Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh

Endah Sulwesi

Setiap kali ditanya tentang buku favorit, jawaban saya selalu “Bumi Manusia”. Baru kemudian, “Totto-chan” atau “To Kill A Mockingbird” bila si penanya bertanya lagi: “Apalagi?”. Oleh karena itu, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan menonton pertunjukan teater berlakon “Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” yang disutradarai oleh Wawan Sofwan. Acara ini berlangsung pada Selasa, 11 Mei 2010 di Erasmus Huis jam 8 malam.

Setiap yang telah membaca novel dahsyat “Bumi Manusia”, tentu tahu siapa Ontosoroh. Dialah perempuan hebat, tokoh rekaan Pramoedya Ananta Toer, yang menjadi ruh “Bumi Manusia”, nyaris menenggelamkan sosok Minke, tokoh pers Indonesia yang bernama asli Raden Mas Tirto Adhi Surjo (1880-1918). Minke inilah yang merintis persuratkabaran di Indonesia. Medan Prijaji adalah koran yang pertama kali diterbitkannya (1907).

Dalam “Bumi Manusia”, Minke dipertemukan dan dibuat kagum oleh seorang perempuan desa yang berstatus nyai. Sanikem namanya. Menjadi nyai Tuan Mallema sejak berumur 14 tahun. Dia “dijual” oleh ayahnya seharga 25 gulden Belanda. Sejak itulah, benih-benih dendam kepada orang tuanya tumbuh subur di dalam hati Sanikem. Ia tak pernah lagi sudi menemui ibu bapaknya. Baginya, kedua orang tua itu sudah tidak ada.

Berkat kebaikan hati Tuan Mallema yang sabar mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung, Sanikem menjelma seorang wanita cerdas penuh harga diri dan keras hati. Dialah lalu yang mengendalikan perusahaan milik Tuan Mallema. Tanpa pernah bersekolah secara formal, Sanikem yang kemudian berganti sebutan menjadi Nyai Buitenzorg -tetapi karena lidah orang kampung sulit mengucapkan nama itu, maka berubahlah menjadi Nyai Ontosoroh – telah membuat Minke, pemuda pribumi berpendidikan Belanda, terkagum-kagum.

Karakter Ontosoroh ini memang istimewa. Maka, ketika novel Pram itu dipentaskan dalam bentuk pertunjukan teater, judulnya bukan lagi “Bumi Manusia” tetapi “Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh”.

Pentas di Erasmus Huis semalam adalah pentas kedua yang saya saksikan setelah sebelumnya dilakukan di Graha Bakti Budaya, TIM, pada Agustus 2007. Sutradaranya masih sama, yang berganti adalah pemeran sang Nyai, yang semula dimainkan oleh Happy Salma, kini diperankan oleh Sita Nursanti. Yang dipentaskan di Erasmus Huis ini merupakan versi pendek dari yang sebelumnya (berdurasi 3 jam lebih). pemainnya pun lebih sedikit, hanya 4 orang: Sita Nursanti (Nyai Ontosoroh), Agni Melati (Annelies), Willem Bavers (Tuan Mallema), dan Bagus Setiawan (Minke).

Jika harus membandingkan, dari sisi cerita, tentu lebih asyik yang 2007, karena pentas kedua ini beberapa adegan dihilangkan. Di antaranya, adegan Minke menghadap ayahnya. Panggungnya pun jauh lebih kecil dibanding pentas yang pertama, sehingga propertinya pun minimalis. Namun, kelebihan pentas kedua ini terletak pada bintang utamanya, Sita Nursanti, yang menurut saya, lebih pantas dan pas memerankan tokoh Ontosoroh ketimbang Happy Salma. Postur tubuhnya yang kurang langsing, justru rasanya lebih cocok sebagai figur sang Nyai. Vokalnya pun lebih berwibawa dan terutama cara dia menghayati perannya itu sungguh patut diberi bintang lima (khususnya pada scene penutup yang sangat memilukan itu, berhasil membuat saya ikut merasa pilu dan meneteskan air mata. Hiks.) Aktingnya terjaga dari awal hingga akhir. Dia mampu menghadirkan sosok seorang nyai yang anggun, berwibawa, cerdas, dan penuh harga diri. Maka, jika harus memilih siapa primadona malam itu, pilihan saya jatuh pada Sita Nursanti. Bravo, Sita!

Acara gratisan ini dipenuhi penonton sehingga dibuka juga kelas lesehan demi menampung hadirin yang tidak kebagian kursi. Saya beruntung dapat kursi paling depan sehingga bisa dapat jarak motret yang cukup strategis.

Semoga teater yang akan melanjutkan perjalanan pentasnya ke Eropa ini (Belanda dan Belgia), memperoleh kesuksesan yang sama atau bahkan lebih lagi dari pertunjukan semalam. Ah, jadi ingin baca “Bumi Manusia” lagi. Bagaimana ya film layar lebarnya kelak di tangan dingin Riri Riza yang semalam juga turut menonton walaupun harus rela ngedeprok tepat di depanku.***

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.