Beauty of Love

Alfred Tuname


“Cinta menaklukkan segalanya:

Marilah kita pun menyerah pada Cinta.”

-Virgil (70-19 SM), penyair Romawi


Seperti seperti biasa, ketika malam merayap menghitamkan bumi, suara-suara homo ludens (insan bermain) meredup. Permainan mulai terbatas pada terang. Planet seakan menjadi tenang di antara kisaran planet-planet lain yang mulai kelihatan. Bintang gemintang melayang meramaikan galaksi. Kumpulannya seolah-olah berterima kasih pada mentari yang memberinya kesempatan menari. Tarian bintang mengukir senyum insan dan lalu menjadikannya subjek yang indah. Ramai-ramai umat berjamaah memuji penciptanya.

Sebab keindahan langit, kumpulan turunan adam ramai-ramai mendambakan langit. Kaum adam mendambakan keindahan yang lahir dari langit. Keindahaan adalah milik langit yang turunkan ke bumi. Rumusan keindahan pun rumit seturut pengalaman akan keindahan. Keindahan belum tuntas dideskripsikan dan dibeberkan. Ia ada dalam jiwa yang meresapinya. Mungkin juga keindahan tidak ada pada materi atau tubuh. Keindahan menjadikan subjek merasa senang atas objek indah yang sempurna, selaras, harmoni dan jernih.

Saat itu keindahan bersemayam dalam harsrat atau dambaan bahwa sesuatu menghangatkan jiwa pendamba saat melihatnya, atau mengetahuinya pun memilikinya. Jika hawa adalah wujud keindahan maka ada dambaan adam untuk menghasratinya. Dan juga sebaliknya. Itu terjadi pada keturunan adam dan hawa yang memiliki sense of beauty. Sense of beauty adalah indera yang bisa merasakan keindahan (feeling of beauty). David Hume menjelaskan bahwa “beauty and deformity are not qualities in object but belong to the sentiment , internal or external”.  Jadi, keindahan dan kebalikannya bukan dialami oleh objek an sich melainkan pada rasa (feeling) (dalam Mudji Sutrisno, 1998). Karena sense of beauty inilah, keturunan adam (dalam kultur patrilineal puritan) pun berbondong-bondong menjadikan diri sebaga Joko Tarup yang hendak memiliki seorang bidadari khayangan dengan mencuri selendang bidadari sebagai meterai untuk memilikinya. Keindahan bidadari khayangan itu tertangkap sense of beauty Joko Tarup. Dalam romantisme keindahan, Willian Shakespeare menangkap feeling of beauty itu dalam pengisahan “Romeo and Juliete”.

Di dalamnya, keindahan tidak berpihak pada pleasure melainkan delight.  Keindahan tidak sebagai pemenuhan kepuasan ragawi tetapi passion sehingga mampu menyembuhkan rasa “sakit” yang mengalir melalui kuralitas-kualitas tubuh (kemulusan, kebersihan, kemungilan, et cetera). Burke (1728-1797) menulis “ by beauty i mean, that quality, or those qualities in bodies, by which they cause love, or some passion similar to it”. Jelas, rotornya adalah cinta. Cinta sendiri adalah keindahan yang paling fundamental.

Cinta memberi underline mark pada keindahan. Bukankah semua akan menjadi indah bilan berawal dari cinta? Tanpa itu, semua tidak berarti apa. Nihil. Dalam padangan Shaftesbury (1671-1713), setiap insan memiliki kemampuan untuk merasai (faculty of taste) yang memberi dasar pada kepekaan keindahan. Tesis ini  terkait dengan selera dan jatuhan  penilaian (pemilihan) objek keindahan. Dan itu tidak dapat diperdebatkan. De gustibus non est disputandum. Mengutip teori Hutcheston bahwa “…pengalaman akan keindahan dan timbangan atas apa yang indah menjadi objektif karena mengaitkannya dengan kemampuan-kemapuan yang ada dalam diri manusia, yaitu indera-indera internal (batinya) yang netral (sense of beauty).

Keindahan hawa/pun adam semakin semarak perbedaan timbangannya seturut sense of beauty penimbang. Cinta yang tercecap dalam keindahan ini pula melahirkan derajat loyalitas yang berbeda-beda meski semuanya tanpa pamrih. Dan memang, ciri keindahan cinta itu sendiri adalah dalam idiom Shatfesbury, “disinteredness “ (ketanpapamrihan). Inilah yang membedakan cinta (sebagai apresiasi terhadap keindahan) dan keinginan untuk memiliki dalam kamus percintaan. Cinta adalah sesuatu yang tanpa pamrih.

Tentang perbedaan ini, Burke menjelaskan demikian. “we shall have strong desire for woman of no remarkable beauty; whilst the greatest beauty in men, or in other animals, though it causes love, yet excites nothing at all desire. Which thews that beauuty, and the passion caused by beauty, which i call love, is different from desire, though desire may sometimes operate along with it…” (dikutip dari Mudji Sutrisno, 1998). Hasrat untuk memiliki akan menyertai paksaan, ancaman, kepanikan dan variasi teror lainnya. Dengan sendirinya, keindahan pun lenyap dan tenggelam dalam pengalaman buruk tersebut.

Keindahan pun perlu diekspresikan melalui pengungkapan rasa cinta itu. Pengungkapan itu juga memiliki variasi bahasa, verbal maupun praksis. Dari semuanya, yang paling murah dan jujur adalah kata. Bunga pun menjadi tak berarti apa-apa jika tanpa kata meski di dalamnya terdapat pesan (M. McLuhan, medium is message).  Kata sekarang bukan lagi penanda sausserian yang menjadi petanda (signifier) pada tertanda (signified). Kata (cinta) itu sendiri adalah jiwa sang penutur/pengungkap.

Pengungkapan “aku mencintaimu” (i love u, ich liebe dich, aishiteru, amo te, dll) mengandung unsur “janji” dan “maaf” dalam bingkai “disinteredness”. Bahwa penutur hendak berjanji untuk menjaga perasaan cinta (sayang dan semua ekspresinya) pada insan (objek) dicinta dan serta lebih dahulu (pay it forward) memaafkan dan meminta maaf terkait kesalahan in time of past, preasent, or future. Erare humanum est, bukan? Prosesnya pun adalah pengalaman keindahan. Ada dalam pengalaman ini, dalam bahasa Roland Barhtes, melibatkan dua jenis kenikmatan yakni “plaisir” (kenikmatan) dan “joussance” (kesukacitaan, ekstasi). Dada yang berdebar merupakan reaksi fisik terkait kenikmatan itu. Lalu dalam bahasa iklan, “selanjutnya, terserah Anda!”

Provokasinya adalah ekspresikan rasa cintamu sebelum terlambat. Sebab cinta itu anugerah langit yang terindah. Jika tidak, kita akan seperti Chairil Anwar dalam puisi “Cintaku Jauh di Pulau”: “…mengapa ajal memanggilku dulu/ sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!” Sebaliknya, jika rasa cinta sudah diujung bibir dan tersambut insan (objek) dicinta, kita pasti akan berteriak ingin hidup seribu tahun lagi.

I love you…

Djogja, 21 Mei 2010

Alfred Tuname

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.