Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kolase Sajak: Lelaki Pembelah Bulan & Transmigrasi

Saturday, 12 June 2010

Viewed 1311 times, 2 times today | 10 Comments |

Lelaki Pembelah Bulan

Aniesa Norma Dantie – Jogjakarta

Aku jatuh hati padanya
Pada lelaki pembelah bulan
yang berambut ikal bergelombang
dengan alis lembut dan bulu mata yang panjang

Aku benar-benar suka padanya
Pada lelaki pembelah bulan
Yang bermata hitam
dan berkulit putih kemerahan

Aku ingin bertemu dengannya
Dengan lelaki pembelah bulan
Yang wajah tampannya
melebihi rembulan saat purnama

Aku ingin sekali
Duhai lelaki pembelah bulan
Melihatmu mengenakan baju berwarna merah
Yang membuat semua orang jatuh cinta padamu
Dan aku sangat yakin ketika itu
Aku pun akan terlena
Semakin jatuh cinta

Sudikah engkau wahai pujaanku,
Lelaki pembelah bulan
Untuk menatap
Atau paling tidak
menoleh padaku
Di hari kemudian

Karena aku takut kita tidak bisa bertemu
Karena aku tahu engkau akan selalu dikelilingi para kekasihmu
Karena aku tahu aku bukan siapa-siapa
Karena aku tahu tidak akan bisa menggapaimu
Karena aku lemah dan mudah goyah
Ketika berusaha mengejarmu

Lalu akan kemana aku bila tidak di sisimu

Duhai Lelaki pembelah bulan
Aku tahu cinta tak hanya cukup bicara
Apalagi hanya dalam hati

Cintaku ini, duhai lelaki pembelah bulan
Kujadikan mahar untuk berdampingan denganmu di sana
Untuk itulah aku hidup di dunia
Berusaha dengan segala kemampuan

Maka duhai cintaku,
Lelaki pembelah bulan
Ijinkan aku jatuh cinta padamu



Transmigrasi II

F. Rahardi

dia selalu singkong
dan terus-menerus singkong
hari ini singkong
tadi malam singkong
besuk mungkin singkong
besuknya lagi juga singkong
di rumah sepotong singkong
di ladang seikat singkong
di pasar segerobak singkong
di rumah tetangga sepiring singkong
enam bulan lagi tetap singkong
setahun lagi tetap singkong
sepuluh tahun masih singkong
duapuluh tahun makin singkong
dan limapuluh tahun kemudian
transmigran beruban
sakit-sakitan
mati
lalu dikubur di ladang singkong
1983

Share This Post

Posted by Saturday, 12 June 2010 on 01:54.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

10 Responses to “Kolase Sajak: Lelaki Pembelah Bulan & Transmigrasi”

  1. 10
    alexa Says:

    ”Aku bisa saja menemuimu,tapi ratapan kerinduanmu lebih aku sukai”. …suatu ungkapan yang paling kusuka dari mas Erot…mungkin ini jawaban bagi Aniesa

  2. 9
    nevergiveupyo Says:

    nah kan malah lupa meng-apresiasi puisinya…

    puisi pertama kontemporer ya… meluap-luap tapi tidak meledak-ledak… (apanya ya? sok teu banget nih)

  3. 8
    nevergiveupyo Says:

    pak iwan… mungkin lebih tepatnya mei-juni 2010 awal mula kelahiran puisi di baltyra (penyair wurung.red)

    puisi kontemporer ya… tapi puisi transmigran itu sungguh perih…
    seperti kejadian di Pulau buru baru2 ini. petani sukses menanam kentang dan panen. kentang yg tak kalah kualitas dgn kentang dieng.. tapi krn tidak ada jalan yang bisa dilalui kendaraan/truk pengangkut… kentang itu membusuk selama perjalanan dari gunung ke kota… selama dua hari perjalanan kaki…

  4. 7
    lindacheang Says:

    si lelaki embelah bulan, kow, bisa-bisanya membelah properti milik saya tanpa izin saya, Si Penguasa Bulan? The moon is my empire! hehehehe.

    dasar. sengaja mau rusuh ajah.

  5. 6
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Bulan Mei Juni menjadi bulan puisi di Baltyra…

  6. 5
    Sumonggo Says:

    Sajak Aniesa sepertinya bernuansa romantis-religius, kalau tak salah terka, tapi mungkin sajak memang tak untuk diterka, biarkan makna sebetulnya untuk pentulisnya, karena tak ada betul dan salah di sajak.

    Sajak Pak Rahardi: Nyindir ni yee …., saya lanjutkan:

    Sepuluh tahun lagi anaknya berjualan goreng singkong
    Duapuluh tahun lagi jadi pengusaha kripik singkong
    Tiga puluh tahun lagi punya pabrik tepung singkong
    Hidup singkong ……

  7. 4
    ilhampst Says:

    pas banget, rambut ikal bergelombang, mata hitam dan baju merah. Gw banget, akulah sang lelaki bulan, haha… Puisinya bagus sekali, memberi semangat di akhir pekan yang ramai ini. Terimakasih Aniesa Norma Dantie.
    Pak F. Rahardi, saya pernah lihat kehidupan para transmigran dr dekat. Ada yang malas dan gagal, ada lagi yang ulet dan rajin, hingga sekarang malah lebih kaya dari pegawai Deptrans yang mengurus mereka dulu. Terimakasih puisinya Pak

  8. 3
    EA.Inakawa Says:

    Aniesa & Pak F.Rahardi……saya menyukai puisi ini,nuansa nya bisa kita nikmati ketika kita membacanya kembali dgn pelan & perlahan,dengan mengeja dan memaknainya….. selalu ada rahasia disana. salam

  9. 2
    Dj. Says:

    Mbak Dahnti… dan mas Rahardi….
    Terimakasih untuk pu isi nya….

    Aku ingin menatap wajahmu, wahai wanita yang akan dibelah bulan….
    Tunjukanlah wajahmu agar aku dapat menikmatinya…..
    Bagaimana aku dapat melihat wajahmu….
    Bila engkau sembunyi dibalik bayangan bulan….

    Bulaaaaaaaannnn……!!!
    Paling enak achir bulan….
    Paling sakit, kalau datang bulan….
    Akik dijariku adalah kecubung bulan….
    Mari kita mandi di cibulan…..
    Bulaaaaaaaa…..!!!!

    Salam Damai dari Mainz….

  10. 1
    Dewi Aichi Says:

    Kolase sajak, yang pertama penuh harapan dan cinta, yang kedua penuh sentilan sosial .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)