Nama Adalah Doa

Dewi Aichi – Brazil

Nama adalah bagian yang tidak kalah penting yang harus disiapkan dalam menantikan sebuah kelahiran anak manusia. Nama merupakan tanda, simbol atau identitas diri. Memiliki nama yang indah merupakan kebanggaan bagi yang memilikinya. Kadang pasangan muda yang sedang menanti anak pertamanya, kebingungan dalam mencarikan nama untuk anaknya kelak. Serasa lebih penting menyiapkan nama, daripada hal-hal yang lebih penting lainnya.

Orang tua kadang mengidolakan nama-nama artis kesayangan, atau nama tokoh, bahkan nama-nama film luar negeri. jangan-jangan nanti ada yang menamai Avatar pada anaknya yang lahir, dengan harapan kelak anaknya dapat terkenal. Atau ada istri yang malah eyel-eyelan(beradu pendapat) sama suaminya tentang nama anak yang akan diberikan kelak. Berhubung sang istri cinta banget sama sinetron, anaknya akan dinamai artis artis sinetron, kali aja akan dikasih nama Cinta Laura, atau Dude Herlino he he. . . sah sah saja, tidak dilarang kok. Kecuali kalau mereka memiliki hak paten, jadi barang siapa yang pakai namanya harus bayar royalty kepada pemilik nama.

Selain mengikuti nama artis yang lagi ngetop banyak juga masyarakat yang memilih nama untuk anaknya dengan nama sentuhan islamiah. Hal ini karena nama merupakan doa dan harapan orang tua meskipun nama yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan kepribadiannya/malah sebaliknya.

Namun demikian memilih nama trend bukanlah keharusan. Semuanya dikembalikan kepada orang tua yang memilih dan memutuskan nama untuk anaknya. Entah menggunakan bahasa daerah, nama barat atau menggunakan nama islamiah, semuanya tergantung orangnya. Terserah mau pakai bahasa apa saja to. . . !!!??? Yang penting artinya baik. Karena biar bagaimanapun nama adalah doa harapan dari kedua orang tua terhadap anaknya.

Ngomongin tentang arti sebuah nama ini, aku inget obrolan teman di facebookku. Biasa, pada ributin arti nama masing-masing. Maklum, kita sering bercanda dengan teman-teman di Jogja melalui pesan singkat. Dilarang sakit hati atau nesu. . . . nek nesu. . seket ewu!(dilarang sakit hati atau marah, kalau marah bayar 50 ribu).

Apakah anda semua tau arti nama pemberian orang tua anda masing-masing? Jawabnya bisa ya, bisa juga tidak. Karena tidak semua nama ada artinya, hanya sebuah kata indah tanpa makna. Kalau namaku sendiri gampang sekali mengartikan, Dewi itu identik dengan wanita cantik, bidadari atau apalah sebangsanya. Sedangkan Murni, itu asli, tanpa campuran. jadi Dewi Murni itu artinya cantik alami, belum tercemar apapun he he. . . maaf ya hi hi jangan iri lho. . !

Ada tetangga namanya Agnes Widyawati. Dulu suka diusilin sama cowok yang suka menggodanya. Agnes jelas nama import dari luar negeri, sedangkan widya itu indah, wati adalah wanita. Si cowok itu suatu saat tanya kepada Agnes, “mbak, kenapa kok ngga bangga dengan nama Jawa anda, padahal aku suka kalau manggil anda dengan panggilan mba Wied atau mba Wati?” “Agnes kan lebih modern, keren, dan go international”, kata Agnes.

Karena risih dan geli lantas cowok itu terus terang:” mbak tahu nggak artinya Agnes?” Agnes itu diambil dari kosa kata latin agnus. . . . . arti harafiahnya anak kambing, kalau di Jawa ya cempe gitu lho, nah Agnes artinya anak kambing perempuan alias cempe wedok’. . . . . “!

Jelas dia tersinggung berat dengan keterangan cowok itu. Sejak itu dia memang lantas lebih senang dipanggil mbak Wied. Lalu suatu hari cowok itu nggodain dia panggil mbak Agnes!!. . . Secara spontan dia menyahut” mbeeeekkkk. ” Tersenyumlah itu cowok , dia bisa menerima sarannya.

Secara tidak langsung, orang tua memberi nama yang baik kepada anaknya itu adalah salah satu amanah. Misalnya anak diberi nama Firdaus Rizky Sugihartoko(maaf ya Edos, aku pinjem namamu!, Nesu. . . seket ewu!). sudah jelas sekali bahwa orang tua mengharapkan kelak hidupnya bisa kaya, banyak rejeki, banyak punya toko, dan bisa masuk surga kalau mati.

Ada kepercayaan di Jawa, bahwa anak kecil yang sakit-sakitan itu tandanya kabotan jeneng(keberatan nama), setelah diganti kok ndilalah ya itu anak selalu sehat. He he. . mitos yang kadang-kadang kenyataan.

Kalau anak-anak yang lahir di tahun milenium ini bikin pusing guru-guru sekolah untuk menghafal. Sampai luluspun kadang ngga bisa hafal dengan nama-nama muridnya. Kalau jamanku dulu sederhana, ada yang bernama Sri Rejeki, Rahayu, Budiman, Sigit, Suryanto. Sederhana, dan pendek bukan? Coba anak-anak sekarang, namanya panjang-panjang banget, kasihan waktu belajar menulis namanya saja sudah bikin puyeng.

Maka, kepada para calon orang tua, berikan nama yang indah dan bagus kepada anak-anak, jangan nama-nama yang nantinya justru membikin malu anak setelah dewasa. Karena dari nama itulah ada titipan harapan dan doa.


About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *