Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Sabor A Mi : Ketika Hasil Karya Kita Menuai Tanggapan Untuk Orang Lain

Tuesday, 15 June 2010

Viewed 1730 times, 1 times today | 63 Comments |

Linda Cheang – Bandung


Salam para Sobat Baltyrans semua,

Kita semua di forum Baltyra ini sudah seringkali dimanjakan dengan hasil karya fotografi dari rekan-rekan kontributor, baik yang memang fotografer sudah pro seperti Gandalf, maupun yang masih tahap amatiran belajar seperti saya ini.

Lalu, apa hubungannya judul di atas dengan alinea pembuka tsb?

Begini segenap Sobat  Baltyra. Artikel ini saya tulis karena hati saya sedang gundah, maka tulisan saya kali ini lebih ke cara saya melampiaskan uneg-uneg saya dengan cara yang elegan. Sebab ada seseorang yang tinggal seatap dengan saya, sudah mengambil karya –karya fotografi saya. Kemudian ketika orang ybs melakukan olah sentuhan ulang terhadap karya-karya foto saya (dan hasil jepretan keponakan saya ketika gunakan kamera milik saya), menggunakan beberapa perangkat lunak, tanpa adanya pemberitahuan hasil karya siapa, menaruhnya di album foto di akun Facebook miliknya dan berbuat foto-foto tsb diakui sebagai hasil jepretannya. Akhirnya malah orang tsb yang mendapat pujian dan kritikan dari karya foto-foto tsb dari rekan-rekan ybs di akun Facebooknya.

Sejujurnya, ketika akhirnya saya berhasil mendapat bukti nyata, bahwa karya-karya foto saya telah dipakai dan bahkan  mendapatkan pujian dan justru orang tsb yang merasa bangga atas pujian tsb karena merasa itu semua adalah hasil karyanya sendiri, padahal hanya diolah sentuh ulang, saya amat merasa terganggu dan kecewa. Sebab orang tsb sudah “bermain” dengan tidak jujur, menggunakan karya-karya foto orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebenarnya saya tidak merasa keberatan jika hasil karya foto-foto saya atau hasil karya saya dalam bentuk apapun, bisa berguna bagi khalayak, termasuk orang tsb jika ybs ingin belajar melakukan olah atau sentuhan terhadap karya fotografi,  dengan ketentuan bahwa orang ybs mencantumkan siapa yang telah menjepret foto-foto tsb. Ini berlaku tak hanya terhadap hasil karya saya tetapi semestinya hasil karya siapapun layak untuk dihargai.

Beberapa kali saya menegur memperingatkan orang tsb agar mengakui bahwa foto-foto hasil olahannya itu adalah hasil karya saya. Bahwa saya keberatan orang ybs membuat kesan seolah-olah gambar-gambar itu hasil jepretan orang itu sendiri. Orang tsb dengan entengnya cuma berkata “iya” tetapi tidak ada tindakan apapun. Bahkan ketika satu hasil karya fotografi saya, berupa pilar-pilar bangunan Air Mancur mendapat pujian serta masukan positif tentang lebih fokusnya gambar diambil, orang tsb bisa-bisanya dengan enteng menanggapi dengan kesan seolah-olah foto tersebut hasil jepretan ybs.

Hal yang membuat saya jadi “meradang” terhadap orang itu adalah karya fotografi tsb saya ambil dari hati saya. Dengan cara menempatkan kamera dari HP Sony Ericsson k610i ke dada saya, dengan tujuan agar hati saya yang mengambil gambar tsb, bukan dengan mata saya. Maka diharapkan gambar yang dihasilkan dari hasil jepretan hati saya itu, menjadi gambar yang berbicara jujur, apa adanya. Koq, bisa-bisanya, yah, orang tsb berbuat keterlaluan seperti itu kalau tidak mau saya katakan sebagai perbuatan BIADAB!Lebih parahnya lagi, ketika satu hasil jepretan keponakan saya berupa Kawah Ratu dari Gunung Tangkuban Parahu menuai pujian, salah satunya berupa pujian “ nice shot!

Pada akhirnya saya berpikir saya harus bertindak agar tidak lagi ada permainan tidak jujur  demi mendapat penghargaan dengan cara memanfaatkan hasil karya orang lain. Saya berpikir, daripada saya meradang dengan cara marah-marah yang bisa menghabiskan energi saya namun oleh orang ybs tidak akan didengar apalagi dilaksanakan, maka saya memilih cara yang lebih ELEGAN. Di akun Facebook saya, sengaja saya buat beberapa album foto-foto berisi hasil jepretan saya dan satu album khusus hasil jepretan keponakan saya, berikut pengantar untuk membuktikan bahwa foto-foto tsb ada orang lain yang membuat bahwa ada seseorang telah sengaja memanfaatkan secara tidak sah atas hasil karya fotografi tsb, untuk ybs melakukan  olah dan sentuhan ulang, kemudian dibuat seolah-olah diakui sebagai hasil karyanya sendiri.

Sobat Baltyrans semua. Sengaja saya pakai frasa “orang itu” dan kata “ybs” karena saya berusaha untuk seobjektif mungkin menyampaikan uneg-uneg saya ini dengan berusaha agar saya tidak merasa benci terhadap orang tsb sebab orang tsb masih ada relasi kekerabatan dengan saya, jadi saya mesti menjaga harga dirinya pula. Saya mengerti dan mamaklumi bahwa orang itu, melakukan hal demikina karena ingin mendapatkan penghargaan, ingin unjuk “kabisa” sekalipun dengan cara yang kurang terpuji. Walaupun amarah dan kekecewaan jelas ada ada, tetapi saya tidak mau amarah dan kekecewaan malah merusak saya sendiri.

Semalam sebelum saya buat tulisan ini, saya menegurnya untuk terahir kali, bahwa saya keberatan karya-karya fotografi saya dipakai dan diakui sebagai hasil karyanya. Orang tsb malah menantang saya dengna mengatakan bahwa saya hanya perlu menghapus semua hasil karya olah dan sentuhan ulang olehnya. Saya tantang orang tsb balik dengan cara, saya tegas meminta agar orang itu segera menghapus semua hasil karya fotografi jepretan saya dan keponakan saya, dari akun Facebooknya. Sebab jika itu tidak dia lakukan, maka saya punya cara lagi untuk membuat dirinya bisa balik dipermalukan oleh rekan-rekan ybs yang sudah kadung memujinya.  Cara saya ini rupanya berhasil membuat dia patuh pada permintaan saya, dan saya sudah periksa lagi, foto-foto hasil jepretan saya dan keponakan saya, sudah dihapus semua dari akun Facebooknya. Namun entah, ya apakah dia sudah menghapus dari akunnya di  Portal Penggemar Fotografi. OK, lah, sampai di sini masalah saya anggap selesai dan saya iuga sudah mengampuni (iya, benar,  saya mengampuninya, bukan sekedar memaafkan) orang itu atas kelakuan keterlaluannya.

Sobat Baltyrans semua. Betapapun kejadian tidak enak ini memberikan pelajaran berharga untuk saya.  Bahwa saya diingatkan seringnya saya teledor dengan tidak menjaga/melindungi hasil karya saya sendiri.  Saya beranggapan ketika hasil karya saya disimpan di komputer,  dan komputernya itu di[pakai bersama., masak iya, orang seatap akan tega melakukan perbuatan kurang terpuji. Nyatanya, memiliki relasi kekerabatan dan tinggal seatap, tidak menjamin orang tidak akan berbuat curang! Bahwa saya juga diingatkan untuk  semakin waspada.

Berikut saya tampilkan karya-karya fotografi saya yang sempat seolah-olah diakui sebagai hasil jepretan orang itu. Ada beberapa karya fotografi sengaja tidak saya olah dengan sentuh ulang perangkat lunak fotografi, terutama untuk hasil karya hati saya, Menara Mesjid Agung Bandung dan Pilar Air Mancur Alun-Alun Bandung, serta Pisang Goreng Mayonaise dari Rumah Makan Sate Domba Afrika. Itulah semua jejak saya (sabor a mi) dan saya jadikan judul tulisan ini.  Saya percaya, betapapun saya telah dicurangi, tetapi jejak saya pasti akan tetap kelihatan dan dapat dirasakan pada karya-karya saya. Saya juga masih bisa melihat sisi positif dari kejadian tidak ini, yaitu, ketika saya dicurangi dengan karya-karya saya diakui jadi milik orang lain, berarti saya telah menghasilkan karya yang bagus, indah, bermutu  makanya sampai “dibajak”. Artinya, saya harus berkarya lebih baik lagi dari yang sudah saya buat.

Selain foto, saya juga lampirkan link lagu Sabor A Mi yang dipopulerkan oleh Luis Miguel, seorang penyanyi asal Mexico.  Saya minta bantuan kepada Penjaga Gawang Baltyra, kalau bisa,   agar lagu tsb bisa terdengar ketika artikel saya ini dibaca oleh siapapun yang membukanya, mengiringi pembacaan artikel ini.

Kepada Sobat Baltyra yang hobi jepret-jepret, jika tidak ingin dicurangi, usahakan agar hasil jepretan Anda diberi “tanda tangan” setelah dipindahkan dari kamera Anda. Apalagi jika Anda berbagi komputer. Ini sebagai cara untuk melindungi hasil karya Anda sendiri, dan agar Anda tidak perlu mengalami kejadian seperti yang saya alami. Jika Anda tidak memiliki perangkat lunak  untuk “tanda tangan”, dan Anda masih ingin foto Anda ditampilkan di Baltyra kita ini, maka sebaiknya minta kepada Penjaga Gawang Baltyra untuk sudi membubuhkan cap meterai sebagai bukti tanggung jawab Anda dan Baltyra melindungi hasil karya Anda.

Mari kita semua, kita ini adalah orang-orang beradab, kita sama-sama belajar untuk berkarya tetapi jangan lupa pula untuk menghargai hasil karya orang lain.

Salam

Linda Cheang

Juni 2010

Share This Post

Posted by Tuesday, 15 June 2010 on 02:15.

Categories: Info. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

63 Responses to “Sabor A Mi : Ketika Hasil Karya Kita Menuai Tanggapan Untuk Orang Lain”

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

  1. 63
    lindacheang Says:

    kornelya : ya, selama dunia ini maish ada, selalu ajah ada bajak-membajak

    alexa : memang masih banyak orang yg maunya jalan pintas. yg mhs ITB S3 itu akhirnya ketauan jg njiplak karya ilmiah warga Polandia. entah bagaimana nasibnya si plagiator sekarang.

    beteweh, foto yang menara mesjid itu memang salah satu foto terbaikku, jadi kayanya mesti membiasakan diri untuk maklum, foto yang bagus pasti ada kemungkinan dicolong…

    Emak SU : salam klik!

  2. 62
    sil Says:

    Memotret dgn hati, klik…… ala Linda

  3. 61
    alexa Says:

    wah membajak karya orang lain sepertinya sudah jadi habit sekarang ya…nah itu thesis S3 ITB kan juga hasil bajakan ya…
    aku enggak tau kenapa sih orang saking ingin eksis sampe mo merendahkan diri sedemikian rupa…

    aku paling seneng sama pic yang menara mesjid agung itu…baguuus euy

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)