Sebuah Cahaya Yang Indah Pada Semangkuk Bakso Berkuah

Wahyu Wibowo


Di saat saat hatiku mulai tak lagi bercahaya

Sebuah rasa menari pasrah di ujung lelahnya

Terasa sinar mentari melumpuhkan seluruh pundi pundi semangatnya

Tak tampak sebuah senyuman pada indah sebuah wajah


Kaki kaki ini semakin letih berjalan mencari titik titik harapan

Tak ada satu pintupun mau tawarkan padanya sebuah kehidupan

Merintik peluh memenuhi sanubari yang kian merapuh

Di ujung jalan sebuah hati menangis perlahan dalam kelu


Sudah tujuh bulan lebih tubuh ini terdampar di ibukota tercinta

Mencoba mencari jejak cahaya yang  tak kunjung jua tiba

Mencoba memberi salam pada kerasnya kehidupan disana

Selembar ijazah semakin lusuh terkena keringatnya


Hmmm…. Cahaya mentari tak juga mau kompromi

Rasa lapar semakin menggema penuhi sekujur sanubari

Sedari pagi mulut ini tak tersentuh sebutir makanan

Oh TUHAN….. inikah takdirku… menjadi insan yang terlupakan


Di sebuah ruas jalan di serpong…. Sebuah tempat di sudut tanggerang raya

Tercium aroma yang begitu khas yang telah cukup lama tak kurasakan nikmatnya

Langkahku tergoda untuk segera mencumbui kesegarannya

Semangkuk bakso di tengah udara gerah…. Hmmmmm mampukah membuatku kembali bergembira


Kuraba saku celanaku yang semakin lusuh terkena terik mentari

Hanya tersisa 6 lembar ribuan kusam dan 3 keping uang logam kembalian dari metro mini

Hanya tinggal ini saja langkah perjuanganku yang masih tersisa

Oh andai saja kehidupan tak dinilai dari selembar uang rupiah


Akhirnya rasa raguku menyerah pada panggilan alam yang kian mendera

Kucari tempat duduk yang tersembunyi dari riuh rendah keramaian yang tercipta

Sejenak aku melamun diantara kursi kursi yang masih serba baru dan apik tertata

Hmmmm… sebuah kedai bakso yang kelihatan baru saja diresmikan rupanya


Tak lama datang seorang laki laki ramah berbadan bahu rekso

Senyumnya selalu saja terkembang hingga tak sadar di sela sela giginya terselip biji kacang ijo

Sekilas dari wajahnya kutahu pasti dia bukan berasal dari kota solo

Tak tampak kumis tipis rapi seperti layaknya mas mas paijo


“ Mas… mau pesan apa…. “ ujarnya……. Seperti bill gates menawarkan Microsoft window-nya

Perlahan kukeluarkan hartaku yang paling berharga sembari lirih berkata

“ Pak De…. Kalo segini kira kira dapat apa yach…. Sedari pagi saya belum tersentuh makanan “

Dia pun tersenyum penuh arti…. “ Simpan aja dik… nanti saya bawakan hidangan terbaik untuk adik yang tampaknya kelelahan… “


Tak lama mejaku dipenuhi bakso beraneka bentuk dan juga rasa yang berbeda beda

Sebuah bakso yang telah di modifikasi berisi keju, telur, ikan, kerang, udang, jamur, strawberi bahkan mangga

“ Alhamdulillah….. “ hanya itu yang bisa kuucapkan terbata bata setengah berkaca kaca

Ternyata masih ada juga sebuah wajah yang berhati mulia seperti dalam cerita


Hmmm… perlahan sendok dan garpuku beradu mencari mangsa

Di antara kelembutan mihun dan bakso yang saat itu menggugah selera

Sedikit kutambahkan saos dan kecap agar semakin ramai rasanya

Sayup sayup terdengar dari radio suara bang haji rhoma irama bernyanyi lagu “ PESONA “


Akhirnya purna sudah kukemasi rasa lapar dan dahagaku

Perlahan kudekati Pak De Ndut untuk ucapkan beribu rasa terima kasihku

Dia hanya tersenyum sambil perlahan menepuk bahuku

Dengan suara mirip bang haji dia berkata…. “ Bagus Bagus semua pakai kartu AS “ oops salah dink…..  maksudnya … Bagus Bagus…. Besok datang lagi kemari yach…. Saya ada kerjaan untukmu


Duh.. serasa mimpi rasanya….. inikah jawaban yang selama ini aku nantikan

Sebuah awal untuk merenda indahnya hari depan yang penuh harapan

Kutemukan sebuah cahaya yang indah pada semangkuk bakso berkuah

Kuharap bisa kutatap perjalananku pada hari hari yang lebih cerah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *