Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung
Tanggal merah di akhir bulan Mei ini, menjadi agenda khusus buatku, karena aku dan hubby akan menghadiri acara akad nikah dan walimah dari adik sepupuku yaitu Indah dan Insan di Jambi, pada hari Sabtu dan Minggu, 29 dan 30 Mei 2010.
Hari Jum’at tanggal 28 Mei 2010 bertepatan dengan Hari Raya Waisak, otomatis libur nasional, sudah jelas ini long weekend buat para pekerja yang biasanya punya jadwal Senin – Jum’at. Kami putuskan untuk membawa mobil pribadi, dengan ditemani supir kami.
Kami bertolak ke Palembang dahulu, karena mau jemput Mama dan Papaku. Ba’da sholat Jum’at, cuaca gerimis mengantar kepergian kami. Sengaja nggak membawa anak-anak, karena mereka mau menghadapi jadwal ulangan umum pada awal Juni ini. Kami hanya bertiga menuju Palembang, memakan waktu 8 jam perjalanan. Berangkat pukul 13 siang, tiba sekitar pukul 21 malam.
Perjalanan kami relatif aman, hanya yang gak nyaman banyak lobang-lobang di jalan yang harus membuat kami bersabar mengendalikan laju kendaraan belum lagi macet karena ada mobil truk yang terbalik di jalan, makanya jadi agak lama sampainya, seandainya jalanan mulus tanpa lobang-lobang seperti pada jaman Pak Harto dulu, jarak antara Palembang – Lampung bisa ditempuh hanya dalam waktu 5 jam saja.
Kami hanya beristirahat beberapa jam di Palembang, Pukul 1 dini hari, kami berangkat ke Jambi, mata ini rasanya masih ngantuuuk banget, tidurnya lanjut di mobil aja, toh pakai supir. Untung punya supir yang tahan ngantuk. Jalanan antara Palembang dan Jambi relatif mulus walau masih ditemui yang namanya lobang-lobang. Pukul 5.30 pagi kami tiba di Jambi. Kami mampir dulu kerumah kakak sepupuku, untuk istirahat dan mandi.
Pukul 9 Pagi kami sudah hadir di acara akad nikah adik sepupuku, Indah, acara berlangsung khidmat dan lancar, Alhamdulillah. Makanan yang disediakan cukup mengundang selera. Aku melihat kue-kue jajan pasar salah satunya ‘Lupis Ketan’ yang aku sukai saat kecil dulu. Kue Lupis ini nggak mudah ditemui kecuali di acara-acara hajatan atau pasar-pasar tradisional. Trus ada Tekwan….hmmm…ini dulu yang dipilih, sebelum makan nasi. Pukul 12 siang kami masuk ke Novotel, Faktor kelelahan dan ngantuk berat, membuat kami sukses tidur pulas.
Malam hari, Kakak Sepupuku beserta keluarganya, mengajak kami makan malam di kawasan kuliner Jambi, namanya “Pujasera Jelutung Corner”. Menurutku, lokasi wisata kuliner ini sangat strategis terletak di pusat kota Jambi. Pada Sabtu malam, tempat ini cukup padat. Terbukti makanan yang kami pesan tidak semua tersedia, alias sudah habis di pesan oleh para pengunjung. Sambil makan, ada iringan musik dan lagu yang dinyanyikan oleh vocalis resto. Lumayan deh…daripada aku yang nyanyi, hehe…
Menu yang kami pilih, Pindang ikan gabus, kepiting saus asam manis, ayam bakar dan sate ayam, minumnya aneka Juice dan Es campur, Alhamdulillah …. ditreat sama kakak sepupu. Sebelum dimakan aku sempatin foto-foto itu makanan, hihi…orang yang makan malah nggak di foto. Lha….namanya mau buat laporan kuliner, so…makanan aja kan yang perlu di foto. Soal rasa…lumayan deh, kalau penilaianku pribadi Pindang ikan yang terenak itu hanya ada di Palembang, di Rumah Makan “Mahkota Indah” milik “Mang Jen” (orang sekampung dan masih ada pertalian famili dengan nenekku). Apalagi jika makan Pindang ikan ditemani dengan sambel ‘kemang’ atau ‘kweni’ (Kemang dan Kweni masih termasuk famili buah mangga, yang kini mulai langka keberadaannya, mencari buah kemang saat ini sudah mulai susah, nggak heran kalau di pasar tradisional harganya bisa mencapai Rp. 10.000 – Rp. 15.000 / buah).
Sayangnya sambel buah kemang maupun buah kweni nggak ada di Pujasera ini, yang tersedia hanya sambel terasi. Yasud… daripada nggak ada sambel sama sekali. Kalau mau makan aneka pempek yang enak di kota Jambi, bisa mendatangi daerah Talang Banjar, di sini banyak berjejer toko-toko pempek yang rasanya enak-enak semua,
Setelah makan selesai, kami tidak langsung pulang ke hotel, tapi pergi bersilaturahim ke rumah Ayuk sepupu yang lain. Alhamdulillah jadi bisa bersilaturahim dengan saudara-saudara sepupuku baik dari pihak papaku maupun mamaku. Karena esok hari masih akan ada acara resepsi pernikahan yang di adakan di ballroom Novotel, kami harus segera kembali ke hotel untuk beristirahat.
Minggu pagi, 30 Mei 2010
Pukul 9 pagi, setelah breakfast (menu breakfast @Novotel, yummie lho), aku pamit keluar sejenak untuk melihat kota Jambi selintas lewat, maklum ada request dari sohib “Rahma” yang dulu sempat tinggal di Jambi, untuk meliput selintas kota yang pernah memberinya kenangan manis ini, hehe.
Hal pertama yang aku pikir, aku harus naik ojek motor jika ingin melihat kota Jambi hanya selintas tanpa kuatir kesasar, maklum aku hanya sempat 2 tahun tinggal di Jambi itupun saat masih kecil, jadi mana mungkin aku faham sama jalanan kota ini.
Aku bertanya sama pak Satpam hotel, berapa kira-kira tarif ongkos ojek, dari hotel ke tepian sungai Batang Hari, “Paling Rp.10.000,-“ jelas pak satpam, standart pikirku. Pak satpam membantu memanggilkan ojek, “Berapa ongkos kalau ke tepi sungai Batang Hari?” tanyaku, “Tujuh ribu” jawab si tukang ojek, hihihi…ternyata lebih murah lagi, tanpa menawar lagi, aku langsung naik ke motor. Sebelumnya tentu pakai helm dulu dong.
Aku dibawa melihat sungai Batang Hari dari arah Gubernuran (Rumah Pak Gubernur Jambi), pagi itu sungai Batang Hari terlihat sangat tenang….walau debit airnya terlihat agak berkurang dari biasanya.
Setelah sempat memotret sungai dan situasi di sekitarnya, aku melanjutkan perjalanan, aku bilang sama bang Ojek, untuk minta diantar ke daerah Sipin, dimana aku pernah tinggal di sana antara tahun 1976-1977, saat itu Papaku berdinas di Korem Gapu (Garuda Putih). Aku ingin melihat kembali rumah dinas yang pernah kami tempati dulu, serta SD Adhyaksa yang sempat aku duduki kelasnya. Dulu saat kelas 2 SD, aku paling suka kalau disuruh menyanyi di depan kelas, karena aku bisa memamerkan ‘lagu2 baru’ dari kaset penyanyi cilik idolaku, yang kasetnya sudah aku beli sebelum teman-teman sekelasku memilikinya. hehehe…. sudah pasti bisa ditebak, Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Sari Yoek Koeswoyo, Joan Tanamal, Diana Papilaya, Dina Mariana, Fitria Elvi Sukaesih, Bobby Muksin Sandora, Sandra Dewi (bukan sandra dewi yang sekarang lho), the Big Kids (Lidya dan Imaniar bersaudara), Liza Tansil, Santi Sardi dan Ira Maya Sopha. Tuuuuh kan aku hapal semua, lha aku punya kaset-kasetnya jelas hapal! tapi kiniiii….. jangan harap aku mau nyanyi di depan orang banyak, asli….sudah hilang suaraku, hihihi….ditelan bumi. Mending disuruh bacain akta aja yaaa, hehehe…(yee ini emang sudah kerjaannya).
Sempat motor yang aku tumpangi dihentikan pak Polisi “Wah….gawat nih bakal kena tilang pagi-pagi kasian amat nih bang ojek” pikirku. Lantas si bang Ojek bilang “aku ngojek pak” maksudnya si bang ojek dia bukan pengendara motor biasa, tapi sedang membawa penumpang. “Hidupkan lampu motormu” jelas pak Polisi, setelah si bang ojek menghidupkan lampu motornya, kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan, Alhamdulillah…selamat dari uang tilang, hehe…. gimana judulnya kalo pagi-pagi sudah maknyun gara-gara ditilang polisi.
Aku melewati Rumah Sakit DKT (milik ABRI) dimana adikku yang bungsu di lahirkan di sini. Masih tetap asri seperti dahulu, dengan pohon-pohon besar yang ada di halaman depannya. Kini kota Jambi sudah memiliki Rumah Sakit swasta yang cukup besar yaitu RS. Thresia.
Masjid Seribu Tiang masih kokoh berdiri ditempatnya, aku selalu melalui masjid ini jika mau pergi ke pasar Angso Duo (jika menemani mamaku belanja sembako) atau ke pasar Mega (jika ingin membeli busana atau aneka keramik).
Komplek Perwira di Sipin, yang dulu sempat kami tempati, keadaannya sudah jauh lebih bagus dan teratur. Jalanan komplek sudah diaspal, kalau dulu malah cuma tanah bebatuan aja. Aku memotret rumah masa kecilku dulu, dimana aku paling suka ngumpulin teman-teman untuk main ke rumah, yang ada rumah kami jadi tambah acak-acakan hihihi…..ujung-ujungnya aku diomelin mamaku, gara-gara bikin kotor rumah. Rumah Dinas ini lebih rapih dan sudah tembok permanen, kalau dulu di th 76-77, rumah-rumah dinas di komplek ini, dalam kondisi semi permanen, setengah bagian atasnya dibuat dari kayu, setengah bagian bawahnya dari tembok semen. Aku sudah hilang kontak sama sekali dengan teman-teman masa kecilku di Jambi ini, Terakhir kontak dengan mereka, saat jaman ‘Sahabat Pena’ waktu SMP dan SMA, dulu kan nggak ada Facebook, yang ada ‘Korespondensi melalui surat mennyurat’.
Ada musholla kecil di samping rumah dinas yang kami tempati, tapi ini musholla milik warga kampung yang tanahnya bersebelahan dengan komplek perwira yang kami tempati. Jadi selain main sama anak-anak komplek, aku juga suka main dengan anak-anak kampung dekat rumahku, yang jelas aku selalu kalah kalau main gundu dengan mereka, hahaha…. dibeliin gundu sekotak penuh oleh papaku, separohnya habis dikalahin sama anak-anak kampung yang jadi teman mainku. Besok-besoknya aku kapok main gundu sama mereka, hihi… gantinya main masak-masakan aja, yang ada malah nyabutin batang singkong yang masih muda, yang umbinya kami goreng buat main masak-masakan, pokoknya permainan masa kecilku dulu selalu bersentuhan dengan alam, nggak seperti sekarang, anak-anak hobbynya main games (tapi emang nggak bisa disalahin juga sih hari gini kan mainan kebanyakan berbasis IT). Keadaan puluhan tahun yang lampau masih tergambar di otakku, jadi sedikit mellow bisa bernostalgia kembali, terkenang wajah-wajah sahabat masa kecilku dulu, dimana ya mereka kini?
Melihat sekolahku dulu, SD Adhyaksa hanya selintas, sudah jauh lebih mentereng, aku nggak sempat masuk ke dalamnya, karena waktuku untuk putar-putar kota hanya sebentar, Jam 10 pagi aku sudah harus berada di hotel kembali, karena resepsi pernikahan sudah dimulai saat itu. Ada satu tempat yang luput aku kunjungi, tapi aku nggak yakin apa tempat itu masih ada, yaitu toko buku “Gloria”, satu tempat yang paling aku sukai, karena aku selalu minta dibelikan buku cerita ‘Seri Lima Benua’ terbitan Gramedia, yang dulu sempat aku koleksi, tapi karena papaku berpindah tugas beberapa kali, jadi koleksi buku-buku masa kecilku ikut ‘bubar sana-sini’ hiks… kunjungan ke toko buku adalah ‘rayuan maut’ dari papaku agar aku mau dibujuk pergi ‘ke dokter gigi’ hehe… kalau mau periksa gigi, pasti papaku akan bilang “Pulang dari dokter, kita langsung beli buku ya!” asli….aku tidak takut melihat jarum suntik dan tank gigi-dokter gigi, soalnya aku ngebayangin bakal dapat buku baru lagi, hihihi….kalau sekarang aku lihat alat-alat itu rasanya serem banget!
Ada satu jembatan yang baru kulihat di kota Jambi, namanya ‘Jembatan Makalam’, kalau malam hari (khususnya malam minggu) di jembatan ini jadi ajang ‘ngeceng’ and ‘kongkow-kongkow’ ABG dan anak gaul kota Jambi, aku sempat melihat gaya mereka saat ngeceng malam sebelumnya. Mobil-mobil custom modiv parkir berjejer sepanjang pinggir jembatan, aku bertanya ke saudaraku, apakah mereka akan buat acara ‘kebut-kebuatan’ ala speedy gonzales, ternyata….kalau sudah mendekati pukul 12 malam, polisi mulai berpatroli di sini, alhasil mereka harus bubar jalan, hehehe… kasian deh. Sebenarnya masih ada satu jembatan yang cukup terkenal di Jambi namanya ‘Jembatan Aur Duri’ tapi berhubung arahnya agak keluar kota, jadi nggak sempat menjelajah sampai ke sana.
Walaupun hanya sebentar dan selintas lewat, kota Jambi sudah jauuuuh berubah, sudah sangat padat, di setiap sudut jalan selalu ditemui bangunan Ruko atau komplek Ruko (rumah toko), hmmm….sepertinya hobby buat Ruko orang Jambi ini. Kota Jambi suasananya nggak terlalu jauh berbeda dari kota Bandar Lampung, cukup tenang dan tidak terlalu macet. Selama di perjalanan, aku ngobrol dengan si bang ojek, jadi sedikit tahu tentang profile nya, dia ini perantau dari daerah Lahat (Sumatera Selatan), yang bermigrasi ke kota Jambi sejak tahun 90-an. Perjalanan by ojek pagi itu cukup nyaman bagiku, dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada muter-muter pakai taxi.
Acara resepsi pernikahan adik sepupuku berjalan cukup meriah (buat Indah dan Insan semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah), dengan iringan musik qasidahan dan irama padang pasir. Setelah cukup beramah-tamah dengan keluarga besar mama dan papaku, kami memutuskan pulang ke Palembang pada Minggu siang pukul 13.00, kami tiba di rumah pukul 18 sore. Karena hari Senin kami harus kerja kembali, pukul 20.00 malam kami harus melanjutkan pulang ke Bandar Lampung. Alhamdulillah tiba dengan selamat pada pukul 4 subuh. Cukup melelahkan selama 13 jam perjalanan dengan mobil melalui rute yang tidak mulus, tapi kami bahagia sudah bisa bersilaturrahim dengan keluarga, rasa lelah dan penat hilang sudah.
AMH, BDL 03062010.
June 10th, 2011 at 20:35
halo, saya juga dari Jambi. dari dulu saya penasaran sekolah yayasan xaverius di jambi tuh di mana, ya?? saya googling blm dapat-dapat. hehehe. makasih.
June 17th, 2010 at 09:07
Bunda, terimakasih liputannya, semuanya sangat menarik, perjalanannya, kulinernya, silaturahminya, dan semoga pernikahan Indah dan Insan langgeng sampe kakek nenek.
June 17th, 2010 at 01:29
Ada temen kuliahku alumni Xaverius. Orang Jambi Juga. Dari kuliah sampai sekarang msh kontak
June 17th, 2010 at 01:13
@Cik Lani, hehehe….sorry baru bisa komen nih, baru sempat buka Baltyra ni malam, maaf yaa selalu bikin kamu lapar gara2 foto makanan yg ku upload.
@Mba Alex, makasiiiih…aku masih dianggap kek mahasiswa, hehe…iya juga sih masih kuliah lagi, Temenmu yg asal Jambi itu pasti lulusan dari SMA Xaverius, satu sekolah katolik yg ngetop di Jambi. Penulis pula…hmmm nostalgia.
@Bung ISK, soal lempok kalo harga ada dikisaran 35-40 ribu/ kilo. Ntar kalo mau lempok bisa aku titipkan di Buto JC. thanks infomu kalo duren bisa bikin awet muda, hehe…aku nggak kuat makan duren banyak2, ada sakit maag.
@Mba DA, tempoyaknya sudah diterangkan oleh El Nino ya..
@Elnino, thanks penjelasannya.
@Bunda SU, ayooo ikut serta ke Jambi, hehe…makasih ya Bunda sudah mampir baca.
June 16th, 2010 at 12:29
Ikut….ikut…..
June 16th, 2010 at 08:55
Adhe awet muda karena sering makan lempok… Duren mengandung zat wetda (Durio zibethinus L), yang efektif mengencang kulit yang layu dan kering.
June 16th, 2010 at 08:10
DA : tempoyak duren itu duren yang dibusukkan / difermentasi. Biasanya untuk sambal ato campuran masakan. Enak lho…
Ham : kaganangan apaan Ham? Kaga nahan enaknya?
ISK : duh yang penyembah duren n lempok…
Tanya Ami tuh nomer telponya…
June 16th, 2010 at 00:02
Adhe..itu pic yang berbaju dan jilbab hitam Adhe yak? kok masih muda banget sih nampaknya….spt mahasiswi gitu.
Hem Jambi sudah ramai ya…jadi inget waktu SMA dulu punya sobat pena anak Jambi (sekolahnya di sekolah katolik gitu), pas aku masuk UI eh dia nyamperin ke kampus…wuaduh mpe deg2an soalnya dia jg penulis muda yang cukup produktif di kompas pula…huhuhu nostalgia.
June 15th, 2010 at 22:55
AIMEE, ADHE : buah kemang? belum pernah liat apalagi makan, emank spt kweni baik btk dan rasanya? tp td dibilang baunya berbeda……klu kweni aku gak suka dimakan begitu sj soale getahnya bikin tenggorokan gatel, betul sih ngupasnya hrs tebal…..klu pakel itu bukannya jenis mangga? kayaknya pernah makan lo……..klu mangga tali jiwo yg kecil2, ijo tp manis rasanya……
apakah Jambi itu di sum-sel? Adhe liat foto2 masakan mamamu, duuuuuuuuileeeee……kaga tahan lagi neh….liurku ngucur bak keringatku dipagi hari ini krn lari…….lariiiiiiiii…….gak nahaaaaaan lagi