Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Libur Dadakan, Jepret Dadakan

Wednesday, 16 June 2010

Viewed 2967 times, 3 times today | 68 Comments |

Anoew – SumSel

 

Long Weekend kemarin di mana hari Jumat merupakan hari libur nasional yang disambung ke Sabtu sampai Minggu benar-benar merupakan sesuatu yang luar biasa buat saya untuk melewatkan waktu bersama keluarga ke Pantai Pangandaran, yang terletak di propinsi Jawa Barat. Betapa tidak luar biasa jika, waktu berkumpul dengan keluarga yang sangat terbatas dikarenakan target pekerjaan di pulau seberang yang menuntut saya untuk jarang-jarang pulang. Nah, kebetulan target tercapai dan atas kemurahan boss yang nggak tega melihat anak buahnya haus belaian dan dan kasih sayang, akhirnya bolehlah saya pulang sebentar selama 4 hari untuk sekedar menuntaskan rasa kangen ini ke keluarga.

Dear Baltyrans,

Yang namanya spontan dan di luar rencana, ya begini inilah jadinya. Pertama Mak’e Ucrit yang ingin ke Bandung dalam rangka menengok temannya sehabis melahirkan, ditambah pula dengan saya yang bermaksud sekalian menjumpai seorang rekan komunitas di Bandung. Tapi orang yang dituju ternyata malah pergi ke Tasikmalaya menghadiri reuni SD dan malah menyalahkan saya, “kenapa gk bilang-bilang dulu dari kemarin..” cetusnya. Sedangkan Si Ucrit yang sudah merasa bosan pergi ke Bandung, kali ini menginginkan suasana lain tapi bingung hendak kemana.

“Ke Garut aja yuk, mau nggak?” tanya saya.

Dia menggeleng meskipun sudah saya jelaskan bahwa disana ada pemandian air panas dan dia bisa berenang sepuasnya.

“Ke Tasikmalaya?”

“Aduh ayaaaaah…., ada apa disana..?!”, protesnya. “Paling-paling juga Salak Manonjaya..” sambungnya lagi dengan raut muka bosan.

“Hmm… ke Pangandaran aja yuk, mau nggak?” kali ini istri saya yang mengajukan usul.

“Horeeeeeee….!!!” Jerit Si Ucrit kegirangan. “Dari tadi doooong….!”  Sambutnya girang sambil menjentikkan jari seolah mendapatkan ide cemerlang dalam mengisi liburan kali ini.

Saya tersenyum kecut membayangkan betapa jauh perjalanan kali ini, dan mengurungkan niat mau keluar di pintu tol Pasteur lantas mengarahkan kendaraan terus menyusuri jalan tol Purbaleunyi sampai penghabisan di Rancaekek. Sampai di Pangandaran sudah gelap, yaitu sekitar jam delapan malam dan bisa ditebak, hampir semua penginapan, hotel, guest house maupun wisma sudah terisi penuh. Maka tinggallah saya yang mulai bersungut-sungut mencari kesana-kemari dengan bantuan calo kamar, sedangkan Ucrit mulai ribut menyusun rencana buat malam nanti main-main di pantai.

Mengenai calo ini, ternyata nggak cuma ada di tempat-tempat penjualan tiket saja. Di sinipun keberadaan calo gampang ditemui bahkan, tak jarang satu calo “menyerah” dan melemparkan “kasus” client-nya ke rekan calo yang lain. Akhirnya masalah pencarian tempat istirahat ini selesai setelah didapatkannya satu kamar kosong di sebuah rumah keluarga yang kebetulan memang menyewakan kamar-kamarnya khusus di hari libur. Walhasil, malam itu kami nggak sempat pergi kemana-mana karena tenaga terlanjur habis selama di perjalanan dari Jakarta yang memakan waktu kurang lebih 12 jam. Maka saya putuskan setelah makan malam kami segera tidur saja, apalagi mengingat si Cuplis (adiknya si Ucrit) yang masih belum terbiasa dengan udara luar dan perjalanan jarak jauh.

Baru keesokan harinya setelah tenaga saya dan mak’e Ucrit pulih akibat perjalanan jarak jauh dan “perjalanan-perjalanan lain” yang kami lakukan semalam, buru-buru kami bergegas pergi ke pantai barat sekedar untuk menikmati lembutnya pasir dan jilatan ombak.

Oiya, berhubung pengetahuan saya tentang kamera-kamera canggih nol besar (selain itu juga kemampuan daya beli juga sih..), maka semua gambar yang terlampir di sini adalah hasil dari jepretan kamera hape SE-G.502, itupun cuma berdaya 2 mp dan tanpa teknik apapun.

Puas bermain pasir, kami berempat berjalan kaki menyusuri pantai menuju Hutan Lindung yang terletak di sebelah utara.  Setelah membeli tiket dan menerima penjelasan dari pemandu wisata bahwa kami dihimbau untuk mengamankan hape, botol minum dan dompet agar dimasukkan saja kedalam tas, karena dikhawatirkan barang-barang kita itu bisa direbut dan dibawa lari oleh monyet-monyet yang menghuni kawasan ini. Menurut mas pemandu wisata tersebut, sudah ada kejadian dimana dompet seorang pengunjung disambar oleh monyet yang tau duit ini dan dibawa kabur ke hutan! Atau juga pernah handphone seorang pengunjung diembat dan dibawa lari.. mungkin untuk menjepret teman-temannya di dalam hutan sana atau apa, saya kurang tau pasti.

Di pintu masuk, kami disambut oleh “petugas” yang lain yang dikenal dengan nama Sarimin. Pendiam, tapi bisa juga usil dan salah banyak dari mereka yang suka mencoleng dompet atau hape. (foto 6)

Setelah mendaki jalan setapak, sampailah kami di tanah datar dan disambut oleh “Sang Pencekik” (foto 7, 8).

Konon, di tempat inilah syuting film “Brahma Kumbara” pernah dilakukan. Ke atas sedikit sebelah kiri terdapat Gua Jepang, yaitu gua yang merupakan tempat berlindung tentara Jepang sewaktu perang melawan sekutu. Menurut Pemandu Wisata kami, lokasi tersebut juga pernah dipakai untuk syuting “uji Nyali”, acara tv yang dipandu oleh Harry Pantja. (foto 9,10,11)

Niat untuk ikut masuk ke dalam terpaksa kami urungkan karena, permukaan tanah yang terendam air dan lumpur yang lembut. Selain itu juga rasa ngeri dan “malas” ketemu hantu..

Perjalanan berlanjut menyeberangi sungai yang merupakan tempat  bertemunya dengan laut (muara). (foto 12)

Berbeda dengan di pantai barat, di sini pasirnya berwarna putih. (foto 13,14)

Karena hari mendung dan takut hujan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali dulu ke hotel untuk makan siang. Namun kali ini kami memilih menyeberang dengan perahu motor karena si Cuplis tertidur di gendongan emaknya, selain itu juga lebih menyingkat waktu.  (foto 15,16)

Sungguh sayang hujan terus-terusan turun sampai sore sehingga kami lebih suka berdiam di kamar dan melupakan keinginan melihat sunset maupun main pasir. Baru keesokan harinya, meski mata masih sepet dan badan pegel-pegel (lagi-lagi akibat “perjalanan jauh”) saya bergegas bangun begitu Si Cuplis meneteskan ilernya di pipi saya, ditambah pula dengan si Ucrit kakaknya yang menarik-narik lengan saya dengan gemas  karena saya tak kunjung bangun. Sedikit kesal, saya lemparkan bantal ke badan bundanya yang cekikikan begitu melihat pipi saya penuh dengan ilernya si Cuplis, yang ikut-ikutan ketawa…

Berikut adalah foto sunrise yang sempet saya ambil di pantai timur, mulai dari pertama hingga terakhir. (foto 17,18,19,20,21 berturut-turut diambil pada pukul 05.31 wib, 05.34 wib, 05.42 wib, 05.45 wib, dan 05.54)

 

Tepat saat jam di hape yang saya gunakan untuk mengambil gambar ini menunjukkan pukul 06.03 wib (foto 22), mulai terlihat semburat sinar matahari menyinari permukaan laut yang tenang.

Tampak terlihat matahari semakin tinggi dan semakin jelas semburatnya, membentuk bayangan hitam perahu nelayan di kejauhan. (foto 23,24,25)

Nah, khusus yang ini saya persembahkan untuk pakdhe Dj… (foto 26).. Kalau-kalau nanti beliau jadi membawakan oleh-oleh buat saya hmm …ukuran kaki saya nomer 41 ya…ahaha..!

Setelah puas jeprat-jepret kami mencari sarapan yang banyak terdapat di pinggir pantai, berupa gubug-gubuk kecil, di mana tempat ini berdekatan dengan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan warung-warung makan yang tentu saja, menyediakan hidangan laut.

Dikarenakan perjalanan masih jauh dan khawatir macet, akhirnya kami memutuskan segera meluncur pulang meskipun hari masih pagi, yaitu sekitar jam 10-an. Benar saja, sesampai di Nagrek kami sudah terjebak macet (foto 27)

Sementara Ucrit tertidur pulas di bangku belakang, tak ketinggalan pula si Cuplis dan Bundanya yang sedang menghayati kembali pengalaman selama 3 hari di Pangandaran dengan tekun. (foto 28).

Kalau saya? Hm.. terima nasib sajalah pegang setir sampai ke Jakarta..

Salam Pegel

Share This Post

Posted by Wednesday, 16 June 2010 on 01:20.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

68 Responses to “Libur Dadakan, Jepret Dadakan”

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

  1. 68
    ~Mamma Mia~ Says:

    Hahaha… Mas Anoew… kisahnya lucu…
    Foto2nya bagus… yg ketiga dari bawah dan terakhir itu yg paling lucu…wkwkwkw…
    Thanks for sharing hehe… sampe ngakak bacanya…

  2. 67
    Silvia Says:

    Wah emaknya Ucrit baik banget. Kalo saya mah tak kurangi jatah semuanya………*winks*smile

  3. 66
    anoew Says:

    @Mawar, ini yang ke-5 aku diomel-omelin masang foto istri lagi tidur disini..
    Iya, itu kuambil pas lagi nyetir.. jalanan lagi macet di Nagrek, makanya bisa candid foto dia..

  4. 65
    Mawar09 Says:

    Anoew: terima kasih ya sudah sharing cerita jalan-jalannya. Istrimu cantik dan anakmu lucu! Cuma kamu keterlaluan deh, kok istri lagi tidur difoto sih! iseng ih….. apa motretnya sambil nyetir mobil?? Salam!

  5. 64
    anoew Says:

    @Pakdhe, saya juga kapok… ini kemarin habis saya kena cubit dia..

    @Sierli: Sangat menyenangkan, betul. Capek dan pegel nggak kerasa lagi apalagi bisa merasakan kebersamaan dengan keluarga. Trims ya.., salam dan gaya tidurnya Sierli yang sama dengan dia udah disampaikan… salam balik katanya..

  6. 63
    anoew Says:

    @Xa: Ada profil dirimu di majalah WI? Wanita Indonesia? Waaah mana pernah kubaca haha.. liat sih pernah, tapi kalau baca nggak.. soale bacaanku bukan WI tapi PH Mbuh lali ali ah… pokok’e pernah liat sekilas.. Nova kali ya?

    @ISK: Bro Iwan, memang benar tebakanmu. Ini yang edisi kedua.

    @AMH: Hadooooh kok lagi-lagi jempolku yang dilihat sih… focusnya sandal lho (nodong pakdhe Dj hehe), bukan jempol apalagi kuku…

    @Pakdhe Dj: betul pakdhe.., dari sana memang bisa keliatan..

  7. 62
    Sierli Says:

    Mas Anoew, walopun cape tapi liburan dengan keluarga bener2 menyenangkan bukan?
    Salam buat emaknya C2, gaya tidurnya mirip saya hahahaha…..

  8. 61
    Dj. Says:

    Okay mas Anoeng….
    Lai kali jangan difoto itu emak´e Ucrit kalau lagi ngiler….hahahahahaha….!!!
    Pasti deh…mimpinya terganggu….

Pages: [7] 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)