Saturday, 12 June 2010
Lelaki Pembelah Bulan
Aniesa Norma Dantie – Jogjakarta
Aku jatuh hati padanya
Pada lelaki pembelah bulan
yang berambut ikal bergelombang
dengan alis lembut dan bulu mata yang panjang
Aku benar-benar suka padanya
Pada lelaki pembelah bulan
Yang bermata hitam
dan berkulit putih kemerahan
Aku ingin bertemu dengannya
Dengan lelaki pembelah bulan
Yang wajah tampannya
melebihi rembulan saat purnama
Aku ingin sekali
Duhai lelaki pembelah bulan
Melihatmu mengenakan baju berwarna merah
Yang membuat semua orang jatuh cinta padamu
Dan aku sangat yakin ketika itu
Aku pun akan terlena
Semakin jatuh cinta
Sudikah engkau wahai pujaanku,
Lelaki pembelah bulan
Untuk menatap
Atau paling tidak
menoleh padaku
Di hari kemudian
Karena aku takut kita tidak bisa bertemu
Karena aku tahu engkau akan selalu dikelilingi para kekasihmu
Karena aku tahu aku bukan siapa-siapa
Karena aku tahu tidak akan bisa menggapaimu
Karena aku lemah dan mudah goyah
Ketika berusaha mengejarmu
Lalu akan kemana aku bila tidak di sisimu
…
Duhai Lelaki pembelah bulan
Aku tahu cinta tak hanya cukup bicara
Apalagi hanya dalam hati
Cintaku ini, duhai lelaki pembelah bulan
Kujadikan mahar untuk berdampingan denganmu di sana
Untuk itulah aku hidup di dunia
Berusaha dengan segala kemampuan
Maka duhai cintaku,
Lelaki pembelah bulan
Ijinkan aku jatuh cinta padamu
Transmigrasi II
F. Rahardi
dia selalu singkong
dan terus-menerus singkong
hari ini singkong
tadi malam singkong
besuk mungkin singkong
besuknya lagi juga singkong
di rumah sepotong singkong
di ladang seikat singkong
di pasar segerobak singkong
di rumah tetangga sepiring singkong
enam bulan lagi tetap singkong
setahun lagi tetap singkong
sepuluh tahun masih singkong
duapuluh tahun makin singkong
dan limapuluh tahun kemudian
transmigran beruban
sakit-sakitan
mati
lalu dikubur di ladang singkong
1983
June 12th, 2010 at 19:29
”Aku bisa saja menemuimu,tapi ratapan kerinduanmu lebih aku sukai”. …suatu ungkapan yang paling kusuka dari mas Erot…mungkin ini jawaban bagi Aniesa
June 12th, 2010 at 18:37
nah kan malah lupa meng-apresiasi puisinya…
puisi pertama kontemporer ya… meluap-luap tapi tidak meledak-ledak… (apanya ya? sok teu banget nih)
June 12th, 2010 at 18:35
pak iwan… mungkin lebih tepatnya mei-juni 2010 awal mula kelahiran puisi di baltyra (penyair wurung.red)
puisi kontemporer ya… tapi puisi transmigran itu sungguh perih…
seperti kejadian di Pulau buru baru2 ini. petani sukses menanam kentang dan panen. kentang yg tak kalah kualitas dgn kentang dieng.. tapi krn tidak ada jalan yang bisa dilalui kendaraan/truk pengangkut… kentang itu membusuk selama perjalanan dari gunung ke kota… selama dua hari perjalanan kaki…
June 12th, 2010 at 11:25
si lelaki embelah bulan, kow, bisa-bisanya membelah properti milik saya tanpa izin saya, Si Penguasa Bulan? The moon is my empire! hehehehe.
dasar. sengaja mau rusuh ajah.
June 12th, 2010 at 11:17
Bulan Mei Juni menjadi bulan puisi di Baltyra…
June 12th, 2010 at 06:50
Sajak Aniesa sepertinya bernuansa romantis-religius, kalau tak salah terka, tapi mungkin sajak memang tak untuk diterka, biarkan makna sebetulnya untuk pentulisnya, karena tak ada betul dan salah di sajak.
Sajak Pak Rahardi: Nyindir ni yee ….
, saya lanjutkan:
Sepuluh tahun lagi anaknya berjualan goreng singkong
Duapuluh tahun lagi jadi pengusaha kripik singkong
Tiga puluh tahun lagi punya pabrik tepung singkong
Hidup singkong ……
June 12th, 2010 at 05:32
pas banget, rambut ikal bergelombang, mata hitam dan baju merah. Gw banget, akulah sang lelaki bulan, haha… Puisinya bagus sekali, memberi semangat di akhir pekan yang ramai ini. Terimakasih Aniesa Norma Dantie.
Pak F. Rahardi, saya pernah lihat kehidupan para transmigran dr dekat. Ada yang malas dan gagal, ada lagi yang ulet dan rajin, hingga sekarang malah lebih kaya dari pegawai Deptrans yang mengurus mereka dulu. Terimakasih puisinya Pak
June 12th, 2010 at 05:17
Aniesa & Pak F.Rahardi……saya menyukai puisi ini,nuansa nya bisa kita nikmati ketika kita membacanya kembali dgn pelan & perlahan,dengan mengeja dan memaknainya….. selalu ada rahasia disana. salam
June 12th, 2010 at 02:47
Mbak Dahnti… dan mas Rahardi….
Terimakasih untuk pu isi nya….
Aku ingin menatap wajahmu, wahai wanita yang akan dibelah bulan….
Tunjukanlah wajahmu agar aku dapat menikmatinya…..
Bagaimana aku dapat melihat wajahmu….
Bila engkau sembunyi dibalik bayangan bulan….
Bulaaaaaaaannnn……!!!
Paling enak achir bulan….
Paling sakit, kalau datang bulan….
Akik dijariku adalah kecubung bulan….
Mari kita mandi di cibulan…..
Bulaaaaaaaa…..!!!!
Salam Damai dari Mainz….
June 12th, 2010 at 02:17
Kolase sajak, yang pertama penuh harapan dan cinta, yang kedua penuh sentilan sosial .