Catatan Panjang Sebelum Segelas Kecil Jiayuguan

Octavero – Kudus


Sepertinya semua serba kurang nikmat, merasa semua bagus, namun tidak bisa dinikmati secara detail… mengambang… semua mirip, hanya beda temperatur dan segala makhluk yang hidup di dalamnya, tapi tidaklah jauh berbeda dengan tempat kita terlahir. Ini adalah tempat di mana malam belum pantas disebut malam ketika musim panas tiba, siang yang berakhir lebih siang, sehingga ketika seharusnya kita tertidur, menjadi larut dan larut, terbawa kebiasaan di rumah, dan tak pernah menghiraukan bahwa di sini satu jam lebih awal.

Sepanas-panasnya sengatan terik matahari tidak membakar maupun menggeser warna sawo matang absolut kulit tubuh, hanya menambahi aksesori mirip sisik akibat dari keringnya udara. Malam yang begitu menggigil, membuat sama sekali tak ada niat untuk mebersihkan badan, yang ada hanya kesadaran bahwa begitu besar medan magnet yang ditimbulkan oleh satu set selimut beserta spring bed di kamar no.8805 yesting hotel. Magnet natural yang begitu menggoda, rasanya seperti sudah mengenalnya lama sekali, tak perduli lagi berapa banyak daki yang jatuh cinta pada kulit ari ini, ataupun jamur-jamur yang berpesta pora selamatan atas pembangunan pemukiman baru di bumi pangkal paha. penyatuan yang sejiwa antara lelah, amburadul, selimut, spring bed dalam medan magnet kemalasan terbungkus sempurna dalam sebuah kenyamanan yang luar biasa dan tanpa tanding…

Jaket merah tipis masih ada di tempat saya menaruhnya semalam, meski sedikit kucel tapi tak apalah, masih layak pakai, jam di hape masih menunjukkan pukul 06.30 pagi, tapi tiba tiba datang distorsi yang paling tidak kusukai… dibangunkan dari tidur pulas dengan paksa, dan cilakanya teman seruangan saya melakukannya.

“Ndang tangi! selak dipethuk lho, sarapan tah ora?, adus tah ora?” (bangun gih!, keburu dijemput lho, mo sarapan ga?, mo mandi ga?) sambil memporak porandakan posisi tidurku.

Huh! menyebalkan.. “emange iki kih jam piro? jik jam setengah pitu lho… ngapa tangi esuk esuk?”, “setengah pitu endhogmu benjo! jam mu jam omah kui…”, ” ……..eh… oh iyo ding” (“memangnya ini tuh jam berapa? baru juga jam setengah tujuh, ngapain juga bangun pagi-pagi”, “setengah tujuh telurmu benjol! jam mu jam rumah kalee…”, “……eh… oh iya ding”) begitu kira kira saya terjemahkan, meskipun agak gak yakin bahwa endhogmu benjo = telurmu benjol…wkwkwk…

Baru kemudian saya tersadar bahwa saya masih di kamar 8805 yesting hotel dimana simbok ga pernah nyiapin sarapan karena memang simbok saya tidak ikut. Tersadar bahwa sejam lebih awal tuh tidak terasa ketika bangun pagi, apalagi suhu 8°c sudah cukup membuat tiap sendi tubuh saya menolak untuk digerakkan. Saya akui butuh ekstra tenaga dan niat untuk bisa bangkit dari tidur berjalan gontai dan memutar keran kamar mandi. Ornamen kaca penghias kamar mandi cukup memberikan kesan bahwa tiap kamar mandi hotel terurus secara berkala. tidak luas memang, tetapi cukup untuk keleluasaan gerak ketika mandi dengan gaya orang Indonesia pada umumnya yang sangat lekat dengan gayung, padahal di sini tak ada gayung.

Sedikit menyesal karena tidak ada bathtub… padahal niat saya mau kungkum alias berendam dengan air hangat dan berkecipak kecipuk. Akhirnya saya leburkan tubuh saya pada siraman air dari katub yang memancur di atas kepala saya, dengan kepala tertunduk, saya biarkan tubuh ini dialiri sungai-sungai kecil.

Tersenyum-senyum sendiri karena tiba-tiba teringat semalam menghabiskan tiga botol medium tsing tao beer dan sedikit melayang plus kembung, untung tidak sampai mabok maupun muntah… tapi bukan hanya karena itu sebab utama saya tersenyum, melainkan semalam rekan saya yang turut nenggak beer, ngobrol mulu ga brenti-brenti, udah gitu ngakunya kuat minum beer… jebul ternyata tidurnya paling duluan… begitu liat spring bed tanpa babibu langsung tengkurap di atasnya, ngobrol tanpa arah bentar trus menyatu dengan dengkuran.

Parahnya lagi sebelum masuk kamar hotel, kami berdua naik elevator dari lantai satu ke lantai delapan, tidak sadar bahwa di lantai tujuh ada customer hotel yang mau turun ke lantai satu, alhasil ketika kami berhenti di lantai tujuh, kami keluar dari elevator, kami pikir sudah sampai, ada orang masuk lift dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas pada kami, tapi tak kami hiraukan karena beda bahasa, wkwk…

Ketika kami melangkah dua meter sesudah pintu lift dan pintu lift tlah tertutup lagi menuju lantai delapan lalu turun ke dasar, saya bingung, dalam hati saya bergumam, kok kayaknya pemandangannya gak kayak biasanya yah? setelah saya pikir-pikir lagi… dan owh! ternyata kami berdua salah lantai, masih kurang satu lantai lagi. Terlambat menyadari, walhasil musti menunggu lift naik dari lantai ke lantai menuju lantai tempat kami berada, dan kami larut dalam pingkal pingkal tawa atas kelucuan peristiwa konyol tadi. Dan menyadari bahwa, mungkin tadi maksud dari orang yang masuk ke lift adalah memberi peringatan pada kami bahwa kita salah lantai, tapi apa daya, beda bahasa menjadi kendala bagi kami untuk memahami maksudnya.

Fiuh… duduk santai di kursi tunggu sebuah “bank of communication” di dekat hotel, empuk. Saya sempatkan memainkan kedua jempol tangan saya di touchscreen droid spica saya, mengetik catatan yang sedang anda baca saat ini. Sayang sekali tidak ada kopi hangat di hall tunggu penukaran mata uang asing. hehe maklum… uang cash yang kami bawa terdiri dari tiga mata uang, rupiah, yuan renminbi dan dollar.

Berhubung sepuluh hari sudah kami lewatkan disini dan persediaan renminbi kami yang terakhir sudah kami pakai untuk bayar sewa hotel hingga tiga hari ke depan, maka kami musti menukarkan dollar menjadi renminbi. Maksudnya adalah, agar ringkas disamping agar tidak terlalu banyak membawa uang cash di dompet. Dollar menjadi pilihan yang paling praktis bagi kami, sebab kami masih harus membawa uang seharga tiket pesawat domestik Qingdao-Zhejiang dan Zhejiang- Shanghai untuk dua orang. Satu tiket untuk sekali jalan seharga kira kira 850rmb, sekitar 1200000 rupiah, berarti dikali empat menjadi 4800000 rupiah. itupun belum semua dollar kami tukar, masih ada sisa untuk keperluan jaga jaga bila terjadi sesuatu dengan kami.

Menikmati hilir mudik lalu lalang manusia yang beraktifitas dan sabar mengantri.

Pagi ini 09.30, sudah seperempat jam sejak rekan saya meninggalkan saya menukarkan dollar. Orang-orang berisik membuat kegaduhan aktifitas perbankan dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Beberapa ada yang melontarkan pandangan ke arah saya, peduli amat, emang kita orang asing di sini dan saya sadar sepenuhnya bahwa kulit tubuh sayalah yang menjadi pusat perhatian mereka, satu-satunya orang berkulit sawo matang yang ada di ruangan penuh oleh orang-orang kulit pucat.

Kedua jempol saya masih menari dengan leluasa, dan senyum selalu saya tampakkan dari bibir meskipun sedikit palsu karena mungkin terkesan dibuat-buat. Hahaha persetan dengan semua itu, toh juga sama-sama ga taunya…. anyway… mau baca koran, sapa tau ada berita baru dengan tulisan huruf universal, gak ada, baru liat korannya aja udah males bacanya, tapi menjadi terhibur liat gambarnya, arsitektur penataan halamannya, meski similiar dengan koran langganan simbok di rumah.

Bedanya koran ini dicetak di negara yang mengenalkan kertas untuk pertama kalinya, jadi teringat film tahun 95-an yang menceritakan kebergunaan kertas sebagai piranti mujarab untuk mengenyam pendidikan di Cina dan tentu saja tidak lupa dengan geleng-geleng kepalanya yang khas, tapi sudah lupa judulnya, bahkan sampai menanggulangi vampir pun pakai kertas yang cuma ditulisi mantra. hahaha…

Sudah dua hari saya absen meneruskan catatan panjang ini, bukan karena saya tidak minat meneruskan, tetapi karena jadwal dan kesibukan yang semakin meningkat tatkala waktu semakin mendekati jadwal kepulangan kami ke tanah air, itupun sudah termasuk extend enam hari ke depan pasca due date planning kami semula. Memang aktifitas dan kesibukan semakin padat, tapi kali ini saya sempatkan meneruskan catatan panjang tentang hal hal yang menurut saya pantas untuk dicatatkan, terlebih lagi, hari ini Sabtu, beberapa tuan rumah yang mengundang kami setengah hari kerja, dan besok minggu tetaplah hari libur.

Qingdao, salah satu great province di China, Chenyang District…. Ya… kami telah ada di sana sejak dua minggu yang lalu dan untuk tiga hari kedepan. Dan sisanya kami sempatkan mampir di Zhejiang yang jauhnya kira-kira sekitar sejam-an dari Chenyang District ini.

Bila anda berharap menemukan piranti elektronik maupun cheaper stuff disini bakal tidak akan anda temukan, semua produk dijual dengan harga standar, dan bila di rupiahkan tidak jauh berbeda dengan pasaran tanah air kecuali anda fasih berbahasa mandarin, punya teman di sini dan mampu menawar dengan harga murah.

Tapi bila anda penggemar minuman beralkohol, semuanya bisa anda dapatkan dengan harga yang menurut saya relatif murah, tinggal bagaimana cara anda membawanya ke tanah air. Kata tuan rumah, disini ada produsen beer paling popular di China. yah.. produsen beer Tsing Tao ada di sini, maka tidaklah heran bila harga minuman keras relatif murah.

Sedikit intermezo, ngobrolin masalah komparasi, saya kok jadi malu dengan aktualita yang selama ini berjalan di bandara internasional kita. Ketika saya melakukan kunjungan ke luar negeri, dan kebetulan melewati Hong Kong international air port, Incheon international airport, Pudong international airport, kok saya merasa hanya di bandara kita saja yang cukup ngeri.

Di Hong Kong, China, dan Korea… tidak ada orang yang berebut mencari konsumen agar taksinya laku, tidak ada yang pernah melarang membawa miras dalam bagasi, trolley tidak ada yang dimonopoli oleh beberapa orang, dan perlakuan terhadap barang yang amburadul.

Bahkan ketika pertama kali saya melakukan perjalanan lintas negara, travel bag saya ketika baru terbang dari Semarang ke Jakarta saja sudah patah satu rodanya duluan, padahal saya masih harus melanjutkan terbang ke Hong Kong dan pulang lagi ke tanah air. Mau ditaruh di mana muka saya ketika bertemu dengan tuan rumah yang menjemput saya nantinya.

Mungkin kesalahan tidak mutlak pada departemen yang mengurusi bagasi di bandara kita, mungkin juga pada kesalahan saya sendiri memilih jenis travel bag yang memang pada waktu itu saya belum berpikiran mengenai bagaimana travel bag kita dilempar-lemparkan dan di gelinding-gelindingkan di bandara. Sedikit tips bagi yang belum pernah naek pesawat, kalau mau beli travel bag, carilah yang konstruksi di area roda kuat dan cenderung masuk kearah body bag, kesannya rodanya seperti di payungi body.. jangan yang posisi rodanya menyendiri tidak masuk dalam body bag.

Mulai dari beer, wine, white wine (mereka menyebut ciu sebagai white wine termasuk soju dari Korea) dan beberapa minuman keras buatan dalam negeri baik botol besar maupun kecil bisa anda dapatkan dengan harga tidak sampai 100 ribu rupiah bahkan ada yang botol 100 ml seharga 1 rmb. Tapi pendatang akan berpikiran bahwa minuman keras di sini kelasnya nomor dua….

Bukan opsi pertama, sedangkan produk impor masih menjadi first choice. Hahaha …..kalo bisa, dapet harga yang murah tapi kualitasnya juga bagus.. wkwkwk. Lucu, budaya yang sifatnya konsumtif sudah terlanjur mengakar seperti lapisan electroplatting pada material plastik ABS natural. Ketika mengenal, orang akan berpikir..”owh… seperti ini toh, yang ada di pikiran orang orang Indonesia ketika berkunjung di China” hahahaha……merasa seperti diketawain oleh orang-orang di sini.

Karena memang benar, selain dinas dari perusahaan tempat saya bekerja, saya memang bertujuan mau cari barang murah yang bagus.. seperti laptop, handphone, dan miras.. hahaha… tapi filterisasi yang pertama tetap liat harganya dulu, baru setelah masuk dalam range yang saya targetkan, kita lihat kualitasnya. Mental bakul…wkwkwkwk. kenapa juga kita tidak memulai untuk menjual bukannya mengkonsumsi.

Lima tahun yang lalu Qingdao belum banyak mobil yang berlalu lalang, lebih tepatnya masih lebih mirip seperti kota yang geliat pembangunannya tidak terlihat. Sekarang hampir tiap keluarga yang berdiam di sini punya satu mobil dan pembangunan sangat terlihat, apartemen ada di tiap blok kota, taman yang benar benar dirawat, begitu kata si tuan rumah menjelaskan dengan ekspresi yang sangat bersemangat.

Dari kaca mata saya, pembangunan di Chengyang ini lebih mirip dengan kondisi di Korea Selatan. Termasuk juga menu makanannya memiliki ragam yang similar dengan Korea Selatan, begitu juga penduduknya, banyak orang Korea bekerja di daerah ini, penetrasi budaya Korea sangat terasa. Sudah dua minggu ini saya dijamu dengan beragam makanan khas Korea. Jam sembilan malam waktu China, sudah tidak ada restaurant yang buka. Normally mereka memang tutup di jam sembilan malam, tapi hanya ada beberapa warung yang buka 24 jam dan itu bisa dihitung dengan jari dan sudah termasuk beberapa KFC dan Mc.D station.

Minggu pun tiba, telepon kamar hotel berdering tanda bahwa tim penjemput kami telah tiba dan kami harus bersiap untuk berangkat, menuju Qingdao-the olympic sailling city, sejam letaknya dari chengyang district tempat kami menginap, perjalanan yang cukup lancar melalui jalan bebas hambatan, tapi sedikit tersendat ketika mulai memasuki center city of Qingdao.

Memang sunday is holiday sama kayak di tanah air, mereka biasanya menyempatkan hari libur untuk refreshing, dan kebetulan kali ini kami diajak refreshing menuju ke tempat diselenggarakannya olympic games untuk cabang sailling… dan memang kota ini benar-benar padat.

10°c suhu rata ratanya, sedikit diwarnai hujan deras dan didominasi hujan rintik-rintik, tubuh menggigil kedinginan sebab kemarin hari terasa panas. Perjalanan sejam di dalam mobil Santana 3000 warna hitam buatan Volkswagen memberikan nuansa tersendiri. Saya bisa melihat Qingdao diapit oleh gunung gunung kecil dan menghirup sejuknya udara meskipun cuaca memang tidak bersahabat.

Kami berhenti di depan kantor pusat tuan rumah untuk area Qingdao, tower building. menjulang hingga lantai 25, dan ada helipad di atasnya. Sebenarnya kami ingin melihat laut dari dekat, tapi tuan rumah tak mengijinkan dengan alasan cuaca yang tidak bersahabat. Walhasil kami sedikit terhibur dengan naik sampai lantai 25 yang hanya kami capai dalam 40 detik. Gila! elevator yang kencang. Tapi mungkin masih ada yang lebih kencang lagi, pernah saya lihat film dokumenter tentang sebuah rancangan tower tertinggi di dunia yang akan dibangun di atas laut di Taiwan berbentuk kerucut dan memiliki banyak lantai, untuk naik ke atas diperlukan elevator electromagnetic dan benar benar under controlled elevator yang dirancang untuk melakukan elevator travel satu lantai per detik. Dalam kondisi yang tak bersahabat pun lautan cukup tenang, apa mungkin pas angin tidak terlalu kencang ya?…

Overall saya bisa melihat lautan lokasi tempat diadakannya sailling games, dan beberapa arsitektur di sekitarnya yang dekoratif, cukup memberikan kesan, sisa-sisa keindahan pasca olimpiade yang masih terawat. Tidak lama kami menikmati tontonan gratis itu, karena tuan rumah mengajak kami turun kembali ke lantai satu dan pergi ke salah satu luxurious mall di Qingdao.

Percaya ga percaya di mall itu ada jam tangan seharga satu milyard, sayang sekali saya lupa mengabadikannya. hweg! duit segitu bisa saya pakai buat beli pulau tuh…wkwkwk or usaha bikin industri kecil, sisanya buat beli mobil biar kayak orang Jawa bilang “udan ora kudanan, panas ora kepanasen” (hujan gak kehujanan, panas gak kepanasan) hehe…

Puas jalan jalan kami pulang hotel, dan tidak sadar kami telah melewatkan makan siang, tuan rumah mengajak kami makan sore.. wkwkwk karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Kali ini siomay menjadi menu kami, tapi jangan salah, siomaynya porsi besar dan satu porsi untuk satu orang, padahal pesannya enam porsi. Melihat kondisi tersebut langsung saya bilang ke tuan rumah kalau kami tidak sanggup menghabiskan segitu banyaknya…

But anyway, siomay yang satu ini bentuk dari luar mirip semua setelah dimakan satu dan yang lainnya ternyata isinya berbeda-beda, ada yang ayam, pork, sapi, ikan, hingga yang isinya cuma sayuran. Bila porsi makan kita tidak berlebihan, terasa enak, tapi bila porsi sebesar yang saya makan ini bikin lidah bosan. So.. saya musti putar otak untuk mengkombinasikannya dengan kecap asin dan bubuk cabe schezhuan yang terkenal pedas, tapi masih belum sepedas lombok jemprit khas Indonesia .. hehehe.

Tuan rumah mempersilakan kami balik ke hotel jalan kaki karena ternyata lokasi kami makan siomay dekat dengan hotel. Cuaca masih cukup sejuk pasca hujan dan kami sama sekali belum berpeluh keringat sejak tadi, tapi persendian cukup terasa nyeri, mungkin karena aktifitas kami seharian dan suhu yang dingin. Akhirnya petualangan kami seharian diakhiri dengan dengkuran tanpa memperdulikan bahwa hari sudah menjelang malam, yang mana seharusnya sudah saatnya beraktifitas malam.

Tapi saya tidak bisa tidur, karena selama ini tidak pernah tidur di bawah jam dua belas malam, dan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Di pojok ruang hotel laptop masih dalam kondisi on dengan kabel jaringan ter-connect padanya, hmm….

Luar biasa… laptop yang saya beli dua tahun yang lalu hingga kini masih setia menemani tanpa pernah mengalami kerusakan, laptop yang memiliki utilitas hampir 92% ini tiap hari saya on-kan nonstop. Kinerjanya 22 jam sehari dan hanya saya matikan ketika saya ingin mematikan. Padahal sudah dua tahun ini laptop selalu dalam keadaan on rata rata 18 jam per hari, Toshiba satellite L310 masih sebersih ketika saya pertama kali membelinya. Sudah saya bawa ke China maupun Korea, menemani saya di manapun saya ditugaskan. Insomnia… itu yang sering saya dengar bila orang mengalami susah tidur, akhirnya saya pergunakan waktu untuk kembali duduk di depan laptop dan meneruskan catatan panjang tentang sepenggal kisah pengalaman saya di Qingdao. Ya….. catatan yang sedang anda baca inilah hasilnya. Dan segelas kecil jiayuguan mengakhiri insomnia yang telah mulai membukakan pintu untuk rasa kantuk tak tertahankan.


Smile,

Octavero 02062010 ; 20:49

Chengyang-Qingdao-China


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.