Thursday, 3 June 2010
Doddy Poerbo
Kita kadang tak menyadari, asyik bermain internet hingga lupa makan, lupa waktu tidur tak terasa hari sudah menjelang pagi. Bagi yang bekerja tidak terikat waktu, mungkin tidak ada masalah dengan waktu tidur yang terlambat, tetapi bagi yang terikat kerja dengan disiplin waktu, tentunya dapat mengganggu jam istirahat yang normal.
Kecanduan internet dapat membuat orang susah mengatur waktu, namun bagi yang mampu mengatur waktu, hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun, masalah akan timbul dalam kerja, curi-curi waktu bermain internet dalam jam kerja untuk melihat artikelnya dan memberikan komentar sadar atau tidak bahwa kebiasaan mencuri watu jam kerja akan mengurangi performancenya atau produktivitasnya.
Banyaknya waktu yang idle pada umumnya pekerja di negeri ini, terutama pekerja dalam pemerintahan adalah salah satu sebab mendorong tingginya pengguna internet aktif. Mengisi waktu kosong dengan bermain internet adalah salah satu cara menghilangkan kebosanan. Di banyak situs jejaring sosial, dapat kita lihat latar belakang yang berasal dari golongan pekerja pemerintahan dari artikelnya yang bercorak manis, bijaksana atau sikap semacamnya. Ini tentunya terkait dengan satusnya, akan menimbulkan masalah jika bersikap oposisi.
Golongan orang-orang ini tentunya berfikir keamanan periuk nasinya namun juga sekaligus dapat terlihat makin aktif sesungguhnya makin tidak banyak tugasnya, atau setidaknya tidak punya jabatan struktural sehingga punya banyak waktu bermain internet. Namun demikian, golongan ini ada juga yang menjadikan internet sebagai pelarian dari kekecewaanya karena kalah bersaing, golongan ini biasanya tidak ingin identitasnya dibuka.
Dalam situasi yang berkembang saat ini, masalah ekonomi adalah problem utama, ketidak mampuan mengatasi kehidupan ekonomi menjadikan internet sebagai salah satu alat untuk mencari peluang. Namun internet juga dipakai alat untuk mencurahkan kekecewaan, yang menjadi sasaran kekecewaan umumnya pemerintah dan kaum ekonomi kuat seperti pengusaha. Terlarut dalam dunia virtual pada akhirnya terjebak dalam dunia virtual yang justru menjauh dari dunia nyata.
Jika sudah terjebak dalam dunia virtual, online di Internet berlebihan dapat menyebabkan gangguan mental, ada beberapa kondisi atau keadaan gangguan mental. Kemungkinan gangguan kejiwaan yang bisa menimpa para pelaku online, berat ringannya gangguan bisa tergantung dengan konsep diri pengguna maupun beberapa faktor lain seperti pekerjaan atau ekonominya. Konsep diri seseorang terukur dari bagaimana dia mengenal dirinya sendiri melebihi orang lain, menerima kelebihan dan kekurangan kedalam satu kesatuan. Bahwa seseorang yang telah mengalami gangguan mental akibat pengaruh dari jeratan dunia virtual antara terlihat dari sikap yang tidak disadarinya seperti :
Emosi yang sebentar-sebentar meledak di saat online – mengamuk karena mudah tersinggung Online Intermittent Explosive Disorder/OIED). Di dalam kehidupan nyata disebut Intermittent Explosive Disorder (IED – tanpa online) adalah suatu gangguan pengendalian diri yang dapat membuat seseorang sanggup melakukan tindakan sadis seperti membantai seluruh anggota keluarga, misalnya, hanya dikarenakan makanan kesukaan mereka dihabiskan oleh salah seorang anggota keluarga yang lain. Mereka cenderung akan mengamuk secara tidak terkendali disebabkan situasi yang tidak dikehendaknya.
Toleransi rendah terhadap kekalahan dalam forum (Low Forum Frustration Tolerance/LFFT)Bagi orang yang suka menulis dan melakukan posting, sering kali merasa bahwa postingnya sangat sempurna. Seperti umumnya posting di internet yang selalu mendapatkan tanggapan dan komentar, maka penulisnya hampir setiap waktu mengecek masuknya komentar yang baru diberikan pembacanya.
Jika ia mendapat komentar-komentar miring penuh kritik, maka dengan cepat ia akan meluncurkan jawaban yang akan mematahkan tanggapan itu. Jika tidak ada yang memberikan komentar, dia akan mengirimkan komentarnya sendiri – mungkin dengan nama lain – untuk meramaikan tulisannya.
Di alam nyata gangguan ini disebut Low Frustration Tolerance (LFT) yang digambarkan sebagai seseorang yang mencari-cari kepuasan segera atau penghindaran dari rasa sakit dengan segera. Pada awalnya mirip dengan perilaku anak tujuh tahunan yang menginginkan sebuah mainan, dan akan berteriak dengan menghentak-hentakan tangan dan kakinya agar segera mendapatkan apa diinginkannya. Seseorang dengan LFT sangat tergila-gila dengan pekerjaan yang sedang dilakukannya sehingga hal-hal lain dalam hidupnya seakan-akan berhenti. Hal itu sebenarnya adalah wujud dari obsesi yang berlebihan dan tidak logis, sehingga mereka melupakan hal-hal lain.
Munchausen di Internet – tukang cerita untuk membangkitkan rasa kasihan (Munchausen Syndrom)diidap oleh orang-orang yang bersembunyi di balik perasaan tidak berdosa (inosen), ketika pada suatu hari ia mengalami musibah; binatang kesayangannya, atau orangtua, atau mungkin sahabat karibnya meninggal.
Atau barangkali gambaran tentang dia sendiri yang mempunyai suatu penyakit. Dia menuliskan cerita-cerita kesedihan dengan mengharapkan simpati dari pembacanya. Anda akan mengirimi orang ini doa-doa dan berbagai harapan, hadiah-hadiah dan anda berharap dia berhasil melewati masa sulit dengan tabah.
Di dalam kehidupan nyata gangguan ini disebut Munchausen Syndrome (MS), suatu istilah yang diambil dari nama seorang tentara Jerman, Baron Munchausen (Karl Friedrich Hieronymus Freiherr von Munchausen, 1720-1797) yang mengaku mempunyai banyak pengalaman fantastik dan petualangan-petualangan yang mustahil, oleh Rudolf Raspe kemudian dituliskan dalam sebuah buku berjudul The Surprising Adventures Baron Munchausen.
MS adalah suatu kondisi di mana seseorang dengan sengaja membuat kebohongan, menirukan, menambah buruk suatu keadaan, atau mempengaruhi diri sendiri agar sakit dengan tujuan diperlakukan seperti orang sakit. Dalam 1951, Richard Asher memakai istilah itu untuk orang-orang yang berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, dengan membuat berbagai cerita berbeda mengenai penyakit-penyakit yang dideritanya.
Penderita kekacauan ini membutuhkan perhatian berupa rasa simpatik dan kasihan dari orang lain dengan menimbulkan kesan kesusahan dan kesulitan pada diri mereka. Apabila sudah kecanduan, mereka sulit untuk menghapuskan kebutuhannya akan rasa belas kasihan orang, dan akan merasakan hidup mereka benar-benar kacau bila tidak melakukan sebuah sandiwara lagi.
Suatu kasus yang terkenal adalah sebuah hoax di internet tentang seorang gadis bernama Kaycee Nicole, 19 tahun, yang menderita Leukemia. Tokoh rekaan yang diciptakan oleh Debbie Swenson, 40 tahun, ini menceritakan mengenai penyakit yang diidapnya selama dua tahun di suatu jurnal online dan perjuangannya menghadapi kematiannya. Kaycee lalu “meninggal”, dan ketika tidak ada berita mengenai pemakamannya di dunia nyata, maka sadarlah orang-orang bahwa cerita itu hanyalah bohong belaka. Kita ingat tentang kasus cerita puri di yang menghebohkan beberapa waktu silam, seseorang mampu mengecoh dengan kisah penyakit kankernya yang ternyata hanya sebuah kebohongan.
Gangguan kepribadian yang tergoda untuk memaksa orang lain pada saat online (Online Obsessive-Compulsive Personality Disorder/OOCPD)Gangguan kepribadian jenis ini bisa dijelaskan dengan contoh kegilaan akan tata bahasa. Ketika orang menemukan suatu kesalahan tata bahasa atau penulisan kata yang keliru dari orang lain dalam sebuah posting atau komentar, maka dia langsung menyerang dan dengan keras memproternya.
Dalam kehidupan nyata disebut Obsessive-Compulsive Personality Disorder atau OCPD, tapi jangan dikacaukan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Orang-orang dengan OCPD tidak melakukan ketaatan pada ritual-ritual aneh yang dilakukan pengidap OCD, seperti mengetuk pintu harus tiga kali atau memakan bagian ekor dari ayam goreng pada sesi terakhir setelah seluruh dagingnya habis dimakan, dan lain sebagainya.
Tipe OCPD secara sederhana mempunyai sebuah standar tegas luar biasa yang dengannya tugas-tugas tertentu harus diselesaikan dengan sempurna. Biasanya mereka bersikap tidak mau menerima dengan keras cara-cara lain yang bertentangan dengan standar mereka.
Low Cyber Self-Esteem (LCSE) atau penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah (Seperti seseorang yang dibenci setiap orang, tapi tidak ada yang meninggalkannya). Setiap forum, chatting, atau komunitas online lainnya tampaknya bisa memaksa orang – yang tidak merasa betah sekalipun – untuk tetap tinggal. Mereka dipaksa agar tetap online.
Orang-orang ini tetap bebas untuk meninggalkan situs setiap saat, tetapi anehnya mereka tidak melakukannya. Di dalam kehidupan nyata ini disebut merendahkan diri sendiri atau perilaku pencarian perhatian.Seseorang dengan kebutuhan akan merendahkan diri atau perasaan harus terus-menerus dihukum untuk kesalahan-kesalahannya. Seperti sebuah cara dari alam bawah sadar untuk merasa bahwa dunia sedang membalas dosa-dosa mereka, atau mereka hanya begitu tidak menghargai diri sendiri sehingga mereka tidak bisa mengumpulkan energi untuk membela diri.
Jika sampai kepada tingkat ekstrem, hal itu dapat berubah menjadi Online Erotic Humiliation atau pelecehan seksual secara online, di mana pelecehan menjadi sebuah tindakan nyata. Sehingga ketika anda mengatakan kepada seseorang agar melakukan sebuah tindakan seksual, mungkin dia akan menganggap hal itu penting dan dia dengan sungguh-sungguh akan melakukannya.
Tetapi yang lebih umum adalah Online Attention Seeking Behavior atau kebiasaan mencari perhatian secara online, yang siapa pun pernah melakukannya; ibarat menghabiskan waktu jalan-jalan sore dengan seorang anak, dan si anak akan terbiasa dan terus menuntut perhatian seperti itu. Dan yang anehnya, seperti anak-anak yang menganggap bahwa kemarahan orang lain adalah juga cara memperoleh perhatian, maka ada yang beranggapan bahwa memperoleh pelecehan seksual lebih baik daripada diabaikan.
Internet Asperger’s Syndrome. Seorang blogger dan pengusaha Internet, Jason Calacanis menciptakan istilah “Internet Aspeger’s Syndrome” untuk menguraikan perihal hilangnya semua aturan sosial dan empati pada diri seseorang, disebabkan tanpa alasan selain hanya secara kebetulan berhadapan dengan sebuah benda mati; berkomunikasi via papan tombol dan monitor pada suatu waktu.Beberapa kasus bunuh diri yang direkam dengan webcam – yang sebagian mungkin main-main – dan dipublikasikan di Internet. Untuk sekarang ini mungkin kita tidak yakin bahwa hal itu benar-benar terjadi, tetapi sebenarnya hanya masalah waktu. Begitu juga dengan gambar-gambar penyiksaan, penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang anak didik terhadap temannya di sebuah akademi itu.
Di dalam kehidupan nyata ini disebut Asperger’s Syndrome. Hal ini jarang didiagose tetapi sering kali diklaim bahwa sindrom ini adalah bentuk halus dari autisme yang tampak berupa ketidakmampuan biologi untuk menunjukkan empati kepada manusia lain, mungkin disebabkan ketidakmampuan untuk mengenali isyarat nonverbal. Mereka secara terus-menerus bertingkah aneh dan mengganggu disebabkan mereka tidak mengetahui bahwa anda terganggu. Ada bagian dari otak mereka yang rusak.
Yang paling rentan terhadap gangguan kejiwaan diatas adalah orang-orang yang memang bekerja dalam profesi dimana internet adalah alat utamanya. Terkait profesi tersebut, dia dapat mengakses segalanya diluar kontek dalam pekerjaannya. Pengetahuan yang banyak dari kegiatan mengakses sumber pengetahuan dan informasi itu secara nyata namun tidak ada penyaluran untuk implementasinya. Tidak ada penyaluran tersebut membuat dirinya sebagai penilai karena merasa diri mempunyai paling banyak pengetahuannya, akan terjadi silang pendapat jika melihat artikel yang menurutnya tidak sesuai dengan alam pikirannya.
Dalam pergaulan komunitas online, yang paling rentan dari gangguan jiwa itu adalah mereka yang terlibat aktif baik itu dari admin maupun kontributor yang aktif. Kopdar adalah sebuah cara untuk mengembalikan pada kehidupan alam nyata, sangat terlihat manfaatnya, mereka yang sudah saling berkenalan, dalam memberikan koment lebih bersikap pada hubungan sosial alam nyata yang lebih kondusif.
Artikel humor akan menimbulkan rasa senang, dan hanyalah sebagai sebuah cara untuk selalu mengingatkan bahwa sesungguhnya orang akan lebih bahagia hidup dalam dunia nyata dengan tatanan sosialnya. Sesuatu yang berlebihan akan menimbulkan efek negative, melalui humor tersebut barangkali dapat membantu mencegah efek negative tersebut. Melalui humor mendorong kita untuk bertemu dalam dunia nyata terlepas dari perbedaan pandang maupun sosial.
Catatan : Tulisan dari berbagai sumber yang dirangkum dalam sebuah artikel
Note Redaksi:
Terima kasih sharing luar biasa ini, selamat datang dan selamat bergabung! Terima kasih kepada Alexa yang berhasil mengajak Doddy Poerbo ke sini…
Ilustrasi: telegraph.co.uk, flickr
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
June 4th, 2010 at 20:54
Artikel yang bermanfaat…..trims Mas Doddy Poerbo.
June 4th, 2010 at 12:46
Tuuuh..’kan… “dijamin ganteng”.
June 4th, 2010 at 12:41
Linda: Yoi…dijamin ganteng deh
June 4th, 2010 at 12:37
owh, ada idola baru, toch? enggak ngeh mode : on
June 4th, 2010 at 12:18
Semua aktifitas manusia rawan dengan gangguan kejiwaan. Hanya kita yang bisa mengendalikannya.
June 4th, 2010 at 08:42
gangguan jiwa? hahaha…. sopo sing paling parah? hayooo ngaku!!!!
June 4th, 2010 at 04:15
DA : pie to? kok malah takon? bukankah kita diciptakan utk saling intil-mengintilkan hhhhhhhhh halah bosone