Wednesday, 16 June 2010
Fire – Yogyakarta
Duhai sarapwan dan sarapwati ….
Silakan membaca ini sambil sarapan pagi
Asal jangan salah makan obat nanti
Semakin hari lapak semakin berisi
Tapi tersembul gelagat sudrun dalam selimut
Menepuk sudrun didulang, terpercik kenthir ke muka sendiri
Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya sudrun siapa tahu
Hmmmm… tercium ada sudrun di balik batu
Jangan begitu temanku ….
Kenthir di pelupuk mata tiada tampak
Sudrun di seberang lautan tampak
Karena sudrun tak jatuh jauh dari pohonnya
Ooo … bagaikan sudrun lupa kulitnya
Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk sudrun di tengah-tengah
Terlalu memang terlalu, teman ….
Teganya menebar sudrun dalam lipatan
Habis manis, sudrun dibuang
Besar sudrun daripada tiang
Sayang nasi sudah terlanjur menjadi sudrun
Tak ada sudrun yang tak retak
Masihkah belum mengerti, temanku …..
Biarlah sudrun setitik merusak kenthir sebelanga
Tatkala hidup bagaikan sudrun di ujung tanduk
Sekali sudrun di ujian, seumur hidup orang tak percaya
Bagai kerakap di atas batu, sudrun segan kenthir tak mau
Karena itu temanku ….
Dunia tak selebar daun kelor
Sebelum sudrun segeralah berganti kolor
Jangan sampai panas setahun dihapuskan oleh sudrun sehari
Ingat-ingat nasihat guru kita
Malu bertanya, sudrun di jalan
Terasa baru sesaat temanku ….
Tong kosong berbunyi nyaring
Wudun kosong jangan diplototin
Sudrun sama rendah, kenthir sama tinggi
Sudrun sama dipikul, kenthir sama dijinjing
Tak ada sudrun, kenthir pun jadi
Yang koplak tergelak-gelak
Yang mbeling tujuh keliling
Yang majnun bibirnya manyun
Yang gemblung selalu beruntung
Yang gendeng makin sableng
Yang setrip diam-diam mengintip
Pentulis, pentulas, pentulus …
Seribu tiga bukan akal bulus
Yang penting jiwa yang tulus
Walau kata tak lagi mulus
Habislah pula permen sugus
Tapi penonton memaksa terus
Terpaksa lari masuk kakus
Kenanglah masa-masa indah itu, temanku ….
Di saat kita bagaikan sudrun dibelah dua
Jangan bilang siapa-siapa kapan ketemu di Pakem
Mengaku saja cari pakan burung di Ngasem
Selebihnya tak hendak tahu urusanmu di Sarkem
Sampai hari ini pun tetap setia mingkem
Sabarlah sedikit temanku …
Sudrun pasti berlalu
Kan kucarikan dempul untuk menambal anganmu ….

Kidul RingRoad Lor, Juni 2010
NB: Bagi sepuluh komentator pertama, akan dinominasikan ke babak play-off untuk memperoleh penghargaan Sudrun Award
June 18th, 2010 at 08:14
Bagaikan lidah gak bersudrun
Sungguh, (gak) berpikir itu pelita bingun…..
Dunia ini panggung sandiwara
Kita punya Dewan menanggung canda tawa
Bersandiwara konsiparasi dana aspirasi
Menggantung fakta sumber kaum korupsi
Pohon beringin pohon raksasa
Partai angin menuai sengsara
Orde Baru Orde Reformasi
Siapa gak tahu (itu) orde basa-basi
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke sudrun
Indonesia sakit melulu, Pimpinannya senang-senang berayun
Hidup fire
Sungguh desire
Ayo hire
Mari admire………..
Wis
Plese
Halhahh
Nhah….
June 17th, 2010 at 23:06
tante Aichi: hehe, makasih ‘sudrunnya’, n makasih udah muji alisku, hehehe
June 17th, 2010 at 17:52
hahaha…. pis ah.. pis pis hahah…
June 17th, 2010 at 17:33
Hahahay… disana dimana, disini dimana? Aaaaah… kenapa aku yang kena jitak sekarang
June 17th, 2010 at 17:17
@Hamps, ah.. yang bener kangen jitak?! Bukan yang lain…? Dulu ketemu disana… Sekarang ketemu disini… aaahhh asmara..
@DA: mosok ra tau roman-romanan? waaah…, tenane..!
@Pakdhe Dj: bukan hahaha…. bercanda ah..