Resensi Buku: Trilogi Insiden & Ma Yan

Trilogi Insiden

Rina S – Bogor


Sebenarnya ini bukan buku baru. Buku yang merupakan gabungan tiga buku Seno Gumira Ajidarma (SGA) ini pertama kali diterbitkan kurang lebih sekitar satu dekade yang lalu. Kumpulan Cerpen Saksi Mata, pertama kali terbit tahun 1994. Kumpulan Esai Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Bicara, terbit tahun 1996. Dan novel Parfum, Jazz dan Insiden 1996. Dan mengalami cetak ulang pada tahun-tahun berikutnya. Ketiganya mengandung fakta seputar Tragedi  Dili (12 november 1991) dan bisa dikatakan  merupakan bentuk perlawanan yang dilakukan SGA terhadap ‘pembungkaman’ yang dilakukan pemerintah terhadap Tragedi Dili.

SGA adalah seorang wartawan Majalah Jakarta Jakarta (JJ)saat Tragedi Dili terjadi dan akibat pemuatan laporannya seputar Tragedi Dili, pihak manajemen JJ mencopot jabatannya. Karena pemerintah menilai pemberitaan Tragedi tersebut dinilai subversive. Ini menunjukkan bahwa pada kenyataannya Jurnalisme tidak pernah bisa benar-benar otonom dan bebas, ada berbagai permintaan kepentingan yang harus dituruti. Kepentingan penguasa dengan alasan menjaga stabilitas politik atau kepentingan pengusaha dengan alasan untuk stabilitas ekonomi.  SGA dalam salah satu esainya menilai jika ini yang terjadi maka Jurnalisme akan kehilangan makna sebagai media dalam arti sesungguhnya: Mengusahakan segalanya demi harkat manusia. Dan ruang kosong inilah yang diisi SGA dengan tulisan-tulisannya ;  memasukkan sejumlah fakta yang tidak bisa tersentuh jurnalisme, dalam karya sastranya.

Dalam beberapa esainya; tentang empat cerpen, trilogi penembak misterius: Obsesi mayat bertato dan Jakarta-jakarta dan Tragedi Dili, SGA menuliskan proses yang ia lalui ketika sebuah cerpen dibuat selain berdasarkan fakta juga karena empati SGA terhadap korban. Sebut saja misalnya cerpen Listrik yang ditulis setelah membaca laporan Amnesti Internasional mengenai perlakuan yang diterima napol yang terlibat Tragedi Dili.  Sementara cerpen Maria ditulis ketika ia membayangkan perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dan cerpen Salvador untuk kenangannya terhadap Xanana Gusmou.

Walaupun SGA dalam satu esainya menuliskan bahwa ia tidak mengejar kualitas sastra dalam menuliskan cerita pendeknya namun mengungkap sebuah fakta Treagedi Dili, namun pembaca tetap akan merasai membaca sebuah sastra yang berkualitas. Kepiawaian  SGA  memadukan bermacam genre dalam satu tulisan, menjungkirbalikkan logika dalam penuturannya dan menyelipkan sebuah fakta tanpa membuat cerpen menjadi kaku dan sistemastis. Tetap mengaduk emosi pembaca dengan ending tidak terduga, seperti dalam cerpen Pagar Da Silva.

Berikut adalah kutipan yang diambil dari cerpen berjudul  ‘Saksi Mata’

“Saudara Saksi Mata.”

“Saya pak.”

“Dimana mata Saudara?”

“Diambil orang Pak.”

“Diambil?”

“Saya Pak.”

“Maksudnya dioperasi?”

“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”

“Haa?Pakai sendok? Kenapa?”

“saya tidak tahu kenapa Pka, tapi katanya mau dibikin tengkleng.”

“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang.”

“Yang mengambil mata saya Pak.”

Novel Jazz, Parfum dan Insiden ditulis  dengan struktur paralelisasi antara tokoh aku yang seorang wartawan, esai jazz dan sejumlah teman perempuannya  yang menggunakan parfum  berbeda. Dan tulisan mengenai Jazz berikut perempuan dan parfumnya lebih mendominasi  dibanding tokoh aku dan keterlibatannya dengan sejumlah laporan insiden. Menurut pengakuan SGA gaya penulisan ini di maksudkan hanya sekedar akal bulus untuk memasukkan fakta (tragedi Dili). Namun begitu SGA berhasil mengaitkan filosofi Jazz, parfum dan insiden menjadi satu kesatuan dalam novelnya. Menghibur sekaligus ‘menggebuk’ pembaca .

Dengan tak terduga novel ini memunculkan tokoh Sukab dan Alina (tokoh ciptaan SGA yang kerap muncul dalam cerpen-cerpen nya yang lain*). Sukab yang sebelumnya dikenal tokoh aku ternyata kini berprofesi sebagai intelegent.  Apa pretensi SGA memunculkan kedua tokoh ini dalam novelnya? Sekedar akal bulus atau membiarkan pembaca memberi tafsiran sendiri? Namun yang pasti kemunculan tokoh ini secara tiba-tiba membuat saya tersenyum.

SGA mencoba berimbang dalam menyajikan fakta yang dikemas dalam bentuk fiksi ini berimbang antara pelaku dan korban melalui cerpen Darah itu Merah, Jendral dan bab Laporan Insiden 5 pada novel Jazz, Parfum dan Insiden. Keduanya melihat Tragedi Dili dari kacamata seorang militer  namun bukan prajurit yang notabene berada di lapangan dan berhadapan langsung dengan konflik. Dilema yang dialami prajurit tentu akan berbeda dengan seorang jendral. Mungkin akan terasa lebih berimbang jika dalam salah satu cerpennya SGA menceritakan kegelisahan seorang prajurit ketika dikirimkan ke daerah konflik, dilema antara tugas Negara, keluarga dan kepasrahannya terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada diri dan keluarganya. Dan konflik batin saat harus berhadapan dengan pilihan terbunuh atau membunuh.

Mungkin kehidupan memang seperti halnya  musik Jazz penuh improvisasi. Sementara Jazz berimprovisasi menuruti suasana hati maka hidup harus berimprovisasi untuk mengatasi berbagai masalah. Dan militer melakukan improvisasi terhadap demonstrasi yang terjadi di Dili (laporan insiden 5).  Mungkin itu sebabnya pemerintah masih tetap menggunakan kata  Insiden – merujuk pada kejadian tidak sengaja – untuk Tragedi yang terjadi di Dili. Dan semoga penerbitan ulang buku ini mampu mengingatkan semua pihak bahwa Tragedi Dili merupakan bagian dari sejarah bangsa ini yang tidak boleh dilupakan.

Selayaknya karya satra bukanlah sekedar hiburan, Ia lahir dari sebuah pemikiran yang merefleksikan  zamannya dan tidak lepas dari realitas faktual yang terjadi pada masyarakat. Mengutip yang ditulis SGA dalam sebuah esainya, ‘imajinasi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran, barangkali ia menjadi fiksi tapi tetap kebenaran.’ (rs)

[email protected] (www.momsbooksclub.blogspot.com)

*buku Dunia Sukab dan Sepotong Senja untuk Pacarku.


Ma Yan

Endah Sulwesi


Judul buku: Ma Yan
Penulis: Sanie B Kuncoro
Editor: Rahmat Widada
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, 2009
Tebal: 214 hlm.

Bulan Mei 2001. Pierre Haski, seorang wartawan Prancis yang bergabung dengan sebuah tim ekspedisi kecil, tiba di Zhanjiashu, sebuah dusun kecil berjarak ribuan kilometer dari Beijing. Di kampung ini, Pierre dan rombongannya dipaksa oleh seorang ibu untuk singgah ke rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, ibu tersebut memberikan selembar surat dan tiga buah buku kecil bersampul cokelat. Surat dan buku yang ternyata adalah sebuah diary itu ditulis dengan pensil oleh seorang bocah perempuan berusia 13 tahun bernama Ma Yan. Isinya, ditulis dalam aksara Cina, berupa curahan hati si gadis kecil tentang keinginannya untuk terus bersekolah. Namun, lantaran kemiskinan orang tuanya, Ma Yan harus rela mengubur cita-citanya itu.

Surat yang ditulis di selembar kertas bekas pembungkus kacang itu, telah menggugah hati Pierre dkk. Maka, setelah melalui penyuntingan serta ditambah wawancara dengan Ma Yan, catatan harian tersebut setahun kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Diary of Ma Yan.

Dan apa hasilnya? Luar biasa! Kisah gadis Tiongkok itu telah mengundang banyak simpati dari masyarakat pembacanya di Prancis yang lantas memberikan sumbangan uang bagi pendidikan Ma Yan. Apa sebenarnya yang dituturkan Ma Yan dalam diary-nya itu sehingga membuat para pembacanya jatuh hati?

Gadis ini lahir dari pasangan suami istri miskin di Cina. Sangat miskin. Bayangkan saja, dengan penghasilan 120 yuan setahun (setara dengan 15 dolar AS atau 160.000 rupiah), keluarga ini harus mencukupi kebutuhan hidup mereka. Jangan lagi untuk sekolah, untuk makan pun sangat susah. Tak jarang, Ma Yan sekeluarga harus berpuasa menahan lapar lantaran tak ada uang untuk membeli makanan.

Pernah suatu ketika Ma Yan mengidamkan sebatang pulpen yang dilihatnya di pasar. Harga pena itu hanya 2 yuan. Tetapi bagi Ma Yan, uang dua yuan adalah jumlah yang besar karena sama dengan uang sakunya selama dua pekan. Demi memiliki benda idamannya itu, Ma Yan rela berhemat dan menahan lapar selama berhari-hari.

Kuterima pena itu dengan gemetar. Jantungku berdebar. Kugenggam pena itu erat-erat. Kuingat nasi tak berasa yang harus kutelan berhari-hari sekian pekan demi pena itu. Kuingat pedih di rongga perut berisi kelaparan yang panjang…..(hlm.76)

Namun demikian, orang tua Ma Yan, terutama sang ibu, memiliki tekad baja untuk menyekolahkan anak-anaknya agar kelak mereka tak mengalami nasib serupa orang tua mereka. Ibu dan ayah Ma Yan memeras keringat dan darah demi pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, ibu Ma Yan rela menjadi buruh pemanen fa cai – sejenis rumput sayuran, biasanya diolah untuk salad atau sup – di Ning Xia, daerah yang berbatasan dengan Mongolia Dalam. Berjarak 400 km dari kampung mereka. Meski upah yang diterima tak memadai, tetapi apa boleh buat hanya itulah pekerjaan yang tersisa bagi perempuan buta huruf seperti ibu Ma Yan.

Begitu beratnya kehidupan bagi Ma Yan sekeluarga. Kendati telah berupaya keras membanting tulang, namun akhirnya orang tua Ma Yan harus takluk di hadapan nasib buruk dan kemiskinan yang seolah abadi. Mereka menyerah, tak sanggup lagi membiayai sekolah Ma Yan.

Namun, peruntungan dan mukjizat seringkali datang tak terduga. Seperti telah diuraikan di atas, berkat catatan hariannya, Ma Yan bisa kembali melanjutkan cita-cita yang pernah terkubur. Gadis kecil itu kini kembali ke sekolah. Dunia telah membaca kisahnya dan mengulurkan bantuan untuknya.
***

Kisah tadi adalah kisah nyata yang ditulis ulang oleh Sanie B Kuncoro dalam bentuk novel (novelisasi?). Jika buku aslinya setebal 372 halaman dengan format pocket book, maka oleh Sanie diringkas menjadi hanya tinggal 214 halaman berukuran sedikit lebih besar.

Jika harus membandingkan keduanya, masing-masing memiliki kelebihan. The Diary of Ma Yan terbitan Q-Press tentu menyajikan cerita yang lebih detail karena memuat secara lengkap catatan harian Ma Yan. Bagi Anda yang senang dan ingin mengetahaui kisah rincinya, sebaiknya memang membaca buku aslinya. Tetapi, apabila Anda ingin menikmati sebuah kisah dengan alur seperti novel, maka tulisan Sanie akan lebih cocok.

Susan Ismiati, begitulah nama asli Sanie B Kuncoro, mengaku bahwa Ma Yan merupakan “novel” pertamanya dan menjadi semacam lompatan atau anak tangga dari semula menulis cerita cinta romantis manis–yang cenderung terasa lebih ngepop–kepada karya yang lebih “nyastra”, walaupun hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan gosip bakal keluarnya novel Susan paling mutakhir bertajuk Garis Perempuan yang konon akan berbeda dengan karya-karyanya selama ini. Hmm, kita tunggu saja, ya.

Kembali ke Ma Yan. Kalau kita perhatikan baik-baik kovernya, di sudut kiri atas tertera label “Lini Laskar Pelangi”. Barangkali fungsinya sebagai stempel bahwa kisah di dalamnya adalah sebuah kisah yang mengusung spirit Laskar Pelangi : pendidikan. Yah, memang begitulah kerap terjadi di mana pun. Sebuah produk yang laris manis, segera saja melahirkan produk-produk sejenis yang mirip. Itu berlaku hampir di segala bidang: buku, film, musik, makanan, minuman, fesyen…..

Tentang bukunya ini, Susan pernah berbagi kebahagiaan dengan saya, bahwa ia senang buku yang ditulisnya ini ternyata diterima dengan cukup baik oleh pembacanya. Salah satu buktinya pada suatu hari ia ditelepon oleh seorang ibu yang telah membaca Ma Yan ini. Si ibu menyampaikan penghargaan sekaligus berterima kasih kepada Susan karena berkat Ma Yan anak perempuannya (seumuran Ma Yan) kini jadi rajin belajar serta penuh perhatian kepadanya. Pengakuan ibu tersebut membikin Susan terharu dan diam-diam menitikkan air mata.

“Aku bahagia karena ternyata bukuku bermanfaat bagi orang lain,” katanya. Tentu saat itu ia sudah tidak menangis lagi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.