On the way to home

Wahyu Wibowo


Hhhmmm..  home sweet home… kata kata itu kini semakin sering mengetuk pikiranku beberapa hari belakangan ini…. Mengetuk dengan intensitas yang semakin lama semakin memburu tak mau berhenti

Menyibak kerinduan yang teramat sangat pada denting tanah air tercinta yang telah lama tak kusinggahi…. Kerinduan seperti milik seorang pemuda yang begitu ingin cepat kembali menemui kekasih hati yang disayangi

Terlalu lama diri ini pergi meninggalkan semua jejak langkah episode cerita masa kecilku di sana lengkap dengan lukisan wajah-wajah orang tercinta

Lima tahun sudah waktu berlalu tanpa terasa….. sepertinya semua gambar dan cerita acara perpisahan di kota itu baru terjadi kemarin saja rasanya


Langkahku yang selalu mengalir mengajak hatiku bertekad pergi menaklukan sebuah tantangan dunia yang jauh dari pandangan mata

Menyapa keindahan keindahan di belahan bumi yang begitu jauh dan sungguh terasa berbeda

Kehidupan yang lain dari warna tradisi yang selama ini erat menggenggam irama hidupku

Kuharap suatu saat nanti semua ini akan mampu membuatku menemukan siapa sesungguhnya diriku


Badai dan cobaan kadang datang menerpa langkahku di ujung sebuah harapan dan penantian

Tak ada yang bisa kulakukan selain mencoba tuk tetap tenang, istiqomah berjalan dengan segala beban yang kutemui di sepanjang jalan

Tak jarang airmataku mengalir bersama rinai hujan di antara sela sela hela nafas letih sang kesepian

Hanyalah bekal restu yang selalu mampu membuatku tetap bersyukur dapat melalui dinding tebal yang acap kali datang menghadang


Rutinitas kerja yang panjang membuat aku larut dalam suasana kehidupan di sana yang masih serba baru

Meskipun kadang di tengah kesendirian malam bayangan masa yang telah lalu melintas perlahan dihadapanku

Wajah wajah baru dari segala penjuru dunia datang silih berganti menulis cerita perjalanan hidupku

Sedikit banyak kehadiran mereka mampu membuat aku bertahan melawan godaan rasa rindu


Apa kabar yach pada kicau burung burung dan seranggaku yang biasanya menyapa ramah pagi hariku di sana

Sawah, ladang, hutan yang terpapar menghijau lengkap dengan kesegarannya selalu mampu menjernihkan sebuah pandangan mata

Tempatku bermain dan tumbuh membesar di antara keriangan dan keceriaan teman teman kecilku di masa dahulu

Tempat aku belajar mengerti tentang arti hidup dan kehidupan yang sederhana dalam sebuah pengertianku

Yups.. kini hanya ada kata …pulang.. pulang dan pulang saja…. Satu satunya kata yang kini sedang asyik bermain main di otakku

Ingin menemui wajah wajah ramah yang selama ini hanya kusapa hangat lewat tombol tombol keypad beradu

Menterjemahkan bahasa kerinduan yang selama ini hanya kusulam pada manisnya untaian kata-kata

Kasih sayang yang selama ini kutitipkan pada sajak, matahari, bulan,  bintang bintang, hutan rimba dan dalamnya dasar samudera


Akhirnya tiba jua masanya… perjalanan yang cukup melelahkan menuju Jakarta melalui jalur udara

Apalagi untuk seseorang yang selama ini terlalu gamang menatap paniknya ketinggian dalam genggaman altophobia

Pun keprihatinan yang hidup saat kelakuan cuek para penumpang yang masih saja sibuk menyalakan HP selama berada dalam kabin penerbangan

Apa mereka tidak sadar sikap ceroboh mereka dapat menyebabkan sebuah kecelakaan tragis… jatuhnya pesawat terbang


Beberapa jam mengapung terkatung katung di udara terasa seperti berminggu minggu melayang di ruang hampa

Lega rasanya akhirnya bisa landing dengan selamat menginjakkan kaki di bandara ibukota tercinta

Segera kukemasi semua ranselku yang membawa oleh oleh dan cahaya mata untuk mereka yang menantiku di rumah

Pergi mencari kendaraan yang bisa segera membawaku pergi menuju terminal bus antar kota


Hhmm syukurlah…. Masih cukup lengang suasana pagi itu tanpa ada riak riak keramaian manusia yang berarti pada tiap sisinya

Tak ada kegundahan karena demonstrasi yang kadang memenuhi jalan raya dengan aksi yang selalu saja berwarna

Hanya kemacetan yang masih saja mewarnai suasana pagi di Jakarta dengan beragam cerita gundahnya

Entahlah sampai kapan hal ini terjadi….. padahal tingkat polusi di kota Jakarta telah lebih dari batas maksimalnya


Akhirnya sampai juga diriku di terminal bus antar kota yang masih sepi dari teriakan-teriakan parau manusia

Hanya ada satu dua calo bertatto saja yang menyapaku menawarkan karcis lusuh di antara genggaman jemari mereka

Kadang aku cemas juga ketika mereka mengancam setengah memaksa menawarkan tiket dengan tingginya harga

Keadaan kadang melukis sebagian orang yang tidak sabar untuk mengais cahaya kehidupan di Jakarta dengan jalan yang tak indah


Akhirnya kupilih juga sebuah bus kelas ekonomi dengan tiket resmi yang akan segera berangkat sebentar lagi

Alhamdulillah… masih tersedia sebuah kursi yang nyaman untukku sekedar duduk meluruskan kaki sembari memejamkan mata menikmati aroma ibu pertiwi yang selama ini menari nari

Pedagang makanan ringan tak lelah hilir mudik menawarkan cahaya hidup mereka yang tertata dalam bakul yang sederhana saja

Duh kasihan…. Anak anak kecil tak lagi pergi bermain selayaknya kawan sebaya mereka tapi sibuk menjual selembar koran ditengah hiruk pikuk lalu lalang manusia… Oh tragisnya satu sisi wajah Kota Jakarta


Hmmm sedari dulu aku selalu suka menaiki bus kelas ekonomi jika dibandingkan bus kelas VIP yang terlalu angkuh dan kaku dan memilih tempat duduk yang tak jauh dari daun jendela

Karena di dalam bus ini banyak kutemui dinding-dinding jujur bersuara dan tak pernah nampak adanya perbedaan jurang kasta

Angin menampar lembut wajahku di sela daun jendela yang kacanya sengaja setengah terbuka

Sejenak mampu memberi sedikit kesegaran pada wajahku yang telah jauh melangkah melukis ribuan kisah


Perlahan bus melaju meninggalkan ibukota dengan segala riuh rendah aroma kemacetan dan tebalnya polusi disepanjang jalannya

Hhhmmm banyak juga perubahan yang telah tercipta setelah lima tahun kutinggalkan tanah air pergi mengelana

Kini banyak terlihat sawah yang dahulu terhampar hijau merekah telah berubah fungsi menjadi, rumah, mall, jalan raya dan entah bangunan apa lagi

Apa mereka tak berpikir… kalau semua sawah beralih fungsi hendak makan apa kita suatu hari nanti…. Pun jua lihatlah bencana banjir yang kerap terjadi akhir akhir ini….. sebuah perencanaan yang salahkah ?….. aku tak paham soal yang satu ini..


Ah sudahlah…. Aku masih saja tak mengerti tentang semua kebijakan yang dibuat para pejabat di negeri ini

Apakah semua sudah layak menjangkau kemashalatan semua umat atau hanya penyamaran halus demi sebuah kepentingan, ego atau hal yang bersifat pribadi

Biarlah TUHAN saja yang nanti menghukum kenakalan yang telah sebagian dari mereka perbuat selama ini, ….memakan sesuatu yang sudah bukanlah menjadi haknya lagi

Yupss….Aku hanya ingin pulang dan istirahatkan sejenak tubuhku yang terlalu lama berotasi mengelilingi bumi


Hampir satu jam aku habiskan waktu bersandar sambil lugas mengagumi keindahan di sepanjang jalan menuju rumahku

Hingga tak sadar sedari tadi ada sepasang mata lembut dan indah yang terus mencuri pandang ke arahku

Sepasang mata dewi venus yang mempunyai daya pikat tinggi untuk meluluh lantakkan hati seorang lelaki seperti diriku

Yups… seperti pesona misteri Cleopatra yang mampu membuat Julius Caesar bertekuk lutut tak berdaya disudut kerling sebuah wajah yang tersipu


Hey sepasang mata Cleopatra itu masih saja terus sembunyi sembunyi melirik ke arahku

Entah apa yang dicarinya saat dia tak berkedip mengagumi wajahku yang sedikit banyak mirip dengan artis teras atas keanu

Mungkinkah dia tengah membayangkan aku ligat berlari lari mengejar bus ini seperti dalam sebuah film SPEED yang begitu fenomenal dahulu

Hmmm aku harus segera mencari trick untuk menggali isi hatinya agar mau mengaku dan berkata jujur kepadaku


Aha.!!… akhirnya kutemukan juga sebuah cara untuk bisa duduk di samping dia yang kebetulan saat ini sedang tak berisi

Awalnya aku hanya melukis sebuah senyum sambil mengucapkan sebaris kata padanya …. “ Bolehkah aku duduk menjuntai disini disebelah sebuah perhiasan terindah muka bumi ? “

Sebuah anggukan kecil yang ramah disertai wajah memerah karena tersipu malu merah jambu hangat menyambut kedatanganku

Ho..ho..ho.. aku tahu di dalam hatinya mesti ada suara gendang dari kulit lembu yang gegap gempita bertalu talu


Cukup lama aku sengaja menikmati keheningan yang memisahkan hati kita berdua tanpa ada sepatah kata….. hanya detak jantuk yang semakin kencang terasa

Sembari otakku terus berderak laju mencari bagaimana cara memulai pembicaraan dan kenal lebih banyak hal bersamanya

Kuawali dengan sebuah pertanyaan standart basa basi seputar nama dan alamat tempat yang akan dituju

Hingga tak terasa mengalir juga hal hal seputar kerja, gossip artis, politik, ekonomi, bahkan berita berita disebalik pemilu


Hmmm… ELMIRA…. Sebuah nama yang begitu indah mencerminkan seorang putri dengan garis garis aristocrat yang kental pada wajahnya

Seorang dewi venus yang dalam aliran darahnya melintas budaya tiga benua pada tiap tiap ruas tubuhnya

Meskipun sempat juga kuragu mengapa dewi venus secantik itu lebih memelih kendaraan rakyat di banding kereta kereta istana yang bisa saja dia bawa

Dia hanya berujar lugas….. “ aku lebih bercahaya disini, bersama alamku, bersama bulan bintang dan matahariku, bersama wajah wajah yang kukenali keramahannya, tak nampak dinding dinding angkuh dogma dan agitasi yang membatasi langkah kita untuk melakukan semua yang kita mau….. dunia terasa lebih indah dari kaca mata kehidupan yang sederhana…..”


Hey… ternyata di sebalik wajahnya yang seperti Cleopatra tersimpan pemikiran yang begitu dewasa

Sebuah pemikiran yang jarang sekali dimiliki oleh kaum wanita cantik pada umumnya… apalagi yang telah terbiasa hidup dalam gelimangan harta dan tahta

Semakin aku gali tiap sudut jejak misteri yang menyelimuti pesonanya yang menyimpan ribuan fenomena

Semakin aku jatuh tenggelam dalam peta rasa ingin tahu yang berujung pada hadirnya sebuah rasa suka


Hmmmm… akhirnya sampai juga aku di kota yang telah lama ada dalam mimpi-mimpiku

Sebuah kota dengan artifak peninggalan jaman kerjaaan dahulu yang masih tertata indah untuk menarik banyak wisatawan datang bertamu

Tiba saatnya untukku berpisah dengan dewi venus yang akan melanjutkan perjalanan menuju jogja

Berat rasanya berpisah…. Seperti ada batu besar yang hinggap dikaki hingga tak mau segera pergi beranjak dari sisinya


Yups… perjumpaan yang singkat saja namun ternyata mampu melukis sebuah wajah manusia dengan sempurna

Kekagumanku pada dirinya berpijar perlahan seperti eternal flame yang menerangi kegelapan semesta didalam dada

“ sepertinya sampai disini saja perjamuan kita hari ini…… “ ujarku sambil menatap matanya yang mendadak sayu

“ bolehkah aku minta nomor telefonmu…… “ ujarnya penuh harap kepadaku


“ elmi….. belum saatnya ……. “ ujarku perlahan

“ kenapa kak…. Apa kakak tak suka dengan pertemuan kita…… “ tanyanya tertahan

“ Terlalu mudah rasanya bila kita begitu saja memberikan nomor telefon kita….. hmmm biarkan alam yang bekerja……. “ ujarku penuh arti

“ maksudnya kak…. ?” elmi masih juga tak mengerti


Perlahan kuambil selembar uang duapuluh ribu yang masih baru dari saku dompetku

Kutuliskan nama, alamat dan nomor telefonku pada selembar kertas hijau itu

Akupun meminta dia melakukan hal yang sama seperti yang aku buat sebelumnya

Kugenggam tangannya sembari memberikan senyumku yang terindah


“ Alam yang mempertemukan kita hari ini… bercerita dan mengenal hal hal menarik dari dua sisi berbeda…. Semoga alam juga yang nanti akan mempertemukan kita kembali suatu hari nanti

“ maksudnya ini apa kak…. “ ujar elmi tetap dengan wajah setengah tak mengerti

“ elmi percaya ngga dengan MIRACLE…. Mungkin suatu hari nanti….. aku atau dirimu menemukan salah satu dari dua lembar uang ini….biarkan alam sendiri yang mengatur kapan kita bertemu kembali….. yakin saja bila semua sudah ada garis taqdirnya sendiri sendiri…kuharap juga taqdir kita berujung satu….. “ ujarku dari dalam lubuk hati

“ elmi mengerti sekarang kak…. Elmi akan tunggu sampai tiba waktu itu….. waktu kita akan dipertemukan kembali……..


Bus pun perlahan berjalan melanjutkan perjalanannya yang masih panjang

Meninggalkan gumpalan gumpalan asap yang berterbangan di sepanjang jalan

Kupandangi bus itu yang membawa bidadari yang begitu kukagumi sampai hilang pada sebuah tikungan di sudut gedung tua

Hmmmm….. Elmira…… semoga alam cepat mempertemukan kembali langkah kita


Hey….. kawan…… aku pulang  !!!!!!!!


( BERSAMBUNG ….. PADA KISAH SERENDIPITY  )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *