56 Etnis Suku di China: The Lhobas

Sophie Mou

Nama Etnis Suku ini terbilang unik. Salah-salah dilafalkan malah menjadi Lobak. Etnis Lhoba ini salah satu Suku yang terkecil jumlah penduduknya di antara suku2 etnis lainnya. Etnis ini diakui keberadaanya pada tahun 1965, menjadi salah satu Suku dalam 56 Etnis Suku di China. Lhoba mempunya arti wilayah Selatan.

Dengan populasi mencapai sekitar 3000 orang, Etnis Lhoba tinggal di daerah Mainling, Medog, Lhunze dan kabupaten Nangxian di Tibet tenggara. Selain itu, sejumlah kecil tinggal di Luoyu, Tibet selatan dan sepanjang perbatasan India dan Nepal.

The Lhobas berbicara dalam bahasa khas milik Tibet-Myanmese termasuk dalam sistem bahasa Tibet-Cina.Beberapa dari mereka menguasai bahasa Tibet. Tidak memiliki catatan naskah tertulis, orang Lhoba jaman dulu menuliskan tulisan dengan ukiran di atas kayu.

Hidup Suku Lhoba memprihatikan di jaman dulu. Mereka diintimidasi dan mengalami diskriminasi oleh pemerintah daerah Tibet. Menjadi dianggap dari kasta yang lebih rendah, beberapa dari mereka diusir dan terpaksa tinggal di hutan dan pegunungan. Mereka tidak diizinkan untuk meninggalkan wilayah mereka tanpa izin dan dilarang untuk melakukan perdagangan dengan kelompok etnis lain. Dilarang menikah dengan orang Tibet. Mereka harus mencari nafkah dengan mengumpulkan makanan, berburu dan memancing karena hasil gandum yang tidak mencukupi di wilayah ini.

Kehidupan di masa lalu

Sebagian besar kaum laki-laki adalah petani, kaum perempuan juga terampil membuat kerajinan dari bambu dan benda lainnya. Mereka melakukan pertukaran barang seperti hewan, tanduk rusa, cakar beruang, kerajinan tangan dengan alat pertanian, garam, wol, pakaian, gandum dan teh dengan pedagang Tibet. Kesempatan melakukan pertukaran ini ketika mereka mengunjungi biara untuk berziarah.

Salah satu keahlian utama Suku Lhoba adalaha berburu. Anak lelaki sejak kecil sudah diajarkan cara berburu. Setelah mencapai usia akil balik, mereka diwajibkan untuk berburu baik secara berkelompok atau perorangan. Sebagian hasil tangkapan dibagi di antara sesama penduduk desa. Ada sebagian digunakan sebagai pertukaran barang dan beberapa dari mereka ada yang menjadi budak dari Tuan tanah, hasil dari berburu dibagi dengan Tuan tanah.

Sebelum pembebasan wilayah Tibet pada tahun 1950, suku Lhoba terbagi menjadi dua kasta. Yaitu “ Maide” dan “ Nieba” . The “maides” menganggap diri mereka sebagai kasta bangsawan, sedangkan kasta “niebas” adalah orang-orang rendah yang menjadi budak. Kasta Niebas tidak akan pernah dapat menjadi “ Maide “ walaupun mereka menjadi kaya dan memiliki budak. Mereka hanya bisa menjadi “wubus” – sekelompok orang yang memiliki posisi lebih tinggi sedikit dari “niebas.” Kaum muda tidak dapat menikah dengan kasta yang berlainan. Kasta ‘niebas” menjadi budak, tidak memiliki kebebasan dan tidak diperbolehkan memiliki mata pencahrian.

Wanita dalam Suku Lhobas, tidak memiliki hak berbicara dalam masyarakat dan keluarga, juga tidak mempunyai hak waris.

Budaya

Suku Lhoba mempunyai adat dan kebiasaan berpakaian yang berbeda disetiap klan. Suku Lhoba yang tinggal dibagian utara Luoyu, kaum laki laki memakai pakaian pakai tanpa lengan, kancing depan, jaket hitam sampai lutut terbuat dari wol domba. Mereka memakai topi yang terbuat dari kulit beruang atau tenunan dari batang2 bambu atau rotan dicampur dengan kulit beruang.

Kebanyakan bertelanjang kaki, mereka memakai anting-anting bambu, kalung dan membawa busur dan anak panah atau memakai pedang di pinggang mereka sedangkan wanita memakai baju yang menyempit di lengan dan rok yang terbuat dari wol domba. Mereka juga berjalan dengan bertelanjang kaki. Wanita memakai perhiasan perak atau anting-anting kuningan, gelang dan kalung, juga mengenakan berbagai hiasan di pinggang seperti kerang, perak, rantai besi dan lonceng. Semakin banyak hiasan yang dikenakan, semakin kaya pemakainya.

Makanan utama mereka adalah dumpling terbuat dari tepung gandum, terigu dan jagung. Selain itu mereka juga mengkonsumsi kentang, dan masakan yang pedas. Salah satu makanan pengaruh budaya Tibet adalah teh mentega. Suku Lhoba adalah peminum berat dan perokok, pada perayaan hari raya, Lhobas menikmati anggur dan bernyanyi untuk memperingati hasil panen yang baik .

Suku Lhoba tergolong primitif pada masa lalu, mereka mempercayai Totem. Ada lebih dari 30 totem, termasuk matahari, bulan, harimau, sapi, anjing. Mereka menyembah langit, bulan, batu, tanah, air dan api. Sebelum mereka melakukan perburuan, mereka melakukan ritual persembahan kepada dewa gunung. Dalam Suku Lhoba terdapat dua metode dalam hal menyembuhkan penyakit. Pertama bernama Myigyi, dengan cara membunuh ayam jantan , dan dukun mengunakan hati dan darah ayam jantan untuk menyembuhkan penyakit. Kedua bernama Nyiubo, dukun mempersembahkan binatang lainnya, seperti domba, sapi untuk mengusir penyakit.

Kehidupan setelah pembebasan

Penduduk Lhobas banyak menderita penyakit gondok, penyakit endemik yang disebabkan oleh kurangnya garam. Beberapa bayi yang kekurangan gizi terlahir tuli dan bisu. Wabah penyakit merajalela karena kondisi kehidupan masyarakat miskin. Populasi Lhobas hampir mengalami kepunahan sebelum pembebasan Tibet pada tahun 1951.

Kondisi membaik bagi rakyat Lhoba setelah pembebasan Tibet pada 1951. Pemerintah mulai meningkatkan standart hidup rakyat dan kesehatan umum dengan memberikan pinjaman dan bantuan dana. The Lhobas, yang sebelumnya adalah budak, diperbolehkan mempunyai tanah, menerapkan konsep pertanian dan peternakan.

Mereka memulai kehidupan baru sejak reformasi demokrasi dilakukan di Tibet setelah 1959, ketika pemerintah pusat meredam pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh unsur-unsur reaksioner dari lapisan atas Tibet. Untuk pertama kalinya mereka diperlakukan setara dan sederajat oleh masyarakat. Sekarang ini, banyak dari Suku Lhoba yang mempunyai kedudukan penting di pemerintahan daerah, maupun pusat.

Dengan bantuan dari Suku Han dan Tibet, mereka telah mengadopsi berbagai budaya, metode pertanian intensif. Mereka membuka lahan di bukit dan mulai berbudidaya di daerah baru, berburu dan kerajinan menjadi usaha sampingan yang dikembangkan pada saat yang sama. Pertanian telah ditingkatkan sebagai modal pembangunan, peternakan diperbaiki dan sistem irigasi modern diterapkan sehingga mencapai hasil produksi yang baik.

Sebelum pembebasan, sebagian besar penduduk Suku Lhoba buta huruf. Sekarang ini, anak-anak Lhobas mendapat pendidikan disetiap wilayah. Banyak generasi muda yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan tinggi di kota-kota Beijing, Nanjing dan Lhasa.

Kesehatan juga menjadi salah satu perhatian pemerintah pusat. Dokter terlatih dan tenaga medis lainnya telah menggantikan dukun penyihir yang di masa lalu diundang untuk melemparkan mantra atau mengejar hantu dan setan dari orang sakit, praktek telah banyak mengorbankan nyawa. Klinik dan pusat kesehatan di bangun di desa-desa Lhoba. Rumah Sakit didirikan di kota besar.

Selain itu sarana jalan untuk transportation diperbaiki, begitu juga dengan sarana komunikasi, dengan membuka jalan di daerah berbatu dan membangun banyak jembatan, sehingga tempat tinggal Suku Lhobas tidak menjadi wilayah yang terpencil.

Suku Lhobas di masa kini, telah menjadi salah satu Suku yang maju dan sehat, tidak mengalami diskriminasi, tidak terbagi dalama kasta, hidup di masyarakat dengan damai, berbaur dengan Suku-suku lainnya.


Referensi :

Photo by Chen Hai Wen

Travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

sumber2 lain etnis minoritas di China

19 Comments to "56 Etnis Suku di China: The Lhobas"

  1. Indra  9 May, 2013 at 11:49

    Suku dayak sudah ada yang maju kok Pak walaupun masih ada saudara saudara yg tetap teguh pada adat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.