Toronto: Bursa Kerja

Anwari Doel Arnowo


Bukan aneh kalau bursa kerja di Toronto telah menarik banyak para penganggur, para pekerja yang karirnya telah sampai di puncak, akan tetapi masih ingin lebih baik lagi, para ahli yang tidak mendapatkan remunerasi yang tidak seperti diharapkan, para entrepreneur dan para intrapreneur yang ingin mendapat suasana kerja dan lingkungan hidup yang lebih nyaman, mendapatkan kesempatan emas yang sudah terbayang di depan matanya. Mereka ini, harap diingat bukan semuanya orang Indonesia, ada China dan ada India serta Kamerun, seperti semut atau laron  dalam kegelapan yang melihat cahaya terang dari kejauhan.

Saya sungguh menginginkan apa yang saya tulis berikut ini mendapatkan perhatian yang lebih teliti dari mereka yang tergolong di dalam kategori-kategori di atas, sebagai sesuatu yang amat mengemuka – priority. Seperti sering disitir oleh ibu saya istilah Sri Gunung, adalah indah dipandang dari kejauhan, tetapi setelah dekat sekali akan tampak tonjolan-tonjolan yang belum tentu akan sesuai dengan bayangannya ketika masih dipandang dari kejauhan.

Di sebuah kondominium di tengah-tengah daerah yang disebut downtown, duduk seorang concierge di bilik kerjanya yang merangkap sebagai front office dari gedung itu. Apa kerjanya  seorang concierge? Silakan klik link berikut agar dapat menangkap maknanya dengan lebih lengkap: http://www.ehow.com/about_5393362_hotel-concierge-job-descriptions.html .

Pekerjaan ini bukan pekerjaan kelas rendah dan bukan pula pekerjaan yang bisa disepelekan oleh dan bagi siapapun. Dia berumur sekitar 55 tahunan, akan tetapi saya terkejut juga mendengar kisah dan seluruh keterangannya bahwa dia berasal dari Srilangka, bergelar Doktor dalam ilmu ekonomi. Dia telah menjalani tugas pekerjaannya ini lebih dari sepuluh tahun dan sedikit terbersit dari kata-katanya bahwa dia merasa patut kalau saja ada tawaran yang sesuai dengan strata pendidikannya. Di sinilah kuncinya: STRATA. Yang satu ini di setiap negara ada perbedaan cara mengukurnya, tergantung juga kurun waktunya bilamana waktunya, telah terjadi. Tahun 1950, 1960 atau tahun 2005? Itu amat berbeda. Di suatu saat dan di suatu negara, strata seperti ini bisa saja menjadi Staf Ahli seorang Menteri, bahkan bisa menjadi Menterinya juga. Tetapi pada tahun 2007, waktu saya berbincang dengan dia, hal sebaik itu tidak terjadi. Apa pasal??

Dahulu kala sekitar 50 tahunan yang telah lalu jumlah sarjana tentu saja tidak sebanyak yang ada pada saat sekarang, baik dokter atau sarjana-sarjana lainnya. Nah inflasi tak terkendali gelar akademisi tentu saja melejit pesat dan bertambahnya memenuhi sesuai atau melebihi permintaan yang ada. Oleh karena permintaan naik maka tendensi penurunan mutu dengan pasti berubah menyeimbangi permintaan pasar, ada yang karena keinginan mutu pekerjaan yang dikelola bahkan ada karena permintaan pasar gengsi. Yang terakhir inilah yang mendorong penurunan mutu itu.

Karena terikut menjadi komoditas yang menjadi komersial itulah maka tiap-tiap pemerintahan berusaha mempertahankan mutu, salah satunya dengan menghormati sarjana lokal secara berlebihan. Itulah sebab dari kenaikan timbulnya penilaian kesarjanaan di mana-mana. Kanada amat terkenal keras dalam menilai kesarjanaan yang berasal dari Negara lain.

Dokter gigi lulusan luar negeri Kanada, bila berkehendak untuk melanjutkan pilihan ingin berpraktek di Kanada, maka diharuskan mengikuti kuliah kembali selama dua tahun. Ada seorang dokter berkebangsaan Kanada yang telah berhasil menambah gelar kesarjanaannya di Amerika Serikat, setelah kembali ke Kanada malah mengalami banyak hambatan dalam meniti karirnya. Demikianlah seperti halnya penyakit yang mewabah dan menular, maka sikap arogansi seperti ini malah menular terus, tidak hanya secara internasional, tetapi malah secara nasional di antara para pengelola lokal perguruan tinggi. Sekarang masyarakat menjadi maklum mengapa kita sampai pada tahapan di periode arogansi yang tidak masuk akal.

Saya ingat waktu bencana Tsunami di Aceh yang silam. Datanglah sebuah kapal induk yang perkasa dengan segala fasilitas kemewahan yang dipunyainya, mulai menolong para korban bencana. Di kapal ini tersedia segala fasilitas cangih yang bisa menangani kondisi terburuk di dalam peperangan besar. Tentu saja semua orang lupa, malah sebaliknya mengelu-elukan datangnya pertolongan dari langit semacam ini dengan bentuk-bentuk gratifikasi yang digelembungkan oleh media dan para pemuka masyarakat. Saya melihat lemahnya struktur pengawasan dari pemerintah kita yang tidak mengingat sama sekali adanya peraturan mengenai dokter yang berpraktek di Indnesia dan menangani pasien yang rakyat Indonesia. Hari inipun  amat banyak praktisi dokter asing yang melakukan kegiatan komersial dalam bidang kesehatan di kota-kota besar di Indonesia tanpa diusik oleh siapapun juga. Apa yang akan dipakai menjawab masalah ini adalah kondisi bencana?? Bolehkah atau tidak bolehkah?? Menilai kesarjanaan sekarang makin nyata banyak yang bias, tidak jelas pelaksanaannya.

Hal tersebut di atas amat perlu digunakan sebagai pertimbangan sebelum berangkat menuju Kanada dengan hanya mengandalkan gelar kesarjanaan saja. Kalau hanya ingin melakukan upaya  perbaikan basib, dan bersedia bekerja “kasar”, misalnya menjadi pengemudi truk barang, maka hal seperti itu akan mendapat pengharagaan komersial yang lebih tinggi. Ada sarjana strata tiga dari universitas di Jerman, orang Indonesia, bekerja menjadi pengemudi truk, bisa hidup layak di Kanada. Bagi saya, dia akan boleh saja sekarang berkata: “What the heck, apa peduliku dengan yang disebut gengsi. Saya kan saya, anda adalah anda, laahh…!!” Bagi saya juga, gengsi adalah omong doang, omong kosong saja.

Pertimbangan sebaiknya menyeluruh. Kanada terkenal dengan musim dinginnya. Di Toronto adalah hal biasa suhu udara mencapai sekitar minus 30 derajat Celsius. Jauhnya dari Tanah Air adalah sekitar lebih dari 20 jam penerbangan, dan itu amat mahal  biaya perjalanannya apabila hanya untuk memenuhi rasa rindu suasana Lebaran di dusun sendiri, makanan sendiri dan juga kehangatan di antara keluarga sendiri.

Dengan semboyan burung yang sudah di tangan jangan dilepaskan, berlaku bagi yang karirnya sudah lumayan di Indonesia. Jangan hanya karena ambisi, impian menikmati hidup yang memang terlihat teratur dan mewah seperti tergambar di TV atau Video mengenai kehidupan di Kanada, maka karir yang sudah lumayan di Indonesia ditinggalkan begitu saja.  Kanada adalah surga bagi yang bisa beradaptasi dengan kondisi lokal, misalnya mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tanga secara keseluruhan? Apakah pernah dipikirkan bahwa kebudayaan kita yang megalihkan pekerjaan “kotor” kepada pembantu rumah tangga di Indonesia bisa dilaksanakan di Kanada?? Biarpun mampu membiayai semua ongkos dalam masalah menggunakan pembantu, belum tentu akan bisa melaksanakannya karena visa bukan masalah mudah untuk hal seperti ini!! Semua orang Indonesia harus bisa menanggalkan sifat feodalnya, mejadi orang biasa dan itu mungkin berlaku bukan hanya di Kanada saja, tetapi berlaku di banyak negara maju lainnya. Yang bukan mudah dilakukan di Indonesia tetapi sukar dilaksanakan di Kanada adalah antara lain:

1.    Disiplin mengikuti undang-undang dan peraturan yang berlaku

2.    Tidak terlalu mencampuri urusan orang lain dalam masalah ras, agama, dan politik dan “etiket” yang di anut di negara asal. Di Kanada tidak dikehendaki hal-hal seperti itu, apalagi ditonjolkan.

3.    Meskipun bahan makanan yang ada di Idonesia itu mudah didapat di Kanada tetapi prtimbangan bahwa semua keinginan itu harus disesuaikan, jangan sampai Lebih Besar Pasak Dari Tiang

4.    Sebagai Permanent Resident tidak boleh ikut serta di dalam Pemilihan Umum dan tidak boleh menjabat sebuah jabatan strategis di pemerintahan Kanada

Secara umum bagi diri saya, tinggal di Kanada amat memberi kesempatan untuk tetap aktif dan segar secara fisik, karena bisa hidup tanpa Pembantu Rumah Tangga. Mencuci baju, ada mesin cuci, menyeterika, saya bisa melakukannya. Memasak makanan sekedarnya, yang penting saya sendiri doyan, saya bisa.

Mencuci piring dan alat makan, siapa takut??

Gengsi?? Sudah saya tinggalkan di Indonesia, nun di sana di balik dunia, dua belas jam perbedaan zona waktunya.

Di Indonesia ada tiga Pembantu Rumah Tangga. Kapan saya bisa mandiri? Belum lagi anak-anak dan cucu yang biasanya hampir selalu tidak membiarkan saya bekerja apa-apa !!


3 Juni, 2010 – 03:33 pagi hari

Anwari Doel Arnowo

[email protected]

Verba volant scripta manent…

spoken words fly away, written words remain

kata diucapkan akan terbang menghilang, tetapi yang dituliskan akan abadi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.