Toronto: The City

Anwari Doel Arnowo


Note: tulisan ini merupakan bagian pertama dari 3 tulisan tentang Toronto.

Anda ingin tau apa dan bagaimana kota Toronto di Kanada?

Paling mudah adalah mengakses website-nya yang resmi di:  http://www.toronto.ca/

Saya coba menerangkan yang tidak tercantum lengkap di situ, dan akan menambahkan saja dari pengamatan langsung sehari-harinya. Sebenarnya dengan membaca website itu tergambarlah sudah bagaimana demokrasi BAGUS yang selama ini dilakukan di negeri ini. Pengamatan dan pengawasan oleh masyarakat terhadap tingkah laku dan kinerja para pegawai negerinya amat ketat dilakukan. Pegawai negeri Toronto adalah benar-benar pegawainya rakyat, yang dalam hal ini adalah penduduk kota Toronto secara khusus dan penduduk warga negara Kanada secara umum.

Saya berusaha menulis hal-hal yang sesungguhnya terjadi di sana, di sebuah kota yang dihuni oleh puluhan asal manusia dan asal bangsa dan ras. Di negara kita juga, tetapi hanya saja yang menonjol adalah  asal ras dan suku bangsa. Apa saja asal bangsa yang menghuni kota Toronto dan seberapa besar jumlahnya? Ketika saya baca data lima  tahun yang lalu, mereka yang datang di Kanada sebagai imigran yang telah disetujui oleh Pemerintah Kanada, jumlahnya mencapai angka 260 ribuan orang dalam setiap tahun  berjalan. Separuh dari jumlah ini biasanya mempunyai tujuan ke Toronto dan sekitarnya, di dalam Propinsi Ontario. Toronto dan Ontario adalah pusat kegiatan industri dan dagang yang terbesar di Kanada, sedangkan Ibukota Negaranya adalah Ottawa.

Anda bisa membayangkan ada sekitar150 bahasa yang digunakan oleh mereka, para imigran di Toronto, pada jam-jam di luar jam bekerja dan di rumah-rumah pada malam hari, ketika mereka berkumpul dalam lingkungan asal  sesamanya. Mereka ini, ayah, ibu dan anak-anak berbahasa Inggris atau Prancis di tempatnya bekerja dan belajar, pada pagi dan siang hari. Oleh karena pemerintah Kanada amat memerhatikan kesejahteraan para imigran yang kedudukannya dianggap amat vital bagi kelangsungan gerak dan dinamikanya ekonomi, maka bukan hanya para imigran melulu saja yang diperhatikan.

Keluarga dan terutama anak-anak mereka juga dilindungi dari segala macam bahaya yang bisa akan mengganggu kinerja kepala keluarga yang mencari nafkah, sang ayah atau ibu, yang biasa disebut dengan istilah: BREAD AND BUTTER – roti dan mentega, yang mencakup pengertian yang mendapatkan nafkah untuk menghidupi seluruh keluarganya.

Bentuk nyatanya adalah antara lain: adanya Undang-Undang yang mengatakan BAHWA SETIAP ANAK YANG BELUM CUKUP BERUMUR 12 TAHUN, TIDAK BOLEH DITINGGALKAN SENDIRI, tanpa tuntunan dan pengawasan kedua atau salah satu dari orang tuanya, atau akan diharuskan agar diserahkan kepada sebuah tempat yang biasa disebut sebagai DAY CARE. Saya jarang sekali bisa melihat anak-anak seumur di bawah 12 tahun, berkeliaran di mana-mana, seperti pemandangan biasa di negeri kita. Di jalan-jalan besar ada pengemis dan anak-anak pengangguran yang tidak diketaui apa kegiatannya, mengemis tidak, mengasong juga tidak. Kalau saja mereka menjadi pemulung masih lumayan berproduksi, apa pula sesungguhnya kerja mereka yang mondar-mandir ini?

Golongan yang terbesar dari para imigran itu adalah +/- 50% berasal dari ras China dari negeri China atau negeri lain, misalnya dari bagian lain di benua Amerika, juga dari Amerika Serikat. Menyusul sebagai bagian besar selanjutnya adalah dari India dan Pakistan serta negara-negara di Afrika. Dari demografi seperti itu juga terungkap bahwa separuh dari para pelajar asing adalah asal negara Kekaisaran Jepang. Jadi di Toronto ini, amat menonjol campur aduknya ras asal bangsa.

Mereka ini membawa semua adat istiadatnya masing-masing dan tentu saja kebiasaan-kebiasaannya yang kalau dipikir-pikir bisa dikatakan oleh istilah yang lazim di dalam bahasa Indonesia: seperti gado-gado. Bagaimana bisa terasa di dalam kehidupan sehari-hari?? Menurut pendapat saya, mereka ini seperti suku-bangsa yang bersatu di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bersatu juga dengan cara taat di bawah lindungan Undang-Undang Negara. Itulah sebabnya sikap seperti Bhinneka Tunggal Ika , bisa diartikan Persatuan di dalam Keberagaman di Indonesia juga diterapkan di Kanada, dengan sikap yang sama seperti: Bhinneka Tunggal Ika – Unity in Diversity.

Saya yang sudah terbiasa naik bus dan kereta tram listrik yang relnya berada di tengah jalan umum untuk semua kendaraan roda dua dan empat, juga kereta di bawah tanah, dalam perjalanan selalu mendengarkan bahasa sebanyak dua atau lebih digunakan oleh pihak-pihak yang bercakap-cakap dan dipahami oleh mereka. Saya harus menduga-duga kalau memang bisa dan sempat, bahasa apakah itu gerangan?? Kalau sudah menyerah, saya tidak menaruh peduli lagi. Ke-tidak-peduli-an saya ini bukan sebab tidak hirau, tetapi disebabkan oleh pertanda bahwasanya saya berputus asa, tidak mampu men-deteksi dan karena terlalu sering dan terlalu banyak saat, saya menemui hal semacam begini.

Mereka itu dari segala lapisan strata pendidikan. Dari yang siswa sekolah, Dasar, Menengah dan Perguruan Tinggi, pekerja kasar, pekerja kantoran serta pekerja pabrik. Pada dasarnya mereka ini datang ke Kanada dengan keinginan yang sama: menata hidupnya yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Berapa jumlah mereka saat ini?? Perkiraan yang ada mendekati adalah sekitar jumlah angka 50%. Penduduk “asli” Toronto sendiri juga bukan asli juga, oleh karena yang paling lama bertempat tinggal di Kanada adalah orang Indian dan orang Eskimo, yang sekarang lebih dikenal sebagai: bangsa Inuit. Lalu orang-orang Kaukasian yang berkulit putih dan kelihatan amat banyak itu? Mereka ternyata juga pendatang, dan kebanyakan dari Eropa: belanda, Jerman, Prancis dan lain-lain.

Berbeda dengan di Indonesia, saya biasa “bisa” menduga dialek dan bahasa Daerah, ada Batak, ada Madura dan Ambon serta Wong Pelembang, Wong Jowo serta Basa Sunda, bahkan orang Banjar sekalipun. Mereka ini suku bangsa di Indonesia. Di Toronto adalah mereka yang beremigrasi sebagai imigran, ada yang masih tetap memiliki kewarganegaraan asalnya, seperti halnya saya yang sudah Permanent Resident bersama-sama dengan istri saya sejak beberapa tahun yang lalu,  telah mendapatkan ijin untuk tinggal tetap di Kanada.

Adapun ijin tinggal tetap ini, kategorinya adalah:

  • Permanent Resident (formerly known as a landed immigrant) – sebagai Permanent Resident
  • Student – sebagai pelajar atau siswa
  • Temporary worker who may require a work permit – sebagai pekerja sementara yang mungkin harus mempunyai ijin untuk bekerja
  • Long-term worker who must obtain a work permit (some countries refer to this as a green card) – sebagai pekerja tetap yang harus dan wajib mempunyai ijin bekerja tetap (yang di negara lain biasa disebut sebagai geen card) under the requirements of the new Canadian Experience Class (look under Important News) – di bawah syarat-syarat dari Canadian Experience Class (silakan membaca di Important News) yang menerangkan detail-detailnya lebih lanjut

Akan tetapi juga ada disebutkan bahwa para calon pendatang ini, termasuk para pendatang yang telah tiba di wilayah Kanada, agar mengambil sikap berhati-hati terhadap para makelar yang terlihat mempunyai kantor resmi, ijin resmi, ternyata kemudian akan terbukti sebaliknya. Saya sendiri dalam masalah ini dan selalu menganjurkan siapapun agar mengurusnya sendiri dan tidak menyerahkannya kepada orang lain, kantor pengacara serta kantor apapun namanya yang menyatakan dirinya mampu mengurus hingga beres. Lebih baik kita berhati-hati dan menaruh curiga kepada orang lain, demi jaminan bagi keselamatan diri sendiri. Pemerintah Negara Kanada adalah termasuk tindak laku korupsinya dan kriminalnya bisa digolongkan amat kecil. Tetapi sikap kehati-hatian (fiduciary), akan besar sekali manfaatnya berlaku setiap saat dan juga pada masa mendatang.

Mencurigai orang lain kategorinya bukan dosa, betul kan?

Siapakah pelindung diri kita kalau bukan diri sendiri??


3 Juni, 2010 – 03:33 pagi hari

Anwari Doel Arnowo

[email protected]

Verba volant scripta manent…

spoken words fly away, written words remain

kata diucapkan akan terbang menghilang, tetapi yang dituliskan akan abadi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.