Osa Kurniawan Ilham
Anda pembaca setia buku-buku tulisan Pramoedya Ananta Toer ? Kalau ya, saya juga. Apalagi kala membaca roman tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca (novel yang terakhir ini saya belum sempat membacanya), kita bisa merasakan betapa tinggi imajinasi Pram kala menulis novelnya.
Terkadang kita akan terjebak menilai kalau novelnya itu kisah nyata atau non-fiksi karena Pram cerdas mencomot setting waktu, tempat dan tokoh yang nyata dalam setiap novelnya. Padahal, Pram sudah menyatakan bahwa roman-romannya adalah perpaduan dari catatan sejarah dan imajinasinya.
Nah, kala saya mulai membaca Bumi Manusia saya penasaran di manakah sih sebenarnya istana Nyai Ontosoroh yang ditulis Pram posisinya di Wonokromo itu. Atau di manakah sih perusahaan pertanian milik keluarga Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh yang ditulis Pram di daerah Wonocolo. Sementara Pram menulis kalau asal Nyai Ontosoroh itu adalah Tulangan, Sidoarjo yang mana Nyai Ontosoroh adalah anak kasir pabrik gula Tulangan yang sampai sekarang masih berdiri dan beroperasi di Tulangan Sidoarjo.
Tempo, edisi 14 Mei 2006 melacak jejak Pram di Bumi Manusia ini. Dugaan Tempo, perusahaan pertanian dalam Bumi Manusia adalah kompleks pabrik kulit Wonocolo di Jl. Ahmad Yani Surabaya. Saat ini kompleks tersebut sudah diruntuhkan, diganti oleh gedung Jatim Expo yang baru beberapa tahun lalu diresmikan operasinya. Tapi Tempo, berdasarkan informasi dari Dukut Imam Widodo mencatat bahwa mungkin saja Pram juga mendapat inspirasinya dari pabrik beras di Ketintang Surabaya.
Nah, sekarang istana Nyai Ontosoroh itu di mana sebenarnya ? Kata Tempo, Pram mungkin terinspirasi oleh rumah besar bergaya arsitektur Belanda yang kini terletak di Jalan Joyoboyo Surabaya, selain rumah besar lain di Jalan Gunungsari Surabaya.
Penasaran dengan tulisan Tempo, kala saya berkunjung ke Surabaya saya berniat mencari rumah Nyai Ontosoroh tersebut. Dan eureka, akhirnya ketemu juga. Inilah foto rumah yang mungkin menjadi rumah Nyai Ontosoroh itu.
Menurut Tempo dan Dukut Imam Widodo, rumah itu dibangun sejak 1900-an di atas lahan sekitar 40 x 40 meter. Dalam kondisi sudah rusak saja, rumah tersebut masih memancarkan aura kemegahan, apalagi di masa silam. Mungkinkah rumah tersebut yang menjadi imajinasi Pram kala menulis detail tentang istana Nyai Ontosoroh di Wonokromo itu?
Foto:
(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 1 April 2010)
November 9th, 2010 at 05:49
Trimaksh bnyk ulasany.membntu sy yg penasaran,sdg membaca bumi manusia. Cerita dan gaya bhsny ‘eksotis’ tiada duanya
June 9th, 2010 at 17:02
@nevergiveupyo,
Posisinya kalau dari ketintang sebelum terminal joyoboyo. di depan pertigaan sebelum masuk areal terminal. Kayaknya udah nglewati pom bensin ya, agak2 lupa saya. Maklum sudah tua
Salam,
Osa KI
June 8th, 2010 at 16:13
Oom OKI. letak rumahnya dimana ya? apakah dekat dengan POM bensin?? saya penasaran soalnya sempat 2 thn lebih tinggal di daerah ketintang (dekat bekas pabrik beras itu) jadi cukup sering keluyuran lewat joyoboyo…
suwun Oom