Ironi Kasih Sayang Yang Terberai

EA. Inakawa – Kinshasa

Hamparan hijaunya pemandangan pertanian serta indahnya bias air river Congo yang berkelok-kelok dipantulkan pula oleh semburat gelegak Matahari 45 derjat celcius dari jendela langit diatas sana yang kupandang tak jemu terlihat dari atas pesawat yang saya tumpangi membuat saya takjub & terkesima untuk selalu melakukan business trip kebanyak wilayah Congo.

Kali ini izinkan saya berceritera tentang sebuah IRONI kasih sayang terhadap sesama yang terberai. . . . . . . . . . . . di Bumi Zaire ini.

Di sebuah perjalanan dinas saya di Congo pada bulan Nopember 2009 lalu, sebuah tragedi memilukan hati terpampang jelas di depan mata, ibarat melihat lukisan di atas kanvas, sisa kerusuhan perang suku di kabupaten Gemena antara warga desa Mankanza dan desa Enyele lebih kurang 2 jam penerbangan dengan pesawat  Twin Outter dari Kinshasa.

Pertikaian ini selalu dipicu masalah perebutan wilayah sungai lahan tempat mereka mencari ikan, wilayah sungai Gemena memang dikenal sebagai desa yang diberi berkah penuh dengan ikan air tawar boleh dibilang 25% konsumsi ikan orang Congolaise ber-asal dari wilayah ini, berbagai jenis ikannya diolah menjadi ikan sale (ikan yang diawetkan melalui pengasapan) jenis ikan sale ini di export juga sampai Belgium memenuhi kebutuhan konsumsi orang Congo yang bermukim di sana.

Dan di Congo inipula saya menikmati ikan ARWANA Sylver sebagai santapan setiap hari, nikmati sekali rasanya, mengalahkan nikmatnya rasa ikan Baung di desa saya, harganya relatif murah hanya USD 10/Kg.

Sepekan sesudah kerusuhan berlalu namun hilir mudik manusianya terlihat jelas penuh kekhawatiran, di sana sini masih terlihat warga desa yg mengungsi kembali kedesa mereka sambil menenteng kopor seadanya dan anak anak yang tercerai berai kehilangan keluarga, disinyalir lebih kurang 175 warga & aparat polisi tewas dari kedua suku bertikai.

Kekhawatiran mereka tentu ber-alasan, setiap saat kondisi yg terlihat mulai aman ini bisa kembali menjadi ladang pembantaian, sementara bau darah & kematian masih mewarnai kedua wilayah desa tersebut.

Sebahagian pengungsi itu ada juga yg menyeberang sampai ke Brazaville, namun bukan berarti mereka aman di sana, mereka tidak mendapat perlindungan bahkan akan terusir kembali.  Setiap hari kami sering melihat pemandangan mayat-mayat ter-apung & membusuk di pinggir Congo River dibiarkan menjadi santapan burung gagak hitam lurik pemakan bangkai.  Tak satu wargapun yang perduli demikian juga dengan dinas sosial yang seyogiya nya harus bertanggung jawab, sering mayat mayat tsb didorong kembali ke sungai sehingga hanyut terbawa harus menyeberang sampai Uganda & Rwanda-Angola.

Semua orang yang punya hati & nurani tentu akan tersentuh melihat korban pertikaian antar suku ini, tetapi tragedi perang suku ini selalu saja ter-ulang setiap tahun. . . . . kita tersentuh, tapi ironisnya justru kedua suku sendiri telah kehilangan belas kasih terhadap sesama, mereka lupa terhadap sesama 1 Nationality, hati mereka telah dibutakan selama bertahun panjang sejak masa Koloni Belgium 350 thn berkuasa sampai pemerintahan Mobutu  s/d Joseph Kabilla saat ini, mereka hidup dalam keyakinan yang berlumuran darah & dendam.

Sepertinya Tirani Pemerintahan Congo yang sudah terbentuk selama ini tidak mampu melakukan Intoleransi Ragam Kesukuan di Congo menjadi bebasis kekuatan Nasional Negara, sepertinya pula pemerintahan Joshep Kabila gagal mengelolanya sebagai kekuatan dasar untuk pembangunan seutuhnya & kesejateraan hidup berdampingan terhadap perbedaan suku, sesungguhnya para penguasa lebih menyukai RAKYAT nya dalam situasi yang selalu TERPECAH.

Selama ini semua Institusi NGO – Missionaris Katholik & Pemuka agama Islam bersatu melerai dan selalu saja DAMAI mereka hanya sesaat, damai hanyalah merupakan pencarian sepanjang hidup orang Congolaise tanpa tepi dan dermaga achir.

Bagi mereka toleransi berbeda suku adalah DOSA dan mereka memilih memelihara & merawat kemajemukan dosa itu dalam kancah pertikaian perang suku yang harus di abadikan turun temurun, kekerasan sudah berbenih sejak zaman nenek moyang mereka, harapan damai hanyalah kata pintar orang kota yang harus mereka sisihkan jika bertikai dengan kaum yg berbeda suku, mereka sadar dengan sebuah dasawarsa yg nista karena napsu saling ingin membunuh kala gelombang amarah ber-ubah menjadi lahar panas & ketakutan anak istri mereka yang mencium bau mistik kematian mulai mengusik tidur malam diantara perut mereka yang belum ter-isi makanan, tak seseorangpun mampu diantara mereka memberi jaminan tentang keselamatan.

Ada sebuah RANJAU dalam kehidupan mereka, sebuah sindrom kekuasaan disetiap pergantian pejabat institusi pemerintah yang berbeda suku akan menjadi pemicu konflik & ini berlaku seperti kekuatan KASTA di India, sangat sulit bagi orang luar untuk masuk membedah pertikaian mereka menjadi Panorama Damai, terkecuali melemahnya kekuatan masing masing pihak atau terbunuhnya sang kepala suku, disitulah pertikaian selesai/END. . . . . itupun hanya untuk sementara, barangkali.

Dalam kegiatan promosi yang saya lakukan saya pernah memberikan bantuan berupa white board & bea siswa pendidikan, selama setahun saya berkeliling di sekolah dasar menanamkan Brand Awareness product saya, apa yang saya lihat di sana adalah : Pendidikan Etika bersopan santun nyaris tidak ditanamkan dalam keseharian sang guru, saya ingat & masih membekas betul, budaya etika kita di Indonesia, para guru SD kita mendidik kita untuk selalu membungkukkan badan kala melintas di depan orang tua & guru, kita diajarkan mencium tangan para guru di saat hadir & pulang, kita diajarkan bertutur kata dengan lemah lembut.

Pola pendidikan sopan santun seperti ini TIDAK terlihat saya sama sekali di Kinshasa ini, bahkan sesama guru saling konflik di depan kelas di hadapan para murid adalah suatu pemandangan yg umum, anda bisa bayangkan seorang murid SD, seorang anak kecil dengan rambut keriting mengerungkel ber usia 6 s/d 12 tahun sudah terbiasa melihat keributan/pertengkaran GURU mereka, belum lagi mereka melihat keributan di seputar lingkungan tempat tinggal mereka, dirumah mereka. . . . . antara ayah & ibu mereka, mayoritas pria Congolaise ber-istri lebih dari satu.

Realita ini artinya . . . . .  KERIBUTAN adalah sesuatu yang umum dan biasa bagi mereka dan kondisi ini terbawa terus sampai kelak mereka tumbuh dewasa dan pasti akan mengulang sejarah sebagaimana terdahulu, mereka telah tersugesti SEJATI nya harus seperti itulah seorang dewasa kaum Congolaise.

Jadi mungkin sesuatu yang wajar bagi mereka PERTIKAIAN antar sesama yang berbeda suku adalah Panorama yang biasa walaupun harus dibayar mahal dengan pertumpahan darah & kematian, barangkali inilah sebuah harga diri tanpa tawar bagi bangsa Congolaise, sebuah kebanggaan kaum negro.

Sejarah kehidupan kaum Negro memang sudah sangat keras sejak masa beratus tahun lampau, kita mengenal mereka sebagai bangsa budak yang dipekerjakan dengan kondisi penuh penindasan & kekerasan maupun diskriminasi.

Di Indonesia kita juga selalu dihantam konflik, sangking seringnya negeri kita disebut sebagai Negeri 1000 Konflik, tapi kondisinya tentu berbeda. . . . . konflik di Indonesia lebih di warnai oleh permainan adu domba kaum elite politik yang cenderung serakah & haus dengan kekuasaan semata.  Di bumi kita Indonesia masih banyak para penabur damai, tapi mungkin itulah Indonesia RUMAH kita, tempat kita menuju pulang ketika kita rindu kampung halaman, ketika kita rindu sebuah kultur & budaya yang oleh orang banyak disebut sebagai Budaya Timur, apapun kondisinya kita cinta tanah air kita Indonesia.

Betapa bangganya kita dengan Bhinneka Tunggal Ika, walaupun kadang rumit dengan ke-bhinekaan tetapi kita selalu kembali bersatu oleh rasa sebuah hati & nurani serta jalinan kebersamaan sebagai umat ber-agama Indonesia.  (bersatu kita utuh bercerai kita runtuh) ikrar ini mengakar dengan kuat sangat di benak kita. . . . Peace.

Pada sebuah pengalaman yang lain . . . . . . . . . .  selama bermukim di Africa ini ada suatu pengalaman unik, di mana KITA para pendatang jangan sampai berkata sesumbar.

Saya ter-ingat kala membaca artikel ENIGMA di Baltyra tertanggal 16 Mai lalu Precognitive Dream “Fenomena mimpi yang menjadi kenyataan” saya juga terkenang pernah membaca buku Rhonda Byrne “ Law Of Atraction “ The Secret.

Antara kejadian Mimpi & Hukum alam dua hal yang semua orang pasti mengalami, tapi sering kita tidak menyadarinya sebelum keduanya menjadi kenyataan.

Ada pengalaman yang benar saya alami seperti saya katakan diatas tadi “Jangan berkata sesumbar” misalnya : seorang teman bertanya pernahkah saya terkena Malaria saya jawab dengan sesumbar : BELUM pernah saya merasakan Malaria itu seperti apa.  Anda tau 3 hari kemudian saya sudah tergeletak terkena Malaria, demikian juga dengan pengalaman dicopet, saya katakan saya belum pernah dicopet. . . . eh ! ke-esokan harinya saya benar benar dicopet, masih ada pengalaman lainnya seperti itu dan ini banyak di alami teman Indonesia lainnya yang bekerja di bawah bendera PBB-UN/Milobs & Civilian.

Jadi benar selalulah kita berpikir positive “Thinking Positively” di benua hitam ini TUHAN sepertinya mengingatkan kita dengan cara seperti itu, sebagai pendatang agar kita jangan sesumbar, ada sesuatu nuansa yang mustajab di Bumi Africa ini sebagai sebuah BENUA yang katanya paling tua di dunia.


Kinshasa 30 Mei 2010

Salam setepak sirih sejuta pesan – EA. Inakawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.