Mencumbu Pulau Banggai (Part 3 – habis)

Mencumbu Pulau Banggai:

Mengagumi Masa Lalu, Mencicipi Kekayaan Surga (Part 3 – habis)

Abhisam DM


“Setelah Bongaya, Banggai berdiri sendiri?”

“Tidak. Setelah Bongaya, Banggai ‘dikembalikan’ lagi ke Ternate. Ini, bisa dikatakan, awal dari ‘ketidakharmonisan’ Banggai dengan Ternate. Waktu itu Ternate dianggap tunduk pada kemauan Belanda, sementara Raja Banggai banyak tidak setuju dengan banyak kebijakan Belanda yang merugikan rakyatnya. Raja-raja Banggai mulai melawan, dari yang dilakukan secara diam-diam sampai perlawanan terbuka.”

“Raja-raja Banggai? Jadi tidak hanya satu-dua Raja Banggai yang melawan?”

“Tidak, dari masa ke masa Raja Banggai terus melawan. Karena itu banyak Raja Banggai yang ditangkap dan dibuang ke Maluku Utara, ke Pulau Bacan, atau ke Pulau Halmahera. Perlawanan yang paling terkenal adalah Perang Tobelo di masa Raja Agama atau Mumbu Doi Bugis. Perang Tobelo adalah perang besar, bahkan terbesar, dalam sejarah Banggai.”

Saya diam dan terus menyimak.

“Kekuatan kami kecil, tidak seberapa. Dan kami memang kalah. Namun Perang Tobelo masih terus dikenang oleh orang Banggai sampai generasi sekarang. Bagi kami itu adalah kebanggaan.”

Saya merasakan semangat dari setiap kata-kata yang keluar darinya.

“Perang Tobelo bukan soal menang kalah. Perang Tobelo adalah soal keberanian melawan penjajahan dan menegakkan harga diri!”

Saya merinding. Kalimat terakhir yang diucapkan mengalir sangat tegas dengan sorot mata yang tajam. Kalimat terakhir itu seperti mengeluarkan vibrasi. Dan pasti saya menyepakatinya, itu mengapa saya merinding, betapa semangat Perang Tobelo sudah menjadi langka di negeri ini.

Sebelum kembali ke losmen saya diajak mampir ke makam Raja Banggai pertama, Raja Mandapar. Tawaran yang tidak mungkin saya tolak. Lagipula letaknya dekat saja dari keraton. Dekat pula dari losmen. Dan memang kalau hanya seputaran kota Banggai kemana-mana dekat.

Makam Raja Mandapar terletak agak tinggi. Makamnya terbuat dari timbuan batu-batu yang ditutup oleh semacam rumah dengan enam tiang di pinggir-pinggirnya. Pagar besi setinggi sekitar satu setengah meter mengelilingi. Tampak sederhana sekali.

Saya tidak lama. Setelah mendekat ke pusara, berdo’a, melepas pandang ke sekitar, mengambil beberapa foto, saya lalu kembali ke losmen.

***

Malam di Pasar Banggai. Keramaian cukup. Cahaya cukup. Setidaknya untuk ukuran di sini, bukan di tempat lain. Saya ada di warung kecil tempat makan ikan bakar. Ada banyak warung seperti ini di sekitaran Pasar Banggai. Ikan laut segar melimpah dan murah-murah. Lezat sudah pasti. Manis dagingnya jadi pembeda tegas.

“Satu ekor kerapu sunu bakar ini hanya lima belas ribu pak?”

“Tepat.”

“Murah sekali, apalagi ini ikan laut segar. Kalau di Jakarta ini makanan mewah.”

Orang yang mengantar saya tertawa. “Jakarta itu ramai ya?”

“Pastilah pak, sumpek malahan.”

“Saya belum pernah ke sana, paling jauh hanya ke Palu. Keramaian di sini tidak ada apa-apanya dibanding Palu.”

“Wah, padahal menurut saya Palu itu masih termasuk sepi. Dibanding Manado apalagi Makassar jauh sekali.”

“Kalau begitu Jakarta ramainya seperti apa ya?”

“Susah digambarkan pak, lebih baik ke Jakarta langsung saja.”

Kami tertawa. Orang yang mengantar saya menyatakan hasrat ingin ke Jakarta. Bukan untuk menetap. Sekadar memperkuat dasar perbandingannya saja. “Kalau menetap di Jakarta saya bakal susah makan ikan seperti ini,” katanya. Kami tertawa lagi.

“Ikan laut segar melimpah dan murah, itu yang selalu teringat oleh saya.”

“Menurut data yang saya tahu, belasan ribu ton ikan laut ditangkap setiap tahunnya.”

“Hanya di pulau ini?”

“Tidak, se-kabupaten Banggai Kepulauan. Tapi jumlah itu masih terlalu kecil, sebab banyak hasil tangkapan ikan yang langsung dijual ke penampung di tengah laut. Ini tidak terdata.”

“Jumlahnya banyak juga?”

“Saya yakin banyak sekali.”

Ikan di sini memang melimpah. Saking melimpahnya, ikan asin pun dibuat dari ikan laut segar. Sore sebelumnya saya diantar mencari ikan asin, bukan ke pasar, tapi ke rumah-rumah penduduk yang menjual ikan asin dalam partai besar. Ada berdus-dus besar ikan asin, ada juga ikan asin yang disebar dan ditumpuk-tumpuk dalam kamar. Banyak sekali. Dalam satu rumah, rumah biasa, tipe 36 atau 45, dua kamar bisa hanya dipenuhi ikan asin. Dan tidak hanya satu-dua rumah yang begitu.

“Beruntung saya sudah sempat beli ikan asin,” kata saya.

“Kok tahu ikan asin di sini enak?”

“Dari teman-teman yang sudah pernah ke sini, mereka titip, katanya rasanya istimewa.”

Ia tersenyum. “Kalau perbandingannya ikan asin di Jawa pasti istimewa. Ikan asin di Jawa kan dibuat dari ikan yang sudah berhari-hari tidak laku dijual.”

Saya mengangguk tanda mengiyakan. Orang ini belum pernah ke Jawa tapi tahu juga ternyata. “Selain ikan laut segar yang langsung untuk konsumsi dan ikan asin, di sini juga kaya ikan hias,” katanya lebih lanjut.

“Ikan hias?”

“Terutama ikan yang disebut Cardinal Fish. Ikan jenis ini disorot serius oleh dunia internasional, yang saya tahu oleh Amerika, Jepang, dan Belanda.”

“Kenapa pak?”

“Karena terancam punah. Ikan Cardinal Fish dianggap cukup langka, bahkan kalau tidak salah hanya ada di Kepulauan Banggai.”

“Harganya pasti mahal?”

“Itulah. Harganya yang mahal membuat perburuan ilegal marak hingga Cardinal Fish terancam punah.”

“Berapa memang harganya?”

“Saya tidak tahu persis. Tapi di pasar internasional, per ekor pasti dihargai di atas satu juta rupiah.”

“Per ekor satu juta rupiah?”

“Ya, itu harga minimal.”

“Wah, pantas banyak diburu.”

“Di pasar internasional harganya selangit. Sayang banyak orang terlalu berpikir pendek. Sudah membuat ikan jenis ini terancam punah, mereka pun hanya menjualnya dengan harga maksimal tiga ratus ribu rupiah per ekor.”

“Kok bisa?”

“Harga penampung. Biasanya dari Bitung, Sulawesi Utara, dan Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka hanya menjual ke penampung. Penampung yang mendapat untung berlipat-lipat.”

“Jangan-jangan mereka tidak tahu di pasar internasional harganya minimal satu juta?”

“Pasti tahu. Hanya saja mereka tidak bisa menembus jaringan pemasarannya, atau, bisa juga, mereka malas repot-repot menembus jaringan itu. Toh, nilai tiga ratus ribu rupiah per ekor sudah dianggap lumayan.”

“Sayang ya, pak.”

“Sayang sekali.”

“Selain perikanan, perkebunan bisa juga diandalkan kan? Saya ingat tadi siang kita melewati gudang kopra, tumpukannya sampai luber ke luar.”

“Lumayan. Pulau ini kaya kelapa. Setelah dikeringkan ribuan ton kopra bisa dihasilkan setiap tahun.”

“Kopra sebanyak itu dikirim kemana?”

“Yang pasti keluar Pulau Banggai, sebab di sini tidak ada pabrik yang bisa menyerap kopra lebih lanjut.”

“Dibawa keluar dengan kapal laut, kapal kayu yang saya naiki waktu berangkat ke sini?”

“Sebagian. Sebagian dibawa dengan kapal besar yang menghubungkan Pulau Banggai dengan Bitung di utara dan Bau-bau di selatan.”

“Wah, betapa kaya pulau ini. Ikan laut melimpah, bisa langsung dikonsumsi, dijual, atau diolah jadi ikan asin. Masih ada ikan hias yang mahal, perkebunan juga bisa diandalkan.”

“Itu belum semua, apalagi kalau bicara seluruh kabupaten Banggai Kepulauan.”

“Masih banyak lagi?”

Ia mengangguk, lalu menambahkan, “Belum juga keindahan alamnya.”

“Oh ya, itu juga. Keindahan alamnya seperti keindahan seorang gadis yang suci dari make-up.”

“Maksudnya?” Ia ganti bertanya. Saya senyum saja. Ia diam sebentar, mungkin berpikir, sebelum akhirnya tertawa lepas. “Maklum sudah tua, jadi agak lambat mencerna soal gadis,” katanya sambil menepuk pundak saya. Ia meneruskan tawanya. Saya bergabung. Kami sama-sama tertawa.

Di salah satu sudut pasar Banggai, di warung kecil yang tidak lebih bersih dari kebanyakan warteg di Jakarta, saya menyantap hidangan mewah. Tiga ekor ikan kerapu sunu dan tiga potong ikan geropah habis cepat. Besok pagi saya harus kembali ke Luwuk. Ini “malam perpisahan” yang patut disyukuri.

Untuk kesekiankalinya saya harus mengutip Kiai mBeling, “Sungguh negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan serta keindahannya. Cipratan kekayaan serta keindahannya itulah: Indonesia.”


Pulau Banggai, Juni 2009

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.