Dapur: Sebuah Simbol

Anastasia Yuliantari – Ambor Ruteng


Minggu lalu adik perempuanku yang bekerja pada sebuah developer dan mulai merintis bisnis kontraktor kecil-kecilan semangat sekali menceritakan renovasi yang sedang dilakukannya pada sebuah rumah. Bukan tentang fasadnya, taman, kualitas bangunan, apalagi materialnya. Dia bersemangat bicara tentang model dapurnya!

“Rasanya rumah itu akan ok sekali kalau pakai dapur model island, sayang pemiliknya lebih suka model biasa-biasa saja. Lebih aman katanya. Coba rumahku lebih besar sedikit, pasti aku akan memilih model itu,” ujarnya dengan sedikit penyesalan. “Kalau dirimu masih pingin buat pantry seperti cafe Periplus di Jogja dulu?” lanjutnya.

Aku mengiyakan. Waktu muda dulu…hehehe sekarang hanya lebih tua sedikit, aku hobby sekali pergi ke cafe. Kayaknya setiap makan selalu dilewatkan di tempat semacam itu. Salah satu favoritku adalah cafe yang menjadi satu dengan toko buku Periplus. Makanannya biasa saja, tapi suasananya sangat cozy hingga membuatku merasa nyaman dan tenteram. Dari sebab itulah aku begitu menginginkan punya pantry seperti itu.

Lain lagi ipar perempuanku yang kebetulan seorang arsitek. Proyek yang mengalir padanya kebanyakan membuat dapur, sehingga walaupun hamil muda setiap hari nongkrong mengawasi para tukang membuat furniture dapur yang pas persis seperti kemauannya. Katanya, bila meleng sedikit saja, finishingnya tak sesuai harapan. Terpaksalah adik lelakiku harus sering mengerokinya karena masuk angin. Seharian mengawasi tukang ternyata bisa menjadi biang masuk angin juga.

Teman sejawatku berbeda cerita. Setiap week end dia harus ke tempat mertuanya untuk memasak, cuci piring, merebus air, dan sebagainya. Ibu yang asli Jawa sepertiku menyatakan kalau menantu di daerahku ini harus masuk dapur begitu diterima sebagai anggota keluarga sang suami. Setelah upacara adat selesai, dipersilahkan menyalakan tungku dan memasak. Tak heran pembantuku yang gemar bergossip menceritakan dengan antusias kejadian yang menimpa salah satu sepupuku.

“Masa, ibu. Si Yus itu sungguh tak tahu adat. Waktu kami mengantar ke rumah mertuanya, bukannya dia segera ke dapur, eh malah tiduran. Katanya capek.”

“Lho, kan memang cape jalan kaki mendaki dan menuruni bukit gitu?” kataku.

“Ya, tetap tak boleh cape. Adatnya memang gitu” ujarnya ngotot.

Sama halnya keheranan temanku yang berasal dari Jawa tadi waktu kukatakan kalau aku tak pernah masuk dapur di rumah keluarga. Setiap datang aku duduk bersama para lelaki di ruang tamu. Mengobrol tentang bermacam hal termasuk politik lokal (ini kalau musim pemilihan kepala desa atau caleg). Para lelaki itu juga anteng-anteng saja melihatku. Mungkin karena kopi dan teman-temannya selalu dapat muncul dari dapur melalui tangan saudara-saudaraku lainnya.

“Wah, tidak boleh itu, Ibu. Adat di sini bukan begitu. Apalagi Ibu satu-satunya “orang dalam” di keluarga Ibu” Protes temanku.

Orang dalam adalah istilah menantu perempuan atau anak lelaki. Dan kebetulan akulah satu-satunya menantu perempuan.

“Lho… gimana? Saya, kan ga bisa menyalakan api di tungku menggunakan kayu bakar gitu”, dalihku.

Itu jurus pamungkas pembicaraan. Kelemahan sekaligus alasan untuk menghindarkanku masuk dapur. Biarpun sekarang aku sudah cukup lumayan menguasai teknik menyalakan api dengan kayu, tak seorangpun complaint ketika aku tetap ogah duduk di depan tungku.

Peranan dapur yang sangat signifikan dalam adat daerah ini juga tercermin dari (lagi-lagi) cerita pembantuku tentang seorang gadis tetangga desa.

Gadis yang sebut saja namanya Lita, telah menikah dengan seorang lelaki sedaerah. Hanya saja pihak orang tua belum bertemu untuk menyepakati segala upacara adat yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Alasannya sungguh masuk akal, pasangan itu tinggal dan menetap di Kalimantan. Sebagai orang yang telah dewasa, ijin ortu bisa menyusul.

Setelah tiga tahun menikah, sang istri pulang kampung. Suaminya membekalinya dengan uang tiket dan uang jalan secukupnya. Tak sampai seminggu perempuan itu telah sampai di rumah mertuanya langsung dari pelabuhan, tanpa mampir ke rumahnya sendiri terlebih dahulu. Ditangannya terjinjing beberapa kantong oleh-oleh bagi mertuanya.

Merasa sebagai menantu, setelah menyerahkan oleh-oleh dan bercakap-cakap si Nona hendak beranjak ke dapur. Alangkah terkejutnya dia ketika mertua perempuannya berdiri dan menghalanginya ke dapur.

“Jangan. Kami tidak mengenalmu. Anak lelakiku mengatakan telah memberimu sejumlah uang untuk kembali ke keluargamu!”

Betapa terkejutnya aku mendengar cerita itu. Lho, dia kan sudah menikah selama tiga tahun? Koq demikian mudahnya berakhir dengan gampang saja. Tertutupnya pintu dapur baginya berarti putuslah ikatan perkawinan itu. Aduhhh..!!

Ketika aku mempermasalahkan hal itu, semua hanya mengatakan: “Itulah adat di sini, Ibu.”

Sejak saat itu dapur bagiku tidak hanya seperangkat peralatan masak-masak, tak juga mengenai model dan suasananya, tetapi sebuah simbol untuk perempuan dan laki-laki dalam bentuknya yang paling hakiki. Bila selama ini aku hanya melewati dapur seperti ruangan lain dalam rumahku, kini sedetik dua aku berhenti membayangkan perempuan-perempuan yang berhak dan tak berhak masuk ke dalamnya dan status yang bisa sangat berbeda karena hak tersebut.


Ilustrasi: tamanindie, mariarina wp


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.