Serba Serbi Tentang Buddhisme

Aimee Bangka Tuesday, 15 June 2010

| Viewed 1596 times, 2 times today | 183 Comments |

Aimee Bangka


Hai sobat Baltyra, Saya muncul lagi dengan artikel seputaran Buddhisme ya. . . jangan bosan dan merasa . . ‘akh, si Aimee hanya nulis tentang itu saja’. Hikz. . habis gimana ya, yg saya tau ya seputaran ini saja.

Baiklah teman, mari dengarkan saya bercerita ya.

VEGETARIAN

Umat Buddhis itu banyak yang vegetarian. Bahkan ada teman yang vegetarian taatnya ampun-ampunan. Gak mentolerir sedikitpun bahkan secuil daging. Kemana mana susah ngajak si Vege ini, kalo kita makan dia ndlongop saja, palingan pesan minuman. Kalo makan siang di kantor bawa bekal sendiri, otomatis gak pernah ikutan jalan keluar bareng cari makan, atau kalaupun mau ngikut. Dia dengan kotak bekal nya pasti seiring sejalan. Asal jangan gak ada makanan vegetarian, dia melalap pager tanaman depan perkantoran. nanti malah jadi saingan sama embek peliharaan pak satpam di kampung sana.

Sesungguh nya apakah makna dari vegetarian?

Sepanjang pengetahuan saya, vegetarian bukan berarti “hanya memakan sayuran”, dan memposisikan diri menjadi herbivora. Vegetarian bukan berasal dari kata vegetable yang berarti sayuran. Namun vegetarian berasal dari kata “vegetus”, dari bahasa Latin. yang berarti “aktif, yang hidup, teguh, bergairah, dan kuat”. Kalau saya menalarkannya dalam logika sempit saja, berarti bergaya hidup sehat (makanan sehat).

Apakah vegetarian wajib dalam agama Buddha? Setau saya tidak! Kenapa?

Seperti dalam ajaran agama Islam mengenal Hukum Sunnah dan Wajib. Maka vegetarian dalam agama Buddha dikategorikan sebagai Sunnah. Dianjurkan namun tidak diwajibkan. Pernah diceritakan saat Sang Buddha Gautama melakukan pindapatta (berjalan kaki memberikan kesempatan kepada umat untuk mendanakan sesuatu kepada bhiksu). Saat itu ada seorang anak segera berlari memberikan Sang Buddha pasir. Segera orang orang hendak menarik kembali pasir tersebut karena dinilai tidak sopan.

Sang Buddha mencegah nya, dan menjelaskan kepada orang orang. Jika saat ia melakukan pindapatta, beliau tidak hanya bermaksud mengumpulkan dana makanan dan pakaian dari umat awam. Namun inti dari pindapatta yang beliau lakukan adalah “mengumpulkan hati yang berbelas kasih“. jadi sekalipun dikasih pasir atau daging, beliau akan menerima nya. Mengapa dikatakan sekalipun daging beliau terima?

ada hukum welas asih yang tertulis tentang memakan daging bagi seorang bhiksu.

- Jika hewan tersebut dibunuh dihadapannya, dilihat olehnya. Maka daging tersebut tidak boleh dimakan. tak perlu penjelasan seperti nya sudah mengerti ya.

- Apabila daging tersebut sengaja dipotong untuk dirinya juga tak boleh dimakan. misal ibarat kita ulang tahun, memotong ayam untuk merayakan ulang tahun kita, ini termasuk tidak boleh. Saat kita diberkahi umur yang cukup panjang, artinya harus memperbanyak amal dan berbuat baik. Untuk apa menghilangkan nyawa seekor ayam hanya untuk menyatakan saya sudah bertambah setahun.

Lalu Aimee, apa yang boleh??

- Jika daging tersebut dibeli di pasar oleh orang yang menjual nya untuk menghidupi anak dan istri nya, masih boleh kita makan.

- Jika kita tidak melihat pembunuhan terhadap daging hewan yang kita makan.

- Yang lain2 saya kurang tau.

Jadi inti nya, menjadi seorang Buddhis tidak berarti harus vegetarian, menjadi vegetarian bukanlah pasport untuk mencapai alam sukhavathi (masuk surga). Namun menjadi vegetarian dapat membantu kita mengerti arti welas asih, untuk tidak menghilangkan nyawa makhluk ciptaan Tuhan yang lain dengan semena mena hanya karena kita adalah makhluk ciptaan tertinggi karena dikarunia pikiran. Jangan hanya karena lidah pengen mengecap daging ini dan itu, jadi kita langsung main bunuh saja untuk memuaskan nafsu makan kita. Hendaklah kita makan karena kebutuhan, seperti orang yang mengidap penyakit, butuh makan daging tertentu untuk stamina dan kesehatannya itu masih diperkenankan.

Sekali lagi kesimpulan saya, vegetarian bukan mutlak, namun pilihan agar hati kita membina rasa welas asih terhadap sesama makhluk. Banyak kok yang beralih menjadi vegetarian karena faktor kesehatan. nah mungkin inilah vegetarian yang sesungguh nya seperti arti dari vegetus : menjadi sehat dan bergairah (jadi inget Alexa si bibir merah yang bergairah).

BERJODOH

Dalam ajaran agama Buddha mengenal kata Jodoh, namun tidak dalam cakupan sempit antara jodoh wanita dan pria kemudian menuju pelaminan ya. (kalo yang ini khusus buat si Ilhampst saja – yang jodoh nya gak kunjung sampai). Disini kata jodoh bermakna lebih kepada kesempatan. Kesempatan bertemu walau itu sedetik, semenit, sejam atau bahkan bertahun atau seumur hidup. Kesempatan untuk membina hubungan disinilah makna berjodoh dalam agama Buddha.

Ngomong- ngomong soal jodoh. Buddha Gautama sendiri mempunyai jalinan jodoh yang sangat erat dengan makhluk dan benda yang terlahir pada hari yang sama dengan beliau. Hal hal tersebut adalah:

- Putri Yashodara :  kemudian menjadi istri Beliau ketika beliau masih menjadi Pangeran Siddharta

- Pangeran Ananda : kemudian menjadi pembantu tetap sang Buddha

- Channa : kemudian menjadi kusir saat masih menjadi pangeran, dan orang yang menyertai pangeran meninggalkan istana pada malam hari untuk memutuskan membina diri menjadi pertapa.

- Kanthaka : Kuda putih pangeran Siddharta, juga adalah kuda yang digunakan untuk melarikan diri dari istana bersama Channa.

- Pohon Boddhi : (Ficus Religiosa) yang merupakan tempat sang Buddha bermeditasi mencapai penerangan.

Ini adalah yang paling populer dalam catatan riwayat sang Buddha, namun ada lagi yang lain seperti Menteri Kaludayi yang mengundang beliau kembali ke Kapilavasthu. Semua nya terlahir pada bulan purnama di hari yang sama.

Jadi kita pun walau hanya saling mengenal via Baltyra, facebook atau media online sejenis lainnya. Saya rasa kita berjodoh untuk saling berkenalan dan membina relasi. Sebaik baiknya menjaga jalinan jodoh agar tidak ada konflik sehingga menyebabkan kita harus mengakhiri jalinan jodoh ini dengan akhir yang tak baik. Contoh : sapa tau ya akhir nya ilhampst dapet jodoh disini dan berakhir baik :). Makan-makan plus kopdar deh kita.

KARMA & REINKARNASI

Karma terjemahan dalam bahasa Inggris nya adalah Cause n Effect. Dalam bahasa Indonesia pun kita mengenal peribahasa “siapa menabur angin, dia akan menuai badai”. Inti nya berbuat sesuatu akan menanggung akibat nya. Karma tidak selalu bermakna negatif loh, karma adalah sesuatu yang didapat karena hal yang kita lakukan, jadi bisa aja karma itu karma baik, tidak melulu karma itu berarti buruk. Dalam ajaran agama kami mengenal beberapa tingkat karma. Karma jangka pendek, sedang dan panjang. Maksud nya apa sih si Aimee ini. kok pake panjang pendek segala. hihihihi. . .

Gini, karma jangka pendek. Misal baru saja kita mendermakan uang ke fakir miskin di jalan, sampe di kantor, ada teman yang berbaik hati bawain kolak pisang untuk sarapan pagi. Anggap ini sebagai contoh saja. Inti nya datang balasannya cepat.

Jangka sedang itu seperti contoh kakak saya mungkin ya, saat itu kejadiannya saya baru saja datang ke Jakarta. Kakak saya habis-habisan duit nya, dari ngontrak rumah buat kami, daftar adik saya sekolah di Jakarta, dan biayain kami semua naik pesawat kesini. Uang kakak saya habis bener-bene- habis, tinggal serebu perak di dompet. Dia diajak ke Bali bersama pacarnya (sekarang suami) dan keluarga pacarnya. Semua di tanggung sama pacarnya sih.

Nah ada saat dia jalan jalan nyebrang ke suatu pulau. Di situ ada tempat sembahyang, dan kotak amal bagi yang ingin berdana sukarela. Kakak saya bingung kasih apa gak uang serebu perak tersebut. Kata orang tua jaman dulu, dompet pamali kosong. Minimal harus ada isi walau dikit buat pancingan. Akhirnya kakak saya milih sumbangkan uang serebu milik dia satu-satunya itu. Tapi bertahun tahun kemudian, setelah punya anak yang sudah mulai beranjak besar, kakak saya syukur sekali, tidak mengalami kesulitan keuangan sampai saat ini, termasuk berkecukupan.

Pernah saya dengar cerita di suatu majalah, suatu komunitas agama ingin membangun suatu genta atau gong. Mereka mempersilahkan siapa saja yang ingin menyumbang untuk membantu pembangunan tersebut. Pada hari terakhir pengumpulan sumbangan seorang anak datang memberikan sumbangan sebuah koin yang sangat lusuh. Mungkin itu adalah harta dia satu-satu nya. Oleh pemuka agama menolaknya, karena berlandaskan kasihan nanti dia gak punya uang lagi kalo disumbangkan. Namun si anak bersikukuh tetap menyumbangkan koin tersebut. Oleh tetua tetua, koin tersebut disimpan saja karena nilainya sangat kecil, toh tetap tak membantu banyak dalam pembuatan gong.

Namun ternyata pembuatan gong tidak pernah sempurna, selalu saja ada cacat atau retak. Akhirnya setelah di ingat-ingat mengenai sumbangan sang anak kecil, tetua-tetua agama berinisiatif, meleburkan uang koin tersebut dalam pembautan gong, setelah itu gong bisa tercetak sempurna.

Di mata Tuhan karma baik sekecil apapun itu dinilai dari hati yang bersungguh-sungguh, bukan karma baik dinilai dari nominal dan besarnya.

Karma jangka panjang, mungkin mengenai ini hanya kami umat Buddhis yang meyakini nya. Bahwa karma semasa hidup bisa terbawa sampai kehidupan mendatang setelah reinkarnasi. Saya sebagai seorang Buddhis pun meyakini adanya reinkarnasi. Secara mendalam saya sendiri belum mempelajari tentang reinkarnasi. Kehidupan sekarang pun adalah karma kehidupan lampau.

Menurut ajaran agama Buddha, menjadi manusia belum terlepas dari penderitaan karena masih harus menjalani siklus kehidupan lahir, tua, sakit dan mati. Mencapai kehidupan sejati dengan membina diri adalah cara mencapai surga sukhavathi, menjadi Buddha dan tidak terlahir kembali menjadi manusia.

Lalu mungkin banyak yang bertanya, saya sudah berbuat baik, namun mengapa musibah dan malapetaka tetap saja datang, sedangkan orang itu berbuat tidak baik dia tidak mengalami apa yang saya alami. Bukankah harus nya yang jahat dapat balasan, mengapa saya yang sudah rajin sembahyang, berbuat baik, berdana malah dapat musibah?

Saya paham jika itu menjadi pertanyaan anda, sekali lagi ini masalah karma. Begini, berpikirlah. . . saat anda mengalami kecelakaan dan patah kaki misalnya. Seandainya saja saya tidak rajin menabung amal baik, mungkin saja saya tidak hanya sekedar terluka dan patah kaki. Namun mungkin saja saya akan lebih parah dari ini. Mungkin karma baik saya belumlah cukup, sehingga saya harus menerima ini. Lalu mengapa yang berbuat jahat tidak celaka, mungkin karena karma baik nya dimasa lalu masih belum habis.

Percayalah sekali lagi, manusia punya hati, langit punya mata. Saat kau berbuat baik, memang rejeki belum datang, namun musibah sudah menjauh. Saat kau berbuat jahat, memang musibah belum datang, namun rejeki sudah menjauh.

Categories: Info
Tags:

183 Comments to “Serba Serbi Tentang Buddhisme”

Pages: [19] 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 … 1 »

  1. 183
    HN Says:

    Aimee, makasih artikelnya ya.. Bagus Meii…

  2. 182
    awen Says:

    nice article , nambah wawasan

  3. 181
    ilhampst Says:

    Mbak Lani, disana dingin, makanya pake baju tebel gitu. Hihihi…
    Aimee : walah, biar jelek juga asal bisa menyenangkan orang lain plus banyak duit bakal banyak yang suka hehehehe uhukkk hukk

Pages: [19] 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Komentar Terbaru

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com