Perlukah Kusemburkan Kuah Cuka Pempek Ini?

Alexa – Jakarta


Di ruang komunitas online itu selain kutemukan Mas Gitar, aku juga menemukan segambreng teman…dengan fasilitasnya yang nyantel pada suatu media mainstream besar dan komitmen dari ownernya maka kami bisa asyik upload tulisan sendiri dan bertegur sapa di akun masing-masing, macam fesbuklah. Aku sebenarnya punya akun ini dari tahun lalu tapi baru setelah Imlek kemarin aku mengaktifkan akun itu..itupun semula hanya memberi komen di tiap tulisan yang seharinya bisa muncul 200 tulisan (!)…rupanya kehadiran sebagai penyapa itu diperhatikan juga…dari Pemred, Pelindung sampai sesama anggota.

Iya lho perhatiannya itu gak nahanin …waktu aku bilang kok di sini viewernya kecil jadi males nulis deh…eh pelindungnya menyapa dan mengatakan seharusnya aku tidak  perlu takut akan viewer sebab tulisan yang bagus itu seperti bunga yang akan selalu didatangi lebah. Tidak hanya menyapa, dia juga menuliskan suatu artikel tentang tanyaku ini. Saat aku merasa tidak nyaman dengan sapaan beberapa orang yang rada kasar, beliau kasih tau cara-cara mendelete sapaan enggak sopan itu.

Nah itukan kalo komennya ada di tulisan kita, lha kalo kita dicaci maki di tulisan orang gimana?? Ternyata suatu saat aku mengalaminya dan entah gimana tiba-tiba seorang satria berkuda putih menyelamatkan aku yang sedang jadi serangan sesama pembaca (lha penulisnya malah minta di add jadi teman)…nambah lagi deh temanku.

Enggak terasa dalam waktu cuman tiga bulan, teman-temanku sudah tiga ratus di sana…aku jadi temenan ama dosenku di MMUI  yang juga pengamat ekonomi kondang. Tergubrak krompyang saat diajak ngobrol japri sama wartawan kondang yang punya rangkaian penerbit majalah ternama, tapi juga terkagum-kagum sama anak umur 16 tahun yang bisa banget nulis aspek keTuhanan dengan begitu dalam.

Mengenai pergaulan tiap harinya, biasa deh seperti di Baltyra kita juga hobi saling becanda gitu dan beberapa jadi dekat, termasuk seorang teman yang super duper ngocol. Seringkali kami bersahut-sahutan komen di suatu tulisan hingga suatu saat rasa ingin tauku membuat aku mengunjungi akunnya…waaaks tagsnya berbunyi:

“Pemikir yg kurang serius, pendiam tapi pecicilan, bijak sekaligus dholim, penyabar tapi senang nyantetan, manis sekaligus ganteng… Tulisanku seperti mutiara, setiap pembaca akan menemukan keindahan tersendiri tergantung dari sisi mana ia memandangnya,tulisanku jg dpt menyesatkan pembacanya tergantung banyak tidaknya jumlah bulu mata yg jatuh saat membacanya. Hadirin hadirot sekalian, tulisanku sgt berat, maksud saya sangat berat utk diterima akal sehat, tetapi tdk mengapa tulisan2 yg baik dan logis sudah di posting oleh rekan yg lain…saya yg menyuruh mereka untuk menetralisir tulisan-tulisanku…”

Di situ aku singgah dan membaca banyak tulisannya…dia pinter banget nulis masalah kehidupan dengan pendekatan serius dan ngocol sekaligus…sekali dua kali baca tulisannya aku terjebak dan terlalu larut dalam emosi yang dibangunnya  dan saat mata sudah mulai berembun tiba-tiba sampai pada alinea terakhir yang surprise dan ngocol…akhirnya aku paham, saben baca tulisannya itu kudu menjaga hati. Abis itu aman deh gak ada mellow-mellowan lagi.

Entah kenapa kok aku panggil dia Mas Adi padahal namanya gak ada unsur Adi-nya n dia gak pernah protes, pas sadar dan kutanya eh dia menjawab,”Kamu panggil aku apa aja tak akan mengurangi kegantenganku,” waaaks aku ngakak dan baru sadar ada dua teman yang selalu ikut ngakak bareng..yang satu cewek (masih muda lahirnya aja tahun  1987-sebut aja namanya Dewi ) dan yang cowok (sudah matang lahir tahun 1970 dan kupanggil Mas Ben – seorang suami bahagia dengan tiga anak).

Suatu hari mas Ben menyapa aku pribadi dan nanya…”Dhek, kamu suka ya ama Mas Adi…ati-ati ya dia susah ditangkepnya lho.” Di situ aku merasa bahwa mas Ben kenal mas Adi lebih dari sekedar teman di dunia maya-kujawab,”Enggak kok mas…aku cuman enjoy ama kengocolan dia…yuk maree kita bikin dia makin sarap.” Mas Ben kelihatannya lega…dan kami semua makin menggila sampe suatu saat aku menulis puisi berisi doaku pada Sang Khalik minta diberi sepotong cinta dari pria yang tulus. Untuk ilustrasinya aku tampilkan foto bareng teman priaku yang gay. Mas Ben dah langsung nebak kondisi Alex…si Mas Adi nyusul komen dengan sok-sokan bilang, “Kalian kelihatan mesra..”, Mas Ben ngakak trus aku bales,” Uhuuk cemburu nih?” tiba-tiba Dewi nyusul bilang, “Ati-ati Kak ama si otak keledai.”

Otak keledai adalah julukannya yang dia bikin buat diri sendiri. Abis itu si Otak Keledai published tulisannya, cerita tentang pertandingan bolanya Wayne Rooney  tapi narasinya dia bikin Hudson bertanding ama Jessica. Dan yang bikin tambah ngakak adalah dia upload fotonya saat pertandingan sepakbola dengan kaos bertuliskan Mak Erot.com….udah deh waktu itu aku, Dewi n Princess  sibuk mencela si Otak Keledai dan dengan so PeDe dia malah menobatkan kami sebagai isteri-isterinya…kutimpali dengan nanya …”situ kuat?? Secara dah resmi ternobatkan sebagai pasien mak erot.” Eh dia masih ada jawabannya,”makanya ke mak erot biar kuat.” Hahaha….

Sampai gak lama kemudian kulihat Dewi tiba-tiba upload berturut-turut  tiga puisi singkat tapi sarat amarah…dan tiba-tiba semua jadi jelas…sepertinya ada story behind the scene antara Dewi dan si Otak Keledai. Begitu puisi Dewi muncul si Otak Keledai rada-rada turun frekwensi kemunculannya tapi dia masih sempet balik ke puisiku dan nyenggol kata-kataku yang bilang,”Tuhan berikan aku sepotong cinta dari pria yang tulus,”..dia bilang , sederhana sekali keinginanmu..cukup pria yang tulus gak perlu apa pria bermateri, apa cukup sepotong cinta? Belum juga kujawab eh Dewi yang nimpalin, ”Dasar…enggak pernah cukup.”

Waaaks aku langsung hubungi mas Ben…”Mas, gilleee tuh bini pertamanya nyap-nyap di tempatku. Elu panggilin lakinya gih.” Mas Ben tadinya cuman ketawa-tawa aja tapi pas dia baca sekali lagi tuh timpalannya Dewi …dia mengiyakan perkiraanku. Aku sendiri  menyapa di tiap puisi amarah Dewi itu dan menyenangkan Dewi membalas tiap sapaanku – berarti dia tidak marah padaku…untuk ukuran semuda itu dia berpikiran sangat dewasa.  Di salah satu puisi amarahnya dia mencantumkan gambar empek-empek dengan kuahnya….kukomentari,”Wi , rupanya kompensasi marah kamu ke makanan ya?”..dia mengiyakan.

Aku minta ke mas Ben supaya manggilin mas Adi  lagi…akhirnya mas Adi muncul juga, pas aku jejeritan kesenangan nyambut dia sembari nanya kemana aja – eh jawabannya tetep nyleneh, katanya dia abis nemenin n ngelapin Luna Maya…jhiah. Abis itu baik mas Adi maupun Dewi tidak beredar…aw, aw, aw ternyata ada drama kehidupan juga di belakang layar sana tak cuman di Baltyra yang ada.

Lha ternyata bumi berputar dan ada pergantian nasib juga – enggak lama aku yang mengalami hal yang menyebalkan dalam berhubungan dengan lelaki. Segera kusapa Dewi dan bilang,”Kelihatannya aku mengalami hal yang sama denganmu. Boleh kuminta empek-empekmu itu agar asem kuahnya bisa mengusap getirnya lara hatiku?”, dia dengan senang hati menyambut permintaanku dan kukatakan,”Geseran duduknya.”

Dia langsung bergeser dan bilang, “ Mari Kak….perlu kusembur kuah asem ini ke muka lelaki yang sudah bikin sakit hatimu…”, aku cuman ketawa ngakak sembari bilang, “Sini Wi…give me a hug.”

Menyenangkan juga bersahabat dengan teman dari dunia maya…ternyata mereka enggak so maya juga, masih ada sepotong hati yang tulus di sana.


Ilustrasi: jenzcorner.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.