikit, semuanya barangkali hanya lima belas menit, terdengar pintu kamar saya diketuk. Sarapan pagi sudah siap. Awalnya saya tidak terlalu selera, perjalanan laut sepuluh jam masih menyisakan mual di perut saya.

“Silahkan sarapan dulu, itu ada ikan,” kata ibu pemilik losmen.

“Terima kasih.”

“Seadanya ya.”

“Ikan apa ini, bu?”

“Oh, itu ikan kerapu, sunu.”

Saya hampir tak percaya. Dua ekor ikan kerapu sunu goreng, besar-besar. Selera makan saya bangkit seketika. Apalagi melihat sambal dabu-dabu di mangkok kecil. Kalau makan seperti ini bukan seadanya namanya, saya berguman dalam hati.

“Silahkan dimakan, saya tinggal dulu ya,” kata ibu pemilik losmen. Ia lalu pergi meninggalkan saya sendirian di meja makan. Mungkin maksudnya supaya saya tidak sungkan menyantap hidangan yang ada. Saya geleng-geleng melihat sajian makanan di depan saya. Ini makanan mewah.

Santapan pagi ini barangkali sepadan dengan “perjuangan” sampai ke Pulau Banggai. Anggaplah ini reward. Saya tertawa sendiri. Konyol. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah betapa sulit akses ke Pulau Banggai. Dari Palu, ibukota Sulawesi Tengah, harus ke Luwuk dulu. Luwuk adalah ibukota kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Namanya memang agak membingungkan. Ada kabupaten Banggai, ada kabupaten Banggai Kepulauan, ada juga Pulau Banggai.

Pulau Banggai, tempat yang saya datangi ini, adalah bagian (kecamatan) dari kabupaten Banggai Kepulauan. Kabupaten Banggai Kepulauan, beribukota di Salakan, adalah pemekaran dari kabupaten Banggai. Kabupaten Banggai sendiri, atau biasa dikenal dengan Banggai Daratan, adalah kabupaten induk yang beribukota di Luwuk.

Dari Palu ke Luwuk hanya ada dua kali penerbangan dalam seminggu. Ini memang bukan rute yang ramai. Dua kali penerbangan dalam seminggu itu pun menggunakan pesawat Casa, pesawat baling-baling kecil dengan kapasitas tidak sampai dua puluh orang. Alternatifnya adalah jalan darat, dengan travel, atau bisa juga sewa mobil. Paling tidak sembilan sampai sepuluh jam meliuk-liuk diantara tebing dan jurang harus dilalui. Lebih “lumayan” sebenarnya melalui Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Ke Luwuk tersedia penerbangan setiap hari meskipun di hari-hari tertentu menggunakan pesawat Casa.

Luwuk dan Pulau Banggai dipisah laut. Penerbangan tidak ada, jalan darat tidak bisa. Satu-satunya transportasi hanyalah kapal laut. Rute Luwuk ke Pulau Banggai, dan sebaliknya, dilayani setiap hari dengan kapal kayu. Waktu tempuhnya antara delapan sampai sepuluh jam.

Terbayang sulitnya akses ke Pulau Banggai. Selain harus ke Luwuk dulu, yang hanya sedikit lebih mudah aksesnya, perjalanan Luwuk ke Pulau Banggai masih harus menempuh delapan sampai sepuluh jam dengan kapal laut. Kapal kayu pula. Bagi yang sudah terbiasa dengan laut mungkin itu hal biasa. Tapi bagi yang tidak, itu “luar biasa”.

Selesai menghabiskan santapan pagi, saya keluar losmen, melihat-lihat sekitar. Panas mulai terasa. Mestinya daerah kepulauan seperti ini panasnya menyengat. Tinggal tunggu waktu saja, siang sedikit lagi legitimasi matahari bakal makin tinggi.

***

Pulau Banggai dulunya ramai, begitu cerita orang-orang di sini. “Lihat pasar yang kiosnya banyak tapi sekarang sepi itu,” tunjuk orang yang pergi mengantar saya ke pasar. “Kenapa jadi sepi begitu, pak?”

Ia menghadirkan kesedihan di wajahnya. “Dulu sebelum dipindah ke Salakan, ibukota kabupaten ada di sini. Setelah dipindah daerah ini menjadi jauh lebih sepi.”

Saya mengernyitkan dahi. Bingung. Kurang menangkap apa yang dimaksud. Beruntung ia mengerti kebingungan saya.

“Setelah mekar dari kabupaten Banggai, kabupaten Banggai Kepulauan pertama-tama beribukota di sini, di Pulau Banggai.”

“Oh, begitu ceritanya.”

“Dalam perjalanannya ibukota dipindah ke Salakan. Keramaian pun ikut berpindah. Perekonomian surut lagi. Pulau Banggai kembali sepi.”

“Menjadi ibukota atau tidak, pengaruhnya sebesar itu?”

“Ya, tentu saja.”

Saya diam. Arus pikiran berlawanan arah di atas dan di bawah sungai otak saya. Sama-sama deras. Mau setuju tak yakin. Mau tidak setuju apalagi.

“Itu mengapa masyarakat menentang. Muncul pendudukan atas kantor-kantor pemerintah. Dihadapi oleh puluhan polisi kiriman dari Luwuk. Jatuh korban. Empat orang tewas dan setidaknya dua puluh orang luka-luka.”

Saya kaget. Arus pikiran yang berlawanan tadi seketika berhenti. Beralih. Apalagi ia bercerita dengan agak terbata.

“Sampai ada yang tewas, pak?”

“Ya, aparat menggunakan peluru tajam,” suaranya terdengar berat.

Saya diam sejenak, berusaha membuat jeda dengan kesedihannya. Buatnya, dan mungkin kebanyakan orang-orang di sini, itu luka sejarah yang dalam dan membiru. Setidaknya itu yang saya tangkap.

Beberapa saat kami tanpa kata-kata. Raut wajahnya menampakkan kesedihan. Perasaan saya mengatakan ia sedang berusaha keras menghapus itu, namun tak mudah. Ia butuh waktu. Dalam situasi begini, diam adalah emas, bagi saya, juga mungkin baginya.

Seorang ibu berteriak di dekat kami. Anaknya berlari ke tengah jalan raya dan hampir tertabrak sepeda motor. Beruntung rem dan kesempatan beberapa detik masih menyelamatkan anak kecil itu. Ibu tadi tampak panik, pengendara sepeda motor juga. Tapi anak kecil itu malah tertawa sambil berlari lagi ke arah ibunya.

Saya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ibu dan pengendara motor dibuat panik, yang membuat panik malah tertawa seolah tak ada apa-apa. “Dasar anak kecil,” kata orang yang mengantar saya. Ia juga tersenyum dan geleng-geleng.

Saya tersadar, peristiwa barusan mencairkan kebekuan. Sekejap. Seperti sekedipan mata. Tak nampak lagi sisa kesedihan di raut wajahnya. Ia mirip anak kecil tadi; seolah tak ada apa-apa.

“Ayo kita jalan lagi,” ajaknya. Ia menuju ke sepeda motor yang kami parkir di pinggir jalan.

“Sip,” saya sengaja memilih kata yang lebih santai.

“Di sini kemana-mana dekat ya, jadi tidak usah pakai helm,” kata saya sambil bercanda.

“Bukan begitu. Coba perhatikan, di sini sepeda motor banyak yang tanpa plat nomor. Nyaris tidak ada orang yang pakai helm juga. Di sini polisi sudah kehilangan wibawanya.”

“Kok bisa, kenapa?”

“Karena konflik yang saya ceritakan tadi.”

Saya kaget. Soal itu lagi, kata saya dalam hati sambil menyesali menyinggung soal helm. Padahal tadi maksudnya hanya ingin memastikan cairnya kebekuan.

“Nanti kita keliling dulu ya,” ia berkata dengan ekspresi yang jauh dari kesedihan.

Kali ini saya heran. Meskipun kembali menyinggung konflik itu, ia tak tampak sedih. Bekas kesedihan pun bahkan tak ada. Ada apa dengannya, batin saya.

“Kita lihat-lihat dulu instansi pemerintah yang kosong.”

Aneh. Ia seperti tidak habis bersedih. Pikiran saya diselimuti keheranan. Tapi sudahlah, justu malah lebih enak kalau begini. Setidaknya saya bisa lebih bebas bertanya tentang banyak hal, tentu dengan tetap berhati-hati. Bagaimanapun ini soal sensitif.

“Kosong, maksudnya?”

“Tinggal bangunan kosong. Padahal masih bagus-bagus, masih sangat layak difungsikan. Tapi bagaimana lagi, semua sudah dipindah.”

“Begitu ya.”

“Nanti kita juga akan lewat monumen, bangunan untuk mengenang empat orang korban yang tewas saat konflik.”

“Oh, ada monumennya pak?” Saya bertanya hati-hati dengan terus memperhatikan perubahan raut wajahnya.

“Iya. Sebenarnya tumpukan-tumpukan batu saja, tapi orang-orang menyebutnya monumen.”

Tidak ada perubahan pada raut wajahnya ternyata. Saya lega. “Monumen itu untuk mengingatkan agar perjuangan tidak boleh padam?”

“Kira-kira begitu, tapi bentuknya berbeda. Sekarang Raja yang menjembatani.”

“Di sini ada Kerajaan?” Seketika saya menjadi antusias.

“Betul. Kerajaan Banggai. Nanti sekalian kita mampir ke keratonnya.”

“Masih ada keratonnya?”

“Masih, tapi jangan salah. Keratonnya kecil, seperti rumah tinggal biasa saja.”

“Tapi tetap saja keraton kan?”

Ia tersenyum. Saya jadi senang karena dua alasan. Pertama, ia sudah tak sedih dan suasana jadi cair kembali. Itu artinya saya bisa leluasa bertanya banyak hal. Kedua, ada kerajaan di sini. Keratonnya pun masih ada. Kerajaan dan keraton selalu menjadi gairah tersendiri bagi saya.

Kami berkeliling naik sepeda motor, tanpa helm dua-duanya, tanpa plat nomor pula.

 

bersambung

10 Comments to "Mencumbu Pulau Banggai (Part 1)"

  1. rahma  5 January, 2014 at 10:42

    cantik fotox. sori sy ad download fot pmndangn it n pjang dfb. slm knl

  2. metodesas  8 November, 2011 at 18:12

    aku tertarik p banggai , aku kenal seorang guru namanya syhbinar adiman , ia sering sms sama aku
    tentang metode sas , belajar membaca , yaaaa aku ingin ke sini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.