Mana Janji Manismu?

Anoew – SumSel

Mundur menurut KBBI adalah berjalan ke belakang. Mundur adalah kata sifat, bentukan kata undur. Bisa juga undur adalah nama binatang yang dikenal dengan sebutan Undur-Undur. Dari pengertian tersebut jelas, bahwa binatang ini nggak pernah berjalan maju meskipun saya sendiri belum pernah melihat langsung seperti apa binatang itu. Tapi bukan masalah binatang itu yang akan jadi bintang di sini.

Mencermati berbagai fenomena di negri ini mengenai pejabatnya yang males mundur ketika suatu bencana atau kejadian terjadi di lingkup departemennya, dimana yang bersangkutan paling-paling hanya menyatakan rasa keprihatinannya dan paling pol cukup dengan mengunjungi lokasi kejadian sambil berretorika bla bla bla bla.. kok rasanya gemes…!!Memang kita, terlebih saya sendiri, belum tentu mempunyai kemampuan manajerial seperti beliau-beliau ini. Tapi sesuai dengan ungkapan umum bahwa “penonton pasti lebih pintar dari pada pemain”, saya pun merasa demikian dan “berhak” berkomentar atas apa yang saya lihat, saya dengar, saya menang.. eh salah, kok malah erslogan vini-vidi-vici?!

Intinya, pokok’e gemes!

Mundur karena lari dari tanggung jawab dan mundur karena merasa malu adalah dua hal yang berbeda. Seperti contoh baru-baru ini di Jepang ketika ada seorang pejabat negara yang merasa terlibat skandal atau… nah ini dia, merasa nggak sanggup menepati janji kampanyenya, yang bersangkutan kontan merasa “tak enak hati” dan spontan menyatakan mundur dari jabatannya. Rasa “tak enak hati” itulah yang dijunjung tinggi masyarakat (yang seharusnya) maju macam di Jepang ini, di mana rasa MALU dan TANGGUNG JAWAB MORAL menjadi modal utama dalam bekerja.

Saat di mana kemampuan diri dalam mengemban tugas dan kewajibannya sebagai pejabat dipertaruhkan, dia mengundurkan diri sebagai bentuk tanggungjawabnya. Pun seandainya kesalahan itu dilakukan oleh anak buahnya! Sungguh aib tak tercela jika ada pejabat di Jepang yang tetap ngeyel mempertahankan posisi / kedudukannya di pemerintahan manakala terjadi bencana akibat transportasi terjadi sehingga menimbulkan banyak korban jiwa, atau janji-janji pas kampanye dulunya yang nggak bisa dipenuhi dalam waktu tertentu. Bagaimana kalau di sini? Walah… yang sering terdengar adalah mereka sibuk berretorika dan berpikir bagaimana caranya supaya bisa lari dari tanggungjawab.

Slank mode : [on]

jangan kau kecewakan aku lagi

aku gak mau menderita lagi

kalau ingkari janji

Slank mode: [off]


TOKYO – Perdana Menteri (PM) Jepang Yukio Hatoyama memutuskan untuk mundur dari jabatannya hari (kamis 03/06). Mundurnya Hatoyama diperkirakan akibat banyaknya tekanan terhadapnya, usai mengingkari janji untuk memindahkan pangkalan militer AS dari Okinawa.

Berikut kutipan pernyataannya yang direlease di televisi dan bisa dibaca di headline surat kabar:

“Sejak pemilu tahun lalu, saya mencoba untuk merubah politik di mata rakyat Jepang. Namun semuanya gagal, kegagalan ini tidak lepas dari usaha saya,” ungkap Hatoyama dalam pernyataannya yang disiarkan lewat televisi nasional, seperti dikutip Associated Press, Rabu (2/6/2010).

Sungguh elegant. Suatu pernyataan sikap atas RASA MALU yang menimpanya berkaitan dengan janji kepada rakyat yang dibuatnya sewaktu mencalonkan menjadi PM Jepang yang gagal diwujudkan dalam kurun waktu  pemerintahannya.

Pengunduran diri Yukio Hatoyama ini berkaitan dengan gagalnya janji kampanye dulu sewaktu mencalonkan diri menjadi PM Jepang yaitu, akan dibongkarnya pangkalan militer Amerika Serikat di Pulau Okinawa bagian selatan yang meresahkan penduduk setempat. Tapi, hingga kini nyatanya pangkalan militer itu tetap berdiri disana dan malah Yukio Hayotama ini bersikap akan tetap mempertahankannya. Entah ada apa di balik itu semua, yang jelas di sini adalah bahwa PM ini telah gagal memenuhi janji manisnya. Maka mengundurkan diri dari jabatan karena merasa telah “berdusta” kepada pemilihnya  menjadi pilihan PM Yukio Hatoyama sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

Sekali lagi, bagaimana jika disini?

Slank mode : [on]

jangan kau bohongi aku lagi

banyak bicara cuma basa-basi

coba ingkari janji

Slank mode: [off]

Dear Baltyrans,

Sebenarnya ada beberapa contoh tentang punyanya rasa malu ini bila pejabat yang bersangkutan merasa gagal mewujudkan janji manisnya atau gagal dalam memperbaiki keadaan di lembaganya. Kapolda Jawa Timur Herman Surjadi Sumawiredja, beliau mundur setelah mengumumkan adanya pelanggaran serius dalam Pilkada Jatim dan merasa nggak mampu mencegah terjadinya penyelewengan dalam proses pilkada tersebut. Beliau memilih mundur. Bukan saja dari jabatannya tapi malah dari kesatuannya. Masih di lingkungan kepolisian, berita yang masih cukup anget adalah Susno Duaji ( halaaaah Susno lagi…) yang mundur sebagai Kabareskrim, meskipun sifatnya hanya sementara (dulunya) selama masa pemeriksaan berlangsung dan sekarang, malah benar-benar “dimundurkan”. Atau contoh lain lagi yaitu wakil Jaksa Agung Ritonga yang mundur ketika ribut-ribut masalah Bibit-Chandra.

Atau contoh yang diberikan oleh Sarju Wibowo sebagai Kepala Rutan Pondok Bambu dan Asdjuddin Rana sebagai Kakanwil Kemkum HAM DKI Jakarta yang merasa bersalah telah mengistimewakan Artalyta Suryani dengan memberikan fasilitas tak sewajarnya sebagai narapidana. Yang paling dasyat adalah ketika mundurnya wakil presiden RI pertama ketika beliau nggak merasa sejalan dengan bossnya. Bukan type “yess men” atau Asal Bapak Senang. Tapi, kalau dilihat dalam sebuah prosentase, dari seratus persen pejabat yang bermasalah namun mempunyai urat malu dan menyatakan mundur hanyalah sebagian kecil, dan lebih banyak mereka yang memilih untuk tetap bertahan.

Jadi ingat sama mentri perhubungan RI, terkait dengan kecelakaan pesawat, kapal laut dan kereta api yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Mungkin beliau yang lagi apes. Sudah tau moda transportasi di Indonesia system pengelolaan dan pengawasannya masih ada jauh dari sempurna kok berani-beraninya menjabat Mentri Perhubungan?!

Lain di sini lain pula di luar negri, di mana kalau ada kecelakaan transportasi yangg berat (menimbulkan korban jiwa) mentri yang berhubungan bakal mengundurkan diri. Tapi repot juga ya, kalau setiap ada kecelakaan lantas mentrinya mundur… ?! Hm.. Mundur…? Nggak…!

Mundur…? Nggak…! Mundur…? Nggak…! Coba tanya ke cicak atau tokek di dinding, berapa kali dia berbunyi..

Ternyata, di Indonesia mundur atau tetap bertahan di posisi empuknya memang jarang terjadi, malah yang ada adalah tetap bertahan selama mungkin sekalipun selama menjabat telah terjadi buanyaaak penyimpangan dari tanggung jawab. Umumnya bapak-bapak itu beralasan, “lhaaaaa… wong presiden sebagai boss saya nggak nyuruh mundur kooook…justru beliau masih mempercayakan saya untuk terus memegang jabatan ini.” Atau “Apakah pengganti saya nantinya bisa lebih baik dari saya?

Hm…., saya nggak yakin..!” ujar seorang pejabat dengan gayanya yang (sok) kebapakan. Malah ada yang lebih parah lagi komentarnya, meskipun mungkin cukup terucap di dalam hatinya, “Mundur??? Enak aja…! Emangnya loe nggak tau apa kalau sabetan gw lebih banyak dari pada gaji?!”

Dear Baltyrans,

Pasti anda sekalian setuju bahwa jabatan adalah suatu amanah yang diberikan seseorang yang sifatnya hanya sementara, namun tanggungjawabnya suaaangat besar. Nggak Cuma beban tanggungjawab tapi juga beban moral yang diemban. Makanya heran kalau masih atau malah banyak pejabat apalagi yang dulunya heboh menebar janji manis pas kampanye tapi enteng-enteng saja pas dimintai pertanggung-jawaban saat dia melakukan kinerja buruk, lepas dari akibat tingkah anak buahnya atau faktor lain yang berada dibawah institusinya. Kenapa? Bisa begitu mungkin mereka menganggap bahwa jabatan itu adalah sebuah harta untuk menumpuk kekayaan dan bukan utang kampanye yang harus ditunaikan.

Jadi, apa yang terjadi? Persis seperti binatang undur-undur… , hanya asyiik berkeliling di situ-situ saja…

Seorang teman yang saya ajak ngobrol masalah ini saat rehat di lapangan berkomentar, “gimana kalau loe jadi dia? Mundur nggak?”

“Gue? Mundur? Tak usah lah yaw..!”, saut saya sambil menghembuskan asap rokok..

Mendingan nyanyi lagi aaaah…


Slank mode : [on]

jangan kau kecewakan aku lagi

aku gak mau menderita lagi

kalau ingkari janji

aku gak mau kebawa emosi

jangan biarkan aku sakit hati


karna ingkari janji

cinta dan kepercayaan yang kuberikan

jangan sampai kau sia-siakan

jangan ingkari janji


jangan, jangan kau bohongi aku lagi

banyak bicara cuma basa-basi

coba ingkari janji


semua yang kau inginkan selalu kuberi

kulakukan semua walau sampai mati


jangan ingkari janji

kebebasan yang kamu dapatkan

bukan jadikan boleh sembarangan


kamu sudah berjanji

jangan ingkari janji

mending jangan berjanji


Slank mode: [off]

Salam Janji Manis.


Sumber:

– Kompas cetak

– detiknews

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.